
Sepeninggal Papa nya Rania terus berwajah kesal dan muram. Kesal karena rencananya gagal, kesal melihat sikap centil Tante Laura, kesal karena Tante Laura akan tinggal dirumahnya dan muram karena ada rasa takut didalam hatinya jika benar benar Papa nya memiliki hubungan lebih dari sekedar teman bisnis dengan Tante Laura.
Zia yang menyadari perubahan sikap sahabatnya berusaha menghiburnya,
"Hai sahabatku yang cantik", jangan muram terus dong, ntar jadi keriput tuh wajah. Kan sayang tuh cowok-cowok yang lagi ngantri jadi kabur lihat gebetannya berubah jadi nenek-nenek.
"Biarin, mereka kabur, biar mereka kejar lu aja, gue nggak mau punya pacar."
"Kalau lu nggak mau dan mereka kejar aku kasihan dong yayang Anggaku."
"Biar aja, biar Angga berjuang keras untuk mempertahankan kamu, aku ingin lihat seberapa cinta dia denganmu", balas Rania.
"Pokoknya aku nggak mau punya pacar dulu sebelum Papa ku mendapatkan calon yang baik.
Bahkan aku tidak akan menikah jika Papa belum mendapatkan orang yang tulus dan ikhlas menyayangi dan mencintai Papa. Aku akan mendampingi dan melindungi Papaku dari orang orang seperti Tante Laura yang hanya berpura-pura baik."
"Kamu tidak boleh berkata begitu Nia, siapa tau Papa kamu memang mencintai Tante Laura, kan belum tentu Tante Laura itu hanya pura-pura saja mencintai Papamu. Lagian tante Laura itu sangat cantik dan seorang pebisnis pula, sangat cocok jika berdampingan dengan Papamu."
"Kamu terlalu Naif Zia, apa kamu tadi tidak merasakan, dia menyepelekan kamu kan. Dia hanya berusaha baik terhadapku untuk menarik perhatian Papa ku dan aku tidak suka dengan wanita yang terlalu agresif, centil yang berusaha menggoda terlebih dahulu lawan jenisnya. Satu lagi aku akui, Tante Laura memang sangat cantik dan seorang pebisnis tapi coba kamu lihat penampilannya, cara berpakaiannya terlalu seksi mengumbar auratnya. Apa menurutmu wanita seperti itu bisa menjadi seorang ibu dan istri yang baik, wanita yang tidak bisa menjaga marwah suaminya."
"Aku mau wanita yang akan menjadi ibuku adalah wanita yang baik, sederhana, tulus, bisa menjadi ibu sekaligus sahabat untukku hingga tidak ada image ibu tiri atau anak tiri yang galak, tidak ambisius mengejar harta dan yang utama bisa menjaga marwah keluarga, seperti Almarhumah Mamaku Zia", dengan sedih Rania menyebut almarhumah mamanya.
"Aku tidak memandang dia harus kaya, harus seorang pebisnis karena harta tidak menjamin kita bisa bahagia Zia. Lagian harta Papaku sudah cukup buat kami dan tidak akan habis untuk beberapa keturunan. Tinggal bagaimana aku nanti sebagai generasi penerus papaku memanfaatkanya dan mengembangkannya sesuai dengan jalan yang di ridhoi Allah SWT."
"Jika kamu ingin menemukan wanita sempurna seperti yang kamu sebutkan tadi pasti sangat sulit Rania, apalagi dikota besar seperti ini."
"Ada", jawab Rania.
"Lalu, jika kamu sudah menemukan wanita tersebut kenapa tidak kamu perkenalkan kepada Papamu."
"Kami sudah mengenalnya tapi sayangnya dia mencintai pria lain yang sama baiknya dengan Papa ku."
"Ooh, kalau begitu kamu tidak boleh memaksanya, karena cinta tak bisa dipaksakan."
__ADS_1
"Iya Zia, Aku hanya bisa berdo'a mudah-mudahan suatu saat Allah mengirimkan wanita sebaik dia untuk menjadi mama ku, untuk mendampingi Papa ku menikmati hari tuanya dan menuju surga-Nya."
"Aamiin", jawab Zia.
"Papamu adalah orang yang baik pasti Allah akan mengirimkan jodoh yang baik pula untuk beliau."
...Sesuai dengan firman-Nya dalam QS. An-Nur ayat 26 yang artinya :...
..." Perempuan-perempuan yang keji untuk laki-laki yang keji dan laki-laki yang keji untuk perempuan yang keji (pula), sedangkan perempuan-perempuan yang baik untuk laki- laki yang baik dan laki-laki yang baik untuk perempuan-perempuan yang baik (pula)....
