
"Ayo Frans kita berangkat," ajak Angga setelah berpamitan kepada Ibu.
"Siap Bos," ucap Frans sembari berjalan ke arah mobil.
Merekapun segera menuju ke Bandara Halim Perdanakusuma untuk melakukan penerbangan siang ini ke Timika Papua. Angga sudah tidak sabar ingin cepat mengetahui apa sebenarnya penyebab terjadinya kecelakaan runtuhnya tambang hingga menewaskan banyak pekerja.
Keduanya segera melakukan chek-in keberangkatan. Kemudian selang beberapa menit mereka dipersilakan untuk naik ke dalam pesawat.
Sebelum mematikan HP, Angga menyempatkan diri menghubungi Zia, dia ingin melihat wajah sang istri sebelum keberangkatan.
Saat ini panggilan ponselnya pun tersambung, di sana terlihat Zia sedang bergotong royong membersihkan lingkungan sekitar kantor desa tempat mereka KKN.
Zia tersenyum saat Angga meminta agar dirinya memberikan ciuman selamat jalan, Zia malu kepada teman-teman yang saat ini sedang berkumpul di dekatnya.
Angga meminta agar Zia sejenak menjauh dari mereka karena Angga tidak akan tenang berangkat sebelum Zia memenuhi permintaannya.
Zia pun permisi kepada teman-temannya, pergi menjauh ke balik pohon, disana diapun berkata,
"Selamat jalan Sayang, aku dan bayi kita pasti akan merindukanmu. Hati-hati ya Yang, mudah-mudahan semua urusan cepat selesai, kami menantikan kepulanganmu," ucap Zia sembari memberikan beberapa kecupan via online.
Entah mengapa, kali ini rasanya Zia sangat berat untuk melepas kepergian Angga. Dia sempat meneteskan air mata, tapi Angga menyabarkannya dengan berjanji untuk segera kembali.
Rania yang menduga bahwa Zia sedang berkomunikasi dengan Angga segera mendekat, lalu dia merampas HP dari tangan Zia lalu berkata kepada Angga, "Tenang sobat, pergilah! aku janji akan menjaga Zia dan calon bayi kalian dengan segenap jiwa ragaku," ucap Rania sembari tertawa.
Angga kemudian berkata, "Sekarang aku percayakan mereka kepadamu ya, jika terjadi apa-apa denganku ku mohon jagalah mereka," ucap Angga dengan nada sedih.
"Siiiap! Pak Bos, Inshaallah aku tidak akan mengingkari janjiku, asal kamu juga berjanji hal yang sama, kamu jangan biarkan asistenmu itu main mata dengan gadis di sana," ucap Rania mengingatkan Angga.
"Aman, Frans adalah asisten setiaku, dia juga pasti akan setia menjaga cintanya untukmu," ucap Angga hingga membuat Rania tenang.
__ADS_1
Angga sebenarnya merasakan hal yang sama seperti yang Zia rasakan, rasanya Angga tidak ingin pergi, tapi tugas penting ini tidak mungkin dia abaikan.
Dia kemudian memberikan ponselnya kepada Frans, lalu Frans melambaikan tangan serta memberikan ciuman selamat tinggal kepada Rania yang baru sebulan ini resmi menjadi kekasihnya.
Sebenarnya tadi Frans tanpa sepengetahuan Angga sudah menelepon Rania untuk berpamitan secara pribadi tapi karena Angga memberinya kesempatan, tentu saja dia tidak menolak.
Lalu Frans memberikan HP itu kembali kepada Angga begitu juga dengan Rania memberikan HP tersebut kepada Zia. Angga melambaikan tangan sembari terus mengatakan I love you dan memberikan ciuman beberapa kali.
Akhirnya Anggapun mematikan ponsel saat seorang pramugari memerintahkan kepada seluruh awak untuk bersiap karena sebentar lagi pesawat akan segera tinggal landas.
Mereka semua memasang sabuk pengaman, saat suara deru mesin pesawat terdengar, Angga memandang keluar melalui kaca seakan dia ingin mengatakan selamat tinggal.
Pesawat pun sudah tinggal landas, hati Angga semakin sedih tapi dia tidak tahu kenapa perasaanya seperti ini, padahal dua minggu lalu dia bisa tenang meninggalkan Zia, pergi ke kantornya yang ada di Padang Sumatera Barat.
