Persahabatan Telah Mengubah Takdir

Persahabatan Telah Mengubah Takdir
Episode 72. Surprise buat Mama


__ADS_3

"Pa! wanita itu siapa? Kok dia yang duduk di sana? Memangnya Zia kemana Pa?" ucap Mama Angga sambil menguncang lengan Pak Wiguna.


"Ada Ma, itu Zia!" tunjuk Papa ke arah Zia yang baru saja muncul dari kamar dengan menggandeng Angga yang sedang menggendong Gara.


Mama membulatkan dan mengucek matanya seakan tidak percaya dengan apa yang beliau lihat. "Pa! Itu...apa Mama nggak salah lihat? Itu benar Angga putra kita Pa?"


Mama terus mengguncang tangan Pak Wiguna tapi beliau tidak memalingkan wajahnya, beliau terus menatap Angga yang semakin mendekat.


"Mas, itu Mama," ucap Zia kepada Angga.


Angga pun memberikan Gara kepada Zia, dia mendekati Sang Mama yang masih terperangah dengan air mata yang tidak bisa di bendung lagi. "Ma..., Aku putra Mama," ucap Angga sembari mengulurkan tangannya.


Mama menghambur ke pelukan Angga, tangisnya pecah, beliau tidak bisa berucap lagi. Angga membalas pelukan sang Mama, "Maaf Ma, Angga tidak menghubungi Mama kemaren karena hari sudah terlalu malam, jadi kami buat surprise aja hari ini."


"Hiks...hiks...hiks. Kamu kemana saja Nak? 4 tahun lebih kami menunggu, sampai Mama sudah nyerah, Mama pikir kamu sudah meninggal."


"Panjang ceritanya Ma, nanti Angga ceritain setelah acara selesai," ucap Angga.


"Kamu tidak rindu dengan Papa Nak?" tanya Mama yang heran melihat Angga tidak memeluk Pak Wiguna.


"Mama yang terlambat, Papa sudah mendapatkan pelukan Angga lebih dulu," jawab Pak Wiguna sambil tersenyum.


"Jadi Papa sudah tahu jika Angga masih hidup?"


Pak Wiguna pun mengangguk, "Makanya tadi malam Papa pulang larut kan Ma."


"Papa jahat! Tidak kasi tahu Mama."


"Sengaja Ma, surprise," jawab Pak Wiguna sambil menaikkan alisnya.


"Aira mana nih Pa, dia pasti senang jika tahu Kakaknya masih hidup."


"Dia masih di luar Ma, tadi Papa lihat dia lagi terima telephone."

__ADS_1


"Oh ya sudah, ayo kita gabung dengan mereka, acara kan akan segera di mulai," ucap Mama.


Mereka segera bergabung dengan yang lain di mana MC telah menyampaikan jika acara akan segera dilaksanakan.


Sebelum acara akad nikah, penghulu terlebih dahulu mengajarkan kalimat syahadat kepada Sonya karena Sonya akan mengikuti aqidah Arya sebagai muslim.


Setelah mengucapkan syahadat, Sonya kini sudah sah menjadi muslim, tinggallah tugas Arya sebagai suami nanti membimbing Sonya sesuai ajaran Islam.


Acara pun dilanjutkan dengan ijab qobul, Rania dan Frans sudah berada di sisi Tuan Arya, sementara Mike dan Angga berada di sisi Sonya.


Pak penghulu sudah bersiap, Sonya menggunakan wali hakim. Dengan di awali bismillah lafazd ijab qobul pun di ucapkan oleh wali Sonya dan Arya dengan satu kali tarikan napas.


Para saksi pun mengatakan Sah, diikuti oleh semua yang hadir di sana. Kini Arya dan Sonya telah sah menjadi pasangan suami istri.


Sonya mencium punggung tangan Arya dan Arya pun mencium puncak kepala Sonya sembari berdo'a agar rumah tangganya di beri keberkahan.


Setelah itu Pak penghulu meminta Arya untuk mengucapkan janji pernikahan dan acara pun di akhiri dengan do'a.


Arya dan Sonya meminta restu kepada Mike selaku orang tua Sonya lalu yang hadir di sana semua mengucapkan selamat kepada kedua mempelai.


Namun saat mereka menikmati hidangan, Angga dan Zia menjelaskan hal itu, mereka terkejut sekaligus senang melihat Angga yang ternyata masih hidup.


