Persahabatan Telah Mengubah Takdir

Persahabatan Telah Mengubah Takdir
Episode 64. Memajukan acara akad nikah


__ADS_3

Arya meninggalkan rumah Zia kembali ke rumah Frans, di sana dia melihat Rania dan Frans baru saja tiba.


"Pa, bagaimana kelanjutannya, kapan pernikahan Papa dengan Zia? Nia senang banget Pa, akhirnya Zia menjadi Mama Nia."


"Alhamdulillah, rencananya setelah acara kalian selesai, lagipula Zia hanya ingin akad nikah sederhana saja tanpa perayaan."


"Kenapa tidak Papa dulu saja yang menikah, jadi kan kebahagiaan pernikahan kami semakin lengkap, Papa berdiri di sana menyambut tamu sudah ada pendamping."


"Papa tidak berani terburu-buru Nak! Terserah Zia saja, dia mau menerima lamaran Papa saja, kita sudah bersyukur."


"Coba nanti Nia bicarakan hal ini dengan Zia, siapa tahu dia mau di majukan."


"Tapi jangan memaksa ya Nak!"


"Oke Pa. Papa sudah belanja keperluan pernikahan, jika belum biar aku temani Zia ke butik langganan kami."


"Sudah Nak, tadi sekalian belanja baju yang akan kami pakai di pernikahan kalian."


"Syukur deh, berarti tinggal acara akad saja."


"Tuan Arya pun mengangguk, lalu dia bertanya kepada Frans, "Oh ya Frans bagaimana pekerjaan mu? Apa kerjasama dengan perusahaan asing berjalan lancar?"


"Alhamdulillah Pa, tadi dapat kabar dari Edward, Putra dari Mike pemilik perusahaan tersebut akan sampai lusa. Dia akan hadir di pernikahan kami sekaligus memperkenalkan diri, sebab dia lah yang akan mewakili Mike selama proyek kerjasama kami berlangsung."


"Edward...ya Papa juga pernah dengar tentang dia, tapi dia tidak pernah memunculkan wajahnya di Media. Dia masuk ke jajaran pebisnis muda ternama di negaranya."


"Benar Pa, aku juga penasaran ingin segera berkenalan dan ingin tahu seperti apa sih orangnya, rumornya dia seorang pemuda yang tampan."


"Iya Frans."


"Ih...aku jadi penasaran, setampan apakah dia? Apa lebih tampan dari calon suamiku?" kelakar Rania.


"Memangnya kalau lebih tampan, kamu mau ninggalin aku?" tanya Frans yang sedikit ngambek.


"Enggak dong Yang, hanya penasaran saja, bagiku kamu paling tampan," jawab Rania seraya menaik turunkan alisnya, hingga membuat Frans gemes.


"Papa mau ke kamar dulu ya, mau istirahat."


"Iya Pa," jawab keduanya dengan kompak.


"Frans, antar aku pulang ke rumah Zia yuk! Aku ingin bicara dengannya."

__ADS_1


"Oke Sayang, ayo buruan!"


Mereka pun segera pergi ke rumah Zia, Rania ingin segera menemui sahabatnya, dia sangat bahagia dengan keputusan Zia. Hal ini merupakan keinginannya sejak dulu tapi dia tidak berani mengatakan sebab Zia sudah jadian dengan Angga.


Sesampainya di sana, Frans pun berniat kembali ke kantor, ada berkas yang ingin dia ambil. Rania melambaikan tangannya sembari berjalan masuk kedalam rumah untuk menemui Zia.


Rania melihat banyak barang di ruang tengah, lalu dia mengangkat sebagian paper bag tersebut sembari menuju kamar Zia. Dia perlahan mengetuk pintu, dan ternyata Zia langsung membukanya.


Dengan nyengir kuda, Rania muncul di hadapan Zia lalu dia menyodorkan paper bag di tangannya, "Nih barang kamu! Aku lihat bertumpuk di ruang tengah."


"Iya, tadi Papa kamu yang meletakkan di sana, dia takut membangunkan Gara jika mengantarnya ke sini."


"Oh, sebentar ya aku angkat lagi sisanya," ucap Rania.


Rania pun kembali ke ruang tengah, dia kembali mengangkat sisa paper bag yang ada di sana dan membawanya ke kamar Zia.


"Terimakasih Nia," ucap Zia sembari menerima paper bag dari tangan sahabatnya.


Nia pun di minta masuk ke dalam kamar Zia, lalu mereka merebahkan diri di atas tempat tidur sembari mengobrol. Kemudian Rania berterimakasih karena Zia mau menerima lamaran sang Papa.


