
Pagi ini semua sibuk dengan aktifitasnya masing masing. Ada yang mau berangkat kerja, ada yang mau berangkat ke sekolah, ada pula yang mau ke pasar dan ada pula yang hanya dirumah mengerjakan pekerjaan rumah. Begitu pula dengan Zia, Rania, Angga dan yang lainnya.
Zia sedang menunggu angkutan umum, Rania kesekolah diantar mang Asep, dan Angga walaupun ia sedang menjalani masa skorsing tapi dia tetap berniat kesekolah untuk mengantar Zia.
Mobil Angga melaju dengan kencang karena jalanan menuju rumah Zia masih terlihat lengang. Ia takut telat menjemput Zia karena tidak membuat janji terlebih dahulu, dia ingin memberikan surprise kepada Zia. Sebelum sampai kerumah Zia di perempatan jalan ia melihat Zia sedang berdiri menunggu angkutan umum yang lewat.
Perlahan Angga menepikan mobilnya dan segera keluar untuk menghampiri kekasihnya.
"Assalamualaikum, selamat pagi sayang, calon suamimu ini belum telat kan?"
Tergagap Zia menjawab salam dari Angga, karena Zia sedang terpana melihat penampilan Angga pagi ini.
Angga berpenampilan beda dari sebelum sebelumnya. Semakin hari Angga semakin tampan saja. Kali ini dia berpakaian casual, celana panjang, kemeja lengan panjang berwarna biru gelap dan memakai sweeter abu abu sebagai luarannya serta memakai sepatu sneaker warna hitam. Aroma parfumnya sangat wangi dan lembut membuat setiap orang didekatnya merasa begitu nyaman.
Para gadis disana yang melihatnya pun sampai memutarkan kepalanya dan tak berkedip melihat ketampanannya yang begitu serasi dengan penampilannya.
Zia tidak menyangka jika Angga akan menjemput dan mengantarnya kesekolah pagi ini.
"Ayo sayang jangan bengong aja, silahkan naik", Ajak Angga sambil mengambil tas sekolah dari tangan Zia dan membukakan pintu mobilnya agar Zia segera naik.
"Nanti kita bisa telat lho ayo cepat sayang, sebentar lagi jalanan pasti macet."
Zia pun langsung naik ke mobil Angga. Mereka yang berada disana melihat perlakuan Angga terhadap Zia pun merasa iri khususnya para gadis.
Angga tidak mau memperdulikan mereka yang penting sekarang dia harus mengantarkan Zia kesekolah tepat waktu. Mobil terus melaju kejalanan menuju ke sekolah.
Zia di dalam mobil terus memandangi Angga, dia masih merasa tak yakin cowok tampan yang ada disampingnya itu yang begitu perhatian sekarang adalah kekasihnya. Ia bak hidup di dunia dongeng yang memerankan kisah cinderella yang dicintai oleh seorang pangeran.
Angga mengejutkan lamunan Zia, dia dengan gemasnya menarik hidung mancung Zia hingga pangkal hidungnya memerah.
"Kenapa memandangiku terus yang? tampankan calon suami kamu ini yang atau masih kurang tampan, biar besok ke salon agar lebih tampan lagi. Atau perlu merubah penampilan lagi yang", goda Angga sambil menaik turunkan alisnya.
__ADS_1
"Habisnya calon suamiku ini makin hari kok semakin tampan, coba tadi lihat para gadis memandangi sayang terus. Kan jadi cemburu adiak yang", ucap Zia sambil menirukan logat minang di penekanan kata adik.
Kemesraan terus tercipta diantara mereka, sepanjang perjalanan senyum terus tersungging di sudut bibir keduanya hingga tak terasa hampir sampai di gerbang sekolah.
"Sampai sini saja ya yang ngantarnya, ntar nggak enak dilihat murid dan para guru. Kamu kan masih dalam masa skorsing kok malah berkeliaran di area sekolah."
"Oke yang, tapi pulangnya aku jemput ya, waktu kita untuk selalu bersama seperti ini sudah tidak banyak lagi."
"Kenapa berbicara seperti itu, memangnya mau kemana atau udah bosen ya jalan bareng aku", tanya Zia.
Angga segera menempelkan telunjuknya ke mulut Zia, berharap Zia jangan meneruskan ucapannya, "Nanti pulang sekolah aku jelaskan semuanya ya."
"Ayo mari turun ntar malah dikunci tuh gerbang sama pak satpam."
