
"Mas bangun, ayo bangun Mas, kita sholat dulu, ntar kalau kesiangan ke dapur malu 'kan sama Mama," ucap Zia.
Angga menggeliat, lalu dia menarik kembali Zia ke dalam pelukannya. Zia meronta lalu dia berkata, "Ayo dong Yang, kita belum mandi sebentar lagi adzan subuh lho?"
Angga langsung melompat dari tempat tidurnya lalu dia menggendong Zia ke kamar mandi, Zia meronta namun Angga tidak peduli, dia mencium istrinya sepuasnya lalu mulai mengguyurkan air perlahan ke tubuh Zia dan juga ke tubuhnya sendiri. Merekapun selesai mandi sesuai yang di ajarkan dalam Al-Qur'an tentang tata cara mandi junub.
Setelah selesai mereka berwudhu, lalu mengerjakan sholat subuh berjama'ah. Setelah itu Zia mengajak Angga untuk menemaninya ke dapur,
dia akan memasak sarapan untuk keluarga Angga.
Zia bertanya kepada Angga apa menu sarapan yang biasa Mama sajikan, karena Zia tidak ingin mengecewakan dan mempermalukan Angga di depan keluarganya.
Angga hanya berkata, "Masaklah Yang sesuai seleramu, sebahagianya hatimu, pasti rasanya akan enak, hingga membuat kita semua senang dan kenyang.
Zia memasak nasi goreng ala dirinya, membuat roti bakar, susu dan jus jeruk. Makanan sederhana tapi bagi Angga merupakan makanan lezat karena buatan tangan istrinya sendiri.
Angga membantu menata peralatan makan, sementara Zia menata makanan. Sementara bibi diminta Angga untuk membersihkan rumah saja.
Mama, Aira dan Papa sudah keluar dari kamar tidurnya, lalu mereka menuju ke ruang makan dimana Angga dan Zia sudah menunggu, lalu Zia permisi untuk memanggil Ibu dan adiknya untuk makan bersama.
Ibu merasa tidak enak makan bersama bareng keluarga Angga ya kurang menyukai mereka, tapi Zia memastikan bahwa Mama dan Aira tidak akan melakukan apapun terhadap mereka.
Zia juga berjanji, siang ini mereka akan pindah ke rumah yang telah Angga siapkan, agar Zia bisa segera membuka usaha untuk membiayai Ibu dan adik tanpa menyusahkan Angga.
Ibu dan adik akhirnya ikut turun untuk sarapan, Mama dan Aira mencebikkan mulut melihat kedatangan mereka.
Zia tidak mepedulikan mereka, yang penting dia berusaha melayani keluarga dengan baik. Anggapun mempersilahkan Ibu dan adik untuk duduk di sebelahnya, lalu mereka mulai mengambil makanan.
"Mas, mau nasi goreng atau roti nih sarapannya?" tanya Zia.
"Nasi goreng saja Zia dan telurnya mata sapi ya."
__ADS_1
"Siap Mas"
Melihat Pak Wiguna kesulitan mengambil makanan Zia juga menawarkan untuk mengambilkannya, sementara Mama dan Aira sibuk memikirkan dirinya sendiri.
Anye mengambilkan juga buat ibu dan adik, setelah itu baru mengambil nasi goreng untuk dirinya sendiri.
Mereka makan dengan lahap, nasi goreng buatan Anyelir sangat enak, hingga membuat Pak Wiguna memujinya dengan berkata," Pandai kamu mencari istri Nak, sudah cantik, baik, pintar ngajar, eh... sekarang baru tahu ternyata pintar masak juga."
"Inilah yang membuat Angga jatuh cinta dengan Zia Pa?" ucap Angga sembari tersenyum melirik istrinya.
"Papa bisa aja, hanya masakan kampung Pa, siapa saja pasti bisa memasaknya," ucap Zia merendah.
"Nyatanya adik kamu tidak bisa masak nasi goreng seenak ini," ucap pak Wiguna.
Aira membulatkan mata memandang Papanya, masih satu hari Zia disini sudah membuat Papa memujinya dan malah menjatuhkan harga diri Aira.
Makanya, belajar masak dari kak Zia, biar suatu saat nanti jika kamu menikah, bisa menyenangkan suami dan mertua dengan rasa masakanmu," ucap Pak Wiguna.
"Sudahlah Pa, ayo habiskan sarapannya, hari ini kita mau check-up ke dokter, lagipula pulang dari dokter Mama akan langsung ke butik. Sudah lama 'kan Mama tidak pernah kesana. Nanti papa pulang dengan pak supir ya?" ucap Mama.
