Persahabatan Telah Mengubah Takdir

Persahabatan Telah Mengubah Takdir
Episode 51. Mencari keberadaan Angga


__ADS_3

"Zia!" teriak Rania sambil berlari memeluk sahabatnya yang jatuh pingsan.


"Nak, tolong panggilkan dokter!" seru Pak Wiguna kepada teman Zia yang lain.


Mama membalurkan minyak kayu putih ke hidung Zia agar dia segera sadar. Sebenarnya mereka tidak tega menyampaikan berita ini kepada Zia dengan kondisinya yang sedang hamil, tapi Zia berhak tahu tentang yang menimpa Angga.


Dokter tiba, Zia pun mulai sadar, dia tidak berhenti menangis. Lalu dia memohon kepada Pak Wiguna untuk ikut mencari keberadaan suaminya.


Zia tidak peduli dengan hasil KKN nya nanti, yang terpenting sekarang dia harus mencari Angga hidup atau mati. Rania juga sudah menghubungi Tuan Arya, agar mengirimkan bantuan untuk membantu mencari Angga. Sementara dirinya sekarang harus ikut kemanapun Zia pergi, Rania ingin mendampingi sahabatnya.


Rania meminta Papanya untuk membooking tiket pesawat keberangkatan Papua secepatnya untuk dirinya dan juga Zia.


Sebelum kembali mereka meminta izin kepada kepala desa juga kepada ketua regu, nanti Rania sendiri yang akan menghubungi dosen pembimbing KKN mereka.


Mereka berempat pulang ke rumah untuk bersiap, besok pada penerbangan pertama mereka berangkat ke Timika Papua.


Sopir Pak Wiguna mengantarkan Zia dan Rania kembali ke ruko. Ibu yang melihat putrinya pulang langsung memeluknya. Isak tangispun kembali pecah, Rania menyabarkan sahabatnya dan memberikan semangat bahwa Angga pasti kembali.



Frans terus berusaha mencari tapi belum juga dia temukan jalan terowongan menuju tambang emas tersebut.



Saat Frans kelelahan, tanpa sengaja matanya memandang ke arah rumput yang menjalar dan mulai mengering. Frans penasaran lalu mendekati tempat itu, ternyata dia melihat pintu masuk terowongan di sana.



Frans kemudian berteriak, "Aku menemukan terowongannya."



Semua yang ikut mencari berlari ke arah Frans, mereka satu persatu mulai masuk menyusuri terowongan tersebut. Frans yang lebih bersemangat ingin secepatnya menemukan Angga bosnya.



Tapi lagi-lagi dia kecewa saat tiba diujung tidak menemukan apa-apa, hanya reruntuhan tembok dan tanah tambang mas itu. Frans menjerit memanggil-manggil nama Angga namun tidak kunjung ada jawaban.



Dia terus mencari dan sesaat bau busuk mulai tercium. Namun menurutnya itu bukan bau mayat Angga, mungkin ada mayat pekerja yang belum sempat ketemu hingga runtuh tambang yang ke dua kali.



Tim penyelamat tidak berani mengambil resiko untuk menyingkirkan reruntuhan karena bisa berakibat patal untuk diri mereka sendiri. Sesekali di sana masih terdengar suara benda jatuh dari atas, kemungkinan akan terjadi runtuhan berikutnya.



Suara-suara tersebut semakin sering dan dinding kanan kiri kembali bergetar, Frans lalu menginstruksikan jika mereka harus segera keluar sebelum jatuh korban lagi.


__ADS_1


Mereka berlari kembali ke ujung terowongan, saat semuanya sudah agak jauh dari sana tiba-tiba terdengar kembali suara gemuruh tembok runtuh dan tanah yang mereka pijak bergetar, ternyata runtuhnya tambang kali ini di barengi oleh gempa bumi yang tidak terlalu kuat.



Pintu masuk terowongan akhirnya tertutup reruntuhan, Frans terduduk lemas, dia memegangi kepalanya, dia merasa tidak percaya dengan apa ya dilihat, tambang itu hampir rata, tidak akan mungkin ada yang selamat di dalam sana.



Sejenak dia termenung, lalu dia di kagetkan oleh salah satu temannya, orang itu berkata sudah tidak ada lagi yang bisa mereka lakukan di sana.



Frans tidak mau menyerah, lalu dia berfikir bisa saja Angga sudah keluar dari terowongan sebelum mereka datang. Lalu dia memerintahkan agar semua Tim berpencar untuk mencari Angga di sekitar tempat itu.



