
Bahagia yang timbul dihati ketika bisa melihat, ketika bisa bersama dan ingin selalu bersama serta kecemburuan yang menimbulkan resah, gelisah dan rasa sakit yang menusuk hati yang dirasakan Angga Wiguna saat melihat Zia Ayunda Putri berdekatan dengan pria lain sudah membuktikan bahwa Angga wiguna telah jatuh cinta kepada Zia Ayunda Putri.
Sebagai manusia kita memang tak pernah bisa menduga kapan, kepada siapa cinta itu datang dan bertahta. Jika cinta telah datang mulutpun sulit untuk menjelaskan dan hanya hati yang bisa bicara. Dalamnya cinta juga seringkali membuat hati mengalahkan logika.
Kali ini Angga telah bertekad ingin mengejar cintanya sebelum terlambat. Ia akan mencari waktu agar bisa mendekati Zia dan mengungkapkan semua yang telah membuat hatinya gelisah.
Angga terus melangkah sembari tersenyum menuju ruang guru untuk menemui bu Tati sesuai dengan janjinya. Ia akan tetap bertanggung jawab walaupun kesalahan itu bukan ia yang melakukannya.
Sesampainya diruang guru, Angga langsung menghadap Bu Tati.
"Assalamu'alaikum Bu", sapa Angga kepada bu Tati.
"Wa'alaikumsalam, mari nak silahkan masuk dan silahkan duduk."
Angga kemudian duduk dibangku dekat meja bu Tati dan berkata," Bu, Angga siap menerima hukuman dari ibu", lanjut Angga sambil menundukkan kepalanya.
Bu Tati tersenyum," kamu ya, kenapa mengambil alih kesalahan orang lain dan ingin bertanggung jawab atas apa yang tidak pernah kamu lakukan, coba kamu jelaskan kepada ibu."
Angga terkejut mendengarnya, sepertinya bu Tati sudah mengetahui bahwa itu bukan kesalahannya. Tapi Angga tetap dengan pendiriannya dia tidak mau hukuman itu jatuh ke Zia.
"Benar kok bu, memang Angga yang melakukannya."
"Anak baik, mulut kamu bisa berbohong tapi wajah kamu tidak bisa berbohong."
"Siapa yang ingin kamu lindungi ibu juga sudah tau. Sejak kemarin ibu juga tidak yakin jika kamu ataupun Zia yang melakukannya, kami dewan guru hanya ingin menguji kejujuran kalian sebagai murid-murid didikan kami."
"Sebenarnya sangat mudah bagi kami untuk mengetahui siapa pelakunya karena di sekolah kita ini CCTV banyak dipasang ditempat tempat tersembunyi yang tidak pernah kalian sangka termasuk dilorong menuju kelas kalian. Kami tidak mau mengecewakan orang tua kalian, mereka berani bayar mahal untuk biaya pendidikan putra putrinya dan ini adalah salah satu cara kami untuk mengetahui gerak gerik berbagai tingkah laku kalian agar kami bisa memberikan timbal balik yang layak kepada mereka, memberikan pendidikan akhlak dan perilaku terbaik buat putra putri mereka. Kami berkewajiban meluruskan perilaku perilaku kalian yang menyimpang dan yang bisa merugikan orang lain", ucap Bu Tati.
"Jadi dewan guru sudah tau ya Bu siapa pelakunya."
Bu Tati pun mengangguk.
__ADS_1
"Mereka adalah Bella dan Lusy, yang memecahkan pot nya adalah Lusy, karena sejak awal masuk kesekolah ini mereka sudah tidak menyukai Zia mungkin karena status sosial ekonomi Zia yang berbeda dari mereka. Apalagi sekarang ketika kamu memberi perhatian lebih terhadap Zia membuat mereka semakin iri dan benci. Mereka ingin Zia lah sebagai tertuduh dan menerima hukumannya."
"Kenapa ibu tidak langsung menghukum mereka?"
"Hukuman pasti akan tetap kita berikan tetapi dengan cara menyadarkan mereka agar sukarela mengakui kesalahan mereka sendiri. Kamu ingin kan teman teman kamu menjadi anak-anak yang baik semua?"
"Iya bu."
"Nah jika begitu, ibu sekarang butuh bantuan kamu, Angga".
"Apa yang bisa saya bantu bu?"
"Kita akan perankan sandiwara disini, ibu akan berpura pura memberi hukuman skorsing selama seminggu untuk kamu. Ibu akan mengirimkan materi pelajaran setiap hari melalui kurir ke tempat tinggalmu atau bisa melalui temanmu yang bisa kamu percaya untuk menjaga rahasia ini. Kamu masih tinggal diapartemen kan?"
