
Frans terus menghibur bos nya, ia memberi semangat agar Angga bisa cepat menyelesaikan urusan mereka di Papua. Kemudian Frans memberi saran untuk segera melamar Zia, menurutnya pernikahan adalah solusi terbaik agar Angga bisa tenang dalam berkarir.
"Bos... sebaiknya setelah urusan kita selesai dan kembali ke Jakarta, segeralah lamar Zia, menikahlah bos!"
Angga tercengang mendengar ucapan Frans, "Mengapa kamu berfikir seperti itu Frans?, Zia masih ingin kuliah mana mungkin ia mau aku ajak menikah."
"Kuliah kan bisa dilanjutkan setelah kalian menikah!", mungkin dengan kalian menikah bos lebih tenang mengurus bisnis, menurutku Papa bos nggak mungkin bisa turun lagi mengurus bisnisnya walaupun nanti beliau sembuh kesehatannya harus tetap di kontrol. Selagi bos masih berjauhan dengan Zia fikiran bos tidak akan pernah tenang."
"Mungkin kamu benar Frans, walaupun Papa sembuh, beliau tetap tidak boleh terlalu banyak mikir yang bisa membuat penyakitnya kambuh lagi. Seterusnya akulah yang akan melanjutkan mengurus bisnis Papa, masalah saranmu untuk segera melamar Zia akan aku fikirkan dan bicarakan dulu dengan Papa dan Mama karena mereka juga kan belum tahu tentang hubungan kami."
"Oke bos, kita pasti bisa menyelesaikan masalah di Papua dengan cepat, semangat bos."
"Terimakasih Frans, kamu telah mendukungku, aku nggak tau lagi harus gimana jika tanpa dukungan mu."
"Aman bos, aku akan mengabdi selama aku hidup di perusahaan kalian. Aku juga nggak tau akan jadi apa jika tidak ada Papa bos Tuan Wiguna yang telah menerima ku waktu itu bekerja di perusahaan kalian."
Asyik mengobrol membuat Angga lupa akan mimpinya, tak terasa pesawat mereka telah mendarat di bandara Timika. Angga dan Frans yang datang ke Papua tanpa mengabarkan kedatangan mereka kepada staf perusahaan segera menelephone taksi dan minta diantarkan ke hotel. Malam ini mereka menginap di hotel, baru besok pagi rencananya langsung ke perusahaan.
Mereka tiba di grand mozza hotel, hotel di Timika yang terdekat dengan bandara, kemudian Frans check in kamar, dia memesan dua kamar terbaik disana.
Setelah selesai check in seorang bell boy mengantar dan membawakan koper mereka ke dalam kamar, rasa lelah akhirnya membuat mereka tertidur.
Keesokan pagi mereka terbangun lalu menjalankan ibadah, jogging sebentar di sekitar hotel baru kembali ke kamar untuk sarapan. Setelah itu keduanya membersihkan diri lalu bersiap akan pergi ke perusahaan.
Angga dan Frans tetap memilih menggunakan taksi untuk mengantarkan mereka, akhirnya merekapun sampai kantor tepat jam 8 pagi.
Mereka masuk kedalam dengan menunjukkan tanda pengenal kepada security disana, security mengenal Frans tapi tidak mengenal Angga sebab Angga belum pernah ikut Papanya datang ke perusahaan mereka yang ada disini.
Security yang melihat identitas Angga sebagai calon Presdir pengganti Pak Wiguna merasa sungkan, kemudian ia dengan ramah mengantarkan mereka ke dalam.
Setibanya mereka di dalam ternyata hampir di seluruh ruangan terlihat lengang hanya beberapa orang saja yang sudah datang dan duduk di tempatnya masing-masing.
Angga megajak Frans mengelilingi setiap ruangan dan langsung menuju ke ruangan manajer pemasaran ternyata juga masih kosong.
"Bagaimana bisa seperti ini Frans!", bagaimana kinerja mereka, kenapa hal ini tidak terpantau oleh Papa. Mereka semua tidak disiplin sudah jam segini yang datang masih bisa dihitung dengan jari."
