
Usaha yang di geluti oleh Zia dan ibunya kian berkembang, Rania juga membantu menjadi tim pengajar di usaha bimbingan belajar milik Zia.
Mereka bekerja sama untuk memajukannya, dengan Zia memberikan bagi hasil kepada Rania.
Zia sudah berhasil mengembalikan modal awal yang telah di berikan oleh Angga, walau Angga tidak menerima tapi Zia tetap mengembalikannya.
Dana yang dikembalikan oleh Zia Angga pergunakan untuk membangun sekolah bagi anak-anak yang kurang mampu.
Pengelolaan sekolah di bantu oleh tim pengajar yang bekerja di bimbel milik Zia. Angga sangat senang, apa yang dia impikan bersama Zia telah terwujud.
Pak Wiguna bangga melihat keberhasilan anak dan menantunya, sedangkan Mama dan Aira merasa tetampar, Zia dan keluarganya yang selama ini mereka rendahkan ternyata telah mengharumkan nama keluarga.
Teman-teman sosialita Mama Angga sering berkunjung ke sekolah milik Angga dan Zia untuk memberikan bantuan kepada anak didik yang kurang mampu, bahkan mereka juga berlangganan loundry dengan Zia. Menurut mereka pelayanan loundry Zia bagus, bersih dan rapi di setiap seterikaannya.
Kini nama Zia sering di elu-elukan di setiap pertemuan ibu-ibu sosialita, bahkan para istri pejabat juga tidak segan untuk berlangganan dengannya.
Perusahaan yang di kelola Angga juga maju pesat, cabangnya sudah ada hampir di seluruh provinsi yang ada di Indonesia. Angga sering melakukan perjalanan keluar kota.
Pernikahan mereka sudah berjalan hampir tiga tahun namun belum ada tanda jika Zia hamil, mereka sudah berusaha berobat ke dokter spesialis kandungan dan juga berobat alternatif, semuanya menyatakan jika keduanya tidak bermasalah.
Mungkin saja karena Angga sering keluar kota makanya mereka jarang ketemu pas di masa suburnya Zia. Hal ini menjadi cemoohan sang Mama dan juga Aira, mereka bilang jika Zia yang mandul, namun Angga dan tuan Wiguna tidak pernah mau ambil pusing tentang hal ini.
Ketika usia pernikahan mereka memasuki tahun keempat, disaat Zia dan Rania hendak pergi KKN, tiba-tiba Zia pingsan, hal ini membuat Rania khawatir, kemudian dia menghubungi Angga yang kebetulan tidak dinas luar kota.
Angga yang merasa khawatir lalu berlari meninggalkan pekerjaannya, mengambil mobil di parkiran dan melajukan sekencang mungkin ke arah kampus.
Ketika melihat sang Istri sudah siuman di ruang kesehatan kampus, diapun merasa lega. Lalu Angga segera membawa Zia ke rumah sakit untuk memastikan penyakit apa yang sedang di derita oleh Zia.
Setelah di periksa oleh dokter ternyata dokter berkata, "Selamat ya Pak, sebentar lagi Bapak dan Ibu akan jadi orang tua," ucap pak dokter.
__ADS_1
"Apa dok? Apa saya sedang tidak bermimpi?" ucap Angga sembari mencubit lengannya. Ternyata sakit dan diapun mengaduh, pertanda dia sedang tidak bermimpi.
Angga dan Zia sangat senang, keduaya mengucapkan rasa syukur, hari ini juga, Angga akan membawa Zia kesebuah panti asuhan untuk memberikan sumbangan sebagai tanda syukur mereka karena akan di karuniain anak.
Kabar ini telah sampai ke telinga Tuan Wiguna dan juga Mama serta Aira, lagi-lagi cemoohan mereka gagal dan tentu saja tidak berguna.
Pak Wiguna sangat senang mendengar Anye hamil, dia berharap cucu pertamanya nanti seorang anak laki-laki, walaupun begini, jika Allah berkehendak lain memberikan mereka rezeki anak perempuan pak Wiguna tetap akan bersyukur.
Setelah keluar dari rumah sakit, Angga mencium kening Zia sembari berkata, "Terimakasih Sayang sudah membuat hidupku lebih sempurna," ucap Angga sembari tersenyum.
Zia juga tersenyum dan berkata, "Sama-sama Yang, terimakasih telah setia dan sabar menunggu kabar ini," ucap Zia.