"Iya bu, Angga masih tinggal di apartement."
"Karena ibu tau, kamu itu murid yang cerdas kamu pasti bisa mempelajari materi yang ibu kirimkan tanpa harus ikut proses belajar mengajar tatap muka."
"Keberhasilan rencana kita ini ada pada kerja sama kita."
Anggapun mengangguk tanda mengerti dan setuju.
"Baiklah kalau begitu, sekarang kamu silahkan masuk kedalam kelas dahulu sebentar lagi saya akan menyusul. Rencana kita akan kita mulai hari ini juga."
Anggapun kembali ke kelasnya, dia akan memulai perannya dengan memasang wajah muram ketika masuk kelas.
Ketika melihat Angga masuk, perhatian teman teman semuanya tertuju ke arahnya. Dalam hati mereka masing-masing bertanya tanya hukuman apa yang telah diberikan dewan guru kepada Angga hingga Angga terlihat muram.
Apalagi Zia, ia terus memperhatikan Angga dari sejak masuk kelas sampai duduk dibangkunya.
Ia penasaran dengan wajah Angga yang terlihat muram, mungkinkah hukuman yang diterimanya sebuah hukuman yang berat atau dia memang lagi ada masalah lain dirumahnya.
__ADS_1
Tidak berselang lama Bu Tati pun datang.
"Selamat pagi anak-anak."
"Selamat pagi bu", jawab mereka serempak.
"Melanjutkan masalah kemarin, dewan guru sudah memutuskan hukuman apa yang akan diberikan kepada Angga Wiguna. Angga akan di skorsing tidak boleh mengikuti proses belajar mengajar selama satu minggu kedepan dan hukuman itu berlaku mulai saat ini. Angga Wiguna silahkan kamu bereskan barang barangmu. Selama satu minggu ini kamu harus belajar dirumah dan merenungkan kesalahan kesalahanmu, jangan sampai kamu ulang lagi. Kami dewan guru hanya ingin kalian menjadi anak-anak yang baik, tidak mengecewakan orang tua kalian yang telah mempercayakan pendidikan anak-anaknya kepada kami", ucap Bu Tati.
Anggapun segera berkemas dan meninggalkan ruangan dengan tetap memasang wajah muramnya iapun segera berpamitan kepada bu Tati. Murid-murid merasa terkejut dengan hukuman yang diterima Angga, mereka tidak menyangka kalau hukumannya adalah skorsing.
Semua memohon kepada bu Tati agar mengganti hukuman tersebut, mereka bersedia setiap orang membawa satu pot bunga beserta bunganya untuk menggantikan pot yang pecah.
Bu Tati tetap dengan keputusannya, tetapi dalam hatinya dia merasa bangga kepada murid-muridnya yang bersedia bersama-sama saling memikul dan bertanggung jawab atas kesalahan sahabatnya.
Tapi tujuan utamanya belum tercapai yaitu menyadarkan Bella dan Lusy, makanya Bu Tati tetap menjalankan rencananya.
Dalam situasi ini yang paling merasa tidak nyaman adalah Zia. Dia merasa bersalah karena telah membiarkan Angga menanggung hukuman akibat menolong dirinya.
Selama proses belajar mengajar berlangsung ia tidak bisa konsentrasi penuh dalam belajar, fikirannya terus dihantui oleh perasaan bersalah.
Rania memahami situasi sahabatnya, kemudian ia berbisik ditelinga Zia," Tenang saja ntar sepulang sekolah aku akan antar kamu untuk menemui Angga, kamu bisa meminta maaf langsung kepadanya agar rasa bersalahmu berkurang."
"Terimakasih Rania, apa aku masih punya muka, apa aku berani dan sanggup untuk menemuinya, aku malu Rania."
Ternyata bukan hanya Zia yang merasa gelisah, Bella dan Lusy juga. Bella marah pada Lusy,
" Gara-gara kamu kan Lusy, jadinya Angga di skor,
aku jadi nggak bisa melihat dia, sehari saja aku tak melihatnya rasanya hatiku tak karuan apalagi satu minggu. Walau aku tak bisa mendapatkan hatinya asalkan bisa melihatnya setiap hari sudah bisa membuat aku bersemangat menjalani hari hariku."
Sebenarnya apa yang dirasakan Lusy juga sama, dia juga menyukai Angga makanya ketika Angga memberikan perhatiannya kepada Zia, dia sangat kesal sehingga dia hanya bisa melampiaskan kekesalannya dengan cara memecahkan pot bunga itu.
__ADS_1
Selama ini Lusy pandai menutupi perasaannya agar tak diketahui Bella. Lusy tidak mau persahabatannya dengan Bella rusak gara-gara mencintai pria yang sama.