Persahabatan Telah Mengubah Takdir

Persahabatan Telah Mengubah Takdir
Episode 70. Hadiah untuk persahabatan sejati


__ADS_3

Zia keluar dari kamar dengan membawa beberapa paper bag dan sebuah kotak perhiasan. Menurutnya barang-barang itu adalah hak Sonya dan kebetulan postur tubuh Sonya hampir sama dengan Zia, pasti semua itu pas jika dipakainya.


Kemudian Zia melangkah mendekati Sonya untuk menyerahkan barang di tangannya, tapi langkahnya terhenti karena Arya telah berdiri diantara keduanya dengan berkata, "Itu sudah jadi milik kamu Zia. Tolong jangan kembalikan! Pakailah barang itu di hari pernikahan Rania. Sekarang, semua aku hadiahkan untukmu karena persahabatan kalian. Terimakasih telah menjadi sahabat terbaik putriku. Tunggu, ada satu lagi..."


Ucapan Arya terputus, dia melangkah keluar menuju mobilnya dan mengambil sebuah amplop besar, lalu dia kembali masuk dan menyerahkannya kepada Zia.


"Bukalah! itu untuk Gara, putra kalian yang sudah seperti putraku sendiri, saat ini masih aku atas namakan dirimu dan hal yang sama juga telah aku siapkan untuk Rania putriku sebagai hadiah pernikahannya nanti."


Zia pun bingung, dia memandang ke arah Angga untuk meminta persetujuannya, Anggapun mengangguk tanda setuju jika Zia membukanya.


Saat isi amplop di keluarkan, Zia sangat terkejut, di sana ada satu sertifikat rumah dan sebuah surat kepemilikan atas perusahaan Arya yang ada di kota ini.


Zia hendak mengembalikan surat-surat tersebut kepada Arya tapi Rania mencegahnya, "Terimalah Zia pemberian Papaku! Kamu dan Angga adalah saudaraku, Ibu mu adalah ibuku, Adik dan Gara juga adik-adikku. Itu untuk masa depan adik-adikku kelak, jadi aku mohon demi persahabatan dan persaudaraan kita," ucap Rania sembari mengatupkan kedua tangannya.


Zia pun kembali memandang Angga, Angga pun berkata, "Ambillah Zia, aku tidak keberatan. Ikatan persahabatan kalian lebih kental daripada ikatan darah. Terimakasih Tuan Arya, terimakasih Rania, kalian telah menjadikan keluargaku bagian dari keluarga kalian."


Ibu juga berterimakasih kepada Arya dan Rania, beliau tidak tahu harus berkata dan berbuat apa sebagai wujud rasa terimakasihnya. Kemudian Rania memeluk Ibu lalu dia berkata, "Kasih sayang yang telah keluarga ibu berikan tidak sebanding dengan semua pemberian Papa."


Tuan Arya pun berkata lagi sambil menggenggam tangan Sonya, "Untuk calon istriku, aku sudah persiapkan, dan aku berjanji akan membahagiakannya sampai akhir napasku."


Sonya bersyukur mendapatkan lelaki baik seperti Arya. Harapannya selama ini ingin mendapatkan pria baik dari Indonesia sebagai calon suaminya pun terkabul. Dia bersedia mengikuti aqidah yang di yakini Arya dan Mike pun membebaskan Sonya untuk mengikuti aqidah suaminya.


Persahabatan antara Angga, Zia dan Rania telah mengubah takdir kehidupan keluarga Zia. Angga yang dulunya merupakan sahabat, pangeran impian di masa sekolah telah menjadi suami terbaik Zia dan Rania yang derajat kehidupan keluarganya tidak sebanding dengan Zia mau merentangkan tangan menjadikan Zia, Ibu dan adik untuk menjadi bagian dari keluarganya.


Tarap kehidupan keluarga Zia berubah drastis sejak mengenal kedua sahabatnya itu, begitu juga sebaliknya, pengaruh kebaikan Zia telah mengubah Angga menjadi putra terbaik di keluarga Wiguna dan telah mengubah Rania menjadi gadis yang lebih mandiri dan mengenal arti kasih sayang seorang ibu dan saudara.


Allah telah mengirimkan ridho-Nya melalui persahabatan sejati diantara ketiganya.


Rasulullah SAW pernah berkata,


...โ€œTeladan orang mukmin dalam cinta dan belas kasih satu sama lain itu diibaratkan seperti satu tubuh, jika satu bagian merasa sakit, maka seluruh tubuh menderita sulit tidur dan demam,โ€...

__ADS_1


Pertemanan atau persahabatan kita akan menjadi sangat istimewa, jika kita memiliki sahabat yang mengajak ke arah yang lebih baik.


Selain itu, saat kita melakukan kesalahan, maka sahabat yang baik sebaiknya akan mengingatkan kita. Seperti halnya hadits berikut ini, yang artinya :


...โ€œTeman yang paling baik adalah apabila kamu melihat wajahnya, kamu teringat akan Allah, mendengar kata-katanya menambah ilmu agama, melihat gerak geriknya teringat mati. Sebaik-baiknya sahabat di sisi Allah ialah orang yang terbaik terhadap temannya dan sebaik-baiknya tetangga di sisi Allah ialah orang yang terbaik terhadap tetangganya.โ€...


...(HR. Hakim)...


Mereka semua sudah meninggalkan rumah Zia dan berjanji besok pagi akan datang secepatnya. Rania dan Ibu juga sudah masuk ke kamarnya masing-masing. Saat ini tinggallah Zia dan Angga yang ada di sana.


