Persahabatan Telah Mengubah Takdir

Persahabatan Telah Mengubah Takdir
Episode 54. Saling memaafkan


__ADS_3

Mama meminta tolong kepada Suster agar bisa melihat cucu mereka lebih dekat. Lalu Suster tersebut menggendong bayi Zia mendekat ke kaca pembatas.


Di situ terlihat sang bayi sedang menggeliat, membuka mata lalu menangis, Mama, Ibu dan Pak Wiguna sangat senang sekaligus terharu melihat cucu mereka wajahnya sangat mirip dengan Angga.


"Andai saja kamu ada di sini Nak, pasti kebahagiaan ini lebih sempurna," gumam Pak Wiguna.


Mama yang mendengar perkataan suaminya pun berkata, "Kenapa Allah tidak memberi Angga kesempatan untuk melihat kelahiran putra yang telah di tunggu bertahun-tahun lamanya."


Pak Wiguna memeluk istrinya sembari berkata, "Sudah Ma, kita harus ikhlas dengan kepergian Angga, sekarang yang harus kita pikirkan adalah kebahagiaan serta masa depan Zia dan cucu kita."


Ibu hanya menangis, Beliau tetap berharap ada keajaiban yang akan membawa menantunya kembali.


Setelah puas melihat sang cucu mereka bertiga kembali ke ruangan Zia, di sana Rania masih setia mendampingi sahabatnya padahal dia belum beristirahat sedikitpun sejak pagi tadi.


Frans membawakan makanan dari kantin rumah sakit untuk Rania, dia tidak mau melihat kekasihnya sakit, lalu dia berkata, "Makan dulu Yang, aku suapin ya?"


"Tidak...tidak, aku bisa makan sendiri!" ucap Rania yang malu terhadap Zia.


"Kalau tidak mau aku suapin, ayo cepat makanlah nanti kamu sakit, aku tidak bisa menjaga kalian berbarengan, jika kamu juga ikutan sakit."


"Iya Nia, kasihan Frans, aku saja sudah merepotkan dia, belum lagi semua urusan perusahaan sekarang menjadi tanggung jawabnya sejak Mas Angga tidak ada, "ucap Rania.


"Makanlah Nak, biar Ibu yang temani Zia. Jika kamu tidak selera dengan makanan kantin rumah sakit, pergilah! makan di luar bersama Nak Frans," ucap Ibu yang muncul dari balik pintu bersama Mama dan Pak Wiguna.


"Benar Nak yang Zia katakan, kasihan Frans," timpal Pak Wiguna.


"Baiklah, Bu, Pak, saya akan makan dulu makanan yang sudah Frans bawakan," ucap Rania.


"Ayo aku temani makannya sembari duduk di bangku taman rumah sakit sembari menikmati udara luar," ajak Frans.

__ADS_1


Rania pun setuju dengan ide Frans, lalu merekapun pergi ke taman sembari membawa makanan yang tadi di beli oleh Frans.


Di bawah pohon rindang di taman rumah sakit, Rania mulai menikmati makanannya, sembari makan dia masih saja memikirkan nasib sahabatnya.


"Frans, apakah pencarian terhadap Angga sudah di hentikan?" tanya Rania di sela makannya.


Frans mengangguk, lalu dia berkata, "Hanya tinggal menunggu keajaiban Yang," jawab Frans.


"Kasihan Zia, dan putranya akan hidup tanpa mengenal kasih sayang seorang Papa," ucap Rania sedih.


"Iya, pasti suatu saat nanti dia akan bertanya kenapa dirinya tidak memiliki Papa sedangkan teman-temannya bisa dengan bangga menunjukkan identitas Papa mereka," ucap Frans yang menimpali omongan Rania.


"Ayo frans, kita kembali ke sana! siapa tahu mereka membutuhkan kita, biar malam ini aku saja yang akan menemani Zia di rumah sakit," ucap Rania.


"Iya, Aku tidak bisa menemani kalian, besok pagi ada meeting penting."


"Nggak apa-apa kok Frans, Zia dan bayinya sehat, jadi tidak ada yang perlu kita khawatirkan, hanya tinggal menunggu izin dari dokter untuk pulang."


Pak Wiguna pun bersyukur melihat Sang istri sekarang sudah bisa menghargai dan menyayangi Zia. Kesombongannya runtuh akibat datangnya musibah. Pak Wiguna juga berharap Aira putrinya bisa mengikuti jejak sang Mama.


Saat mereka sedang asyik mengobrol terdengar ucapan salam dari balik pintu, ternyata Aira yang datang. Ibu dan yang lain mempersilakan Aira masuk, lalu Aira mendekati Zia dan memeluknya sembari menangis, meminta maaf dan mengucapkan terimakasih karena telah melahirkan Angga junior dengan sehat dan selamat.


