Persahabatan Telah Mengubah Takdir

Persahabatan Telah Mengubah Takdir
Bab 17. Menjalankan kewajiban


__ADS_3

Pekerjaan dirumah laundry sangat menumpuk, tapi Zia tetaplah seorang muslim yang baik dan taat beribadah. Hal ini tidak membuatnya meninggalkan kewajibannya, beribadah menyembah Rob nya adalah yang utama baginya baru kemudian ia mengerjakan yang lain.


Allah SWT telah memerintahkan ummatnya untuk mengerjakan kewajibannya yaitu sholat fardhu (sholat lima waktu).


Sesuai dengan firmannya dalam QS. An-Nisa ayat 103 yang artinya :


..." Sesungguhnya Sholat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman "....


Dan Rasulullah SAW juga bersabda:


..." Urusan yang memisahkan antara kita (para muslimin) dengan mereka (orang kafir) itu ialah sholat. Maka barangsiapa meninggalkannya, sungguh ia telah menjadi kafir ". ( HR. Ahmad dan Daud dari Buraidah, At Targhib 1 : 342)...


Sebagai muslim yang baik Zia terus berusaha mengerjakan perbuatan yang paling disayang Allah SWT yaitu salah satunya sholat diawal waktu.


Sesuai dengan Sabda Rasulullah SAW dalam (HR. Imam Tirmidzi) yang mengatakan :


..."Amalan yang paling Afdhal adalah mendirikan sholat (lima waktu) diawal waktu "....


Jika pun karena sesuatu hal yang menyebabkan Zia terlewat melaksanakan sholat pardhu, dia akan segera mengqodhonya begitu dia ingat.


Setelah selesai menyembah Robnya Zia segera bergegas menyeterika pakaian yang sudah menumpuk, dengan cekatan dia menyeterika pakaian helai demi helai dengan lipatan yang begitu rapi hingga semuanya selesai. Zia seringkali mendapat pujian dari sang pemilik pakaian maupun pemilik loundry karena hasil kerjanya yang memuaskan. Untuk itu ia sering mendapatkan tips maupun bonus dari mereka.


Walaupun mereka memberikan tips dan bonus khusus untuknya tetapi ia selalu membaginya kepada teman-temannya.


Ketika Zia hendak pulang handphonenya berdering, ternyata telephone dari ibunya. Zia buru-buru mengangkatnya, terdengarlah suara adiknya disana yang sedang menangis. Adiknya berkata sambil terisak.


"Hallo kakak, hiks hiks hiks."


"Kakak, hiks hiks hiks."


"Hallo dek, dek kenapa kamu menangis?, Dek ayo jelaskan sama kakak, siapa yang sudah ganggu kamu hingga kamu menangis Dek?"


"Ayah kak."


"Iya, ada apa dengan Ayah dek?", Perasaan Zia pun mulai gelisah.


"Ayo cepat katakan dek."


"Ayah meninggal Kak. Becak Ayah ditabrak truck dan Ayah meninggal di rumah sakit kak."


"Praaaaank."


Handphone Zia jatuh kelantai dan hancur berantakan. Zia sangat terkejut mendengar berita itu, ia serasa disambar petir, Zia akhirnya terduduk lemas dilantai dengan air mata yang terus menetes. Sang adik terus memanggilnya dan menangis karena tak mendengar suara kakaknya lagi.

__ADS_1


Ibu pemilik loundry yang bernama bu Linda mendengar suara barang jatuh segera menghampiri Zia yang terduduk dilantai.


"Ada apa Zia, ayo Zia katakan sama ibu kenapa kamu menangis, Ayo Zia katakan."


"Ayah Zia meninggal bu, hiks hiks hiks", Zia pun terus menangis dan Bu Linda segera memeluknya.


"Sabar nak, sabar, kamu harus kuat. Ingat ibu dan adik kamu, mereka masih membutuhkanmu. Kamu harus kuat untuk menguatkan mereka, mari Ibu antar kamu pulang", Bu Linda mengambil hp Zia yang sudah rusak kemudian mengantar Zia pulang.


Sesampainya ia dirumah ia tidak menemukan ibunya, hanya adiknya yang sedang menangis.


Ia mendekati adiknya,


"Dek ibu dimana?"


Kembali adiknya menangis, " Ibu dibawa kerumah sakit tadi kak karena ibu pingsang, hiks hiks hiks", kembali adiknya menangis.


Sementara jenazah sang Ayah juga masih dirumah sakit. Zia bingung apa yang harus dia lakukan. Tempat tinggal Keluarga pihak ibu dan ayahnya jauh. Dia tidak mempunya siapa siapa lagi di kota ini selain Ayah, ibu dan adiknya. Mau telephone Rania dan Angga pun tidak bisa karena handphone nya rusak.


Bu Linda yang melihat Zia pun iba, ia lalu mengeluarkan hp nya dan memberikan kepada Zia.


"Ambillah nak handphone ini, masukkan kartu kamu lalu telephone keluarga atau teman kamu biar mereka bisa bantu nak."


Sambil tetap menangis Zia berterima kasih dan mengambil hp ibu Linda, kemudian ia mengambil kartu dari dalam hp nya yang rusak dan segera memasukkannya ke dalam hp ibu Linda.


Keduanya terkejut mendengar berita ini, Angga dengan cepat melajukan mobilnya ke jalan raya menuju rumah Zia. Ia tahu pasti kekasihnya saat ini sedang sedih dan sedang membutuhkannya, begitu juga Rania ia segera meminta tolong mang Asep untuk mengantarkannya.


