Persahabatan Telah Mengubah Takdir

Persahabatan Telah Mengubah Takdir
Episode 41. Mengundang Tetangga


__ADS_3

Pernikahan Angga sudah semakin dekat, persiapan seserahan sudah dipersiapkan. Seserahan isi kamar langsung ditempatkan di ruko tempat mereka akan tinggal, sementara yang akan di bawa ke Medan adalah uang, seperangkat alat sholat serta seperangkat perhiasan.


Angga juga telah mentransfer sejumlah uang ke dalam rekeningnya yang kartu ATM nya saat ini ada di tangan Zia agar bisa dipergunakan oleh Zia untuk membeli keperluan yang berhubungan dengan acara pernikahan, membeli gaun, membeli pakaian untuk ibu dan adiknya serta membeli bahan makanan untuk sajian saat acara aqad.


Papa Angga terus memberikan support kepada putranya, ia yakin Angga tidak salah memilih calon istri. Walaupun Mama Angga kurang menyetujui, beliau hanya berharap lambat laun kekerasan hati sang istri akan luluh oleh kebaikan menantunya nanti.


Frans juga sudah memesan lima buah tiket pesawat Garuda dengan keberangkatan lusa dan telah memesan tiket balik untuk delapan orang untuk keberangkatan dua hari setelah aqad.


Zia dibantu oleh Rania membeli gaun yang akan di pakainya saat aqad dan membelikan baju untuk ibu dan adiknya. Kemudian mereka belanja bahan mentah yang Zia perlukan.


Setelah selesai mereka kembali kerumah, karena Zia akan memberitahu kepada beberapa orang tetangga agar membantu dan menjadi saksi dalam pernikahannya nanti.


Zia dan Rania menurunkan semua belanjaan mereka dibantu oleh sang adik. Ibu hendak membantu namun Zia melarangnya, kemudian mereka meletakkan bahan-bahan mentah di dapur.


Kini tinggal memberitahu tetangga, Zia, ibu dan Rania bersama-sama pergi ke rumah tetangga-tetangga untuk mengundang mereka agar hadir sebagai saksi pernikahan. Lalu mereka ke rumah Pak Kades, mengundang pak kades beserta istri untuk hadir dalam acara yang akan di adakan tiga hari yang akan datang.


Selesai mengundang, Rania pamit kepada ibu untuk mengajak Zia ke Spa, ia ingin Zia melakukan perawatan yang membuat tubuh Zia lebih segar dan rileks saat acara nanti tiba. Selain menemani Zia, Rania juga ingin perawatan untuk dirinya sendiri karena sudah lama ia tidak melakukannya.


Mereka menuju ke tempat Spa langganan Rania, pemilik dan karyawan Spa menyambut mereka dengan ramah. Eh tanpa disangka di sana mereka bertemu dengan Bella dan Lusy, yang sejak tamat tidak pernah berjumpa.


Zia pun menyapa mereka," Hai....apa kabar kalian", ucap Zia dengan ramah.


Namun Bella dan Lusy menanggapi dengan sinis, "Wah ternyata setelah berhasil menggaet Angga kamu manfaatin dia memporoti uangnya untuk perawatan ya!", ucap Bella sinis.


Zia malas menanggapi mereka, Rania tidak bisa setenang Zia, dengan ketus dia menjawab," Apa urusan kalian, itu uang calon suaminya wajarlah jika ia ikut menikmatinya. Toh hasilnya Angga juga yang akan menikmatinya. Suami mana yang tidak akan senang jika melihat istrinya cantik, wangi dan jelas menggairahkan", ucap Rania sengaja ingin membuat Bella panas.


Lusy nggak kalah mengejek dengan perkataannya,


"Pakai ilmu pelet apa kamu Zia hingga bisa menggoda Angga, bahkan ia mau menikahimu. Kamu tidak pantas untuk bersanding dengan dia. Yakinlah hidupmu tidak akan bahagia apalagi mamanya tidak merestui hubungan kalian."

__ADS_1


Zia terperangah, darimana mereka bisa tahu jika mamanya Angga tidak menyukai Zia padahal Zia sendiri tidak mengetahui hal itu dan Anggapun tidak pernah mengatakannya.


Kemudian Zia bertanya kepada Bella dan Lusy", Darimana kalian tahu jika mamanya Angga tidak setuju dengan hubungan kami", ucap Zia penasaran.


Bella dan Lusy tertawa, kemudian Bella berkata", Bukan saja tidak setuju tapi malu mempunyai menantu sepertimu. Kamu tidak bisa di banggakan oleh mamanya Angga di kelompok sosialitanya", ucap Bella lagi hingga membuatnya merasa tidak nyaman.


Rania yang tidak senang sahabatnya di ganggu kemudian berkata", Kamu asal ngomong saja, jika memang tidak setuju kenapa tiga hari lagi mereka akan menikah, dasar kalian iri saja dengan Zia yang berhasil mendapatkan Angga", ucap Rania kesal.


