Persahabatan Telah Mengubah Takdir

Persahabatan Telah Mengubah Takdir
Bab 29. Cobaan yang beruntun


__ADS_3

Pagi-pagi Rania sudah berangkat untuk mengantar adik kesekolah, baru lanjut menjemput ibu untuk kembali ke rumah sakit. Rania dan ibu sengaja berangkat pagi agar bisa segera menggantikan Angga yang pastinya lelah sejak kemaren kurang istirahat.


Ibu sejak subuh sudah mempersiapkan pakaian ganti dan bekal yang mau dibawa ke rumah sakit.


Begitu mobil Rania tiba, ibu mempersilahkan Rania dan mang Asep masuk untuk sarapan.


"Ayo masuk dulu nak, mang Asep, sarapan dulu, ibu tadi pagi-pagi sudah masak sekalian buat makan siang kita nanti disana jadi nggak perlu repot kita beli dikantin."


"Terimakasih bu kami tadi sudah sarapan, sebaiknya kita langsung berangkat saja ya bu, kasihan Angga sejak kemaren dia belum istirahat dan dia juga kan harus ke kantor."


"Baiklah nak."


"Mana barang yang harus dibawa bu, biar Rania dan mang Asep saja yang mengangkat ke dalam mobil."


Selesai berkemas merekapun berangkat.


Angga sudah bersiap untuk pulang tinggal menunggu kedatangan ibu dan Rania, sebelumnya ia menemui perawat yang tadi malam menjaga Zia diruang ICU.


"Selamat pagi suster."


"Selamat pagi pak, ada yang bisa saya bantu?"


"Saya hanya ingin menanyakan bagaimana kondisi pasien Zia Ayunda Putri, apakah masih demam?"


"Alhamdulillah pak sekarang kondisinya sudah membaik, tadi malam setelah diberi obat mbak Zia nya tertidur lelap dan paginya saya lihat kondisi mbak Zia lebih fit."


"Alhamdulillah, begini Sus nanti tolong kasikan kartu nama saya ini kepada suster yang akan bertugas menggantikan suster hari ini, jika terjadi sesuatu kepada mbak Zia tolong beritahu saya ya. Pagi ini rencananya saya akan pulang dulu karena ada urusan, kemungkinan pada jam besuk sore nanti saya akan kembali kesini. Nanti ibu dan teman saya yang akan menggantikan saya menjaga Zia disini."


"Oh, baiklah Pak. Nanti akan saya sampaikan pesan bapak kepada rekan saya."


Setelah berbicara dengan suster Anggapun keluar ruangan untuk menunggu kedatangan ibu dan Rania. Sementara suster yang menerima kartu nama Angga ketika membacanya tersenyum dan bergumam," Sungguh bersyukur mbak Zia, mempunyai pacar yang sangat perhatian, sangat tampan dan tajir lagi. Ternyata walau masih muda Pak Angga telah menjadi seorang Direktur. Sungguh seorang pacar siaga. Sangat serasi, mbak Zia juga sangat cantik, lembut dan tentunya pasti seorang gadis yang baik."


Ibu dan Zia sudah sampai mereka langsung menemui Angga.


"Nak Angga, bagaimana keadaan Zia?"


"Alhamdulillah bu, hari ini suster bilang kondisinya semakin membaik."


"Syukurlah nak, mudah-mudahan segera cepat pulih, oh ya nak sebelum pulang nak Angga sebaiknya sarapan dulu, ini ada nasi goreng sengaja ibu masak buat nak Angga dan ini tehnya."


Ibu mengeluarkan sarapan untuk Angga dari tas bekal yang dibawanya tadi.

__ADS_1


"Terimakasih bu, pasti enak nih masakan ibu."


"Ah nak Angga bisa saja, masakan kampung lho nak."


"Ayo Nia kita sarapan. Silahkan Ngga, aku tadi sudah sarapan dirumah bareng adik dan Papa."


"Eh, benar lho Nia sangat lezat masakan ibu, kalah nih rasa masakan koki hotel bintang lima."


"Nak Angga sangat pandai menghibur hati ibu."


"Beneran kok bu, nih lihat sebentar saja ludes makanan ibu. Oh ya bu, Nia jika ada apa-apa telephone saja saya ya, saya akan tetap aktifkan hand phone walau sedang rapat. Dan salam buat Zia, pagi ini saya belum sempat jenguk karena harus buru-buru ke kantor. Insha Allah jam besuk sore nanti saya akan usahakan menemuinya."


"Iya nak, nggak apa apa. Zia pasti faham dengan posisi nak Angga."


"Oh ya bu, Angga permisi pulang dulu. Angga akan ke apartement dulu baru berangkat ke kantor, Nia titip ibu dan Zia ya."


"Oke Pak boss."


"Kamu nih!".


"Kan betul, kamu kan memang bos", dengan wajah cerianya Rania terus menggoda Angga.


Anggapun kemudian beranjak pergi dengan mengucap salam.


Setibanya di apartement Angga membersihkan diri, berpakaian rapi layaknya seorang eksekutif muda, pokoknya kereeen habis dech. Kemudian ia membuka email nya dan segera menuju kantor.


Dia memanggil sekretarisnya untuk menanyakan apakah berkas-berkas untuk rapat hari ini sudah dipersiapkan.