"Terimakasih Zia," ucapnya sembari menggenggam tangan sahabatnya.


Kemudian Nia melanjutkan perkataannya, "Aku tahu kamu sulit melupakan Angga dan Papa ku juga sama, sulit membuka hatinya untuk perempuan lain, mudah-mudahan dengan kesamaan itu, kalian bisa saling memahami dan nantinya bisa saling cinta. Aku ingin melihat kalian berdua bahagia, kalian adalah orang yang paling berarti dalam hidupku."


"Oh ya Zia, kenapa tidak kalian dulu saja yang menikah, jadi saat acara kami, aku sudah memiliki orang tua lengkap."


"Aku terserah Papa kamu saja," ucap Zia.


"Jadi jika Papa minta di majukan acaranya kamu setuju kan?"


Zia pun mengangguk, karena dia sudah bersedia menikah dengan Arya, cepat atau lambat tentu sama saja, akan dia jalani.


"Baiklah Papa pasti setuju, kalau begitu sehari sebelum pernikahanku, Frans akan menghubungi penghulu perkawinan dan mengurus surat-suratnya."


Saking senangnya, Rania ingin secepatnya memberitahu sang Papa bahwa Zia setuju, dia mengambil ponsel dari dalam tas lalu mengklik nomor Papanya.


"Assalamualaikum Pa? Zia setuju acara di majukan, bagaimana Pa?"


"Kamu memaksanya?" tanya Tuan Arya.


"Nggak lho Pa, kan akan lebih baik jika di acara kami nanti, Nia sudah mempunyai orang tua lengkap. Inilah moment bahagia yang aku tunggu-tunggu Pa, aku orang paling bahagia mendapatkan dua kebahagiaan sekaligus."

__ADS_1


"Ya sudah tolong bilang ke Zia, nanti malam Papa akan kesana untuk membicarakannya sekaligus ingin menanyakan acaranya mau di adakan di mana."


"Oke Papa, Aku sayang kalian," ucap Rania sambil menutup telephonenya.


"Papa setuju Zia, ntar malam Papa akan kesini untuk membahas semuanya sekaligus memastikan acara akan dilaksanakan di mana."


Zia pun mengangguk, kemudian Rania meminta Zia untuk memeriksa perlengkapan yang sudah Zia dan papanya beli, agar tahu apakah masih ada yang kurang atau tidak, mereka harus bertindak cepat karena waktunya sudah dekat.


Rania memeriksa satu persatu, sementara Zia menyimpannya ke dalam lemari barang yang sudah mereka cek.


"Sudah lengkap kok Zia, tapi masih ada dua lagi yang kurang?"


"Apa itu Nia?"


"Pakaian Ibu dan Adik belum?"


"Iya memang, kemaren kami sudah kepayahan membawanya karena Gara tidur, makanya Papa kamu bilang kebutuhan Ibu dan adik nanti menyusul diri belikan."


"Oh ya sudah, besok pagi biar aku mengajak Ibu dan adik berbelanja sekalian ada yang mau aku cari di butik."


"Terserah kamu deh Nia, bagaimana baiknya."


"Aku keluar dulu ya Zia? Mau menemui Ibu agar besok bisa berangkat pagi."


Zia pun mengangguk, lalu dia kembali merapikan barang-barang sementara Rania mencari Ibu.


"Bu! Ada kabar gembira," ucap Rania sambil memeluk Ibu.


"Kabar apa Nak?"


Rania pun menceritakan tentang akad nikah Papanya dan Zia yang di majukan, ibu hanya bisa mengucap syukur. Lalu Rania berkata, "Besok aku akan mengajak Ibu dan adik berbelanja keperluan untuk acara, Zia minta acara di adakan di sini saja Bu, dia tidak mau ada resepsi."


"Iya Nak, Ibu setuju, acaranya di sini saja, jadi biar tetangga tahu dan ikut hadir menyaksikan ijab qobul agar tidak timbul fitnah di belakang hari."


"Jam tujuh kita berangkat ya Bu? Biar tidak terjebak macet, adik biar izin dulu sekolahnya, nanti biar Nia telepon wali kelasnya."


"Satu lagi bu, malam ini Papa akan datang untuk membicarakan tentang pelaksanaan akadnya kepada Ibu dan Zia."


"Iya Nak, kami akan tunggu kedatangan Papa kamu."


"Nia permisi dulu ya Bu, mau hubungi Frans agar mengurus surat-suratnya dan menghubungi penghulu pernikahan."

__ADS_1


"Iya, silakan Nak," ucap Ibu sambil melayani pembeli yang datang.


__ADS_2