Persahabatan Telah Mengubah Takdir

Persahabatan Telah Mengubah Takdir
Bab 18. Sahabat sejati


__ADS_3

Hari telah larut, rumah duka kembali sepi, para tetangga, teman dan pelayat lain sudah pada pulang kerumah mereka masing-masing. Kini hanya tinggal Zia, adiknya, Rania dan Angga. Malam ini Angga dan Rania memutuskan untuk menginap, hanya mereka yang Zia punya saat ini untuk menghibur hatinya.


Mereka berkumpul di ruang tamu, Angga berusaha membuka percakapan untuk menghilangkan keheningan.


"Besok kita akan kerumah sakit menjenguk Ibu, mudah-mudahan besok ada perkembangan baik tentang kesehatan Ibu. Selama ibu dirawat aku akan antar jemput kamu yang, bolak balik dari rumah ke rumah sakit jika dibutuhkan dan kumohon Rania bisa menjaga adiknya Zia selama Zia menjaga ibu di rumah sakit karena tidak mungkin adik Zia kita tinggalkan sendirian dirumah ini."


"Baiklah, aku akan membawa adiknya Zia ke rumahku saja, disana kan ada Mang Asep dan Bik Asih yang bisa memperhatikannya, lagian aku kan jadi punya teman dirumah."


"Maaf, maafkan kami", dengan lirih Zia berkata.


"Kami telah merepotkan kalian", lanjutnya.


"Siapa yang bilang kalian merepotkan kami", balas Rania.


"Kamu sahabatku Zia, jika kamu sedih akupun sedih, keluargamu adalah keluargaku Zia."


Anggapun mendekati Zia dan berkata," Kamu kekasihku, calon istriku, calon ibu dari anak-anakku kelak, sakitmu adalah sakitku dan bahagiamu juga bahagiaku jadi jangan pernah merasa sungkan."


Karena lelah mereka memutuskan untuk beristirahat, Rania tidur dikamar Zia dan Angga tidur sekamar dengan adiknya Zia.


Pukul 03.00 dini hari Zia terbangun, ia langsung menuju kamar mandi mengambil wudhu. Ia mau melaksanakan sholat tahajud agar hati dan fikirannya tenang.


Rasulullah SWA bersabda dalam sebuah hadist


..." Apabila ia terbangun dan menyebut nama Allah, terurailah satu simpul. Lalu apabila ia berwudhu terurailah satu simpul lagi. Kemudian apabila ia sholat, terurailah simpul yang terakhir. Maka ia di pagi hari dalam keadaan segar ". (HR. Muttafaqun'alaih)...


Selain membuat hati dan fikiran tenang dengan sholat tahajud do'a juga akan dikabulkan Allah SWT.


Dalam Sabdanya Rasulullah SAW berkata:


..." Dimalam hari terdapat suatu waktu yang tidaklah seorang muslim memanjatkan do'a pada Allah berkaitan dengan dunia dan akhiratnya bertepatan dengan waktu tersebut melainkan Allah akan memberikan apa yang ia minta. Hal ini berlaku setiap malamnya ".(HR. Muslim no. 757)...


Jadi ketika seorang hamba berdoa meminta sesuatu diwaktu muslim yang lain sedang tertidur lelap, disitulah kesempatan besar semua doa nya akan dikabulkan Allah.


Setelah berwudhu Zia kembali ke kamarnya dan melaksanakan sholat tahajud dua raka'at. Dalam do'anya ia menangis mengadukan semua beban yang menghimpit dadanya, meminta kesembuhan ibu tercintanya dan meminta surga sebagai tempat terbaik untuk almarhum ayahnya. Kemudian ia meminta agar Allah menguatkan hatinya menghadapi tantangan hidup kedepannya.


Subuhpun hampir tiba, Zia sudah terbiasa membaca AlQur'an sambil menunggu datangnya waktu sholat.


Ketika Adzan subuh berkumandang, semua terbangun untuk melaksanakan sholat subuh dan kali ini Anggalah yang menjadi imam sholat mereka.


Rutinitas seperti biasa dilakukan Zia selepas sholat subuh, ia memasak nasi goreng terasi telur ceplok untuk menu sarapan mereka. Rania membantu mencuci piring dan menyapu rumah, sementara Angga berolahraga dan adik Zia menyapu halaman.


Semua pekerjaan rumah selesai, mereka satu persatu pergi mandi kemudian berkumpul kembali diruang makan untuk sarapan bersama.


Nasi goreng sudah terhidang dimeja beserta teh manis dan air putih hangat, walaupun hanya menu sederhana tapi kebersamaan membuat hidangan itu semakin nikmat.

__ADS_1


"Hemmm, harum dan nikmat sekali rasa nasi goreng ini, ternyata calon istriku pandai memasak, rasanya jadi tak sabar ingin cepat menghalalkan biar setiap hari bisa terus seperti ini."


"Huh, maunya kamu, bilang aja udah nggak sabar nunggu malam pertama", timpal Rania.


"Itu juga ia sih, lagian itu kan yang membuat rumah tangga jadi tambah harmonis."


"Kalian pagi-pagi udah ngomong mesum aja malu tuh sama adek", lanjut Zia.


"Setuju kan dek jika Bang Angga nikah dengan Kakak kamu?"


"Setuju dong bang, Bang Angga kan tampan seperti bintang film holywood dan orangnya baik lagi."


