Persahabatan Telah Mengubah Takdir

Persahabatan Telah Mengubah Takdir
Bab 33. Ciuman jarak jauh pengobat rindu


__ADS_3

Jodoh adalah salah satu rahasia Illahi, tak ada yang tahu siapa, kapan, dimana dan bagaimana setiap manusia menemui jodohnya. Sebagai manusia hanya bisa berdo'a semoga Allah SWT memberikan jodoh yang terbaik untuk diri masing-masing.


Begitu juga Angga dan Zia mereka hanya bisa berdoa dan berusaha dengan tak berhenti berharap suatu saat Allah SWT mempertemukan mereka dalam ikatan yang dikehendaki-Nya.


Ketika Angga kembali dari rumah sakit, jalanan masih lengang. Perjalanannya tidak mengalami hambatan hingga ia sampai dengan cepat di apartmentnya, ia segera berganti pakaian dan mengambil keperluan yang akan dibawanya ke Jakarta. Supir perusahaan yang akan mengantarnya ke bandara telah menunggu di depan apartementnya. Pak supir segera mengangkat koper Angga dan memasukkannya ke dalam bagasi mobil. Mobilpun segera melaju ke Bandara lewat jalan tol.


Tak menunggu lama, Angga langsung melakukan check in. Sekitar 10 menit kemudian penumpang tujuan Jakarta dipersilahkan untuk memasuki pesawat karena pesawat akan segera berangkat.


Pesawat tujuan Jakarta telah lepas landas. "Selamat tinggal Medan, selamat tinggal sayang, tunggulah aku, aku akan segera kembali untuk cinta kita", ucap Angga lirih.


Perjalanan Angga tidak mengalami hambatan, ia telah sampai di Bandara Soekarno Hatta. Asisten pribadinya pun telah menunggunya disana.


"Selamat datang bos, kita mau singgah ke rumah tuan dulu untuk istirahat atau langsung ke rumah sakit?"


"Langsung saja kita ke rumah sakit Frans, aku ingin segera melihat Papa", jawab Angga.


"Bagaimana kabar Papa hari ini Frans?"


"Masih sama bos kondisinya seperti kemaren, Tuan Wiguna belum juga sadar, Mama bos dan Non Aira masih menunggu kabar dari dokter ketika saya berangkat kesini tadi."


Frans melajukan mobilnya menuju rumah sakit, sementara Angga gelisah di dalam mobil karena terjebak macet. Frans memperhatikan bosnya dari kaca spion," Sabar bos sebentar lagi kita juga sampai?"


"Inilah salah satu alasan saya malas tinggal disini Frans, dimana-mana selalu macet."


"Iya juga ya bos, Oh ya bos gimana kabar Nona Zia?, apa nona masih dirawat dirumah sakit?"


"Keadaannya sudah agak membaik Frans tinggal tunggu lukanya sedikit mengering baru diperbolehkan pulang."


"Syukurlah, kasihan Nona Zia pasti saat ini dia sangat sedih bos tinggal, mudah-mudahan masalah disini cepat selesai."


"Iya Frans, aku juga sedih jika harus terpisah terlalu lama. Aku sangat mencintainya Frans. Dia wanita terbaik yang pernah ku kenal."


"Mudah-mudahan kalian berjodoh ya bos."


"Terimakasih Frans kamu telah ingatkan saya, mending saya telephone Zia untuk mengurangi jenuh dalam kemacetan ini dan saya juga rindu dia Frans."


Frans hanya tersenyum melihat Angga, dia tahu bosnya itu sangat mencintai kekasihnya. Hubungan Angga kembali baik dengan tuan Wiguna pasti juga karena pengaruh gadis itu, gumam Frans dalam hati.


Angga segera VC Zia, terlihatlah wajah cantik kekasihnya disana yang sedang tersenyum, dengan mata yang masih sembab karena kebanyakan menangis.


Zia sangat senang Angga menghubunginya, dia sedari tadi ingin telephone tapi takut mengganggu pertemuan antara Angga dan orang tuanya.


