
"Hei, kenapa bengong!" seru Rania sembari menepuk pundak sahabatnya.
"Kamu bercanda kan Nia?"
"Aku serius! kumohon Zia, kamu sudah kenal Papa, begitu juga sebaliknya. Mungkin dengan begitu kalian bisa saling mengisi dan memahami. Papa menyanyangi Gara, begitu juga dengan Gara dan kita akan mempunyai hubungan keluarga yang semakin kuat."
"Tapi Nia, aku tidak bisa melupakan Angga, kamu tahu sendiri bagaimana kami saling mencintai."
"Aku tahu, tapi kamu harus memikirkan masa depan kalian, seiring waktu kamu bisa belajar untuk mencintai Papa ku."
"Beri aku waktu untuk berpikir, aku tidak ingin salah dalam mengambil keputusan hingga malah akan menyakiti hati kalian."
"Baiklah Zia! ku harap di hari pernikahan kami nanti kamu sudah bisa memberikan keputusan, dan mudah-mudahan keputusanmu itu merupakan kado terindah untukku."
Setelah mengatakan semuanya, Rania dan Frans pamit, malam ini mereka akan mengajak Tuan Arya makan malam di luar. Rania sebenarnya ingin mengajak Zia, tapi dia harus memberikan dia waktu untuk memikirkan permintaannya.
Setelah kepergian Nia dan Frans, Zia masuk ke dalam kamarnya, di sana dia menatap photo pernikahannya dengan Angga, rasanya dia tidak sanggup untuk memenuhi permintaan Rania.
Dia menangis sambil mengelus photo Angga, kenapa cobaan hidupnya begitu berat. Saat dia tenggelam dalam kesedihannya, terdengar suara ketukan pintu dan suara ibu memanggilnya. Zia buru-buru mengelap air matanya, dia tidak ingin ibu melihat kesedihannya lagi.
"Nak? Ayo kita makan dulu! Sejak tadi kamu belum makan."
"Iya Bu... sebentar, Zia akan berganti pakaian dulu."
"Sebenarnya ada apa Nak! Ibu lihat matamu sembab, seperti habis menangis. Ayo jujur sama ibu, kamu jangan memendam masalah sendirian."
Zia pun langsung memeluk sang Ibu, sembari menangis dan berkata, "Zia bingung Bu, apa yang harus Zia putuskan."
"Coba kamu ceritakan, agar Ibu bisa membantumu."
Kemudian Zia pun menceritakan permintaan Rania dan juga Papa Mama Wiguna, setelah mendengarkan cerita putrinya, ibu mengajaknya duduk dan memberikan pandangan bahwa yang dikatakan mereka memanglah benar.
__ADS_1
"Kamu harus memikirkan masa depan terutama demi Gara, tidak mungkin selamanya hidup dalam kenangan Angga. Pak Arya orang yang baik dan jasa beliau juga banyak terhadap keluarga kita, ibu yakin beliau bisa membuat kalian bahagia dan bisa menjadi Papa yang baik bagi Gara."
Sejenak Ibu terdiam lalu beliau melanjutkan ucapannya, "Usia Ibu mungkin tidak akan lama lagi, tidak bisa melihat Gara tumbuh dewasa, jadi harus ada orang yang akan mendampingi kalian untuk meneruskan tugas Ibu."
"Ibu kok ngomong gitu, Zia ingin Ibu terus menemani kami."
"Ibu kepingin sih, tapi kamu tahu sendiri bagaimana kondisi tubuh Ibu yang sering sakit-sakitan."
Mereka terdiam, saat Gara tiba-tiba datang dan berlari ke pangkuan Zia sambil berkata, "Ma, besok kita ketemu Papa ya! Gara mau Papa?"
Zia hanya terdiam sambil memeluk Gara dan memandang Ibu, lalu Ibu memberi kode dengan mengedipkan matanya.
"Iya Nak, sekarang Gara tidur lagi ya? dan besok Gara pasti ketemu Papa," ucap Sang nenek.
"Benar ya Nek? Hore...Gara mau ketemu Papa," ucap Gara sembari berlari kembali ke kamarnya.
"Coba kamu perhatikan Putramu, ada keceriaan di wajahnya, dia rindu sosok Papa, apa kamu tega membuatnya kecewa dan sedih?"