"Jika kalian tidak percaya, ini silahkan telephone dan tanyakan sendiri dengan Mamanya bahkan Aira adik Angga juga mendukung sang Mama", ucap Bella lagi untuk meyakinkan Zia.


"Sudah Zia tidak usah kamu dengarkan yang penting Angga sayang sama kamu, masalah keluarganya itu nomor dua. Jika nanti kalian bahagia otomatis keluarganya juga bahagia", ucap Rania untuk menenangkan sahabatnya.


"Tapi Nia aku masih penasaran darimana sebenarnya mereka tahu jika Mama dan adik Angga tidak menyukaiku?"


"Oh kamu mau tahu, aku langsung bertemu dan ngobrol dengan Mama dan Aira adiknya Angga", ucap Bella lagi.


"Ayo Zia sudah tiba giliran kita, tidak usah kamu ambil hati omongan orang seperti itu!", ucap Rania sambil mengajak Zia pergi dari sana.


Zia dan Rania sudah mulai perawatan, mereka dimanjakan mulai dari ujung kaki hingga ujung kepala dan dilengkapi dengan minyak aromaterapi yang membuat tubuh mereka lebih wangi dan segar. Rania akan membawa Zia lagi kesini sehari sebelum pernikahan supaya lebih fresh.


Setelah selesai perawatan, mereka menuju ke rumah Rania, Zia ingin mengundang Papa Rania secara langsung. Karena Zia ingin menghargai tuan Arya yang sudah dianggap sebagai keluarganya sendiri.


Mereka tiba di rumah Rania, disana terlihat sepi hanya ada Mang Asep sedang mencuci mobil, kemudian Rania mendekati mang Asep dan bertanya," Mang...kok sepi ya, papa dimana mang?"


"Sepertinya Papa di taman belakang Non, lagi memberi makan ikan", jawab mang Asep.


"Oh ya mang, terimakasih ya mang. Nia biar langsung kesana saja soalnya ada yang ingin kami bicarakan sama Papa", ucap Rania.


"Silahkan Non, mamang juga mau nyelesaikan mencuci mobil tuan dulu", jawab mang Asep.

__ADS_1


Rania kemudian mengajak Zia untuk menemui Papanya di taman belakang rumah, ternyata benar tuan Arya sedang memberi makan ikan di kolam.


Rania segera berlari menghampiri papanya dan bergelayut manja dilengannya sambil berkata," Pa,


ada Zia datang ingin menemui Papa", ucap Rania.


Tuan Arya pun mengalihkan perhatiannya kepada Zia seraya tersenyum dan berkata," Ayo kita bicara di dalam saja sambil minum teh, tapi sebelumnya papa mau cuci tangan dulu ya."


Tuan Arya pun berjalan ke arah dalam rumah diikuti oleh Rania dan Zia. Mereka duduk di ruang tamu sambil menunggu kedatangan tuan Arya. Sementara Bik Asih membuatkan mereka teh dan membawakan cemilan berupa kerupuk mie.


Rania mempersilakan Zia untuk meminum tehnya, kemudian Rania berkata," Oh ya Zia, aku seminggu setelah kamu berangkat baru nyusul, karena papaku menyelesaikan tugasnya dulu diluar kota baru mengantarku ke Jakarta.


Saat mereka asyik mengobrol tuan Arya pun datang, kemudian Rania berkata," Begini lho Pa, Zia ingin mengundang Papa untuk hadir dalam acara pernikahannya yang akan di adakan tiga hari lagi."


"Iya Tuan, Saya sekeluarga mohon kehadiran tuan bersama Rania untuk menjadi saksi dalam pernikahan saya dengan Mas Angga", undang Zia.


"Inshaallah ya Zia saya dan Rania akan datang. Jadi kapan keberangkatan kalian ke Jakarta?", tanya tuan Arya.


"Dua hari setelah menikah Tuan, karena banyak urusan kantor yang harus ditangani mas Angga secepatnya", jawab Zia.


"Oh gitu, baguslah sekarang Angga yang pegang kendali di perusahaan Papa nya, kalau tidak, bisa hancur perusahaan pak Wiguna bila kosong kepemimpinan", ucap Tuan Arya.


"Iya Tuan, bersyukurnya mas Angga mampu mengambil alih kepemimpinan sejak papanya terkena stroke", ucap Zia lagi.


"Tuan Wiguna dan kamu beruntung Zia bisa memiliki pemuda yang bertanggung jawab seperti Angga", lanjut tuan Arya.


"Papa kan juga beruntung punya Nia, insha Allah Nia akan bantu papa setelah selesai kuliah", timpal Rania nggak mau kalah.


"Iya Sayang, Papa sangat beruntung punya kamu di hidup Papa", ucap tuan Arya sambil mengacak-acak rambut putrinya.

__ADS_1


Mereka pun terus mengobrol sampai terdengar nada dering panggilan dari handphone Tuan Arya.


Tuan Arya pun pergi untuk bertemu klien, sedangkan Zia pamit untuk pulang dengan diantar oleh Mang Asep.


__ADS_2