
Mike suka menjelajahi hutan, sebenarnya dia berburu hanya sekedar hobi, lagipula peluru yang digunakan oleh Mike hanya sekedar membius binatang buruannya.
Kalau yang di dapatnya binatang langka atau yang dilindungi, dia akan memberikannya kepada pusat perlindungan hewan langka, makanya dia dan teman-temannya tidak pernah di cekal oleh pemerintah.
Melihat Angga yang tidak mengingat siapa diri dan keluarganya, Mike merasa iba untuk meninggalkannya di sana, sementara dia harus kembali ke negaranya untuk mengurus bisnisnya.
Kebetulan Mike juga tidak memiliki anak laki-laki, makanya mellihat Angga dia merasa simpatik. Kemudian Mike berkata, "Kamu sudah beberapa hari di sini tapi tidak ada yang mencari dan kamu tidak mengingat identitasmu sendiri, jika kamu mau ikutlah denganku," ajak Mike.
Angga berpikir sejenak, lalu memutuskan untuk ikut karena diapun bingung harus kemana setelah sembuh sedangkan dia tidak punya uang dan pekerjaan.
"Jadi benar kamu mau ikut aku," ucap Mike lagi.
"Iya, jika Tuan tidak keberatan, lagipula di sini aku tidak ingat apapun dan aku tidak tahu siapa keluargaku," jawab Angga.
"Baiklah, sekarang kamu ikut aku, kita akan ke hotel tempat ku menginap dan aku akan mengurus surat-surat untuk identitasmu yang baru agar kita bisa kembali ke negaraku," ucap Mike.
Kemudian Mike menyelesaikan administrasi perawatan Angga selama ini. Luka-luka Angga sudah mengering jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi, hanya tinggal memulihkan ingatannya saja.
Dokter mengizinkan Mike membawa Angga dan memberikan beberapa resep obat sebelum mereka pergi.
Kini Angga dan Mike sudah berangkat kembali ke hotel, di sana Mike menelephone temannya yang bekerja di kedutaan untuk mengurus surat menyurat tentang identitas Angga yang baru.
Karena Mike orang yang berpengaruh di negaranya dan dia juga tidak pernah bermasalah di Indonesia, maka sebentar saja urusannya selesai.
Angga telah mendapatkan identitasnya yang baru sebagai anak laki-laki dari Mike. Mike pun menyerahkan kartu identitas tersebut kepada Angga dan berkata, "Namamu adalah Edward, kamu sekarang adalah anak laki-laki ku," ucap Mike sembari memeluk Angga.
Dari pertama menemukan Angga, Mike sudah merasa ada rasa simpati terhadapnya, wajah Angga juga tampan seperti keturunan asing.
__ADS_1
Setelah menerima kartu identitas dari Mike Angga pun berkata, "Terimakasih Tuan, telah menolong dan menganggap Saya sebagai anak," ucap Angga.
"Jangan panggil tuan lagi Edward, kamu putra Saya sekarang, jadi panggillah aku Dady, Papa juga boleh," pinta Mike.
Angga kemudian memeluk Mike sembari berkata, "Terimakasih Dady."
Mike tersenyum, sekarang dia memiliki seorang putra. Dari dua kali pernikahannya, dia hanya di karuniai seorang putri dari istri pertamanya sementara istri pertamanya yang sudah meninggal.
"Ayo Nak kita berangkat, kita harus cepat sampai di rumah mommy dan your sister sudah tidak sabar ingin berjumpa denganmu," ucap Mike.
"Baik Dad, ayo kita berangkat."
Kini Angga yang diganti nama sebagai Edward sudah tidak canggung lagi. Dia benar-benar menganggap Mike sebagai Ayahnya.
Mereka pun segera menuju ke bandara untuk terbang ke Australia, pulang ke negara asal Mike.
Zia dan Mama kembali menangis saat Papa mengatakan, hanya tinggal menunggu keajaiban dari Allah. Papa bilang kemungkinan jasad Angga terkubur di dalam reruntuhan tambang.
Rania segera memeluk Zia saat melihat tubuhnya mulai luruh, hampir terjatuh ke tanah. Pak Wiguna segera memerintahkan Frans untuk membawa kembali Mama, Zia dan Rania ke hotel.
