Persahabatan Telah Mengubah Takdir

Persahabatan Telah Mengubah Takdir
Episode 71. Bersikap mesra


__ADS_3

"Papa..., Gara boleh bobok di sini Ya? Gara mau bobok sambil dipeluk Papa sama Mama," ucap Gara.


"Boleh dong Sayang? Ayo kita bobok lagi, tuh Mama kamu juga masih mengantuk," jawab Angga sambil tersenyum kepada Zia yang sedang menguap.


Gara pun tidur dengan dipeluk oleh Papa serta Mamanya. Dia sangat senang, baru kali ini Gara tidur tidak melepaskan pegangan tangannya, baik terhadap Zia maupun Angga, seakan dia takut kedua orangtuanya akan pergi meninggalkannya.


Alarm ponsel Zia berdering menandakan hampir masuk waktu subuh, Zia perlahan melepaskan pegangan Gara, lalu bangkit untuk membangunkan Angga.


Zia mencium, lalu mengusap lembut wajah suaminya hingga membuat Angga tersentak dan membuka mata. Angga kaget saat melihat wajah Zia hanya berjarak beberapa senti saja dari wajahnya.


Pandangan merekapun bertemu, Zia yang merindukan sentuhan suami, membayangkan saat dulu Angga selalu bersikap romantis baik sebelum maupun ketika bangun tidur.


Angga menatap mata Zia yang teduh, dia melepaskan tangan Gara dari lengannya, lalu menyentuh wajah Zia perlahan. Angga berusaha untuk mengingat dan terlintaslah moment kemesraan yang pernah ada di antara mereka.


Zia yang merasa mendapat perhatian dan sentuhan lembut dari sang suami pun terbuai, matanya mulai berkabut, rasa hangat perlahan merasuki hati keduanya.


Angga mendaratkan sebuah ciuman ke bibir Zia, ciuman yang sangat lembut, sesaat mereka menikmati moment indah itu dan keduanya tenggelam dalam manisnya kemesraan dan tidak ingin saling lepas.


"Mama...," panggil Gara dalam tidurnya.


Angga dan Zia terkejut lalu buru-buru melepaskan ciuman mereka, saat mendengar suara Gara, ternyata Gara hanya mengigau.


Keduanya tersenyum malu, layaknya seperti pasangan baru, lalu Zia berkata, "Ayo kita sholat Mas, sebentar lagi Adzan pasti berkumandang dan kita juga harus membantu persiapan akad nikah.


Anggapun mengangguk, Angga menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dan berwudhu, sementara Zia menyiapkan pakaian sholat suaminya. Setelah Angga keluar barulah Zia gantian masuk ke kamar mandi.


Angga menunggu Zia untuk melaksanakan sholat berjama'ah di rumah, padahal dulu dia selalu ke masjid jika telah mendengar seruan adzan. Saat ini Angga masih merasa asing untuk membaur dengan tetangga, makanya dia lebih memilih sholat berjamaah di rumah bersama sang istri.

__ADS_1


Keduanya telah selesai melaksanakan kewajiban di akhiri dengan Zia yang mencium punggung tangan suaminya. Angga bersyukur walau dia masih samar-samar mengingat, ternyata dia memiliki istri yang sholehah.


Zia permisi ke dapur untuk menyiapkan sarapan, sementara Angga masih ingin di kamar memandangi putranya yang masih tidur, lalu Angga mencari sesuatu, yang dia harap bisa membantu dirinya untuk mengingat masa lalu.


Angga membuka setiap laci lemari dan juga nakas, dia menemukan beberapa album foto lama di sana.


Foto saat dirinya, Zia dan Rania masih memakai seragam sekolah.


Lembar demi lembar album itu dia buka, Angga tersenyum sendiri melihat foto Zia yang masih lugu dan ada beberapa lembar foto saat mereka melangsungkan akad nikah.


Tanpa Angga sadari sebuah tangan memegang pundaknya, Zia yang kembali ke kamar dan melihat sang suami duduk di bawah sambil melihat album dengan tersenyum merasa penasaran, mungkinkah suaminya mengingat sesuatu.


