
Semua menjawab salam dari Pak Wiguna beserta istri, kemudian Zia mengambilkan minum untuk mertuanya, dia tidak menyangka jika Papa dan Mama Angga mau datang memenuhi undangan dari ibu.
Pak Wiguna kemudian membuka suara, "Maaf Tuan Arya kebetulan tadi di luar kami mendengar bahwa Tuan mengajukan lamaran untuk putri kami, dan kami pribadi setuju. Sekarang ini yang kami ingikan hanyalah kebahagia putri serta cucu kami, jadi apapun keputusan Zia kami akan mendukung."
Mama memegang tangan Zia dan berkata, "Berbahagialah Nak, Angga pasti akan bahagia di sana melihat kalian melanjutkan hidup dengan bahagia dan dia akan bersedih jika melihat kamu terus terpuruk dalam kesedihan."
"Biarlah Pak, Bu, malam ini saya memberi waktu Zia untuk berpikir, besok Saya akan datang untuk mendapatkan keputusan dari Zia," ucap Tuan Arya.
Bapak dan Ibu Wiguna pun paham dengan maksud Tuan Arya, lalu mereka mengangguk setuju. Ibu merasa tenang melihat keikhlasan besannya, beliau hanya berharap Zia bisa mempertimbangkan dengan baik keputusan yang akan di ambilnya setelah mendapatkan dukungan dari orang tua Angga.
Merekapun ngobrol dengan akrab tanpa ada kecanggungan lagi, Ibu dan Zia lalu mempersilakan mereka untuk makan malam. Rania pun membantu sahabatnya untuk melayani para orang tua.
Frans senang, dia yakin arwah bosnya pasti akan tenang jika melihat istri dan anaknya jatuh ke tangan pria yang tepat, yang akan menyayangi dan membahagiakan mereka.
Mereka pun makan dengan lahap dan hening, hanya bunyi alat makan saja yang terdengar. Mama memuji kelezatan masakan menantu dan juga besannya di hadapan Tuan Arya. Tuan Arya pun tersenyum karena dia sebelumnya sudah mengetahui banyak tentang kehidupan dan kepintaran Zia. Dia yakin Zia bisa menjadi istri yang baik baginya.
Setelah selesai makan, merekapun kembali ke ruang keluarga untuk berbincang, sementara Zia dan Rania membereskan dan mencuci alat-alat makan yang kotor.
Tuan Arya telah menyampaikan maksud kedatangannya, beliau mendapatkan dukungan dari semua keluarga, hal itu membuatnya merasa tenang, rasa canggungnya pun berkurang.
Kini beliau izin pamit, begitu juga dengan Frans, sementara Rania tetap tinggal. Orang tua Angga juga pamit pulang, sebelum mereka pergi Pak Wiguna kembali berpesan, "Pikirkan dan ambillah keputusan yang terbaik untuk kebahagiaan putramu Nak, karena kebahagiaan anak lebih utama ketimbang kita memikirkan kebahagian diri sendiri."
Zia hanya mengangguk, dia tahu apa yang mereka para orang tua inginkan. Setelah semua pulang dan Rania serta Ibu pergi ke kamar mereka masing-masing, Zia pun pergi ke kamar adik untuk mengangkat Gara kembali ke kamarnya.
Gara tidak bergeming dari tidur pulasnya saat Zia menggendong kembali ke kamar. Zia merebahkan Gara di tempat tidurnya, dia melihat wajah Gara lalu beralih ke perhiasan yang ada di atas meja riasnya.
__ADS_1
Apakah dia harus menerima lamaran Tuan Arya demi putranya dengan mengabaikan perasaannya sendiri? atau dia menolak dengan mengabaikan harapan Gara.
Zia mencium Gara sambil meneteskan air mata dan berkata, "Mama akan melakukan apapun asal kamu bahagia Nak, meski harus mengorbankan kebahagiaan Mama, mengorbankan cinta Mama terhadap almarhum Papa Kamu."
Gara hanya menggeliat mendapatkan ciuman bertubi-tubi dan pipinya pun basah dengan air mata Zia, tapi Gara tidak terbangun karena dia seharian lelah bermain hingga tertidur pulas.
Zia menarik selimut lalu membaringkan tubuhnya disisi Gara, kepalanya yang pusing akhirnya membuat dia ikut tertidur. Di sepertiga malam Zia terbangun, lalu dia berwudhu untuk mengerjakan sholat tahajud.