Kini keduanya sudah tiba dirumah Zia, rumah Zia sudah ramai dikunjungi tetangga yang bergotong royong mempersiapkan tempat dan kebutuhan lain untuk penyelenggaraan jenazah. Rania berlari mencari sahabatnya dan memeluknya sambil menangis, ia berusaha menguatkan hati sahabatnya.


Sementara Angga juga mendekati kekasihnya, ia hanya bisa menggenggam tangan kekasihnya dengan erat untuk menguatkan Zia, seandainya mereka sudah menjadi pasangan halal mungkin dia akan menarik kekasihnya kedalam pelukannya dan membiarkan kekasihnya menangis disana.


Kemudian Angga berkata," Biar aku yang urus kepulangan jenazah Ayah dan melihat kondisi ibu, Kamu, adik dan Rania disini saja, nanti aku akan kabari kalian lewat telephone, Rania tolong titip mereka ya", pesan Angga kepada Rania.


Rania mengangguk dan berkata, " Tenang saja Ngga, aku akan bersama sahabatku disini", jawab Rania sambil terus memeluk tubuh Zia yang bergetar karena menahan tangis.


Kemudian Angga meminta alamat rumah sakit tempat jenazah berada dan ibunya Zia dirawat.


Setibanya di rumah sakit Angga langsung menghubungi pihak rumah sakit untuk mengatur kepulangan jenazah.


Setelah urusan selesai baru dia mencari info tentang ruang rawat ibunya Zia. Dia masuk keruangan itu dan melihat seorang wanita tua terbaring lemah disana belum sadarkan diri dengan selang infus terpasang di lengannya.


Seorang dokter dan perawat sedang melakukan tugasnya agar ibu Zia sadar. Kemudian dokter berjalan mendekatinya dan bertanya,


"Kamu keluarga pasien?"

__ADS_1


Anggapun menganggukkan kepalanya.


"Bisa kita bicara diruangan saya."


"Baik Dok", jawab Angga.


Mereka masuk keruangan Dokter. Dokter kemudian bertanya kepada Angga,


"Apakah ini ibumu?"


"Bukan Dok, ini ibu teman saya, mereka sedang tertimpa musibah, suami ibu ini meninggal dan anaknya sedang menunggu kepulangan jenazah dari rumah sakit ini. Jadi biarlah saya yang mewakilinya Dok."


"Oh, kasihan sekali mereka, musibah beruntun terjadi. Sudah jatuh tertimpa tangga pula", lanjut sang dokter.


"Baiklah, saya akan menjelaskan kondisi sang Ibu", lanjut Pak dokter.


"Ibu ini harus mendapat perawatan yang intensif karena penyakit jantungnya. Kondisinya sangatlah lemah, tekanan dan berita mengejutkan telah membuatnya anfal, tapi masa kritisnya sudah berlalu tinggal menunggu ia sadar. Beliau masih butuh perawatan untuk memulihkan kondisinya."


"Dok, tolong lakukan perawatan yang terbaik untuknya, mengenai biayanya saya yang akan usahakan."


"Baiklah kalau begitu silahkan anda ke bagian administrasi, ada surat-surat yang harus anda tanda tangani dan ke bagian obat karena ada obat yang harus anda beli diluar, stok obat tersebut di rumah sakit ini kebetulan lagi kosong."


"Baik Dok, saya permisi dulu, Oh ya dok setelah urusan administrasi selesai saya titip Ibu dulu karena saya akan kembali kerumah duka untuk menyelenggarakan proses penyelenggaraan fardhu kipayah dan penguburan jenazah Ayah."


Dokter mengangguk," Baiklah, perawat kami akan menjaga pasien dengan baik selama kamu pergi."


Angga berlalu membereskan administrasi kemudian menjalankan mobilnya menuju kembali ke rumah duka. Jenazah Ayah Zia sudah sampai dan langsung dimandikan, dikafani dan akan segera disholatkan.


Zia, Rania dan para penta'ziah sudah bersiap untuk ikut mensholatkan, sementara Angga bersiap untuk menjadi Imam dalam sholat jenazah tersebut.


Selama dekat dengan Zia Angga telah banyak belajar tentang ilmu agama. Ia memanggil seorang ustadz ke apartementnya untuk mengajarinya tanpa sepengetahuan Zia. Ia ingin kelak menjadi imam yang baik untuk Zia dan keluarga kecilnya.


Ini kali pertama ia memberanikan dirinya menjadi imam sholat jenazah, semuanya berjalan lancar tinggallah proses terakhir yaitu membawa jenazah ketempat peristirahatan terakhirnya.


Jenazah dibawa meninggalkan rumah duka, Angga beserta yang lainnya ikut mengantar jenazah ke tempat pemakaman.


Sekembali dari pemakaman dia menemui kekasihnya yang masih terlihat menangis dalam pelukan Rania. Dihadapan Zia dia berkata kamu harus kuat sayang, ibu dan adik butuh kamu, relakan kepergian Ayah biar Ayah tenang di alamnya yang baru. Mari sama-sama kita do'a kan Ayah, agar Allah SWT memberikan tempat terbaik untuknya yaitu Surga-Nya Allah.


Dan kita harus ingat semua yang bernyawa pasti akan mati. Kita hanya tinggal menunggu giliran saja.


Sesuai dengan firman Allah SWT di dalam QS. Ali Imran : 185 yang artinya :


..." Setiap yang berjiwa akan merasakan mati "....

__ADS_1


__ADS_2