Tepat jam 10.00 WIB rapat dimulai. Pembahasan demi pembahasan tentang proyek baru mereka pun selesai dengan perencanaan pengerjaan yang matang.


Disaat rapat hampir berakhir hand phone Angga berdering. Ia permisi keluar sebentar untuk menerima panggilan. Dia takut itu telephone dari rumah sakit.


Setelah ia lihat ternyata telephone dari mamanya. Angga segera menelphone balik.


Ketika telephone diangkat terdengar suara mamanya sedang menangis.


Assalamu'alaikum Ma, Hallo Ma Ma, ada apa Ma kok kedengarannya Mama sepertinya sedang menangis."


"Papa nak, Papa."


"Iya ma, ada apa dengan Papa ma, mama jangan panik cerita ke Angga."

__ADS_1


Mamanya terus menangis terisak isak. Mana Aira ma biar Angga bicara dengannya.


"Hallo dek, ini Kak Angga, ada apa dengan Papa dek, ayo cerita ke kakak."


Aira juga menangis," Papa terkena serangan jantung kak."


"Apa dek, jadi bagaimana sekarang kondisi Papa."


"Papa sedang di ruangan ICU Kak. Ini Aira dan mama masih menunggu penjelasan dari dokter."


"Apa sebenarnya yang terjadi sampai Papa terkena serangan jantung?"


"Menurut sekretaris Papa, sebelumnya Papa menerima telephone dari Perusahaan Papa yang ada di Papua. Disana terjadi kekacauan, karyawan dan masyarakat sekitar demo Kak. Kabarnya mereka meminta pertanggung jawaban atas kecelakaan yang terjadi di area pertambangan emas milik Papa beberapa bulan lalu. Demo mogok kerja dan merusak akses jalan menuju pusat pertambangan hingga semua pekerjaan terhenti. Diperkirakan karena hal ini perusahaan Papa mengalami kerugian puluhan triliun. Padahal menurut sekretaris Papa yang ada dikantor pusat Jakarta, beberapa bulan lalu perusahaan telah menyelesaikan kasus itu secara damai dan telah memberikan uang konfensasi kepada pihak keluarga korban yang jumlahnya cukup besar dan perusahaan akan menanggung biaya pendidikan anak para korban sampai mereka lulus perguruan tinggi. Serta akan memberikan kesempatan kerja kepada anak mereka yang telah lulus sarjana untuk bekerja diperusahaan Papa."


"Jadi kenapa sekarang masalah itu mencuat kembali ke publik. Pasti ada yang tidak beres ini dek, pasti ada penghianat yang mempropokatori masalah ini agar terungkit kembali. Mereka sengaja menyusup diperusahaan Papa."


"Kakak cepatlah datang ke Jakarta, cuma kakak yang bisa kami andalkan untuk membantu Papa, apalagi dengan kondisi Papa yang seperti ini semuanya pasti akan semakin kacau Kak. Mama menangis terus kak, cemas mikirin kondisi Papa dan Aira juga tidak bisa berbuat banyak. Aira hanya bisa menjaga Papa dan mama disini."


"Sekarang Papa dirawat dimana dek?"


"Papa dirawat dirumah sakit Medistra Kak."


"Baiklah dek Kakak akan menyelesaikan masalah disini dulu dan secepatnya berangkat kesana. Hari ini Kakak akan menyuruh asisten pribadi kakak untuk berangkat terlebih dahulu agar bisa menemani kamu dan mama dalam menjaga Papa. Dan mohon kepada dokter untuk melakukan pengobatan yang terbaik buat Papa dek. Berapapun biayanya kita akan bayar asalkan Papa bisa sembuh."


"Iya kak, Kakak hati-hati disana ya kami tunggu kedatangan kakak secepatnya."


"Iya dek, kakak tutup dulu telephone nya ya dek,


Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam", jawab Aira sambil menutup telephonenya.


Angga kembali keruang rapat, dan segera membubarkan rapat dengan alasan ada urusan mendesak, kemudian ia memanggil asisten dan sekretarisnya untuk segera keruangannya.


Kemudian Angga menjelaskan masalah yang terjadi. Ia memerintahkan kepada sekretarisnya agar memesankan tiket pesawat penerbangan siang ini untuk keberangkatan asistennya dan satu tiket lagi keberangkatan besok pagi pada penerbangan pertama tujuan Jakarta untuk dirinya.


Setelah asisten dan sekretarisnya keluar, Anggapun menangis untuk mengeluarkan beban kesedihan dihatinya. Kenapa cobaan datang bertubi tubi, Zia belum sembuh dan kini papanya dan belum lagi masalah perusahaan yang mau tidak mau harus Angga yang berangkat ke Papua untuk menyelesaikan masalah disana.


Timbul penyesalan dalam hatinya, kenapa tidak sedari dulu ia turuti omongan papanya untuk belajar terjun langsung mengelola perusahaan. Jika dia dulu tidak menentang maka keadaan tidak akan separah ini, mungkin papanya tidak akan terkena serangan jantung.


Mengingat itu semua ia kembali terisak. Sekuat dan setegar apapun Angga, ia tetaplah seorang anak yang tidak tega melihat orang tuanya tertimpa musibah.

__ADS_1


__ADS_2