"Biar aku saja yang turun ya", lanjut Zia.
Tapi Angga tetap terlebih dahulu turun untuk membukakan pintu mobilnya. Setelah Zia turun Angga melambaikan tangannya sebelum mobilnya melaju pergi. Tanpa Zia sadari ada dua pasang mata mengawasinya sedari tadi, mereka adalah Bella dan Lusy.
"Sudah seperti supir pribadinya saja", gumam Bella dan Lusy.
"Kamu sih Lusy, gara-gara kamu kan mereka makin dekat", Bella menyalahkan Lusy lagi.
"Kok gara gara aku sih Bell, aku kan nggak melakukan apapun."
"Dasar otak kamu tuh yang tumpul, coba kamu fikir jika kamu mengakui kesalahanmu pada dewan guru, kan Angga bisa masuk sekolah lagi.
Jadi kita bisa terus mengawasi dan menjaganya agar si gembel genit itu tidak mendekati Angga lagi. Kalau seperti ini terus, si gembel genit itu kan lebih leluasa menggodanya di luaran sana tanpa sepengetahuan kita."
"Makanya kamu cepat bertindak dech, kalau tidak aku nggak mau lagi berteman denganmu, sana pergi jauh-jauh dariku."
"Jangan dong Bell, jangan usir aku. Aku kan teman mu, aku tidak bisa berteman dengan yang lain. Kamu sudah seperti kakakku sendiri Bell, sejak masuk sekolah ini cuma kamu yang selalu mengerti aku dan selalu menolongku."
__ADS_1
"Kalau gitu cepat dong bertindak, sebelum kita terlambat ntar malah mereka makin dekat dan jadian. Aku nggak rela kalau itu sampai terjadi,
masak aku kalah dengan gadis gembel itu."
Zia terus berjalan menuju kelasnya, Rania pun sudah ada disana. Melihat wajah sahabatnya begitu bahagia membuat dirinya penasaran, kemudian Rania mendekati Zia.
"Nampaknya ada yang lagi bahagia nih, bagi-bagi dong kebahagiaannya. Sepertinya ada yang baru jadian nih dan lagi kasmaran."
"Ah kamu Nia ada-ada aja, wajahku kan memang seperti ini terus", Kata Zia.
"Kamu itu tipe orang yang tidak pandai berbohong, tuh mata kamu juga tidak bisa bohong. Ayolah, cerita ke aku. Kemarin kalian jadian kan?", desak Rania.
Zia akhirnya mengangguk sambil tersipu malu.
"Wah, selamat ya. Kapan nih aku dapat traktiran makan-makannya untuk merayakan jadian kalian."
"Ntar dech jika aku sudah gajian ya, tapi jangan ditempat yang mahal ntar gaji aku tidak cukup."
"Aku aja dech yang bayar", lanjut Rania. " Untuk traktiran atas persahabatan kita. Aku senang dan bangga bisa bersahabat dengan kamu Zia. Aku telah banyak belajar darimu."
"Angga pantas mendapatkanmu Zia. Sejak aku masuk ke sekolah ini aku sudah melihat dan curiga kalau kalian memang saling menyukai. Dibalik sikap dingin Angga tersimpan cinta dan perhatian untukmu. Dia sering curi-curi pandang ke kamu dan ketika aku dan papa menjemputmu untuk berangkat bareng waktu itu aku melihat mobil Angga dari kejauhan ia memperhatikan kita. Aku yakin dia cemburu sama Papaku."
"Pantas, Angga pernah bilang ia tidak rela jika ada pria lain mendekatiku. Dia cemburu dan hatinya sakit, berarti Papa kamu yang dia maksud."
Rania mengangguk setuju.
"Makanya kemarin aku sengaja meninggalkan kalian agar kalian punya kesempatan untuk berbicara dari hati ke hati karena selama ini kesempatan aja yang belum ada yang membuat kalian masing-masing masih menyembunyikan perasaan kalian. Sebenarnya kemaren kalau aku tidak pulang untuk menemui Papa juga tidak masalah karena Papa hanya dua hari di Bali, kami kan masih bisa Video Call", kemudian Rania melanjutkan ucapannya.
"Tapi aku kan ingin jadi teman yang baik bagi kalian makanya aku memberikan kalian kesempatan dan memilih pulang."
"Jika tidak melakukan hal inipun kamu tetaplah teman terbaikku Rania. Aku juga sayang dan bangga punya teman seperti kamu Rania", balas Zia.
__ADS_1