
Angga sangat cemas melihat kondisi Zia, darah terus mengucur dari sela pisau yang masih tertancap diperut Zia, ia menghentikan mobilnya sejenak membuka bajunya dan membalutkan ke sekitar luka. Ia meneteskan air mata melihat kondisi luka dan wajah kekasihnya yang pucat pasi terbaring disebelahnya.
Dengan kecepatan diatas rata-rata ia terus melajukan mobilnya hingga lampu merah jalan pun ia lewati saja.
Akhirnya ia sampai kerumah sakit, security dan perawat membawa brankar mendekat ke arah mobilnya. Ia segera mendorong brankar dimana Zia terbaring diatasnya menuju ruang UGD. Dokter memeriksanya dan mengatakan Zia harus segera dibawa ke ruang operasi.
Anggapun segera mengurus administrasinya agar Zia segera bisa dioperasi. Dia tidak berani mengambil resiko dengan menunggu sampai ibunya Zia datang. Dia segera menandatangani surat persetujuan untuk melakukan operasi.
Zia segera dibawa keruang operasi dan dokter memberitahui bahwa Zia membutuhkan tambahan darah sekitar dua kantong. Setelah dilakukan pemeriksaan kebetulan golongan darah Zia sangat langka yaitu AB negatif dan rumah sakit tidak memiliki golongan darah itu. Angga harus segera mencari pendonor.
Ketika Angga hendak menelphone Rania untuk menanyakan jenis golongan darah ibu apa sama dengan Zia, ternyata ibu dan Zia telah sampai di depan ruang operasi. Sementara adek dan Mang Asep menunggu dimobil karena tidak baik membawa anak kecil masuk kedalam rumah sakit yang merupakan daerah sumber penyakit.
"Bagaimana keadaan Zia Angga?", tanya ibu dan Rania serempak.
"Zia masih ditangani dokter bu, dia harus segera dioperasi, tapi saat ini Zia membutuhkan tambahan darah bu sekitar dua kantong, sementara golongan darah Zia adalah golongan darah yang langka dan persediaan dirumah sakit kosong bu untuk golongan darah itu", ucap Angga.
Ibu semakin cemas karena golongan darah ibu tidak sama dengan Zia. Golongan darah almarhum Ayah Zia lah yang sama dengannya.
Angga pun terlihat cemas, ia secepatnya menelphone asistennya untuk mencarikan informasi disetiap rumah sakit apakah memiliki persediaan darah AB negatif dan bila perlu mencarikan pendonor. Angga akan bayar berapapun asal golongan darah mereka cocok.
Kemudian ia menelphone sekretarisnya agar membelikannya satu set pakaian ganti karena bajunya sudah ia pakai untuk menutupi luka Zia saat di mobil dan celananya juga terkena darah Zia. Ia meminta tolong agar pakaiannya langsung diantar ke rumah sakit.
Sekitar setengah jam kemudian, sekretarisnya pun datang membawa paper bag yang berisi pakaian yang dipesan Angga.
Dua jam berlalu tapi mereka belum menemukan stok ataupun pendonor, sementara dokter hanya memberi mereka waktu dua jam lagi.
Ibu dan Rania menangis, mereka bingung harus melakukan apa. Tiba-tiba Rania teringat papanya, kenapa dia tidak minta tolong kepada papanya untuk membantu mencarikan pendonor.
Segera ia menelphone papanya dan menceritakan bagaimana kejadiannya hingga Zia tertusuk. Ia menangis dan merasa bersalah kenapa Zia harus menyelamatkan dirinya. Seharusnya kini yang terbaring dirumah sakit adalah dirinya.
Mendengar penuturan putrinya, Tuan Arya sangat terkejut dan cemas.
"Kamu tidak terluka kan sayang, sekarang kalian berada dirumah sakit mana?, Papa akan segera kesana."
"Kami ada dirumah sakit Columbia pa", jawab Rania.
Kebetulan Tuan Arya sedang ada pertemuan bisnis yang tidak terlalu jauh jaraknya dari rumah sakit tempat Zia dioperasi. Ia berpamitan kepada rekannya untuk menunda pertemuan mereka karena kondisi darurat. Setelah itu ia segera melajukan mobilnya ke jalan raya menuju rumah sakit.
