
Rania berpamitan kepada kedua sahabatnya, kemudian melangkah pergi meninggalkan apartemen Angga untuk segera pulang ke rumahnya, kini hanya tinggal mereka berdua di taman tersebut. Zia yang masih canggung dan malu kembali berusaha membuka percakapan.
"Begini lho Ngga, sebenarnya aku mengajak Nia datang kesini ingin menanyakan tentang hukumanmu, kenapa kamu harus mengakui apa yang tidak kamu perbuat hingga kamu yang menanggung hukuman skorsing ini."
Dengan tersenyum Angga menjawab, "Aku tidak punya pilihan."
"Apa maksudmu Ngga?"
"Kamu ingat kan apa yang diucapkan bu Tati siang itu, kita tidak akan diperbolehkan pulang jika tidak ada yang mau mengaku siapa sebenarnya yang memecahkan pot bunga itu."
"Jadi karena takut tak boleh pulang akhirnya kamu akui itu kesalahan kamu."
Angga tersenyum sebelum ia melanjutkan ucapannya.
"Aku tidak pernah takut dengan apapun bahkan hukuman skorsing, aku juga tidak perduli jika aku dan teman teman yang lain harus menginap disekolah. Aku hanya tidak ingin kamu ikut jadi korban."
"Maksudmu?"
"Aku tau setiap sepulang sekolah kamu harus bekerja di loundry kan?"
Zia terkejut mendengar jawaban Angga.
"Darimana kamu tau kalau aku bekerja?"
"Itu tidak penting, aku hanya tidak ingin kamu telat dan dipecat dari pekerjaanmu gara-gara kita tidak boleh pulang. Belakangan ini kamu sudah sering terlambat masuk kerja kan, sementara pekerjaan disana sangat menumpuk."
Zia semakin heran, bagaimana Angga bisa mengetahui semuanya.
"Dan kamu ingat, kamu selalu dipojokkan terus kan oleh Lusy agar kamulah yang menjadi tersangka."
"Iya benar", jawab Zia.
"Padahal mereka semua tau bukan kamu pelakunya."
"Seharusnya kamu biarkan saja aku sebagai tersangka, mungkin memang benar karena tersenggol kaki ku saat pagi itu membuat pot itu retak kemudian pecah, kita kan tidak sempat memeriksanya apakah saat itu pot tersebut retak hingga sekarang pecah."
"Tidak, aku tidak akan pernah membiarkanmu menerima hukuman apapun, walaupun seandainya memang kamu yang melakukan kesalahan itu, kamu kan tidak melakukannya dengan sengaja."
"Kamu sudah menolongku pagi itu, kalau tidak pasti aku terjatuh dan akan menjadi bahan tertawaan teman-teman yang ada disana Ngga.
Nah kini malah kamu yang mengambil tanggung jawab itu dariku, seharusnya aku yang harus di skorsing. Sejak kamu dijatuhi hukuman skorsing oleh dewan guru, aku jadi merasa bersalah Ngga. Aku tidak bisa belajar dengan tenang, sebenarnya aku tidak punya muka untuk menemuimu, aku malu Ngga. Kenapa kamu begitu baik terhadapku."
"Aku senang kamu memikirkan aku dan aku pun berharap orang yang aku selalu fikirkan baik baik saja, tidak usah merasa bersalah Zia."
"Maksud apa Ngga ?"
Angga menarik nafasnya dalam-dalam, dia masih bingung dan takut untuk meneruskan kata-katanya, dadanya semakin sesak menahan perasaannya. Rasanya dia ingin memegang kedua tangan wanita dihadapannya ini erat-erat agar ia mendapatkan kekuatan untuk segera menyatakan perasaannya.
Sementara Zia terus memperhatikan dan menatap mata Angga dengan rasa penasaran.
Angga kembali menatap Zia. Hatinya semakin bergetar dan jantungnya berdetak dengan kencang.
Zia yang mendapatkan tatapan aneh dari Angga juga merasakan hal yang sama. Ada rasa hangat menjalar ke dalam lubuk hati mereka masing masing. Rasa yang selama ini belum pernah mereka rasakan untuk siapapun. Rasa yang begitu sulit untuk diucapkan.
Kemudian Zia menundukkan kepalanya takut Angga mengetahui apa yang kini dia rasakan.
Sambil terus menatap Zia, Angga meneruskan ucapannya," Kamu tau siapa orang yang selalu aku pikirkan?, kamu, ya hanya kamu dan selalu kamu, gadis yang aku pikirkan Zia. Dari dulu, sekarang dan Insha Allah selamanya, aku mencintai kamu Zia", ucap Angga tulus.
__ADS_1
Tiba-tiba muncul keberanian Angga untuk mengatakan itu setelah ia menatap dalam dalam wajah wanita pujaannya itu. Dia ingin terus menatapnya hingga kedasar hatinya yang dia harap ada namanya disana.
Waktu terasa berhenti, ketika Zia mendengarnya. Serasa berhenti sesaat detak jantung Zia mendengar ucapan Angga. Ia terpaku sejenak kemudian berusaha memberanikan diri mendongakkan kepalanya untuk menatap kembali mata Angga. Ia ingin mencari kebenaran atas ucapan Angga di dalam tatapan matanya.
Tanpa terasa air mata menetes dikedua sudut matanya, dan ia kembali menundukkan wajahnya.
Angga yang melihatnya pun merasa bersalah. Mungkin ucapannya telah menyakiti perasaan Zia.
