
Tugas kantor yang dikirim via email telah selesai dikerjakan, sesuai janjinya sore ini Angga akan menemui Papanya di kantornya. Dengan berpenampilan sangat rapi, memakai pakaian casualnya ia segera melajukan mobilnya ke luar apartement menuju kantor.
Setibanya dikantor ia langsung menuju meja resepsionis untuk menanyakan apakah papa nya telah sampai.
Dengan sangat sopan dia bertanya " Mbak, apakah Papa ada diruangannya?"
"Oh ada tuan muda, Pak Wiguna baru saja tiba beberapa menit yang lalu. Silahkan naik saja ke lantai dua di arah sebelah kanan letak ruangan beliau."
"Jangan panggil saya Tuan Muda dong mbak, panggil saja saya Angga itu kedengarannya lebih enak."
"Mana berani saya panggil nama saja tuan, tuan kan calon pimpinan kami disini."
"Kalau gitu panggil Mas Angga aja ya, meskipun saya calon pimpinan dikantor ini saya ingin lebih akrab dengan kalian."
"Oh ya Mas silahkan langsung saja ya keruangan Bapak. Bapak juga sudah menunggu, katanya akan ada rapat para staf dan para pemegang saham."
" Iya Mbak, terimakasih ya".
Angga pun langsung menuju ke ruangan Papanya, dia selalu tersenyum dan menyapa setiap karyawan yang ia lewati.
Semua karyawan yang melihatnya berdecak kagum melihat ketampanan dan keramahannya. Apalagi karyawan wanita, mereka seperti enggan memalingkan wajahnya, memperhatikan Angga tanpa berkedip hingga Angga menghilang dari pandangan mereka.
Sesampainya diruangan Tuan Arya, Angga mengetuk pintu ruangan dan Papa nya yang sudah yakin yang datang itu anaknya, ia pun segera mempersilahkannya masuk.
"Assalamu'alaikum Pa."
"Wa'alaikumsalam."
Pak Arya yang melihat anaknya langsung tersenyum. Angga pun memeluk Papa nya sambil menanyakan kabarnya dan kabar ibu serta adiknya.
"Bagaimana kabar Papa, mama dan adik?"
"Alhamdulillah kami semua sehat nak", jawab Pak Arya.
__ADS_1
"Papa sampai pangling lho nak lihat penampilan kamu, inii baru anak Papa, Oh ya nak mari kita menuju keruang rapat, mereka semua sudah menunggu kita sedari tadi."
"Baik Pa."
Keduanya pun berjalan keruang rapat. Ketika sampai diruangan semua mata tertuju kepada Angga. Semua terpana dan kagum melihat Angga, ternyata anak Tuan Wiguna sangat tampan dan berwibawa. Para pemegang saham yg mempunyai anak gadis pun berandai andai.
Seandainya Angga menjadi menantu mereka alangkah beruntungnya anak mereka, sudah tampan, calon presdir lagi dan yang pastinya bisnis mereka akan semakin berkembang karena berbesan dengan Tuan Wiguna.
Tuan Wiguna mulai membuka rapat, dia mulai memperkenalkan putranya sebagai calon pewarisnya. Pergantian presdir akan dilakukan selambat lambatnya setelah Angga memperoleh gelar sarjana.
Menurutnya untuk saat ini Angga masih harus banyak belajar dan mempersiapkan dirinya, jadi Tuan Wiguna mohon kepada para staf dan rekan-rekannya untuk ikut membimbing Angga.
Mulai hari ini cabang perusahaannya yang terdapat disini akan diserahkan pengelolaannya kepada putranya dibawah bimbingan asisten pribadinya yang bernama Frans dan dibawah pengawasan langsung Tuan Wiguna.
Dalam tempo dua tahun kedepan para dewan direksi akan melakukan peninjauan kembali, jika perusahaan mengalami kemajuan dibawah kendali Angga maka pergantian presdir akan dipercepat tidak perlu menunggu sampai dia memperoleh gelar sarjana.
Setelah Tuan Wiguna selesai menjelaskan semuanya, para peserta rapat pun segera berdiri untuk memberi selamat kepada Angga.
Bisakah Angga memikul tanggung jawab sebesar ini sementara dia masih harus memikirkan kuliahnya. Dan apakah ia bisa meluangkan waktunya juga untuk kekasihnya. Inilah pertanyaan pertanyaan yang muncul berulang ulang dalam hati dan fikirannya.
Tapi keputusan telah diambilnya, apapun resikonya nanti dia harus bisa mempertanggung jawabkannya. Kini dia telah memantapkan hatinya kembali, dia harus bisa demi Zia, demi masa depannya dan demi membahagiakan kedua orang tuanya.
