Persahabatan Telah Mengubah Takdir

Persahabatan Telah Mengubah Takdir
Bab 21. Seperti Tom and Jerry


__ADS_3

Sudah seminggu lebih ibunya Zia dirawat di rumah sakit, alhamdulillah kondisinya mulai stabil. Kini Zia sudah mulai lega dan bisa fokus belajar kembali untuk persiapan menghadapi ujian akhir.


"Nak, saat ini kondisi ibu kan sudah stabil dan ibu bisa berjalan sendiri jika ingin ke kamar mandi, sebaiknya mulai besok kamu masuk sekolah sudah terlalu lama kamu libur ntar kamu banyak ketinggalan materi pelajaran, lagian kalau ibu butuh bantuan kan masih ada perawat disini, jadi ibu bisa minta tolong mereka."


"Beneran bu, ibu tidak apa-apa jika Zia tinggal sendirian."


"Iya nak, pergilah besok, sementara minta tolonglah sama nak Angga untuk menjemput kamu disini agar berangkat bareng. Jika berangkat dari sini naik angkutan umum kan harus nyambung lagi, ntar kamu jadi telat sampai kesekolah. Ntar Siang kamu pulang dulu kerumah ambil perlengkapan sekolahmu sekalian cek rumah kita sudah lama kan kita tinggalkan."


"Iya bu, nanti sepulang sekolah Angga katanya mau langsung kesini, jadi Zia bisa minta tolong Angga untuk mengantar Zia pulang ke rumah. Sekalian Zia mau membersihkan rumah, pasti banyak debu di dalam rumah dan dedaunan pasti berserakan dihalaman."


"Adik kamu gimana dirumah nak Rania, apa tidak apa-apa kelamaan tinggal disana. Dia kan lasak orangnya lagian suka jahil ntar nak Rania dan Papanya malah kerepotan."


"Nggak kok bu, Rania bilang dia sangat senang adik tinggal disana. Dia jadi punya teman, malah sering bermain sama. Kata Rania, adik mengajaknya main bola, main petak umpet, main ular tangga dan juga main game dari laptop Rania. Seru banget katanya dan ia merasa seperti mendapat kasih sayang seorang adik. Bahkan terkadang mbok Asih dan mang Asep malah ikutan bermain."


"Papanya malah bilang, adik boleh tinggal disana kapan saja adik mau. Papa Rania senang melihat rumahnya ramai dan melihat Rania bahagia. Rania kan tidak punya saudara bu, dia anak tunggal dan ibunya meninggal sejak dia kecil. Jadi dia merasa kesepian setiap hari hanya bersama Bik Asih dan Mang Asep sementara Papa nya sering ke luar kota mengurus bisnisnya."


"Oh ya bu, bagaimana dengan baju-baju almarhum ayah? rencana hari ini sekalian Zia akan membereskanya."


"Sedekahkan saja nak ke tetangga-tetangga yang membutuhkan biar bisa bermanfaat. Mudah-mudahan pahalanya mengalir kepada almarhum ayahmu."


Saat ibu dan anak asyiik mengobrol terdengar suara langkah kaki menuju mereka, ternyata Angga sudah tiba.


"Assalamu'alaikum", sapa Angga.


"Wa'alaikumsalam", jawab ibu dan Zia berbarengan.


"Lho kok sudah pulang yang, baru jam berapa Ini ?"


"Iya yang, tadi guru-guru akan mengadakan rapat jadi kami diperbolehkan pulang, kangsung saja aku kesini yang. Katanya kita mau pulang kerumah kamu jadi lebih cepat kan lebih baik."


"Iya nak Angga, Ibu minta tolong ya nak antarkan Zia, jika naik angkutan sendiri kasihan Zia harus bolak balik naik turun angkutan, kan jauh nak rumah kami dari sini."


"Nggak usah sungkan bu, ini memang udah tugas Angga untuk mengantarkan Zia kemanapun Zia mau pergi, Angga akan menjaga Zia bu, yang penting ibu jangan terlalu khawatir."


"Terimakasih nak, ibu percaya sama kamu."


"Sudah sana nak kalian berangkat biar nggak kesorean ntar balik kesini lagi. Sebelum itu belikan dulu nak Angga makanan, pasti nak Angga lapar baru pulang sekolah."


"Iya bu, kami akan berangkat", jawab keduanya.


Zia beranjak dari duduknya dan segera mengambil tasnya, kemudian keduanya berpamitan kepada ibu.


"Bu, Zia dan Angga berangkat dulu ya, Ibu istirahat saja ntar jika butuh sesuatu panggil saja perawat ya bu."


"Iya nak, hati-hati kalian dijalan ya, Nak Angga bawa mobilnya jangan balapan ya."


"Iya bu, kami berangkat ya bu Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam."


Setelah keduanya berpamitan, Angga segera mengajak Zia ke area parkir rumah sakit. Disana mereka berpapasan dengan Rania dan adik Zia yang baru aja sampai.

__ADS_1


"Lho kalian mau kemana? jangan bilang mau pergi kencan ya, ingat lho ini kan masih siang, lagian ibu siapa yang jaga, kok kalian tinggal sendiri?"