Dalam sholatnya Zia berdoa agar Allah meridhoi keputusan yang akan di ambilnya besok. Dia ingin meyakinkan hatinya bahwa pernikahan yang akan di jalaninya nanti bukan hanya demi Gara tapi demi mencari ridho Allah melalui suami barunya nanti.
Pagi pun tiba, Zia melaksanakan sholat subuh baru pergi ke dapur untuk menyiapkan sarapan, ternyata di sana Rania juga sudah membuat nasi goreng.
Memang semenjak tinggal bersama keluarga Zia, Rania bisa hidup lebih mandiri tidak mengandalkan bantuan orang lain untuk mengurus keperluannya.
Itu yang membuat Tuan Arya semakin yakin untuk memperistri Zia, didikan Zia dan Ibunya mampu merubah Rania putrinya yang tadinya hanya seorang gadis manja menjadi wanita yang mandiri.
"Terimakasih Nia, biar aku yang mengupas timun dan menata nasi gorengnya di piring, aku jadi malu terlambat ke dapur, seharusnya pagi ini tugasku untuk membuat sarapan," ucap Zia malu.
"Nggak apa-apa lho Zia, tugasku juga sering kamu yang mengerjakan," balas Rania.
Kedua sahabat itupun bersama-sama menyelesaikan tugas menyajikan sarapan, lalu Rania membangunkan adik dan memanggil Ibu agar sarapan bersama.
Selesai sarapan, Rania pun menyampaikan pesan Papanya, bahwa jam 10 nanti beliau akan datang menjemput Zia dan Gara.
Zia pun mengangguk, lalu dia kembali ke kamar untuk membangunkan Gara. Gara mengerjap-ngerjapkan mata, lalu tersenyum sembari berucap, "Selamat pagi Mama..." ucap Gara.
__ADS_1
"Pagi Sayang! Ayo cepat bangkit, kamu mandi dulu lalu minum susu dan kita hari ini akan pergi jalan-jalan," ucap Zia sambil mengulurkan tangannya hendak menggendong Gara ke kamar mandi.
"Asyik...hore, kita jalan-jalan! Mama serius kan?"
Zia pun mengangguk, dia senang melihat Gara bahagia.
Gara pun bangkit dan masuk ke dalam pelukan Mamanya, dia kemudian bertanya, "Memangnya kita mau jalan-jalan kemana Ma?"
"Kejutan dong?" jawab Zia sambil mengerlingkan mata.
"Oke deh, Gara terserah Mama saja, kemanapun asal pergi dengan Mama pasti gara suka," ucap Gara sambil mencium pipi Zia.
Kebijakan Gara makin hari semakin membuat Zia gemas, sekaligus khawatir, karena Gara sering mempertanyakan hal-hal yang membuat Zia sulit menjawabnya. Terkadang dia menanyakan tentang keberadaan Allah, tentang hal-hal yang seharusnya ada di pikiran orang dewasa.
Selesai memandikan Gara, Zia pun memakaikan pakaiannya, memberi Gara segelas susu dan satu keping roti bakar. Gara yang sudah selesai sarapan lalu Zia titipkan kepada Rania sementara dirinya bersiap.
Zia memakai pakaian sederhana, blouse, rok serta hijab berwarna hijau muda senada lalu dia mulai membuka kotak perhiasan yang sejak kemaren belum dia lihat isinya.
Alangkah terkejutnya Zia melihat seperangkat perhiasan yang sekarang ada di tangannya, gemerlap sangat indah. Dia pernah melihat yang sejenisnya saat pergi ke toko perhiasan bersama Angga, nilainya hampir mencapai milyar.
Zia memakai satu persatu perhiasan tersebut sembari mengucapkan kata maaf kepada Angga, dia melakukan hal ini bukan memandang harta tapi demi membahagiakan Gara, memberikan seorang Papa untuknya.
Semua perhiasan sudah di pakai pada tempat seharusnya, Zia yang pada dasarnya memang cantik semakin terlihat elegan. Setelah selesai berdandan, diapun hendak keluar menemui Gara tapi keburu pintu kamarnya di ketuk dari luar. Ternyata Ibu yang memanggilnya karena Tuan Arya sudah datang ingin mendapatkan keputusan dari Zia.
BERSAMBUNG........
__ADS_1
🌻 Terimakasih atas dukungannya ya guys🙏🙏🙏