Frans bisa merasakan kegelisahan Angga, biasanya jika seperti itu merupakan pertanda adanya firasat buruk tapi Frans tidak mau menambah beban pikiran bos-nya itu, makanya dia memilih untuk tetap diam.
Merekapun memilih tidur selama dalam perjalanan hingga akhirnya pesawat mendarat di Bandara Timika.
Rendy dan Hardi pun menjelaskan semuanya bahwa itu memang murni kecelakaan, karena dua hari sebelum musibah itu terjadi, ada gempa yang lumayan besar kekuatannya.
Jadi menurut analisa keduanya, gempa tersebutlah yang mengawali kerusakan di dalam tambang yang imbas akhirnya telah membuat tambang itu runtuh saat karyawan sedang bekerja.
Mendengar penjelasan keduanya membuat Angga kecewa, kenapa mereka begitu ceroboh membiarkan pekerja masuk ke sana tanpa memeriksa lebih dulu ada atau tidaknya kerusakan di dalam, akibat dari gempa.
Rendy pun berkata, "Maaf Bos, kami sudah melarang, paling tidak sampai lima hari ke depan, setelah melakukan pemeriksaan, tapi mereka terus memaksa untuk tetap bekerja."
Kali ini polisi telah menyegel tambang tersebut, hingga membuat urusan mereka semakin rumit.
Angga kemudian mengajak Frans dan kedua orang kepercayaannya itu, untuk pergi menemui keluarga korban guna mengucapkan bela sungkawa sembari memberikan santunan.
__ADS_1
Mereka tiba di rumah salah satu keluarga korban, lalu Angga meminta maaf atas terjadinya musibah ini. Istri korban paham, hal ini terjadi bukan karena unsur kesengajaan melainkan memang murni kecelakaan.
Lalu sesuai perintah dari Angga, Frans segera memberikan sebuah amplop yang berisi uang tunai kepada istri korban.
Setelah berbincang cukup lama dan mengucapkan turut berbelasungkawa, mereka kemudian melanjutkan perjalanan ke rumah korban yang lain.
Saat tiba di sana, Angga jadi teringat Zia ketika melihat istri korban dalam keadaan sedang hamil. Kali ini Angga sendiri yang memberikan amplop tersebut sembari mengucapkan turut berduka cita.
Satu persatu keluarga korban telah selesai Angga datangi, satupun diantara mereka tidak ada yang menuntut, semua mengakui bahwa benar hal itu adalah murni kecelakaan.
Angga lalu mengajak yang lain menuju lokasi tambang yang runtuh, dia ingin melihat seberapa parah kerusakan yang terjadi.
Setelah sampai di lokasi, Anggapun berkata, "Frans aku masih penasaran, mumpung belum ada polisi yang datang menjaga, aku ingin turun kesana, melihat lebih dekat," ucap Angga.
"Jangan Bos, itu terlalu berbahaya, bisa saja akan ada runtuhan susulan. Aku takut terjadi hal yang buruk terhadap diri Bos," ucap Frans.
"Iya Bos, yang dikatakan Tuan Frans benar, ini saja ada dua korban lagi yang belum ditemukan, apa keduanya selamat di dalam sana atau sudah meninggal," jawab Hardi.
"Aku akan berhati-hati, siapa tahu nanti bisa menemukan titik terang tentang keberadaan keduanya," ucap Angga.
Frans merasa aneh, saat ini bosnya sangat keras kepala, Angga tidak mau mendengarkan saran dari siapapun. Akhirnya Frans mau tidak mau mengikuti Angga yang mulai masuk ke dalam area tambang.
Mereka perlahan masuk ke dalam, seingat Angga Papanya pernah bilang jika di dalam tambang tersebut ada jalan kecil yang bisa tembus keluar, tapi Angga tidak tahu posisinya ada di sebelah mana. Seandainya saja ada signal di sana, Angga pasti segera menghubungi Papanya untuk menanyakan hal tersebut.
Bersambung......
🌻 Jangan lupa tinggalkan jejak ya guys....vote, like, coment, hadiah jika berkenan dan rate bintang limanya. Terimakasih 🙏
Hai sahabat semua, aku punya rekomendasi karya milik sahabat aku lho.... silahkan dikepoin ya dan jangan lupa tinggalkan jejaknya di sana. Terimakasih 🙏
__ADS_1