"Iya kak, kak Angga mau bawa kakak adek kemana, awas ya jika kak Angga macam-macam sama kakaknya adek. Kak Angga harus langkahi dulu mayat adek", sambil berkacak pinggang adeknya Zia berkata.


"Haahaahaa, Angga tertawa. Kamu ya, baru seminggu tinggal dengan kak Rania udah ketularan tuh jogalnya kak Rania. Udah pandai mengancam kakak lagi", jawab Angga sambil mengelus kepala adiknya Zia.


"Enak aja kamu bilang aku jogal, gadis cantik, baik, anggun dan feminim gini kamu bilang aku jogal. Aduh Angga, gini-gini banyak tetangga yang naksir aku lho."


"Ya iyalah banyak yang naksir, habis tetangganya uwak-uwak."


Rania memanyunkan bibirnya, "Wueeek", sambil mengejek dan menjulurkan lidahnya Rania melanjutkan omongannya, " Awas kamu ya, ntar kalau kamu naksir sama aku, pasti bakalan aku tolak."


Zia hanya tersenyum saja melihat tingkah keduanya, dia tidak cemburu karena dia tau sahabatnya itu suka bercanda.


"Sudah-sudah, kapan berangkatnya kita, jika kalian terus seperti Tom and Jerry gitu", ucap Zia.


"Gara-gara kamu sih Ngga."


"Oh ya, sebenarnya kalian mau pergi kemana?"


"Kami mau pulang dulu kerumah, aku mau ambil baju sekolah dan membereskan rumah. Pasti banyak debu dan sampah berserakan disana, kan sudah seminggu lebih rumah itu tidak ku bersihkan Nia. Lagian besok rencananya aku mau mulai kembali sekolah."


"Nah, Asyik kalau gitu, aku kan bisa mencontek lagi jika aku malas mengerjakan tugas."


"Kamu mah enak, kasihan dong pacar aku, susah payah mengerjakan tugas kamunya tinggal mencontek."


"Kan aku bilang jika malas sih Ngga, ya udah kalau gitu aku nyonteknya sama kamu aja dech."


"Enak saja, tuh nyontek sama si Bima biar sama sama dapat nilai godok kalian."


"Jadi ngomong-ngomong siapa nih yang menjaga Ibu?, apa ibu udah baikan."


"Alhamdulillah, keadaan Ibu udah mulai stabil Nia,


syukurlah kalian datang, aku bisa titip Ibu. Mana tau ibu butuh sesuatu bisa minta tolong kalian."


"Oke, sudah sana pergilah, Ibu pasti aman bersama kami. Ayo cepat, jangan sampai kami berubah pikiran, kami kan juga mau jalan-jalan ke Mall, iya kan dek?"


Adik Zia pun mengangguk senang mendengar Rania menyebut kata mall.


"Ya sudah kami berangkat dulu ya."


Angga dan Zia segera naik ke mobil sedangkan Rania dan adek Zia bergegas masuk kedalam rumah sakit untuk menemani ibu.


Dalam perjalanan ke rumah kontrakan Zia, Angga menghidupkan musik yang bertema kerinduan. Angga merindukan kebersamaan dengan Zia, bersama pergi dan pulang sekolah sambil menghidupkan musik yang romantis, ngobrol dan bersenandung bersama mengungkapkan tentang cinta mereka.


Kini musik dari Motif band yang berjudul, "Tuhan Jagakan Dia" sedang mengalun merdu mengiringi perjalanan mereka.


Hanya dirimu yang kucinta


Takkan membuat aku jatuh cinta lagi

__ADS_1


Aku merasa


Kau yang terbaik untukku


Walau ku tahu kau tak sempurna


Takkan membuat aku jauh darimu


Apa adanya ku 'kan tetap setia kepadamu


Tuhan jagakan dia


Dia kekasihku, kan tetap milikku


Aku sungguh mencintai, sungguh menyayangi


Setulus hatiku


Walau ku tahu kau tak sempurna


Takkan membuat aku jauh darimu


Apa adanya


Ku 'kan tetap setia kepadamu


Ho-wo-ho


Tuhan jagakan dia


Dia kekasihku, kan tetap milikku


Aku sungguh mencintai, sungguh menyayangi


Setulus hatiku


Tuhan jagakan dia


Dia kekasihku, kan tetap milikku


Aku sungguh mencintai, sungguh menyayangi


Setulus hatiku


Tuhan jagakan dia


Dia kekasihku, kan tetap milikku


Aku sungguh mencintai, sungguh menyayangi


Setulus hatiku

__ADS_1


Ketika alunan lagu berakhir ia menatap kekasihnya dan menggenggam tangannya erat, kemudian berucap,


"Sepahit apapun hidupmu aku akan tetap bersamamu, mendampingimu dan melindungimu. Walau kutahu kau tak sempurna, aku tidak akan pernah meninggalkanmu dan aku selalu berharap ketika aku sedang tak berada disampingmu, Allah akan tetap menjagamu."


__ADS_2