Aira yang sejak tadi memperhatikan Angga akhirnya memeluk sang Kakak dan menangis gembira. Angga masih canggung karena dia juga belum mengingat Aira. Aira heran tapi setelah Zia menjelaskan tentang kondisi Angga, diapun paham.


Gara kini asyik bermain dengan Eyangnya dan juga Aira, tapi tiba-tiba dia berlari mendekati Arya, Gara yang masih kecil dan belum mengerti dengan acara tersebut pun meminta gendong kepada Arya yang sedang menyalami tamu.


Arya dengan senang hati menggendong Gara yang sudah dia anggap anak. Arya senang Gara tetap memanggilnya Papa walaupun Papanya telah kembali.


Mereka tidak ingin membuat Gara bingung untuk mengubah panggilannya terhadap Arya. Seiring berjalannya waktu, Gara pasti akan tahu dengan sendirinya.


Acara sudah selesai, para tamu satu persatu mulai meninggalkan rumah Zia, Arya memutuskan membawa pengantinnya ke hotel dan setelah pernikahan Rania nanti, dia akan membawa Sonya ke Medan mengurus usahanya di sana.


Mike juga sudah kembali ke hotel, begitu juga Frans pamit untuk menemui klien. Kini tinggal keluarga Wiguna, mereka masih ingin berbincang dengan Angga.

__ADS_1


Pak Wiguna berencana besok ingin mengajak Angga menemui dokter, mereka ingin tahu perkembangan tentang kondisi ingatan putranya.


Memang setelah bertemu Zia, bayangan-bayangan masa lalu lebih sering terlintas diingatan Angga, dia berharap hal itu merupakan awal baik yang bisa memulihkan kembali ingatannya.


Hari ini keluarga Wiguna sangat bahagia, putra harapan mereka telah kembali, rencana mereka akan membuat syukuran dengan memberikan sumbangan ke panti asuhan dan kepada para fakir miskin.


Pak Wiguna sekeluarga pun pamit setelah puas berbincang dengan Angga dan Zia. Angga berjanji akan berkunjung besok ke rumah orangtuanya.


Setelah kepulangan orang tuanya, Zia meminta Angga untuk beristirahat bersama Gara sementara dia dan Rania membantu ibu membereskan rumah di bantu oleh beberapa orang tetangga.


Rumah telah bersih dan rapi kembali, merekapun memutuskan untuk beristirahat. Zia kembali ke kamar untuk menemui Angga, ternyata Angga dan Gara belum tidur.


Angga mengajak putranya bermain, membuat pesawat dari kertas. Zia sangat senang melihat keduanya sangat akrab walau baru saja berjumpa.


Gara yang melihat Zia datang pun memintanya untuk ikut bermain, "Ma...kesini dong, lihat nih Papa buatkan Gara pesawat," pinta Gara.


Zia pun ikut bergabung duduk di atas tempat tidur, "Memang pesawatnya mau terbang ke mana Nak?"


"Nanti jika Papa sudah sembuh kita akan naik pesawat Ma! Papa mau ajak Gara dan Mama jalan-jalan," ucap Gara.


"Oh ya, memangnya Mas mau ajak kami kemana?"


"Kemana saja yang kalian inginkan. Mas ingin mengganti waktu kebersamaan kita yang telah hilang."


Angga memeluk Zia dan juga Angga, tujuannya hidupnya kini adalah membahagiakan anak dan istrinya.


"Bagaimana jika besok pulang dari rumah Papa kita singgah ke mall, Mas ingin membawa Gara bermain."


"Terserah Mas Angga saja, yang penting Mas nggak kelelahan."


"Hore...kita akan main time zone? Kita ke taman bermain juga ya Pa?" pinta Gara.


"Iya, kemanapun Gara mau, Inshaallah Papa akan bawa Gara kesana asalkan Mama mau menunjukkan jalannya," ucap Gara sambil tersenyum memandang Zia.

__ADS_1


"Aman...Mama siap jadi pemandu. Sudah yuk kita tidur sebentar sambil menunggu datangnya sholat Ashar. Gara tidur ya! kasihan Papa biar istirahat."


"Siap Mama," jawab Gara sambil memberi hormat dan turun dari tempat tidur menuju ranjangnya.


__ADS_2