"Hallo yang, sudah sampai ya yang, gimana kabar disana, bagaimana kabar Papa?", cecar Zia.


"Wah, nampaknya ada yang nggak sabar nih, udah rindu aku ya yang?"

__ADS_1


Zia pun tersipu malu.


"Belum sampai rumah sakit yang, terjebak macet nih, Aku juga rindu lho yang, boleh minta senyumnya lagi, biar tenang lho hati ini yang."


Zia tersenyum manis dan mencoba menggoda Angga dengan memberi ciuman jarak jauh.


Emmuah, emmmuah, emmmuah❤❤❤


Angga tertawa melihat kekasihnya sudah pandai menggodanya. Hari ini dia sangat bahagia mendapat ciuman pertama dari kekasihnya.


"Haahaaahaaa, bakalan nggak bisa tidur nih yang ntar malam sebelum dapat ciuman lagi dari kamu,


I love you yang, emmmuah ❤❤❤❤❤", balas Angga.


"I love yo to", jawab Zia.


"Hati hati ya yang, udah dulu ya malu tuh sama asisten Frans", langsung Zia menutup telephone nya karena malu.


Angga terus tersenyum sendiri, Frans yang sedari tadi memperhatikannya ikut senang.


"Cieeeee, ada yang lagi bahagia nih dapat ciuman, haahaahaaa, tau aja non Zia bagaimana cara menghibur yang lagi bete."


"Makanya kamu Frans cepat cari dong, biar tahu rasanya dapat ciuman jarak jauh. Aku aja rasanya udah nggak sabar ingin cepat halalin biar dapat yang nyata."


"Heeheehee, tenang aja bos nih lagi incar-incar mana yang pas dihati."


"Trimakasih bos, beginilah enaknya punya bos yang masih sama bujang."


Kebetean mereka akibat macet pun hilang, tak terasa mereka sudah sampai di depan rumah sakit.


Angga didampingi Frans menuju ruang ICU, disana sedang menunggu mama dan adiknya. Ketika melihat Angga tiba, mereka langsung memeluknya sembari menangis. Melihat isak tangis mama dan adiknya pun Angga tak bisa membendung air matanya.


"Sabar Ma, sabar Aira, kita do'a kan agar papa cepat sembuh. Bagaimana sekarang kabar Papa ma, kenapa belum sadar ya ma?"


"Tadi mama bicara dengan dokter, jika Papa bisa sadar kemungkinan terburuknya Papa lumpuh Nak untuk tubuh bagian kirinya, Hiks hiks hiks", bu Melia mama Angga pun kembali menangis.


"Kita berdoa saja ma mudah-mudahan ada keajaiban Allah untuk kesembuhan Papa."


"Jadi untuk masalah perusahaan yang di Papua gimana ma?"


"Mama hanya bisa mengharapkan kamu nak untuk bisa menyelesaikannya. Seperti kamu tau selama ini mama tidak pernah ikut campur tentang bisnis Papa, mama selalu sibuk dengan bisnis mama sendiri makanya mama nggak ngerti sama sekali harus mulai dari mana. Kamu harapan kami satu-satunya nak yang bisa menyelesaikan, menstabilkan dan mengembangkan bisnis Papa kembali."


"Angga menyesal ma, kenapa dulu Angga selalu menentang Papa saat Papa meminta Angga untuk membantu mengelola perusahaan. Jika Angga menurut pasti hal ini tidak akan terjadi."


"Sudah lah nak, nggak ada yang perlu kita sesali ini memang sudah kehendak-Nya", Bu Melia merangkul Angga berusaha untuk menenangkan hati putranya.

__ADS_1


Perawat datang menghampiri mereka, " Keluarga bapak Wiguna?, dokter mengharapkan yang bernama tuan Angga untuk masuk keruangan karena Bapak Wiguna kini telah sadar dan selalu menyebut nama tuan Angga."


"Alhamdulillah", semuanya ikut mengucap syukur mendengar berita itu.