Setelah melihat Frans pergi, Pak Wiguna duduk termenung memandang reruntuhan tambang sembari berkata, 'Maafkan Papa Nak! Seandainya saja kita melepaskan bisnis yang disini mungkin semuanya tidak akan terjadi. Kami tidak akan kehilanganmu dan bayi kalian juga tidak akan kehiangan Papanya. Kasihan istri dan calon bayimu Nak! Bayimu akan lahir tanpa seorang Papa," ucap Pak Wiguna sembari meneteskan air mata.
Pak Wiguna bangkit, mengelap air matanya lalu berjalan meninggalkan tempat itu bersama anak buahnya menuju hotel untuk menyusul istri dan menantunya.
Keesokan hari mereka berkumpul di resto untuk membahas rencana selanjutnya, Pak Wiguna memutuskan mereka akan kembali ke Jakarta karena sudah tidak ada lagi yang bisa mereka lakukan di sini. Lagipula perusahaan butuh seorang pemimpin.
Zia yang mendengar hal itupun menangis, dia masih ingin mencari Angga. Kemudian dia berkata, "Pa, Ma, izinkan Zia tetap di sini, Zia masih ingin mencari Mas Angga, Mas Angga pasti masih hidup dan sedang berada di suatu tempat," ucap Zia sambil mengusap air matanya.
__ADS_1
"Nak, sudah hampir dua bulan kita di sini tapi belum ada kabar tentang suamimu, jika dia memang masih hidup, pasti sekarang sudah memberi kabar ke kita. Kita harus kembali Nak, kasihan juga Ibu kamu harus mengurus semua usahamu sendirian," ucap Pak Wiguna.
Kemudian beliau kembali melanjutkan omongannya, "Walaupun kita kembali ke Jakarta, Papa janji akan tetap meminta seseorang untuk terus memantau perkembangan di sini. Jika mereka mendapatkan info tentang keberadaan suamimu, pasti dia akan segera mengabari Papa," ucap Pak Wiguna sedikit menenangkan hati menantunya.
"Yang Papa bilang benar Nak, kamu harus melanjutkan hidup, menjaga dan melahirkan anak kalian dengan sehat. Jika kamu tetap di sini, Mama nggak yakin kamu bisa menjaganya dengan baik. Sekarang saja, kamu jarang makan, kasihan kan anak dalam kandunganmu. Jika kamu benar Sayang kepada Angga, pulanglah bersama kami," ucap Mama.
Zia akhirnya menuruti permintaan Mama dan Papa Angga, memang dia harus memikirkan anak dalam kandungannya serta ibu yang pastinya kuwalahan mengurus bisnis mereka.
Rania pun berkata, "Jangan khawatir Zia, Papa juga janji akan menempatkan anak buahnya untuk terus mencari Angga."
"Terimakasih Rania atas bantuan kalian, aku telah merepotkan kamu dan Tuan Arya."
"Itulah gunanya sahabat Zia, lagipula kamu adalah keluargaku sudah sepantasnya jika kami juga ikut prihatin."
Pak Wiguna lalu meminta Frans untuk membooking tiket kepulangan mereka ke Jakarta. Frans pun menjalankan perintah Tuannya, sebenarnya dia masih ingin tinggal, ingin terus mencari Angga sampai ketemu.
Sebagai asisten pribadi yang sudah seperti saudara, dia merasa sangat kehilangan. Namun dia juga masih mempunyai tanggung jawab untuk membantu Pak Wiguna mengurus perusahaan.
Dengan berat hati, akhirnya mereka meninggalkan tempat itu dan terbang kembali ke Jakarta. Saat sampai di bandara, Pak Wiguna meminta supir kantor yang datang menjemput untuk mengantarkan Zia dan Rania dulu barulah mengantarkan mereka kembali ke rumah. Frans sendiri lebih memilih untuk naik taksi.
Ibu yang rindu dengan Zia, langsung memeluknya, beliau mengelus perut putrinya yang sudah mulai membesar. Pak Wiguna dan Mama lalu pamit pulang setelah mengantar Zia dan Rania karena mereka juga ingin segera beristirahat.
Bersambung.....
🌻 Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya guys... pavorit, vote, like, coment dan rate bintang limanya Terimakasih 🙏.
Mampir yuk guys dalam karya temanku, silahkan tinggalkan jejak di sana juga ya ....🙏🙏🙏
__ADS_1