Angga lalu melajukan mobilnya menuju panti asuhan, mereka di sana membagikan hadiah buat anak-anak dan memberikan sejumlah uang kepada Ibu panti. Anak-anak merasa senang mendapat hadiah, dan mereka berdoa semoga rumah tangga mereka selalu bahagia.
Sepulang dari panti, Zia menelephone Rania, di mengabarkan bahwa dirinya hamil dan nanti jika kondisinya sudah stabil barulah Zia akan menyusul ke lokasi KKN.
Beberapa hari kemudian kondisi Zia sudah mulai stabil, dengan diantar oleh Angga, Zia pun berangkat ke lokasi. Tapi Angga mohon kepada dosen pembimbing KKN agar memberi izin dirinya untuk sering menjenguk Zia.
Melihat kedatangan Zia, Rania langsung menghambur ke pelukannya, dia mengucapkan selamat atas penantian yang tidak sia-sia, lalu Rania mengajak Zia untuk masuk ke posko untuk bergabung dengan teman-teman yang lain.
Sementara Angga ketika tiba di kantor mendapat berita jika tambang emas di Papua runtuh dan banyak korban jiwa, dia harus kesana untuk mengecek apa penyebabnya dan juga untuk memberikan santunan kepada keluarga korban.
Angga menelephone Zia bahwa hari ini dia akan berangkat ke Papua bersama Frans, jadi kemungkinan seminggu kedepan dia baru kembali tapi Angga akan berusaha secepat mungkin bisa kembali dan pergi menjenguk Zia ke posko.
Setelah berpamitan kepada Zia dan berbicara dengan janin yang ada di perut istrinya, Angga langsung menuju ke rumah orang tuanya untuk pamit.
Angga menceritakan tentang kejadian di tambang Papua hingga membuat pak Wiguna kaget.
"Apa Nak! bagaimana bisa terjadi? apakah banyak korban Nak?" tanya Pak Wiguna.
__ADS_1
"Iya Pa," jawab Angga terlihat lesu.
"Yang sabar Nak? ini cobaan di bisnis kita," ucap Pak Wiguna sembari mengelus pundak putranya.
"Hari ini kami berangkat Pa, tinggal menunggu kedatangan Frans ini, kami langsung ke bandara," ucap Angga.
"Bagaimana dengan istrimu Nak, dia sedang hamil muda, apa tidak masalah di tinggal?" tanya pak Wiguna.
"Nggak apa-apa kok Pa? saat ini Zia sedang di tempat KKN bersama Rania. Mama kemana Pa?" tanya Angga yang sejak tadi tidak melihat sang Mama.
"Mama pergi Nak dengan teman-teman arisannya, mungkin sore baru kembali," ucap pak Wiguna.
"Ya sudah Angga titip salam saja Pa sama Mama. Do'akan ya Pa agar semua cepat selesai?"
Pak Wiguna lalu memeluk putranya, dia tahu ini masalah berat jadi harus ada yang memberi support kepada Angga.
Frans sudah datang, mereka akan segera berangkat tapi sebelumnya Angga mengajak Frans pulang ke rumah untuk pamit dengan Ibu sekaligus meminta Tim pengajar bimbel untuk menghandle sekolah selama Zia dan Angga tidak ada.
Angga juga akan meminta anggota loundry untuk menginap di sana menemani Ibu, sekaligus membantu jika warung ramai pengunjung.
Frans melajukan mobilnya menuju rumah Angga, sesampainya di sana ibu sedang melayani pembeli, lalu Angga mendekati Ibu dan menceritakan semuanya.
Ibu merasa prihatin, beliau meminta Angga untuk sabar dan harus tetap berdoa, semoga Allah mempermudahkan semua urusannya.
Anggapun pamit dan meminta tolong agar Ibu menjaga Zia, yang Angga khawatirkan saat ini adalah cuma Zia yang sedang hamil.
Ibupun mengangguk dan meminta Angga jangan mengkhawatirkan Zia, karena ibu pasti akan menjaga Zia beserta calon cucunya. Angga sekarang sedikit tenang lalu diapun memutuskan untuk segera berangkat.
Bersambung......
__ADS_1
🌻 Jangan lupa tinggalkan jejak ya guys, vote, like, coment dan rate bintang limanya. Terimakasih 🙏🙏🙏