Sesampainya ia dirumah sakit, Rania yang melihat papanya datang kembali menangis dan berhambur kepelukan papanya.
"Hiks hiks hiks, tolong Zia Pa, kasihan Zia, karena kecerobohan Rania lah Zia sampai seperti ini pa. Rania menyesal Pa, harusnya Rania tidak boleh ceroboh dan harusnya Zia jangan mengorbankan dirinya."
"Sudahlah sayang, sekarang kita harus tenang, semua ini sudah jalannya sudah takdir dari Allah SWT. Kamu duduklah dan tenangkan diri kamu nak, Papa akan menemui Ibunya Zia."
Tuan Arya segera berjalan mendekati ibunya Zia.
"Bu saya minta maaf atas kejadian ini karena kecerobohan anak saya semuanya jadi berakhir seperti ini."
__ADS_1
"Tidak kok Pak, Rania tidak salah. Mereka hanya mencoba membela diri. Ini sudah kehendaknya Pak, kita hanya bisa berdoa mudah-mudahan segera ada pendonor darah untuk Zia."
"Oh ya bu, saya dengar dari Rania golongan darah Zia AB negatif, kebetulan saya bergolongan darah itu. Kalau Rania bergolongan darah sama dengan ibunya. Begini bu saya akan segera melakukan pemeriksaan, semoga golongan darah saya benar cocok dengan Zia."
"Alhamdulillah, mudah-mudahan cocok ya Pak, terimakasih sebelumnya ya Pak."
Angga yang sedari tadi mondar mandir didepan ruang operasi sambil terus mencari informasi dari asistennya, mendengar perkataan Tuan Arya segera berlari mendekat.
"Apa benar yang saya dengar Pak, Bu, benarkah golongan darah Bapak juga AB negatif?"
Tuan Arya pun mengangguk.
"Iya benar nak", lanjut ibu.
Rania pun berdiri mendekati papanya," Benarkah yang Papa bilang?"
"Iya nak", jawab Tuan Arya.
"Alhamdulillah, mudah-mudahan Zia segera bisa tertolong."
"Baiklah ibu, nak Angga saya akan keruang pemeriksaan, kita jangan buang-buang waktu lagi."
Mereka pun semua mengangguk.
Tuan Arya segera menemui dokter untuk melakukan tes dan tidak membutuhkan waktu yang lama hasilnya sudah keluar.
Dokter dan perawat segera mengambil dua kantong darah Tuan Arya.
Lampu ruang operasi menyala tanda operasi terhadap luka Zia sedang dilakukan. Dokter berusaha mengeluarkan pisau yang masih tertancap diperut Zia. Pisau pun berhasil dicabut dan untung saja pisau itu tidak sampai merobek parah organ dalam perut Zia.
Mereka semua menunggu diluar dengan cemas. Angga terus mondar mandir sambil berdo'a. Rania memeluk ibu dan kedua nya juga sama berdoa. Sementara Tuan Arya sedang beristirahat karena kondisinya yang sedikit lemas akibat proses pendonoran darah yang baru ia lakukan.
Lampu ruang operasi padam menandakan operasi telah selesai dilakukan, semua mendekat ketika melihat dokter keluar dari ruang operasi.
"Bagaimana keadaan teman saya dok?"
"Mana keluarganya", tanya dokter.
"Saya ibunya dok."
"Alhamdulillah saat ini operasinya berhasil, tapi kita tunggu beberapa saat lagi mudah-mudahan masa kritisnya segera lewat. Setelah masa kritisnya berlalu kita akan pindahkan pasien ke ruang ICU untuk perawatan sementara hingga kondisinya stabil."
"Alhamdulillah, terima kasih dok", ucap mereka bersamaan.
Mereka bertiga terus berdoa agar masa kritis Zia segera berlalu. Tak berapa lama perawatpun keluar, ia memberitahukan bahwa Zia sudah sadar dan segera akan dipindahkan ke ruang ICU.
Ketiganya mengucap syukur, ibu dan Rania berpelukan sambil menangis bahagia.
__ADS_1
Kini Angga bisa bernapas lega, kemudian ia mengajak ibu dan Rania ke kantin untuk membeli minum dan makanan pengganjal perut.