Kemudian Angga mengajak Frans ke ruangan Dirut yaitu ruangan Papanya jika pas datang berkunjung, ia ingin menunggu manajer keuangan, manajer gudang dan manajer pemasaran datang.
Sementara Frans langsung menuju ke bagian keuangan untuk mulai melakukan pengecekkan.
Manajer keuangan yang juga baru tiba merasa terkejut melihat Frans yang sudah duduk diruangannya. Ia tidak menyangka akan kedatangan Frans dalam situasi Pak Wiguna sedang sakit.
__ADS_1
Kemudian ia dengan gugup mendekati Frans,
"Selamat pagi Tuan Frans, bagaimana kabar anda, kenapa tidak memberi kabar jika anda akan datang berkunjung jadi kan kami bisa utus supir untuk menjemput anda."
"Saya sengaja datang diam-diam karena tidak ingin merepotkan pihak perusahaan, tolong persiapkan laporan keuangan sekarang Pak!"
"Tapi kan Pak Presdir sedang sakit, saya tidak bisa memberikan laporan itu kepada anda, jawab manajer dengan gugup."
Ini perintah langsung dari Presdir, kamu di tunggu di ruangannya sekarang juga, kemudian Frans keluar menuju ke ruangan manajer pemasaran dan manajer gudang. Ternyata mereka juga belum datang, Frans menunggu sejenak kemudian meninggalkan pesan diatas meja mereka untuk segera menghadap Presdir diruangannya.
Frans kembali ke ruangan Angga, mereka menunggu kedatangan para manajer.
"Bagaimana Frans, apa mereka sudah pada datang?"
"Belum bos, baru manajer keuangan yang datang tapi saya sudah meninggalkan pesan agar saat mereka datang segera datang kesini."
"Kerja bagus Frans, pasti mereka akan terkejut, mereka tidak akan menyangka akan ada audit perusahaan saat kondisi Papa sedang sakit."
Manajer keuangan sudah masuk keruangan Dirut disusul yang lain, mereka terkejut melihat siapa yang duduk di kursi Direktur, hanya anak ingusan pikir mereka.
Kemudian Angga memperkenalkan diri sebagai pengganti Pak Wiguna, ia menunjukkan bukti bahwa ia memang telah diutus oleh Papanya untuk menggantikannya.
Akhirnya Angga mempersilakan mereka meninggalkan ruangannya untuk kembali bekerja. Angga berencana mengajak Frans ketempat terjadinya keributan mengenai tuntutan santunan yang diberikan kepada pihak keluarga korban kecelakaan di tambang emas milik Papanya beberapa waktu lalu.
Frans keluar untuk mempersiapkan mobil, sementara Angga memasukkan berkas laporan kedalam tasnya karena dia akan memeriksanya nanti malam di kamar hotel bersama Frans.
Tak begitu lama menunggu, Frans pun datang kembali,
"Ayo bos kita segera berangkat, mobil sudah saya siapkan di depan".
"Baiklah Frans ayo kita berangkat, aku tidak akan membuang-buang waktu lagi, nanti malam kita harus lembur untuk memeriksa laporan-laporan tadi."
"Oke bos", jawab Frans sambil memberi hormat.
Angga tertawa kemudian ia berkata" Memangnya aku tiang bendera hingga kamu memberi hormat."
"Hahahaha... bos bisa saja."
Dengan menggunakan mobil perusahaan kemudian Frans mengantar Angga ke area pertambangan, ia mulai menyelidiki dari tempat kejadian.
Frans memarkirkan mobil agak jauh dari tempat itu, kemudian mereka turun mencoba bertanya kepada buruh yang sedang mengerjakan pekerjaannya. Mereka menyelidiki tentang kejadian beberapa waktu lalu. Buruh itu pun menceritakan semuanya dan menceritakan tentang santunan yang tidak sepantasnya yang telah diberikan oleh perusahaan hingga membuat keluarga korban menuntut dan mengadakan demo.
