Persahabatan Telah Mengubah Takdir

Persahabatan Telah Mengubah Takdir
Bab 23. Rencana yang gagal


__ADS_3

Bisa kembali kesekolah menjadi kebahagiaan tersendiri bagi Zia. Kondisi keluarganya yang sekarang tetap tidak menyurutkan keinginannya untuk bisa masuk Universitas. Kini dia harus lebih fokus belajar untuk mengejar ketertinggalannya karena ujian akhir yang sudah semakin dekat.


Angga pun sudah mulai bekerja dari rumah, namun hal ini masih dia rahasiakan dari Zia. Dia tidak mau menambah beban fikiran Zia dengan memberitahukan bahwa dirinya telah bekerja sebelum ujian akhir dimulai.


Setelah ia mengantar Zia pulang, Angga langsung menuju apartemennya untuk membersihkan diri, makan dan beribadah baru kemudian ia berkutat dengan laptopnya.


Semua pekerjaan yang harus dia kerjakan sudah dikirim oleh asisten Papanya yang bernama Frans lewat emailnya. Dia akan mendapatkan bimbingan via telephone jika ada yang perlu ia tanyakan.


Halaman perhalaman laporan pun ia pelajari


karena ia masih pemula, ia mendapati beberapa kesulitan yang perlu ia pertanyakan kepada asisten Frans. Frans pun menjelaskan satu persatu dengan sabar kepada Angga.


Kegigihan dan kecerdasan Angga dalam menganalisa masalah, hitung menghitung dan memainkan komputer cukup mendapat acungan jempol dari asisten Frans. Dia bisa menangkap dengan cepat setiap arahan yang diberikan, hingga hanya dalam dua hari hasil analisa atas laporan keuangan yang diinginkan Papanya pun selesai.


Berdasarkan analisa awal yang dilakukan Angga, terdapat penyelewengan dana dibagian pengadaan peralatan pabrik pertambangan Papanya yang terdapat di Kalimantan.


Ia segera mengirim hasil kerjanya kepada sang Papa. Papa Angga sangat senang dengan hasil kerja putranya. Secepatnya Tuan Wiguna akan mengirim tim Audit ke perusahaannya yang ada di Kalimantan untuk menindak lanjuti hasil analisa yang dilakukan Angga.


Sebenarnya Tuan Wiguna ingin sekali jika putranya yang terjun langsung kesana tapi karena ujian akhir sekolah belum dimulai ia tidak mau mengambil resiko.


Tugas demi tugas terus diberikan kepada Angga dan dia dapat menyelesaikannya dengan cepat.


Frans mengatakan kepada Tuan Wiguna, jika Angga terus belajar, Angga akan bisa menjadi seorang pengusaha muda yang sukses.


Tuan Wiguna merasa senang dan mengucapkan terimakasih kepada Frans dan ia mohon agar Frans terus membimbing putranya.


Kebahagian terpancar jelas dimata Tuan Wiguna. Harapan yang tadinya hampir pupus untuk menjadikan Angga sebagai pewaris dan penerus bisnis keluarga Wiguna ketika Angga memutuskan keluar dari rumah dan memilih tinggal sendiri di apartement kini bersemi kembali dihatinya. Dia akan mendampingi Angga agar bisa mencapai kesuksesan hingga ia yakin akan menyerahkan semua perusahaannya kepada putranya itu.


Walaupun pekerjaan telah menyita sebagian besar waktu Angga, namun ia tetap meluangkan waktunya menjelang tidur untuk menelphone Zia. Dia terus memberikan semangat kepada Zia untuk belajar karena dua hari lagi ujian akan dimulai dan tetap memberikan keyakinkan kepada Zia bahwa mereka akan mendaftar dan diterima di Universitas yang sama.


Sementara Zia disela kesibukannya mengurus ibunya yang telah pulang dari rumah sakit tetap menyempatkan diri belajar bersama Rania. Rania hampir setiap hari datang kesana, dia merasa keluarga Zia sudah seperti keluarganya sendiri apalagi semenjak adik nya Zia tinggal bersamanya.


Papa Rania juga sesekali datang untuk menjenguk ibunya Zia sekaligus membelikan makanan untuk mereka. Ia merasa berterima kasih karena kedekatan putrinya dengan keluarga itu telah membawa kebahagiaan untuk Rania yang selama ini sering merasa kesepian. Papa Rania juga bisa sedikit tenang jika harus meninggalkan Rania untuk tugas keluar kota, dia bisa menitipkan Rania dikeluarga itu.


