
Semua Staf di kantor pusat sudah berkumpul, Angga kemudian memimpin rapat, ia menanyakan perkembangan proyek yang sedang berjalan. Selama Pak Wiguna sakit semua proyek di tangani oleh penanggungjawabnya masing-masing. Saat ini Angga mengumpulkan mereka agar memberikan laporannya masing-masing atas proyek yang tengah mereka tangani.
Keberhasilan Angga menyelesaikan masalah di Papua sudah terdengar di telinga para staf yang bekerja di kantor pusat. Bagi mereka yang loyal terhadap perusahaan merasa senang karena mereka akan memiliki pengganti Presdir yang kompeten tapi bagi pengkhianat yang suka bermain curang nyalinya mulai kecil. Mereka mulai berfikir ternyata Angga yang hanya anak ingusan, anak kemarin sore tidak bisa dianggap main-main.
Mereka semua sudah memberikan laporan pertanggungjawaban proyek, kemudian Angga membicarakan proyek baru mereka serta menunjuk siapa yang akan di beri tanggung jawab atas proyek baru tersebut.
Selesai rapat Angga mengajak Frans untuk makan siang di sebuah cafe sekaligus menemui klien. Ternyata klien penting yang membuat janji dengan perusahaan mereka adalah Bella teman sekolah Angga. Bella mewakili Papanya untuk menawarkan kerjasama terhadap perusahaan Pak Wiguna.
Bella terkejut dan tentunya sangat senang ternyata orang yang menjadi wakil pak Wiguna dalam pertemuan kali ini adalah Angga, orang yang ia cintai.
Angga lalu menyapa Bella," Selamat siang Bu Bella senang bisa berjumpa dengan anda."
"Jangan formil gitu dech Ngga, kita kan teman, aku sangat senang bertemu kamu disini, ternyata kamu telah menggantikan papamu selama beliau sakit. Aku juga, setelah lulus membantu menjalankan perusahaan Papa ku."
Silahkan Bell kita ke inti kerjasama, apa yang kamu tawarkan untuk perusahaan kami.
"Ngga kita bicara yang lain aja dulu ya, itu masalah kerjasama gampang, tinggal teken aja selesai dech."
"Maaf Bell, aku tidak mau memanfaatkan hubungan pertemanan untuk bisnis. Lagipula waktuku terbatas seperti yang kamu tahu anak cabang perusahaan Papa banyak, jadi sementara papa sakit aku harus handle semuanya."
"Oke...oke Ngga, aku setuju. Nanti aku berkunjung saja ya kerumahmu agar bisa bertemu papa, mama dan juga Aira adikmu.
Angga malas berbasa-basi, ia ingin bella langsung membicarakan kerjasama mereka. Namun sepertinya Bella sengaja ingin mengulur-ulur waktu. Frans tahu jika bos nya sudah gelisah ingin segera pergi dari pertemuan ini, makanya ia berbohong ," Oh ya bos setengah jam lagi kita ada meeting penting dengan klien dari Surabaya ."
"Untung saja kamu ingatkan aku Frans. Baiklah sebentar lagi kita kesana."
Bella yang mendengar Angga akan segera pergi menjadi kecewa, lalu ia berkata," Apa meeting kamu tidak bisa ditunda Ngga, aku masih kangen sama kamu."
Angga pura-pura tidak mendengar perkataan terakhir dari Bella, lalu ia berkata," Maaf Bell kami harus segera pergi, jika kamu butuh info tentang kerjasama kita kontek saja sekretaris ku dan ini nomor handphonenya", ucap Angga sambil menyerahkan kartu nama Rina sekretarisnya.
__ADS_1
Tanpa basa-basi lagi Angga dan Frans segera bergegas dari tempat itu. Di dalam mobil Angga tertawa terbahak-bahak, ia mengakui kepandaian Frans dalam membaca situasi.
"Makanya...sekarang bos harus berterimakasih sama aku. Jadi naik lagi kan bos bonusku?"
"Bisa bangkrut aku Frans, jika kamu setiap saat minta aku naikkan bonusmu terus."
"Hahahaha...", Frans pun tertawa.
"Frans, surat-surat pernikahan kami bagaimana?, apa sudah mulai kamu urus?"
"Aman bos, bos tenang saja, tugas bos menghafal lafaz ijab qabul. Jangan sampai salah ya bos."
"Inshaallah Frans, dengan izin Allah yakin bisa."
"Langsung balik kantor sekarang kita bos?"
"Iya Frans, tapi hanya untuk mengambil berkas saja setelah itu antar aku ke suatu tempat ya Frans."
"Mencari tempat strategis untuk membuka usaha londry dan juga untuk buka bimbel. Jika ada dekat area kampus Frans, agar Zia bisa atur waktu sekalian kuliah."
"Siap bos."