Aira telah melihat wajah Angga junior dari status sang Mama yang diunggah beberapa jam yang lalu. Wajah Angga junior telah mengingatkan dirinya akan sosok Sang Kakak yang selama ini sangat dia rindukan.


Sejak kehilangan Angga, Aira lebih banyak diam dan tinggal di rumah daripada berkumpul dengan teman-temannya. Dia mengurung diri di kamar menyesali sikapnya selama ini yang kurang menghargai pernikahan Sang Kakak.


Akhirnya Aira menyadari ternyata pilihan Angga tidak salah, selama Angga tidak ada, Zia selalu datang ke rumah untuk menguatkan mereka dan Zia selalu menolak jika Pak Wiguna ingin memberikan uang sebagai nafkah untuk calon cucunya. Zia mampu berdiri tegar dengan jerih payahnya sendiri di tengah keterpurukannya.


Zia membalas pelukan Aira sambil ikut menangis, dia tidak pernah menyimpan dendam sedikitpun atas sikap Mama mertua dan adik iparnya itu. Malahan Zia bersyukur berkat sikap keras merekalah dirinya bisa lebih mandiri dan hidup seperti sekarang ini, memiliki usaha yang lumayan berkembang.

__ADS_1


Kemudian Mama dan Aira juga meminta maaf kepada Ibu. Ibu pun memaklumi hal itu, karena menurut beliau semua orang tua pasti menginginkan yang terbaik buat anak-anak terutama tentang masalah pasangan hidup.


Kini ruangan itu di penuhi kebahagiaan karena dua keluarga telah saling maaf memaafkan, harapan mereka kedepannya hanya tinggal merawat dan membesarkan Angga junior agar menjadi anak yang kuat dan berbudi luhur seperti Papanya.


Satu persatu mulai pamit pulang, Rania bersikukuh menemani Zia malam ini, dia ingin tetap ada di samping sahabatnya hingga dokter mengizinkannya pulang.


"Nia, apa kamu tidak mengantuk?" tanya Zia.


"Tidak Zia, kamu tidurlah! Aku tahu, kamu pasti lelah setelah tadi berjuang melahirkan Angga junior. Aku akan menunggumu sampai terbangun sambil membaca novel kesayanganku, sebab ceritanya lagi seru nih," jawab Rania.


"Ya sudah, aku tidur dulu ya Nia, aku memang merasa lelah mungkin setelah bangun nanti tubuhku bisa lebih segar. Jika kamu mengantuk tidur saja, toh nanti ada suster jaga dan jika aku butuh sesuatu bisa meminta tolong kepada mereka."


"Siap Mama Zia! Aku pasti tidur kok jika sudah mengantuk," jawab Rania sembari membetulkan letak selimut sahabatnya itu.


Zia pun sudah tertidur, sedangkan Rania masih asyik membaca Novel karya Author Julia Fajar yang berjudul : 'Terikat Cinta Lain' lalu lanjut lagi dengan judul 'Menikahi Cucu Billioner.


Rania memang menggemari karya Author Julia Fajar, karena menurutnya banyak pengajaran hidup yang bisa dia ambil manfaatnya dari sana, bukan hanya sekedar menghibur pembaca.


Sambil membaca novel, Rania juga membalas chatt dari Papanya dan juga Frans yang merasa khawatir karena dia sendirian menemani Zia.


Menjelang sepertiga malam akhirnya Rania pun ikut tertidur dan terbangun saat suara Adzan subuh berkumandang dari musholla yang ada di lingkungan rumah sakit.


Zia juga sudah bangun, saat Rania hendak pergi membersihkan diri dan berwudhu. Kemudian Rania mengajak sahabatnya untuk membersihkan diri, Zia pun perlahan turun dari tempat tidur lalu mengikuti Rania ke kamar mandi. Rania membantu Zia memegangi selang dan botol infus yang masih terpasang di tangan sahabatnya itu.


Setelah selesai merekapun kembali ke ruangan, Zia beristirahat kembali sementara Rania sholat di sudut ruangan yang tidak untuk lalu lalang pengunjung masuk.


Pagi ini mereka tinggal menunggu dokter masuk untuk menanyakan keputusan kapan Zia bisa di perbolehkan pulang.


BERSAMBUNG.......

__ADS_1


🌻 Jangan lupa dukungannya ya para sahabat, favorit, vote, like, coment dan rate bintang limanya. Terimakasih 🙏, aku tunggu lho dukungannya 😉


__ADS_2