
Rasa lelah karena pekerjaan yang menumpuk terasa hilang setelah melihat sang ibu tersenyum menyambut kepulangannya.
"Capek ya nak, duduk disini dulu sebentar, ibu tadi sengaja buat teh jahe kesukaan kamu. Di minum dulu mumpung masih hangat, biar segar badan dan hilang rasa capek kamu."
"Iya bu, terima kasih bu._
"Bagaimana keadaan ibu hari ini, apakah masih terasa sesak dadanya?"
"Alhamdulillah, hari ini ibu merasa baikan, mudah- mudahan sehat terus ya bu."
"Aamiin", sahut ibu.
"Sana gih mandi dulu, biar segar badannya, setelah itu istirahat sebentar sambil nunggu waktu maghrib."
"Iya bu, Zia permisi dulu ke kamar ya bu."
Ibu mengangguk tanda setuju.
Maghrib pun tiba, seperti biasa Zia menjalankan kewajiban menyembah Rob nya. Setelah selesai dia segera berkumpul bersama Ibu, Ayah dan adiknya di ruang makan.
Hari ini ibu yang memasak karena kondisi kesehatan ibu sedang stabil. Yang dimasak ibu adalah menu sederhana tumis kangkung pakai terasi dan ikan asin goreng, tapi mereka semua makan dengan lahap.
Masakan apapun yang diolah ibu rasanya sangat nikmat, tidak kalah dengan rasa masakan restoran ternama atau masakan hotel berbintang lima.
Ibu sejak gadis belia sudah pandai memasak, Ibu belajar memasak dari nenek. Nenek adalah seorang koki di istana kepresidenan.
Nasib ibu aja yang tak seberuntung nenek. Tapi Zia tetap bersyukur, Allah telah memberikan seorang ibu yang terbaik buatnya.
Setelah selesai makan Zia membereskan meja dan membersihkan semua peralatan makan dibantu adiknya. Walaupun dia seorang anak laki-laki tapi dia rajin dan tak malu membantu mengerjakan pekerjaan rumah.
Bila Zia terlambat pulang dari loundry, dialah yang membantu ibu menyapu rumah, menyapu halaman, mengangkat pakaian dari jemuran dan sesekali belanja ke pasar.
Sepulang sekolah ia jarang bermain dengan teman-temannya, dia selalu dirumah menjaga dan merawat ibu.
Ayah sudah kembali ke kamar untuk beristirahat karena lelah seharian bekerja dan ibu juga menyusul ayah untuk beristirahat, adik Zia juga kembali ke kamar untuk belajar dan mengerjakan tugas sekolahnya.
Sementara Zia mengerjakan Sholat Isya' kemudian kembali dengan rutinitas seperti biasa yang dilalakukannya setiap malam yaitu mengajar les karena murid muridnya sudah menunggunya diruang tamu.
__ADS_1
Ketika Zia hampir selesai mengajar handphonenya berdering, terlihat dilayar nama Rania yang melakukan panggilan.
Sementara murid-murid Zia sedang mengerjakan tugas matematika yang diberikannya, Zia menerima panggilan dari Rania sembari sedikit menjauh dari murid-muridnya.
"Hallo, Assalamualaikum", terdengar suara Rania dari seberang.
" Wa'alaikumsalam", jawab Zia.
"Sedang apa kamu Zia?"
"Aku sedang mengajar les Rania."
"Hah, sudah malam gini masih juga bekerja, jadi kapanlah lagi waktu istirahat kamu Zia, apa kamu tidak merasa capek?, pagi sekolah, siang bekerja, malam mengajar lagi belum lagi membantu pekerjaan ibumu."
"Capek juga sebenarnya Nia, tapi aku senang melakukannya. Aku merasa hidupku lebih berarti, lebih berguna baik untuk diriku, untuk keluargaku dan untuk orang lain."
"Memangnya malam-malam begini kamu ngajar dimana Zia?"
"Dirumahku", jawab Zia.
"Murid muridku adalah anak-anak tetanggaku Nia, mereka juga anak-anak dari keluarga kurang mampu, jadi aku menerima berapapun yang orang tua mereka sanggup berikan sebagai jasaku mengajar anak anak mereka. Bagi mereka yang tidak sanggup membayarku aku ikhlas, aku ingin selama aku hidup bisa berguna bagi mereka-mereka yang membutuhkanku."
..." Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain."...
Dan Allah SWT telah menjelaskan dalam firman-Nya QS. Al Isra : 7
...yang artinya:...
..."Jika kamu berbuat baik, sesungguhnya kalian telah berbuat baik bagi diri kalian sendiri dan jika kamu berbuat jahat maka kerugian atas kejahatan itu juga untuk dirimu sendiri."...
"Sungguh mulia hati kamu Zia, aku harus lebih banyak belajar denganmu."
"Mari kita sama-sama belajar Nia, aku juga hanya manusia biasa yang masih banyak kesalahan dan kekurangan karena tidak ada manusia yang sempurna dan kesempurnaan hanya milik Allah SWT. Oh ya, ada apa kamu telephone aku malam malam begini?"
"Aku cuma mau bilang, besok pagi aku jemput kamu ya, besok aku minta papa yang mengantarku jadi sekalian biar kamu kenal dengan Papaku."
"Aku naik angkutan umum saja Nia, aku segan, malu dan tidak ingin merepotkan kalian."
__ADS_1
"Siapa bilang kamu merepotkan kami, kamu kan tadi menjelaskan tentang sabda Rosul dan firman Allah tentang berbuat baik. Aku juga ingin menjadi orang baik dan bermanfaat bagi orang lain Zia dan terutama bermanfaat bagi sahabatku ini."
"Baiklah, besok aku tunggu dirumah ya, terima kasih Nia."
"Iya sama-sama Zia. Oh ya, rumah kamu tidak jauh kan dari loundry tempatmu bekerja."
"Iya Nia, sekitar 200 meter lah dari loundry."
"Baiklah ku tutup dulu ya telephone ku, lanjut tuh ngajarnya, Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam", jawab Zia kembali.
Zia pun melanjutkan mengajarnya. Setelah semua selesai, murid-murid kembali kerumah mereka dan Zia pun segera beristirahat.
Keesokan pagi, Zia sudah menyelesaikan semua kewajiban dan tugasnya. Dia tidak mau sahabat dan papa sahabatnya nanti menunggunya makanya dia bersiap lebih awal.
Berselang beberapa waktu, Nia bersama papanya pun sampai, Nia memperkenalkan dirinya dan papa nya kepada ibunya Zia kemudian memperkenalkan Papanya kepada Zia.
Ternyata benar yang Raniah katakan, Papa nya sangat tampan berwajah bule keturunan Jerman dan terlihat muda dari usianya.
"Memang pantasnya jadi abang Raniah ketimbang jadi Papanya", Ucap Zia dalam hati.
Di seberang jalan, sedikit jauh dari rumah Zia terlihat mobil sport merah parkir disana, pengemudinya mengawasi mereka dari dalam mobil.
Ternyata dia adalah Angga Wiguna yang bermaksud menjemput Zia untuk berangkat bareng. Tapi ketika dia hendak turun dari mobilnya ia melihat Rania dan Papa Rania keluar menghampiri Zia dan ibunya, jadi Angga mengurungkan niatnya.
Timbul rasa kecewa di dalam hatinya, ada rasa cemburu, sakit, ketika Zia bersalaman dengan Papa Rania.
Angga merasa tidak rela Zia dekat dengan laki-laki lain, tapi dia hanya bisa menahan perasaannya saja. Dia belum mempunyai keberanian dan belum memiliki kesempatan untuk mengutarakan perasaannya terhadap Zia.
Setelah Zia, Rania dan Papa Rania berpamitan kepada ibunya Zia, merekapun segera naik ke mobil dan Papa Rania segera melajukan mobilnya perlahan ke arah sekolah putrinya.
Kemudian Angga juga segera melajukan mobil sportnya mengikuti mobil Papa Rania dengan tujuan yang sama.
Akhirnya mereka pun tiba disekolah tepat waktu.
Rania, Zia segera berpamitan kepada Papa Rania untuk masuk kelas.
__ADS_1
Zia mengucapkan terima kasih kepada Papa Rania sambil tersenyum, hal ini semakin menambah rasa cemburu di dalam hati Angga yang melihatnya.
Setelah keduanya berjalan masuk kelingkungan sekolah Angga pun turun dari mobilnya bermaksud menyusul mereka.