__ADS_1
Angga mulai paham ada orang dalam yang bermain curang, di catatan keuangan uang santunan yang diberikan kepada keluarga korban cukup besar dan sangat pantas untuk menghargai jasa mereka selama ini, namun kenyataannya uang yang sampai ketangan keluarga korban sangatlah kecil nilainya. Satu kecurangan sudah mereka dapatkan.
Kemudian Angga meminta Frans untuk mengantarkannya ke rumah keluarga korban. Angga tahu konsekuensinya jika keluarga korban mengetahui jika ia adalah anak dari pemilik perusahaan, bisa saja mereka menganiaya Angga.
Namun Angga tidak memperdulikan hal itu, ia ingin segera meluruskan masalahnya.
"Bos yakin mau ke rumah mereka?, bagaimana jika mereka menangkap dan menganiaya bos,
tenaga kita tidak akan cukup bos untuk melawan mereka."
"Kamu tenang saja Frans, Insha Allah aku bisa mengatasinya."
Lalu Frans melajukan mobil ketempat yang diminta Angga, ternyata di rumah korban masih ramai orang berkumpul disana. melihat mobil perusahaan datang mereka pun merasa marah, dengan beringas salah satu dari mereka mendekati Angga namun Frans menghadang mereka.
Mereka memukul Frans kemudian menghancurkan kaca mobil.
Angga tiba-tiba berteriak dan menembakkan sebuah peluru dari pistol yang digenggamnya. Terdengarlah suara tembakan menggema di udara.
Mereka yang memukul Frans pun mundur kemudian Angga berteriak dengan lantang,
"Aku Angga Wiguna, anak dari Pak Wiguna pemilik perusahaan tempat kalian bekerja akan bertanggung jawab. Kami telah memberikan uang santunan yang besar terhadap keluarga korban tapi ada pihak di dalam perusahaan yang melakukan kecurangan. Aku berjanji akan segera mengusutnya dan aku yang akan langsung memberikan kekurangan uang santunan itu kepada kalian. Jika kalian tidak percaya tolong satu orang perwakilan dari kalian maju kedepan dan lihat laporan keuangan ini, disini tertera jumlah uang yang telah kami keluarkan namun tidak disampaikan penuh kepada kalian."
Mendengar perkataan Angga mereka pun terdiam lalu menyuruh wakil dari mereka untuk maju melihat bukti yang ada di tangan Angga.
Setelah meneliti kebenarannya orang itu kemudian berteriak kepada teman-temannya.
"Dia benar, bukti ini asli. Perusahaan telah mengeluarkan uang santunan yang sangat besar lebih dari yang kita minta."
Kemudian mereka bersorak gembira, " hidup Tuan Angga, hidup Pak Wiguna maafkan kami yang telah membuat keributan di perusahaan Anda. Kami berjanji akan bekerja kembali, kami semua minta maaf Tuan telah gegabah tanpa mencari bukti lebih dulu."
"Hidup Tuan Angga, Hidup Pak Wiguna," teriak mereka kembali secara beramai-ramai.
Mereka lalu satu persatu mulai menyalami Angga dan Frans untuk meminta maaf. Kemudian Angga mulai berteriak lantang kembali,
"Mulai hari ini kalian bekerjalah kembali seperti biasa, jika penjualan kita meningkat sampai akhir tahun ini saya akan menambahkan bonus akhir tahun semua karyawan sebanyak dua kali lipat dari biasanya."
Mereka kemudian bersorak kembali sambil berteriak menyebutkan yel-yel semangat bekerja.
Angga dan Frans lega, hari ini dua masalah terselesaikan, tinggal mengungkapkan kecurangan dan kasus korupsi di dalam intern perusahaan dan menunggu tim audit untuk menunjukkan bukti-bukti kecurangan tersebut.
Hari ini cukup yang mereka kerjakan dilapangan, Angga memutuskan kembali ke hotel untuk memeriksa semua laporan yang tadi pagi diterimanya.
__ADS_1