Kecanggungan pun terjadi, sudah 4 tahun lebih tidak bersama, apalagi dengan Angga yang sedang hilang ingatan tapi Zia berusaha mendekati suami tercintanya itu, dia perlahan akan membantu Angga mengingat semua kenangan manis saat mereka bersama.


"Ayo Mas kita ke kamar beristirahat, sekaligus aku ingin menunjukkan kepada Mas, Gara putra kita, bayi yang ada dalam kandunganku saat Mas menghilang. Kini Gara sudah tumbuh menjadi bocah yang cerdas dan dia selalu menanyakan tentang Papanya."


Zia menggandeng lengan Angga, membawanya ke kamar mereka. Angga pun tanpa bersuara mengikuti langkah sang istri. Di dalam kamar, Angga mengedarkan pandangan, matanya tertuju pada sebuah bingkai foto yang tergantung di tembok kamar itu.


Terpampang jelas di sana foto pernikahan mereka dalam bingkai yang besar. Angga berjalan mendekati foto tersebut, dia merabanya dan berusaha mengingat.


Samar-samar terlintas diingatannya moment pernikahan, tapi kembali dia merasakan sakit di dalam kepalanya. Zia yang melihat Angga menyeringai kesakitan, segera memeluknya.


Zia mengajak Angga melihat Gara yang sedang tidur di ranjangnya. Gara yang tidur dengan sunggingan senyum di wajahnya membuat siapapun yang melihat merasa gemas.


Angga menempelkan tangannya di pipi Gara sambil tersenyum, dia melihat cerminan dirinya di wajah Gara.


"Putraku, Gara..., maafkan Papa Nak, yang tidak melihatmu lahir dan tumbuh hingga menjadi bocah yang sangat lucu dan menggemaskan."


Angga lalu mencium kening Gara sembari meneteskan air mata, dia merasakan sesuatu dalam hatinya, perasaan bahagia yang selama ini belum pernah dia rasakan.


Zia pun ikutan menangis, dia terharu dan berharap Angga akan segera pulih hingga dia dan Gara bisa hidup bahagia dengan kasih sayang Angga.


Setelah puas melihat Gara, Angga mulai membaringkan tubuhnya, Zia pun menyelimuti Angga sebelum dirinya ikut berbaring di samping sang suami.

__ADS_1


Zia yang sangat merindukan Angga ingin tidur sambil memeluk, tapi dia takut menggangu kenyamanan Angga, makanya dia bertanya terlebih dahulu, "Mas, bolehkah aku tidur sambil memeluk kamu? Aku rindu kamu Mas," ucap Zia sembari menatap mata suaminya.


Angga pun menarik sang istri ke dalam pelukannya, walaupun ingatannya belum pulih tapi dari bayangan-bayangan samar yang terlintas di benaknya, memang benar Zia adalah pengantinnya.


Dia memejamkan mata, mencium aroma segar dari tubuh Zia membuatnya sangat nyaman. Zia juga yang sudah lama tidak merasakan pelukan hangat dari Angga, mendekapnya erat seakan takut jika hal ini hanya mimpi, dan ketika dia terbangun Angga tidak akan ada lagi di sisinya.


Zia pun mencium aroma mint dari tubuh Angga, aroma yang masih sama seperti 5 tahun yang lalu.


Karena lelah dan mengantuk, keduanya pun tertidur dalam keadaan saling mendekap.


Mereka terjaga saat Gara bangun dan minta susu, Zia hendak bangkit tapi Angga melarangnya. Angga ingin dia yang membuatkan susu untuk Gara.


Masa-masa yang hilang, dimana seharusnya Angga membantu merawat dan melihat putranya tumbuh, akan dia ganti sejak sekarang.


Setelah membuatkan susu sesuai takaran yang di sebutkan Zia, Angga lalu mendekat ke ranjang Gara, malam ini juga dia ingin Gara tahu bahwa Papanya masih hidup dan telah kembali.


Gara terkejut saat melihat orang yang datang membawa segelas susu bukanlah sang Mama, dia tidak takut, hanya saja dia memperhatikan wajah Angga lalu memalingkan wajahnya ke arah foto besar yang tergantung di tembok.


Dia melakukan hal itu berulang kali, hingga akhirnya Gara pun mengucek mata, ingin memastikan bahwa yang dilihatnya memang benar.


Gara berdiri di atas tempat tidurnya, meraba wajah Angga lalu berkata, "Papa! Benarkah kamu Papaku? tanya Gara sambil jarinya menunjuk ke arah foto.


Angga terharu, ternyata Gara telah mengenal dia sebelum dirinya memperkenalkan diri. Angga menarik Gara ke dalam dekapannya, lalu diapun berkata, "Putraku Gara! Kamu mengenal Papa Nak?"


"Iya Papa...Gara rindu Papa. Papa sudah kembali dari surga? Gara tidak ingin Papa pergi lagi. Gara sayang Papa," ucap Gara sambil terisak-isak.


Zia yang melihat moment tersebut tidak bisa membendung tangisnya, air matanya lolos jatuh membasahi selimut yang membalut tubuhnya.


Angga lalu menggendong Gara, membawanya mendekat ke Zia, lalu dia memeluk Gara dan Zia sambil berkata, "Papa tidak akan pergi lagi, Papa sayang kalian dan akan berusaha membahagiakan Gara dan Mama."


BERSAMBUNG......

__ADS_1


Bagaimanakah cerita selanjutnya? Apakah Angga akan segera sembuh dan mengingat kembali semua kenangan masa lalunya? Ikuti terus ceritanya ya guys dan jangan lupa dukungannya. ๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™


See you๐Ÿ˜‰


__ADS_2