Semua berpencar tapi mereka belum menemukan petunjuk sedangkan hari sudah kembali malam.


Akhirnya mereka berkemah di sana dan Frans memerintahkan untuk mendirikan tenda.



"Dua tenda kita dirikan," perintah Frans.



"Kemudian dia melanjutkan ucapannya, malam ini kita istirahat dan secara bergantian berjaga-jaga di luar, mana tahu ada binatang buas berkeliaran disini."




Mereka kemudian menghidupkan api unggun untuk mengurangi dinginnya udara malam. Mengenai perbekalan makanan mereka telah mempersiapkan untuk keperluan tiga hari.



"Sekarang kita makan dulu, setelah itu baru beristirahat," ajak Frans.



Bekal makanan sudah mereka bagi untuk keperluan tiga hari, kini mereka makan dengan sangat lahap walau hanya pakai sambal kering dan mie instan. Udara dingin membuat perut mereka kelaparan.



Kini sebagian tim sudah tertidur, empat orang berjaga-jaga di dekat api unggun sedangkan Frans duduk termenung di sebuah batang kayu yang condong ke tanah. Frans memikirkan nasib Bosnya, hatinya masih yakin jika Angga masih hidup.



Namun dia bingung, kenapa tidak ada petunjuk sedikitpun tentang keberadaan Angga.


__ADS_1


Sementara Angga yang telah di bawa ke klinik oleh kawanan pemburu, sekarang sudah sadar, tapi dia tetap tidak mengingat apapun, bahkan ketika di tanya namanya sendiripun dia tidak ingat.



Seorang pemburu yang berasal dari Australia dan kebetulan pasih berbahasa Indonesia berkata kepada dokter, "Dok tolong sembuhkan dia, aku akan menanggung biayanya."



Namun dokter menjawab, "Kita akan berusaha, kami belum bisa pastikan lupa ingatan padanya apakah hanya sementara atau bahkan selamanya," ucap Sang Dokter.



Mendengar ucapan dokter dengan orang Australia yang telah menyelamatkan dirinya, Anggapun berkata, "Aku siapa? Aku sedang di mana?" tanya Angga.



Lalu Mike menceritakan saat dia menemukan Angga pingsan ketika sedang berburu. Angga berusaha mengingatnya namun kepalanya sangat sakit. Dokter meminta Angga jangan terlalu memaksakan diri untuk mengingat, dokter takut malah nanti bisa berakibat patal.



Zia, Rania dan kedua orang tua Angga sudah tiba di bandara, Frans telah memerintahkan anggotanya untuk menjemput mereka dan membawanya ke hotel untuk beristirahat.


Pagi hari barulah anak buah Frans membawa mereka dengan dua helikopter menuju tempat Frans berkemah.


Pak Wiguna yang melihat tambangnya hancur hanya menarik napas berat, sekarang yang ada dalam pikirannya adalah mencari Sang putra.


Dia ragu melihat tambang tersebut hampir rata dengan tanah, tidak mungkin Angga bisa selamat.


Sementara Zia pingsan lagi melihat lokasi tersebut, harapannya seakan musnah.


Setelah Zia sadar, Rania berusaha menguatkan Zia, dan dia berkata, "Sabar Zia, Allah pasti punya rencana di balik musibah ini. Kita tidak boleh menyerah, Mungin saja ada mukzizat dari Allah dan Angga masih hidup."


Zia dan Mama terus menangis sedangkan Pak Wiguna terus memerintahkan tim penyelamat.. untuk mencari di sekitar hutan atau perumahan penduduk. Beliau berharap ada penduduk yang telah menyelamatkan Angga.


Tim penyelamat akhirnya menemukan jejak mobil dan bungkus makanan anjing, lalu mereka menduga bahwa sekelompok pemburu sempat berhenti d tempat tersebut.


Mereka terus mencari tapi tidak menemukan apapun selain tetesan-tetesan darah yang sudah kering di dedaunan.


Pak Wiguna tidak mau berputus asa, dia meminta Frans dan seluruh anggotanya untuk menyusuri perkampungan.


Bersambung......


🌻 Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya guys... vote, like, coment dan rate bintang limanya. Terimakasih 🙏


REKOMENDASI KARYA




Hai sahabat semua mampir yuk dalam karya temanku, jangan lupa tinggalkan jejaknya di sana ya.... Terimakasih 🙏

__ADS_1



![](contribute/fiction/3231258/markdown/24522111/1645604515591.jpg)


__ADS_2