Selama Zia masih di ICU tidak boleh sembarangan dijenguk, hanya satu orang yang boleh masuk secara bergantian nanti saat jam besuk yang ditentukan pihak rumah sakit tiba.
Mereka bertiga berjalan ke kantin rumah sakit untuk minum dan makan terlebih dahulu demi menjaga stamina agar tetap sehat dan memiliki tenaga untuk menjaga Zia.
Setelah selesai makan mereka kembali ke tempat tunggu di depan ruang ICU. Jam besuk tiba, perawat memperbolehkan satu orang untuk masuk, Ibu lah yang pertama masuk. Sebelumnya perawat meminta ibu untuk mencuci tangan dan membuka sendal saat masuk ke ruang ICU.
Disana terlihat Zia sedang terbaring lemah ditempat tidur pasien. Zia tersenyum ketika melihat ibu datang, matanya berkaca kaca, ia berusaha menahan tangis tapi tetap tidak bisa. Kemudian ia mengulurkan tangannya dan menggenggam erat tangan ibu. Keduanya menangis, lalu ibu memberi semangat kepada Zia.
"Kamu harus kuat nak dan tetap sabar. Kita harus bersyukur Allah telah memberikan kesempatan, menyelamatkan kamu dari musibah ini."
"Iya bu, Zia selalu berterima kasih kepada Allah yang telah memberikan Zia kesempatan hidup lebih lama."
"Setelah kamu sembuh kita juga harus berterima kasih kepada Papanya Rania, berkat perantara beliaulah yang mendonorkan darahnya kamu diberi kesembuhan oleh Allah SWT."
"Iya bu", jawab Zia lirih.
"Nak, ibu keluar dulu ya, biar bisa gantian jenguk. Nak Angga dan Raniah tadi juga sangat khawatir, mereka pasti juga ingin menjenguk kamu."
Zia pun mengangguk.
Kini giliran Angga yang masuk, Ia berdiri mendekat ke arah kepala Zia. Dengan lembut ia mengelus rambut Zia dan menggenggam tangannya erat sembari menatap mata Zia yang mulai menggenang air dipelupuk matanya.
Dengan terisak Zia tersenyum dan kembali menggenggam erat tangan Angga, tak terasa Anggapun pun ikut meneteskan air mata. Kemudian Angga mencium tangan Zia dan mengeluarkan sapu tangan untuk mengusap air matanya dan air mata kekasihnya.
Dalam keheningan itu hanya hati mereka yang bicara. Melihat senyum kekasihnya membuat kekhawatiran Angga pun berkurang.
Zia dengan lirih berkata," Sayang jangan khawatir, Insha Allah aku pasti sembuh, aku ingin sembuh demi kamu dan ibu."
Anggapun membalas senyum Zia,"Janji ya sayang, kamu jangan buat aku khawatir lagi seperti ini, aku tidak siap jika harus secepatnya kehilangan kamu, walau aku tahu hidup mati kita semuanya sudah ditentukan-Nya."
Setelah mereka puas berbicara Angga pun pamit keluar untuk memberi kesempatan kepada Rania melihat Zia.
Kini terakhir giliran Rania yang masuk, sejak dari pintu masuk dia sudah tidak bisa menahan tangisnya. Rasa bersalah, sedih, khawatir melihat sahabatnya terbaring lemah membuat dia begitu rapuh hingga terus menumpahkan air matanya.
Zia yang melihat sahabatnya menangis juga tak kuasa ikut menangis. Ia ingin memeluknya tapi tak bisa karena luka diperutnya yang masih sakit dan dibalut perban.
Maafkan aku ya Zia, karena kecerobohanku kamu jadi terbaring disini hampir kehilangan nyawa, seharusnya kamu jangan mengorbankan diri kamu demi menolongku."
"Sudahlah Nia, semua ini bukan salah siapa siapa, semua sudah takdir Allah, yang penting kedepannya kita harus lebih hati-hati. Jika aku diposisi kamu, pasti kamu juga akan melakukan hal yang sama untuk menyelamatkanku kan.
Aku tidak ingin melihatmu terluka Nia dan kamu aja sekarang tidak suka melihatku terlukakan.
Kita sahabat, mudah-mudahan selamanya Allah akan menjadikan kita sahabat sejati didunia dan akhirat."
"Aamiin", ucap keduanya.
__ADS_1