Angga mendongak, Zia pun melayangkan kecupan di kening Angga. Zia sengaja bersikap mesra agar suaminya merasakan kenyamanan. Dia berharap dengan perhatian-perhatian kecil yang Zia berikan bisa mempercepat kesembuhan Angga.


"Kenapa Mas? lucu ya foto ku dulu saat kita masih SMU," tanya Zia sambil duduk dan ikut melihat lembaran album yang terbuka di lantai.


"Kamu polos dan cantik, ucap Angga sembari tersenyum."


"Tapi aku telah meninggalkan kamu hampir 5 tahun, pasti kalian mengalami hidup yang sulit dan aku malah enak-enakan tinggal di luar negeri. Maafkan aku Zia, aku ingin bisa segera mengingat masa-masa bersama kita dan aku janji akan membahagiakan kamu dan Gara."


Zia memeluk Angga sambil berkata, "Mas Nggak salah, keadaan yang telah membuat kita terpisah. Memang saat baru melahirkan Gara kami mengalami masa sulit tapi aku bersyukur di sisiku selalu ada Ibu dan sahabat yang selalu memberikan support, Rania adalah sahabat terbaikku."


"Oh ya, kamu tidak membantu Rania? Mas hampir lupa. Ayo kita ke luar! Mana tahu ada yang bisa Mas bantu di sana."


"Iya, tapi kita sarapan dulu ya Mas, Gara biar aja tidur, kasihan dia masih mengantuk."


Gara mengangguk lalu mereka menuju ke ruang makan, ternyata Rania juga baru tiba di sana.

__ADS_1


"Cie...pengantin baru. Senengnya lihat kalian seperti ini, bisa segera punya adik nih Gara!" ucap Rania saat melihat Zia bergandengan tangan dengan Angga sambil tersenyum.


"Ah kamu bisa aja Nia, biar Gara Sekolah Dasar dulu lah baru beri dia adik. Kasihan dia masih kecil nanti perhatian kami terbagi dan itu malah bisa membuat Gara merasa terabaikan."


Angga hanya tersenyum menanggapi celotehan Rania. Dia yang dulu selalu beradu argumen jika bertemu dengan Nia, kini hanya lebih banyak diam. Hal ini membuat Rania rindu, rindu sahabatnya yang dulu sebelum hilang ingatan.


"Ayo, kita sarapan sebelum para tamu pada datang," ajak Zia.


"Tunggu! Ibu dan adik kemana ya?" tanya Rania.


"Ibu dan adik tadi sudah sarapan, beliau sekarang sedang ke rumah tetangga untuk melihat apakah kuenya sudah selesai di buat. Kalau adik sudah berangkat ke sekolah karena hari ini masih ada ujian."


"Oh, gitu. Ya sudah ayo kita sarapan."


Mereka pun sarapan dalam suasana hening, hanya suara alat makan saja yang terdengar berdenging.


Selesai mereka sarapan, para kerabat dan tetangga pun mulai berdatangan. Frans datang mendampingi calon mertuanya sebagai pengantin pria.


Sementara Mike dan Sonya tiba dengan di kawal oleh orang-orang kepercayaan yang telah diutus oleh Arya untuk menjemput mereka.


Keluarga Pak Wiguna juga sedang dalam perjalanan ke rumah Zia. Mama dan Aira berceloteh, mereka sudah tidak sabar ingin melihat Zia menjadi pengantin.


Pak Wiguna yang memang ingin memberikan kejutan kepada anak dan istrinya pun, hanya diam sembari tersenyum.


Bersamaan dengan sampainya rombongan Pak Wiguna, penghulu perkawinan pun tiba. Ibu meminta mereka masuk, Mama Angga celingukan mencari Zia di dalam, tapi beliau tidak menemukannya.


Beliau heran kenapa ada pengantin wanita yang lain di sana bahkan duduk berdampingan dengan Tuan Arya di hadapan meja Pak penghulu.

__ADS_1


BERSAMBUNG......


🌻 Terimakasih atas dukungannya ya


__ADS_2