Kian hari hubungan keluarga dua sahabat ini semakin dekat. Bahkan Papa Rania berjanji akan menanggung semua biaya sekolah adiknya Zia sampai dia kelak masuk ke perguruan tinggi karena Papa Rania telah menganggap adik Zia seperti putranya sendiri.


Kini ujian akhir pun telah dimulai, semua murid mengerjakan soal-soal ujian dengan serius. Ujian dilakukan selama tiga hari. Hanya suara hak sepatu para pengawas ujian yang terdengar setiap harinya berjalan mondar mandir didalam kelas yang memecah keheningan kelas.


Ketika ujian dihari terakhir selesai murid-murid keluar dari kelas dengan sangat gembira. Tapi karena pihak sekolah telah mengeluarkan larangan tidak ada yang boleh membuat aksi corat coret baju makanya mereka hanya sekedar bergerombol, ada yang berencana mau pergi kepantai, ada yang berencana makan makan bareng dirumah salah satu temannya dan sebagian lagi memilih pulang kerumah masing-masing.


Angga memilih pulang karena ada pekerjaan dari kantor Papanya yang masih harus diselesaikannya. Dan rencananya sore nanti Papanya akan datang dan mengajaknya untuk menghadiri rapat dikantor cabang perusahaan tempat Angga nantinya bekerja.


Papa Angga akan memperkenalkannya kepada staf staf dan para pemegang saham disana bahwa Angga akan mulai bergabung sebagai wakil dirinya yang suatu saat akan menjadi Presdir pengganti dirinya.

__ADS_1


Sementara Zia diajak Rania untuk makan siang bersama dirumahnya karena hari ini Papa nya baru pulang dari perjalanan bisnisnya. Rania ingin memberikan oleh oleh untuk keluarga Zia.


Sebelum pulang Rania telah menelephone Bik Asih untuk memasak makanan kesukaanya, kesukaan Papa nya dan kesukaan keluarga Zia yang nanti akan dibawakan pulang untuk adik dan ibunya Zia.


Setibanya mereka dirumah ternyata mobil Papanya sudah terparkir dihalaman dan juga ada sebuah mobil BMW terparkir disana.


Rania bertanya ke Mang Asep, " Siapa tamu yang datang ya Mang?, apa papa membawa tamu pulang dari perjalanan bisnisnya?"


"Saya kurang tau Non tapi tadi sebelum saya jemput Non, Bik Asih bilang Tuan telephone agar memasak lebih karena akan ada tamu yang datang."


"Oh", jawab Rania.


"Mari Zia kita masuk dari pintu samping saja, biar nggak ngeganggu tamu Papa."


Zia pun berjalan mengikuti Rania memasuki rumahnya. Ketika ia hendak ke kamar untuk berganti pakaian Bik Asih memanggilnya.


"Non, Tuan bilang ke saya jika Non sudah pulang agar menjumpai Tuan di ruang tamu, katanya ada tamu yang ingin beliau perkenalkan kepada Non."


"Iya Bik terimakasih, saya akan kesana."


" /Ayo Zia kita temui Papa dan tamunya."


Mereka berdua segera bergegas ke ruang tamu untuk menemui Papa Rania.


Zia pun turut mengucap salam.


"Waalaikumsalam, ternyata kalian sudah pulang?"


"Iya Pa, iya Om", jawab keduanya.


"Perkenalkan nak, ini teman Papa namanya Tante Laura. Tante Laura ini rekan bisnis Papa dari Bandung dan untuk Sementara akan tinggal dirumah kita sampai urusannya selesai dikota ini."


Rania menjabat tangan Tante Laura sambil memperkenalkan dirinya," nama saya Rania tante dan ini teman saya namanya Zia."


Laura sambil tersenyum menyambut uluran tangan Rania, tapi tidak mengindahkan uluran tangan Zia.


Zia pun kembali menarik uluran tangannya. Zia sadar bahwa dia tidak sepadan dengan mereka.


Rania yang melihat itu merasa tidak senang. Papanya mempersilahkan mereka duduk agar bisa ngobrol dengan Laura.


"Silahkan kalian ngobrol dulu ya Papa akan keruangan kerja sebentar, ada berkas yang mau Papa ambil."