"Ya sudah, mari kita beristirahat, semoga besok kamu bisa mengambil keputusan terbaik."
Ibu bangkit lalu meninggalkan Zia yang masih tertegun di sana, beliau yakin Zia bisa bertindak bijaksana demi kebaikan Gara.
Sepeninggal Ibu, Zia kembali memandang photo suaminya, lalu berkata lirih, "Maafkan aku Mas, aku akan menerima lamaran Tuan Arya bukan karena tidak Sayang lagi sama Mas tapi demi kebahagiaan putra kita."
Zia pun merebahkan badannya, dia berusaha untuk memejamkan mata, besok sebelum mengambil keputusan, dia ingin sholat istikharah untuk menghilangkan keraguannya.
Mentari pagi mulai menerangi bumi, saat Zia dan Ibu membuka kembali usahanya, sementara adikpun membantu sebelum bersiap berangkat ke sekolah.
Rania juga sudah tiba diantar oleh Frans yang akan berangkat ke kantor, lalu Rania membuka bimbingan les di bantu oleh anggota mereka yang di pekerjakan untuk berbenah.
Setelah selesai barulah dia menemui Zia dan Ibu, "Bu, malam ini Papa akan datang kesini menemui Zia, beliau ingin mengatakan langsung niatnya kepada Ibu dan Zia. Masalah di terima atau di tolak beliau siap."
__ADS_1
"Iya Nak, sampaikan sama Tuan Arya, rumah ini terbuka lebar untuk beliau. Masalah di terima tidaknya lamaran beliau, Ibu serahkan sepenuhnya kepada Zia."
"Terimakasih Bu, nanti akan Nia sampaikan kepada Papa."
"Zia, maaf! Bukannya Papa ingin memaksa tapi Papaku ingin bicara dulu denganmu sebelum kamu mengambil keputusan."
"Iya nggak apa-apa kok Nia, aku tahu niat kalian baik, memikirkan masa depan kami."
"Ya sudah, itu pelangganmu datang, aku juga mau bersiap sebentar lagi Frans kembali menjemput mau ke butik, mau pas baju pengantin kami."
"Aku melayani mereka dulu ya Nia?"
Rania pun mengangguk, dia lega, sahabatnya Wellcome terhadap niat Papanya, kemudian dia menelephone sang Papa untuk menyampaikan pesan keluarga Zia yang menunggu kedatangan beliau nanti malam.
Tuan Arya lega mendengar penjelasan putrinya, sekarang dia akan bersiap pergi ke Mall, rencananya dia akan membeli perhiasan untuk hadiah pernikahan Rania, sekaligus ingin membeli cincin untuk Zia.
Jika nanti malam lamarannya di terima, rencananya Tuan Arya akan langsung memberikan cincin tersebut sebagai tanda tapi jika di tolak, beliau akan tetap memberikannya sebagai hadiah persahabatan yang selama ini terjalin antara Zia dan putrinya.
Tuan Arya bergegas meninggalkan rumah Frans dengan naik taksi menuju Mall terdekat, begitu tiba beliau langsung mencari toko perhiasan. Lalu beliau meminta kepada pelayan toko agar menunjukkan dua set perhiasan andalan di toko mereka.
Setelah melihat dan menentukan pilihan, lalu Tuan Arya memberikan kartu black card-nya kepada pelayan tersebut. Pelayan itupun senang dia pasti akan mendapatkan bonus dari bosnya karena telah berhasil menjual dua set perhiasan termahal di tokonya tanpa ada tawar menawar harga.
Melihat anggotanya datang membawa sebuah kartu black card, senyum sumringah pun tampak di wajah sang bos pemilik toko. Dengan senang dia menyelesaikan transaksi dan langsung berterimakasih kepada Tuan Arya.
Terimakasih tuan sudah mempercayakan kebutuhan perhiasan anda kepada toko kami, mohon datang lagi jika Tuan membutuhkan perhiasan yang lain.
Kemudian pemilik toko menyerahkan dua set perhiasan tersebut beserta bukti pembayaran dan mengembalikan kartu black card milik Tuan Arya.
Tuan Arya pun mengambil perhiasan tersebut lalu pergi meninggalkan toko untuk kembali ke rumah menantunya.
BERSAMBUNG.......
__ADS_1
🌻 Jangan lupa dukungannya ya sob, Terimakasih 🙏😉.