"Jangan mau Zia jika diajak buru-buru married, ntar kamu cuma jadi bibi dapur nggak bisa berkarier."


"Oh, jangan salah Nia, jika Zia menikah denganku dia akan aku jadikan ratu didalam rumah dan di dalam hatiku."


"Cie cie, so sweet."


Zia hanya tersenyum mendengar celotehan mereka.


"Sudah-sudah cepat habiskan sarapannya, kita kan mau jenguk ibu di rumah sakit, aku rindu sama Ibu."


"Oh ya, ngomong ngomong tentang ibu tadi malam pihak rumah sakit telephone katanya ibu sudah sadar dan pagi ini akan di pindah ke ruang rawat biasa."


"Alhamdulillah", jawab Zia dan Rania bersamaan.


"Iya dek."


"Horeee, adik bisa ketemu ibu. Boleh kan kak adek ikut?"


"Ya sudah untuk hari ini aja ya. Besok kamu harus ikut kak Rania, tinggal disana sampai ibu di izinkan pulang, hari ini kita telephone pihak sekolah minta izin untuk tidak masuk, besok baru kita semua masuk sekolah."


Setelah membereskan meja makan mereka berempat segera bersiap untuk ke rumah sakit.


Rania telah menelphone mang Asep agar menjemputnya di rumah Zia karena sepulang dari rumah sakit dia akan langsung membawa adek Zia pulang kerumahnya.


Setelah mang Asep tiba mereka segera berangkat, Angga bersama Zia naik mobil sport nya sementara Rania dan adek Zia naik mobil dengan mang Asep.


Mereka tiba di rumah sakit, Angga langsung bertanya kepada perawat apakah ibu sudah dipindah ke ruang rawat biasa atau belum.


Ternyata ibu sudah dipindahkan pagi tadi.


Perawat pun mengantarkan mereka ke ruang rawat Ibu.


Ketika sampai di ruangan tempat ibu dirawat Zia dan adiknya sangat senang melihat ibu yang sedang tersenyum melihat kedatangan mereka walau masih terlihat lemah. Zia dan adiknya langsung memeluk ibunya dan berusaha menahan tangis.

__ADS_1


"Bu, kami rindu Ibu."


"Ibu juga rindu kalian nak."


Ada air mata mengambang dikelopak mata ibu,


Ibupun berusaha menahan air matanya agar tidak terlihat oleh anak anaknya. Kemudian Zia memperkenalkan Angga kepada ibunya.


"Bu, kenalkan ini Angga teman Zia, dialah yang telah mengurus semuanya bu. Itu Rania juga ikut bu, tadi malam mereka tidur dirumah kita untuk menemani kami."


Angga dan Rania mendekat dan menyapa Ibu.


"Assalamu'alaikum bu, bagaimana kabar ibu pagi ini?"


"Waalaikumsalam, Alhamdulillah nak, kondisi ibu sekarang lebih baikan, terimakasih ya kalian berdua telah membantu keluarga Ibu, hingga semuanya selesai, kami tidak tau gimana caranya bisa membalas kebaikan kalian."


"Ibu jangan fikirkan semua itu", jawab Angga.


"Kami ikhlas melakukannya, yang penting sekarang ibu harus sembuh demi Zia dan adik, mereka sangat membutuhkan ibu. Sekarang hanya ibulah penguat hati mereka. Mereka sudah kehilangan Ayah dan tidak akan kuat jika harus kehilangan ibu juga."


Ibu menangis sambil mengucapkan terima kasih kepada Angga dan Rania.


"Nanti setelah ibu sehat dan pulang ke rumah kami akan mengantar Ibu, Zia dan adik untuk ziarah ke makam Ayah, sekalian kami juga ingin ziarah", lanjut Angga.


"Terima kasih nak, sekali lagi ibu ucapkan terimakasih."


"Oh ya bu, adek akan nginap di rumah Rania sementara sampai ibu diizinkan pulang oleh dokter. Kasihan jika adek harus tinggal sendiri di rumah sementara kan Zia akan jaga ibu disini", ucap Rania.


"Jadi merepotkan nak Rania, Adek kan rada bandel dan lasak nak, nanti malah merepotkan keluarga nak Rania."


"Ah ibu buka kartu adek, adek kan jadi malu bu sama kak Nia dan Kak Angga."


"Dasar kamu dek, kan memang benar apa yang dikatakan Ibu."


"Iya iya nanti dirumah kak Nia adek nggak akan bandel, adek mau jadi anak baik lho kak."


"Beneran ya ", jawab Zia kembali.


"Siiap", jawab adek sambil memberi acungan jempol.


"Nia senang bu Adek mau tinggal dirumah Nia,


Nia jadi punya teman. Selama ini kan Papa sering ke luar kota bahkan kadang keluar negeri, Nia hanya tinggal sama Mang Asep dan Bik Asih. Jika ada adek kan rumah jadi semakin rame."


Selama mereka berkumpul Ibu jadi terhibur, sejenak lupa tentang Ayah dan lupa tentang rasa sakitnya.

__ADS_1


Jam besuk telah habis dan ibu harus istirahat, mereka diminta keluar dari ruangan pasien oleh suster, hanya satu orang yang boleh tinggal untuk menjaga pasien.


Angga, Rania dan adek segera pamit kepada ibu dan Zia, mereka akan pulang dulu dan akan kembali lagi sore nanti sambil membawa makanan.


__ADS_2