Angga dan Aira memeluk Ibu nya. Mereka menangis bahagia.


"Cepatlah nak masuk, Papa menunggu kamu."


Angga pun mengangguk dan berjalan masuk ke ruang ICU mengikuti sang suster.


Angga melihat papanya terbaring lemah disana dengan berbagai alat yang dipasang pada tubuhnya yang terhubung ke monitor.


Dokter menghampiri Angga agar menenangkan Papa nya jangan sampai terlalu stress hingga bisa memicu kembali ke kondisi yang semakin memburuk.


Angga mengangguk tanda mengerti akan permintaan dokter.


Angga berjalan mendekati tempat tidur papanya, kemudian ia menggenggam tangan Papanya sembari tersenyum. Ada kesedihan dibalik senyumnya tapi ia berusaha tegar. Dia harus bisa tunjukkan dihadapan papanya bahwa dia akan sanggup menyelesaikan semua masalah yang terjadi, bahwa dia juga sanggup mengambil alih semua tugas berat papanya ke atas pundaknya.


Tuan Wiguna membalas genggaman tangan putranya, ia meneteskan air mata sebelum bisa berkata.


Angga menghapus air mata papanya dan berkata,


"Papa jangan khawatir, Angga pasti akan menyelesaikan semua masalah. Papa akan sembuh dan melihat Angga memimpin dan memajukan perusahaan Papa. Angga janji Pa akan membuat perusahaan pulih secepatnya. Angga adalah anak Papa, Angga pasti bisa hebat seperti Papa."


Tuan Wiguna semakin mengeratkan genggamannya. Air matanya kembali menetes di kedua sudut matanya tetapi kali ini disertai senyuman. Senyum bangga akan tekad putranya.


Dia berusaha mengucapkan sesuatu dengan terbata-bata," Teriimakasiih nak."


"Papa jangan berterimakasih kepada Angga, Angga yang harusnya berterimakasih kepada Papa, Angga bangga terlahir sebagai anak Papa dan mama. Angga akan menjaga keluarga kita Pa."


Tuan Wiguna semakin melebarkan senyumnya. Kekhawatirannya hilang mendengar perkataan putranya. Dokter yang melihat interaksi percakapan antara Papa dan anak itupun tersenyum. Menurutnya semakin tenang dan bahagia hati Tuan wiguna akan semakin bagus untuk mempercepat proses kesembuhannya.


Kemudian dokter Ardi menghampiri mereka. Dengan tersenyum dia berkata,


"Beruntung Tuan Wiguna mempunyai putra seperti nak Angga ini. Tuan bisa istirahat dari urusan perusahaan, tinggal memantau dan memberikan dorongan semangat untuknya. Saya juga yakin dengan melihat tekadnya perusahaan Tuan akan maju ditangannya."


"Terima kasih dokter atas supportnya, saya akan berusa melakukan yang terbaik demi Papa saya dan keluarga."


Kini saatnya Tuan harus istirahat, nanti saat jam besuk berikutnya kalian bisa ngobrol kembali.


"Iya dokter, sebentar ya dok ada sedikit lagi yang ingin saya sampaikan kepada Papa."


Dokter Ardi pun mengangguk sambil melangkah pergi.


"Pa, karena papa sudah mulai membaik Angga sekalian mau pamit berangkat ke Papua sore ini juga bersama asisten Frans. Angga ingin cepat menyelesaikan masalah perusahaan kita disana. Semakin cepat selesai akan semakin baik hingga Angga bisa cepat kembali kesini untuk menghandle perusahaan pusat kita Pa. Biar mama, Aira dan beberapa pengawal yang menjaga Papa disini."

__ADS_1


Tuan Wiguna mengangguk dan berkata," Pergilah nak, hati-hati di sana ya nak."


Angga mencium Papa nya dan juga mencium punggung tangan papanya sambil mengucapkan salam, kemudian pergi meninggalkan ruangan setelah melihat senyuman Papa nya.


__ADS_2