...Mereka itu bersih dari apa yang dituduhkan orang. Mereka memperoleh ampunan dan rezeki yang mulia (Surga)"....
"Aamiiin", jawab Rania.
"Mudah-mudahan Allah mendengar do'a kita,
kamu memang sahabatku yang paling baik Zia, terimakasih ya sudah mau menjadi sahabatku."
"Sama-sama Rania, aku juga sangat beruntung mendapatkan seorang sahabat sepertimu, hari sudah hampir sore, apa kamu tidak akan mengantarkanku pulang nih. Kasihan ibu nanti cemas menunggu putri cantiknya ini kok belum kembali juga."
Kebahagiaan kembali tampak diwajah Rania, kini keduanya berjalan kearah dapur untuk berpamitan kepada Bik Asih. Sebelumnya Rania meminta Bik Asih untuk membungkuskan oleh-oleh serta makanan untuk keluarga Zia, barulah mereka menemui Mang Asep untuk mengantar Zia pulang.
Selama perjalanan pulang ke rumah Zia, mereka berdua berbincang tentang tempat perkuliahan, Rania ingin kuliah ditempat yang sama dengan Zia. Sedangkan Zia masih menunggu kabar dari Angga karena Angga juga menginginkan mereka kuliah ditempat yang sama.
"Sebenarnya aku malu lho Nia dengan Angga, Angga sudah terlalu banyak menolong keluargaku. Kali ini dia juga berjanji akan menanggung biaya pendaftaran untukku agar bisa masuk ke Universitas. Aku ingin berusaha membiayai pendidikanku sendiri tapi apalah dayaku Nia, seperti kamu ketahui aku hanya seorang karyawan loundry paruh waktu dan seorang guru les private yang menerima upah seikhlasnya, sementara gajiku hanya cukup untuk menanggung biaya hidup keluargaku. Seandainya ada lowongan pekerjaan yang lebih baik pasti aku tidak akan menyusahkan Angga."
"Kamu yang sabar ya Zia, Allah tidak akan menguji hamba-Nya diluar batas kemampuannya."
Sesuai firman-Nya dalam QS. Al-Baqarah ayat 286 yang artinya:
..." Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Dia mendapat (pahala) dari kebajikan yang dikerjakannya dan dia mendapat (siksa) dari (kejahatan) yang diperbuatnya. ( Mereka berdo'a), " Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami melakukan kesalahan "....
...Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebani kami dengan beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tidak sanggup kami memikulnya. Maafkanlah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami. Engkaulah pelindung kami, maka tolonglah...
__ADS_1
...kami menghadapi orang-orang kafir "....
"Wah wah, ternyata sahabatku ini sudah banyak kemajuan, sudah semakin dalam kajian ilmu agamanya."
"Ya, siapa dulu dong gurunya, tapi kamu pernah bilang,
...Dari Abdullah bin Amr radhiyallahu 'anhu bahwa Rasulullah SAW bersabda:...
...Artinya: " Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat ". (HR. Bukhari)...
"Alhamdulillah, semoga kita bisa terus mengamalkan ajaran-ajaran-Nya ya Nia."
"Aamiin", jawab keduanya.
"Oh ya Zia, semakin lama kita berteman semakin banyak ilmu yang kudapat, Insha Allah Zia aku akan berusaha menolong kamu agar bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih baik."
"Terimakasih ya Nia."
"Tapi aku salut lho Zia dengan Angga, dia pria yang bertanggung jawab, sekali dia berkomitmen, dia siap melakukan yang terbaik untuk mempertanggung jawabkan komitmennya.
Belakangan ini kalian jarang berangkat dan pulang bareng, memangnya Angga lagi sibuk ya."
"Iya Nia, Dia lagi sibuk, setelah ujian berakhir dia berjanji kepada papanya akan mulai bergabung di perusahaan Papa nya. Dia akan kerja paruh waktu mengelola perusahaan sembari kuliah."
"Wah, hebat dia ya Zia pasti salah satu alasannya demi kamu."
"Iya sih, tapi yang utama demi orang tuanya dan masa depan karirnya."
"Eh, keasyikan kita ngobrol ternyata kita sudah sampai Nia."
"Iya ya, aku tidak singgah ya Zia titip salam saja buat Ibu ya."
Zia pun segera turun dari mobil.
__ADS_1
"Terima kasih ya Rania, terima kasih ya Mang, Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam", jawab keduanya.