Dengan lirih kemudian dia berkata,
"Maaf, maaf kan aku Zia, ucapanku telah menyakiti perasaan mu. Aku tidak bermaksud membuatmu menangis, aku hanya ingin kamu tau perasaanku yang selama ini sangat membuatku tersiksa.
Aku tidak sanggup menyembunyikannya lagi Zia. Aku cemburu Zia, aku cemburu saat melihatmu didekati pria lain."
"Itulah yang semakin mendorongku untuk segera mengatakannya kepadamu, aku tidak ingin terlambat dan akhirnya menyesal seumur hidupku.
Hari ini Allah sangat baik terhadapku, Dia mendengar do'a ku, Dia memberikan kesempatan untukku Zia, memberi waktu untuk kita bisa berdua berbicara dari hati ke hati walau awalnya sangat sulit. Sekali lagi maaf kan aku Zia, aku sudah mengatakan semuanya, jika memang ini menyakitimu lupakanlah Zia, anggap semuanya ini tidak pernah ada dan tak pernah ku katakan, aku tidak mau kamu membenciku, aku ingin menjadi temanmu dan aku ingin engkau selalu bahagia walau tanpa ada aku dihidupmu."
"Hiks hiks hiks", Zia menangis, rasa bahagia, sedih, minder bercampur jadi satu berkecamuk dihatinya.
Pantaskah dia menerima Angga? seorang pria yang nyaris sempurna sementara dia hanya seorang gadis miskin, gembel, yang harus terus berjuang demi kehidupan keluarganya.
Angga memberanikan diri menggenggam erat kedua tangan Zia. Ia ingin mendapat jawaban dibalik tangis Zia. Kemudian ia mengambil sapu tangan dari sakunya dan menghapus air mata Zia.
"Jangan menangis, tolong Zia jangan menangis, aku tak sanggup melihat mu seperti ini, hatiku seperti teriris. Pandang aku Zia, pandang mataku kumohon, katakanlah setelah ini aku masih boleh kan menjadi temanmu?"
Akhirnya Zia membalas genggaman tangan Angga, dengan erat dia terus menggenggamnya.
Ia tak mampu berkata kata, tak mampu membuka mulutnya untuk membalas kata cinta yang telah diungkapkan oleh Angga.
"Terima kasih Zia, terima kasih, inikah jawabanmu. Tatap aku Zia dan jawablah, bolehkah aku menambatkan hatiku dihatimu agar aku semakin yakin atas jawabanmu."
Zia menatap mata Angga sembari tersenyum dan mengangguk perlahan dengan sisa air mata bahagia masih mengambang dipelupuk matanya.
"Alhamdulillah, terima kasih ya Allah engkau telah mengabulkan do'a ku. Mudah-mudahan kamu menjadi jodohku dunia dan akhirat, Aamiiin."
Kemudian keduanya sama-sama berdo'a agar cinta mereka diberkahi dan langgeng selamanya.
Kebahagiaan terpancar di mata keduanya. Dua hati telah terpaut dalam satu ikatan yang namanya cinta. Untuk meyakinkan hatinya kini Zia memberanikan diri untuk bertanya kepada Angga.
"Apa yang membuat kamu mencintaiku Ngga?bukankah banyak wanita cantik, baik dan kaya diluaran sana yang suka dan mendambakan cintamu, sedangkan aku hanya seorang wanita gembel yang terlahir dari keluarga miskin yang tak layak untuk kamu."
Angga tidak secara langsung menjawab pertanyaan Zia, dia menutup mulut Zia dengan jari telunjuknya sembari mengeluarkan handphone nya kemudian memutar sebuah lagu yang berjudul,
" Cinta Karna Cinta " yang dinyanyikan oleh Judika penyanyi asal Medan.
" Coba kamu dengarkan maknanya seperti itulah jawaban hatiku untuk pertanyaan kamu."
...Aku hanyalah manusia biasa...
...Bisa merasakan sakit dan bahagia...
...Izinkan ku bicara...
...Agar kau juga dapat mengerti...
...Kamu yang buat hatiku bergetar...
__ADS_1
...Rasa yang telah kulupa kurasakan...
...Tanpa tau mengapa...
...Yang ku tahu inilah cinta...
...Cinta karena cinta...
...Tak perlu kau tanyakan...
...Tanpa alasan cinta datang dan bertahta...
...Cinta karena cinta...
...Jangan tanyakan mengapa...
...Tak bisa jelaskan karena hati ini telah bicara...
...Kamu yang buat hatiku bergetar...
...Senyumanmu mengartikan semua...
...Tanpa aku sadari...
...Merasuk di dalam dada...
...Cinta karena cinta...
...Tak perlu kau tanyakan...
...Tanpa alasan cinta datang dan bertahta...
...Cinta karena cinta...
...Jangan tanyakan mengapa...
...Tak bisa jelaskan karena hati ini telah bicara...
...Cinta karena cinta...
...Tak perlu kau tanyakan...
...Tanpa alasan cinta datang dan bertahta...
...Cinta karena cinta...
...Jangan tanyakan mengapa...
...Tak bisa jelaskan karena hati ini telah bicara...
...Tak bisa jelaskan karena hati ini telah bicara...
Setelah lantunan lagu itu berakhir Angga melanjutkan ucapannya,
"Yang berhak menentukan layak tidaknya kamu mendapatkan cintaku bukanlah aku, bukan kamu atau siapapun.Tapi Dia lah yang berhak, Dia yang telah menciptakan kita. Dia yang menumbuhkan rasa itu di dalam sini", sembari Angga menunjuk ke arah dadanya.
"Inilah cintaku Zia, Insha Allah cintaku kepadamu karena Allah."
__ADS_1