Dengan gaya centilnya Laura memegang tangan Tuan Arya sambil berkata

__ADS_1


"Sayang, bolehkan aku ikut kamu saja, aku kan ingin lihat lihat rumah ini terutama ruang kerja kamu?"


Tuan Arya merasa tidak enak dengan Zia dan melihat wajah Rania putrinya yang sedari tadi sudah cemberut saja, dia segera melepaskan pegangan Laura.


"Laura kamu ngobrol dulu ya dengan mereka, masalah melihat lihat rumah kamu nanti bisa diantar oleh Rania untuk berkeliling. Kamu kan akan tinggal disini jadi biar bisa lebih akrab dengan Rania atau kalian langsung saja keruang makan nanti saya menyusul."


Tuan Arya berlalu meninggalkan mereka, sementara Rania yang sejak tadi tidak senang akan keberadaan Laura berusaha untuk menghindar dan segera mengajak Zia pergi ke ruang makan.


"Kamu akan kemana Nia, kita kan belum ngobrol kenapa kamu mau pergi."


"Kami mau keruang makan Tante karena kami baru pulang dari sekolah dan perut kami sudah terasa sangat lapar."


"Kalau gitu Tante ikut kalian ya, tante nggak mau sendirian disini."


"Terserah tante saja", jawab Rania.


Setelah tiba dimeja makan, Rania mempersilahkan Zia untuk makan. Sementara tante Laura sok perhatian terhadap Rania, dia mengambilkan piring buat Rania dan mengambilkan nasi serta lauknya. Dia berlaku layaknya seorang Ibu yang memberi perhatian terhadap anaknya.


Rania merasa tidak suka, dia menolaknya,


"Maaf Tante Laura itu buat tante saja, saya akan ambil sendiri karena lauk yang tante ambil itu bukan kesukaan saya."


Kemudian ia mengambil piring dan mengisinya dengan lauk yang berbeda. Ia juga mengambilkan lauk untuk Zia. Laura nampak kecewa, dalam hati ia berkata," Awas kamu nanti ya, jika saya sudah berhasil mendapatkan Papamu, saya tidak akan sudi melayanimu. Dasar gadis bodoh!".


Dengan sinis dia menatap keduanya yang lagi asyik makan. Keduanya terus saja asyiik makan tidak memperdulikan keberadaan Laura disana, Laura terpaksa memakan-makanan yang sudah ia ambil tadi.


Tak begitu lama Papa Rania pun keluar dari ruang kerjanya dengan membawa berkas yang telah dimasukkannya kedalam tas, sepertinya Tuan Arya akan ada urusan diluar.


Rania menyapa Papanya, "Mari pa kita makan dulu."


Rania akan mengambilkan piring buat papanya, tapi Laura telah mendahuluinya.


"Biar saya saja yang melayani Papamu, kamu teruskan saja makannya."


Rania kembali duduk ke kursinya tapi dengan tatapan dan perasaan yang jengkel hingga' membuat selera makannya hilang. Rania hanya mengaduk-aduk saja makanan dipiringnya, Zia hanya terdiam melihat tingkah sahabatnya.


Laura setelah mengambilkan makanan untuk Tuan Arya dia segera menarik kursi disamping kursi Tuan Arya, dia bermaksud menyuapkan makanan ke mulut Tuan Arya.


Rania yang memperhatikannya segera membanting sendok kepiringnya hingga menimbulkan bunyi dentingan yang kuat. Tuan Arya menyadari ketidak sukaan putrinya, ia pun segera menyuruh Laura kembali ke kursinya untuk melanjutkan makan.


Selesai makan, Tuan Arya berpamitan kepada Rania dan Zia untuk ke kantor dengan Laura karena akan ada rapat dengan staf-stafnya tentang kerjasama mereka dengan perusahaan Laura.


Masih dengan wajah yang kesal Rania melepas kepergian Papanya. Rencananya ingin membicarakan tentang lowongan pekerjaan untuk Zia dikantor Papa nya jadi gagal.

__ADS_1


Sebenarnya tujuan utama Rania mengajak Zia ke rumahnya bukan hanya untuk mengajak makan bareng atau sekedar memberikan oleh oleh yang dibawa Papanya, melainkan dia ingin Papanya memberikan pekerjaan untuk Zia dikantornya. Agar kedepannya Zia mempunyai pekerjaan dan penghasilan yang layak untuk membiayai kuliahnya dan mencukupi kebutuhan keluarganya.


__ADS_2