Mereka tiba di kantor, Angga mengambil beberapa berkas yang diperlukan lalu pergi kembali bersama Frans sesuai rencananya. Frans yang sebelumnya telah menghubungi teman-temannya untuk mencarikan info tentang tempat strategis seperti keinginan Angga, segera membawa Angga ke lokasi yang sudah di rekomendasikan oleh teman-teman itu.
Setibanya di lokasi dekat kampus, Angga mengecek satu persatu ruko disana yang di rekomendasikan oleh teman Frans dan memilih dua ruko yang sepertinya cocok untuk tempat Anye menjalankan usahanya nanti.
Urusan pencarian tempat usaha sudah selesai, lalu Angga mengajak Frans agar mengantarkannya pulang, Angga ingin beristirahat sejenak dengan berkumpul bersama keluarganya sekaligus membicarakan kelanjutan rencana pernikahannya.
Diluar rumah Angga mendengar gelak tawa yang suaranya sangat tidak asing ditelinganya. Ternyata benar, Bella sedang ngobrol bersama Mama dan adiknya. Melihat kepulangannya membuat Bella senang, ternyata Bella sengaja berlama-lama disana agar ia bisa bertemu kembali dengan Angga.
__ADS_1
"Eh...kamu sudah pulang Ngga, maaf aku tidak mengabari kamu dulu jika mau berkunjung kesini, aku senang bisa bertemu dengan Tante, om dan juga Aira."
"Kamu nggak usah sungkan Nak Bell, berkunjunglah kesini kapanpun kamu mau, rumah ini selalu terbuka buatmu."
"Iya Kak Bella, Aira juga senang Kak Bella mau main kesini, Aira jadi punya teman dirumah."
Angga semakin jengah dengan kehadiran Bella disana, ternyata ia sudah mampu menarik rasa simpatik keluarganya. Ia bermaksud pergi ke kamarnya, namun Mama nya memintanya untuk duduk menemani Bella.
"Duduklah dulu Ngga dan temani nak Bella, kasihan kan dia sudah jauh-jauh datang dan menunggumu malah kamu cuekin."
"Sebenarnya Angga masih banyak pekerjaan dikantor Ma, namun karena ada yang ingin Angga bicarakan tentang kelanjutan rencana pernikahan makanya Angga sempatkan pulang sebentar."
"Memangnya siapa yang mau menikah Ngga?"
"Lho...Mama dan Aira belum cerita ya ke kamu Bell, sebulan lagi aku akan menikah", ucap Angga dengan sengaja agar Bella tidak usah berharap lagi akan cintanya.
"Benarkah Tante, Aira, jika sebulan lagi Angga akan menikah? dan siapa wanita yang akan dinikahinya Tan?", tanya Bella dengan perasaannya yang hancur.
Sejenak Mama Angga terdiam sebenarnya dia lebih setuju jika Angga memilih pasangan seperti Bella bukannya Zia yang hanya gadis miskin dan jelas tidak bisa ia banggakan di hadapan siapapun termasuk di hadapan Bella dan teman-teman sosialitanya.
Namun ia tidak bisa menentang kemauan putranya yang bisa berakibat fatal, putranya akan kembali bersikap seperti dulu yang tidak perduli dengan keadaan keluarga sementara saat sekarang ini keluarganya sedang membutuhkan Angga untuk mengelola perusahaan selama suaminya sakit.
"Kenapa diam Ma, katakanlah kepada Bella yang sebenarnya sekaligus mengundang Bella siapa tahu ia berkenan hadir dalam acara pernikahanku nanti."
"Itu lho Nak Bella, teman sekolah kalian yang akan menjadi calon menantu tante!"
"Siapa Tan, jangan katakan jika orang itu adalah Zia si gadis miskin itu!"
Mama Angga hanya bisa mengangguk saja. Bella yang mengetahui kenyataan ini hatinya sangat sakit, air mata sudah mengambang di pelupuk matanya, dia tidak percaya Zia si gadis miskin bisa mengalahkannya untuk mendapatkan Angga.
__ADS_1
"Walau dia miskin tapi hatinya kaya, hatinya mulia, pengorbanannya untuk keluarga mencerminkan bagaimana kepribadiannya. Dia tidak egois hanya memikirkan dirinya saja, dia rela mengorbankan kebahagiaannya demi orang-orang yang dia cintai. Aku bangga bisa mengenal dia dan aku sangat beruntung bisa memiliki dia sebagai calon pendampingku, jadi kamu tidak perlu menghinanya, karena aku yang akan berjuang, bekerja keras untuk memberikan kehidupan yang layak baginya yang bisa kalian anggap sepadan bahkan lebih daripada kehidupan kalian. Dia cukup memberiku cinta, cinta yang akan membuat keluarga kami bahagia dunia dan akhirat."
Kata-kata Angga cukup tegas hingga membuat ketiganya tidak bisa berkata apa-apa. Setelah mengucapkan semuanya Angga langsung pergi ke kamarnya, ia tidak ingin terucap lagi kata-kata yang lebih kasar jika dia berlama-lama disana.