Hari-hari dilaluinya dengan semangat. Keputusan demi keputusan penting tentang proyek dan manajemen perusahaan berhasil ia ambil. Suasana kerja juga lebih rileks tapi tetap terarah dibawah kepemimpinannya.
Menurutnya semua karyawan maupun staf adalah keluarganya, berkat kerjasama merekalah perusahaan bisa terus berkembang jadi dia menginginkan semua bawahannya menjadi satu team yang solid, saling dukung seperti dalam satu keluarga.
Diawal kepemimpinannya ini dia ingin memberikan rasa kenyamanan kepada semua bawahannya. Jika mereka semua merasa nyaman dalam melakukan pekerjaan bersamanya tentunya kesetiaan juga akan tumbuh dengan sendirinya.
Hari yang ditunggu-tunggu oleh para murid pun tiba, pengumuman hasil ujian atau kelulusan sudah dikeluarkan oleh pihak sekolah. Murid-murid merasa gembira sekaligus sedih. Gembira karena sebentar lagi mereka akan melanjutkan study ke jenjang perguruan tinggi, sedih karena mereka harus meninggalkan sekolah, berpisah dengan teman dan dewan guru.
Para wali murid sudah hadir disekolah untuk mengambil hasil kelulusan. Angga, Zia, Rania dan semua murid juga hadir. Mereka semua harap-harap cemas, tidak sabar menunggu hasil apa yang masing masing mereka peroleh.
Para wali murid sudah meninggalkan ruangan, mereka ingin menemui anak anaknya untuk memberitahu hasilnya. Pihak sekolah memberitahu ada dua orang yang tidak lulus dan masih harus mengikuti ujian ulangan.
__ADS_1
Papa Angga, Papa Rania dan ibunya Zia juga hadir.
Ketika melihat orang tuanya telah keluar, ketiga sahabat itu menghampiri orang tuanya masing masing. Mereka membuka amplop yang isinya pernyataan lulus atau tidak lulus. Dengan hati berdebar mereka membacanya. Alhamdulillah ternyata ketiganya lulus. Mereka bersorak gembira.
Rania dan papanya mendekati Zia dan ibunya, sementara Angga mengajak papanya untuk berkenalan dengan kedua orang tua sahabatnya itu.
Ternyata Papa Rania dan Papanya Angga sudah saling mengenal dan merupakan rekan bisnis. Akhirnya keduanya tenggelam dengan pembicaraan bisnis.
Sementara Ibunya Zia yang hanya dari kalangan biasa hanya diam saja. Angga dan Rania yang menyadari situasi itu segera menghampiri sang Ibu, kemudian mereka mengajak ibunya Zia duduk dan ngobrol.
Dalam pembicaraan mereka tak lepas dari kemana anak-anak mereka akan melanjutkan pendidikan.
Angga, Zia dan Rania telah sepakat untuk ikut ujian masuk perguruan tinggi negeri dahulu. Jika tidak lulus barulah mereka mendaftar ke Universitas swasta.
Mereka akan ikut ujian Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN).
Universitas Sumatera Utara (USU) adalah kampus tujuan mereka, tepatnya Fakultas Ekonomi dan Bisnis jurusan manajemen.
Sedangkan Alternatif pilihan lain jika nanti tidak diterima di USU adalah Universitas Muhammadiyah dan Universitas Darma Agung.
Papa Rania dan Papanya Angga berpamitan kepada mereka untuk pulang lebih dulu karena masih ada urusan kantor yang harus mereka selesaikan.
Sedangkan urusan kantor Angga untuk hari ini ia wakilkan kepada asisten dan sekretarisnya.
Angga mengantarkan Papa nya ke area parkir, sebelum pergi Pak Wiguna menyerahkan sebuah Kartu The Black Card kepada putranya agar ia bisa menggunakannya untuk kebutuhan menjelang perkuliahan, karena besok papanya sudah harus berangkat lagi keluar negeri untuk urusan bisnisnya. Dan Pak Wiguna berpesan agar Angga mengutamakan urusan pendaftaran kuliahnya dulu baru kembali mengurus urusan perusahaan.
Melihat kinerja dan kesungguhan Angga selama ikut bergabung di perusahaan, kini Pak Wiguna bisa bernapas lega dan lebih percaya bahwa putranya sudah mampu bertanggung jawab untuk diri dan perusahaan yang di pimpinnya.
Setelah melepas kepergian papa nya, Angga pun kembali menghampiri Zia dan ibunya.
Rania juga setelah mengantar kepergian papanya ikut bergabung lagi dengan mereka.
Kemudian mereka sepakat akan mengajak Zia dan ibunya makan disebuah cafe yang terkenal dengan kelezatan menu hidangan lautnya untuk merayakan kelulusan mereka, setelah itu baru mereka mengantarnya pulang.
__ADS_1