Papa hanya mengangguk saja, lalu Angga segera berkata, "Oh ya Ma, Pa, hari ini kami langsung pindah ke rumah yang sudah Angga kontrak di dekat kampus."
"Lho kok cepat sekali Nak? kenapa kamu tidak pakai saja uang perusahaan untuk membeli rumah? jadi kan nggak perlu ngontrak?" ucap Pak Wiguna.
"Terimakasih Pa, kami mau mandiri, Zia akan membuka usaha di sana, lagipula Angga kepingin membelikan Zia rumah dengan hasil keringat Angga sendiri Pa," ucap Angga yang membuat Papanya bangga.
"Baguslah! jadi tidak akan menghabiskan aset perusahaan," ucap Mama sinis.
Zia mulai tersinggung, lalu dia menjawab, " Inshaallah Ma, kami tidak akan menyusahkan Mama dan Papa, kami akan membuka loundry dan bimbingan les disana. Nanti jika Zia sudah bisa mengumpulkan uang dari usaha itu, kami ingin membuka sekolah."
"Bagus Nak rencanamu, Papa akan dukung kalian, bila perlu Papa yang akan membangunkan sekolahnya, anggap saja Papa salah satu donatur di sekolah kamu nanti," ucap Pak Wiguna.
__ADS_1
"Aira duluan ya Ma, Pa. Ayo Kak, Bu, hari ini Aira ada kuliah pagi, jadi Aira nggak bisa bantu kalian pindahan." ucap Aira.
"Iya dek, hati-hati ya," ucap Zia.
Semua sudah meninggalkan ruang makan, kini hanya tinggal Zia dan Angga. Zia membersihkan meja makan dan dapur di bantu oleh Angga, lalu mereka mulai bersiap untuk membereskan barang yang perlu di bawa.
Angga, Zia, Ibu dan adik sudah siap hendak berangkat, mereka pamit kepada Bibi dan yang lain, hari ini mereka akan membuka lembaran baru kehidupan rumah tangga yang mandiri tanpa campur tangan sang Mama.
Angga menyetir mobil, dengan yakin dia membawa keluarga barunya ke ruko yang sudah di persiapkannya. Sedangkan Frans sudah langsung menuju kesana dari rumahnya, dia ingin membantu bosnya berbenah dan mempersiapkan apa yang dibutuhkan untuk membuka loundry.
Rania di Medan juga sudah bersiap, besok siang dia akan berangkat ke Jakarta bersama Papanya menyusul Zia. Rania ingin segera mengurus perkuliahan bersama Zia yang sebentar lagi akan dimulai, dia juga ingin membantu Zia mengurus usahanya.
Rombongan Angga sudah tiba, ternyata Frans sudah membereskan semuanya. Barang-barang sudah tertata rapi dan perlengkapan untuk usaha laundry juga sudah terpasang, hanya tinggal menentukan waktu kapan usah akan di buka.
Ternyata ruko yang Angga sewa akhirnya tiga pintu, satu untuk loundry, untuk warung jajan serta sembako kecil-kecilan seperti keinginan Ibu dan satu lagi untuk ruangan bimbingan les. Sementara lantai dua yang akan mereka gunakan untuk tempat tinggal.
Zia sangat senang lalu dia berkata, " Terimakasih Yang, kamu tahu yang aku mau dan butuhkan, kamu suami terhebatku," ucap Zia.
"Sama-sama Yang, kamu juga istri tercantik dan terbaikku, tapi semua ini tidak gratis lho! kamu harus memberiku imbalan!" ucap Angga.
"Apa itu Yang," tanya Zia.
Lalu Angga membisikkan sesuatu di telinga Zia hingga membuat Zia langsung mencubit perutnya. Angga pun mengaduh yang membuat Ibu dan Frans mengalihkan perhatian kepadanya, lalu Ibu bertanya, "Ada apa Nak?"
"Oh nggak ada apa-apa Bu, hanya anak Ibu saja tadi yang sedikit jahil," ucap Angga sembari menatap Zia.
Akhirnya Angga dan Zia merasa lega, mereka akan bisa menikmati masa-masa pengantin barunya tanpa gangguan sang Mama lagi.
Bersambung........
🌻 Jangan lupa tinggalkan jejak ya guys....vote, like, dan coment sebanyak-banyaknya 🙏🙏🙏
__ADS_1