Persahabatan Telah Mengubah Takdir

Persahabatan Telah Mengubah Takdir
Episode 62. Berhasil mengambil hati Gara


__ADS_3

"Nak! tolong buka pintunya, Tuan Arya sudah menunggu kalian di depan," ucap Ibu.


"Iya Bu, sebentar lagi Zia siap kok."


Tubuh Zia gemetar saat mendengar calon suaminya datang. Entah dia harus sedih atau senang dengan keputusannya ini. Perlahan diapun membuka pintu kamarnya dan berjalan menuju ke ruang tamu.


Tuan Arya yang mendengar suara langkah kaki semakin mendekat segera mendongakkan wajahnya, dia terpana melihat penampilan Zia yang sekarang berdiri sambil tertunduk di hadapannya.


Zia memang seorang gadis yang sejak dulu suka berpenampilan sederhana tanpa make up, tapi hari ini hanya memakai make up natural, sudah mampu membuat seorang Arya bergetar hatinya.


Kecantikan alami yang terpancar jelas di wajah Zia ditambah dengan balutan pakaian berwarna lembut menimbulkan kesan adem bagi yang memandangnya.


Sejenak mereka terdiam, Zia tidak berani menatap Arya, tapi sebaliknya Arya tidak berkedip memandang Zia yang memakai perhiasan darinya.


Di situ sudah terjawab bahwa Zia menerima lamaran Arya.


Rania yang baru saja datang dengan menggendong Gara segera memecahkan keheningan di sana dengan berdehem.


Keduanya terkejut lalu saling memandang, dan Tuan Arya pun berkata, "Kalian sudah siap Zia? jika begitu kita berangkat sekarang. Kamu ikut kan Nak?" tanya Arya kepada Rania putrinya.


"Maaf Pa, Nia nggak bisa ikut! Sebentar lagi Frans akan datang menjemput, kami akan bertemu penata rias hari ini."


"Oh ya sudah, Papa dan Zia akan berangkat sekarang, tolong panggilkan Ibu Nak! Papa ingin pamit kepada Beliau."


Rania pun memberikan Gara kepada Sang Papa, Gara tidak asing dengan Arya makanya dia langsung memeluk Arya. Ibu pun memberi izin Arya untuk mengajak Zia dan Gara jalan-jalan agar mereka bisa membicarakan rencana selanjutnya tentang pernikahan.


Setelah berpamitan, Arya menuju mobilnya dan membukakan pintu untuk Zia. Zia pun masuk memakai sabuk pengaman lalu memangku Gara sedangkan Arya melambaikan tangan kepada Ibu dan putrinya sembari tersenyum. Ibu merasa bahagia melihat Zia kini berada di tangan pria yang tepat, yang akan menjaga dan membahagiakannya.


Arya pun duduk di balik kemudi, dia sengaja membeli mobil untuk pasilitasnya selama di Jakarta karena tidak mungkin dia terus meminjam mobil milik Frans.


Mereka meninggalkan rumah Zia, Arya hendak membawa Zia dan Gara ke Mall tapi sebelum itu dia mengajak mereka ke sebuah taman bermain anak-anak.


Sepanjang perjalanan Zia hanya diam, sementara Arya selalu mengobrol dengan Gara. Arya senang dengan adanya Gara bisa mengurangi rasa canggung diantara keduanya.

__ADS_1


"Gara? Sekarang jangan panggil opa ya? tapi Papa. Gara mau kan punya Papa?" tanya Arya kepada Gara.


"Gara sudah punya Papa lho opa? Tapi Papa Gara sudah di surga, Gara kepingin deh jumpa Papa? Gara rindu," ucap Gara dengan lugu.


"Iya...suatu saat Gara pasti ketemu Papa di surga dan sekarang opa ingin jadi Papa Gara yang setiap hari akan menemani Gara bermain bola, bermain petak umpet, bermain mobil-mobilan dan kita bisa sering jalan-jalan ke taman serta ke Mall bersama Mama."


"Benarkah Opa? Setiap hari Opa akan menemani Gara dan Mama? Opa bisa juga membacakan dongeng untuk Gara? Soalnya kasihan Mama lho opa? setiap hari harus membacakan dongeng buat Gara, Mama kan capek dan ngantuk! Gara nggak bisa tidur kalau belum dibacain dongeng?"


"Tentu saja Opa mau, tapi ada syaratnya?"


"Apa syaratnya Opa? Gara pasti akan turuti."


"Serius! Gara janji akan penuhi syarat dari Opa?"


"Iya Opa, Gara janji!" seru Gara sambil mengulurkan jari kelingkingnya.


Inilah kesempatan Arya untuk lebih mendekatkan diri kepada Gara.


Sejenak Gara terdiam sepertinya dia berpikir akan setuju atau tidak dengan syarat Arya, tapi akhirnya Gara menjawab, "Baiklah, Gara akan tepati janji tapi Papa juga harus tepati janji sama Gara dan Mama," ucap Gara.


Arya pun senang, akhirnya Gara mau memanggilnya Papa. Arya menepikan mobilnya, lalu dia mengambil Gara dari pangkuan Zia. Dia mencium dan memeluknya sambil berkata, "Coba panggil apa tadi?"


"Papa! Gara akan selamanya panggil Papa."


"Terimakasih Nak, kamu memang anak baik dan pintar," ucap Arya sembari mencium Gara lagi sambil mengelus kepalanya.


Gara tertawa menyeringai, lalu dia berkata, "Ayo Pa? Jalankan mobilnya lagi, Gara sudah tidak sabar ingin cepat sampai ke taman bermain. Mama juga pasti nggak sabar kan seperti Gara?"


Zia yang mendengar celotehan putranya sedari tadi hanya tersenyum, di dalam hati dia mengakui kepandaian Arya dalam melakukan pendekatan terhadap Gara. Arya berhasil membuat Gara untuk mengganti panggilannya.


"Ma! Mama kok melamun? benar kan ucapan Gara? Mama pasti nggak sabar kan ingin bermain dengan Papa dan Gara di sana?"


"Iya Nak, Mama kamu pasti sudah nggak sabar ingin bermain dengan kita di sana! Benarkan Ma?" tanya Arya yang nyaris membuat Zia kelabakan untuk menjawabnya.

__ADS_1


"I..Iya."


"Iya Papa? Gitu dong Ma?" pinta Gara.


Arya tersenyum senang sembari melajukan mobilnya kembali, ternyata Gara lebih pintar dari yang dia duga.


Zia memalingkan wajahnya, memandang ke arah kaca spion, dia malu harus memanggil Arya Papa sesuai permintaan Gara.


Akhirnya mereka tiba di taman bermain, di sana Gara berlari sepuasnya, memainkan semua permainan yang dia minta dengan diikuti oleh Arya, sedangkan Zia hanya duduk memperhatikan anaknya bermain bersama Frans.


Zia melihat Gara hari ini sangat senang, dia tertawa lepas, bahagia bersama Arya. Terkadang keduanya saling kejar, saling berguling di rerumputan dan saling bertukar makanan yang sudah mereka gigit.


Arya pun bisa merasakan bagaimana rasanya memiliki seorang putra yang bisa di ajaknya bermain permainan anak laki-laki, jika dulu dia hanya memperhatikan Rania bermain boneka.


Masing-masing kebahagiaannya berbeda saat Rania kecil dan saat sekarang bersama Gara. Lelah berlari, Arya pun menggendong Gara di atas pundaknya dan membawanya membeli es cream.


Gara membelikan es cream vanilla kesukaan sang Mama sementara dia dan Arya sama membeli es cream rasa coklat.


Lalu keduanya menghampiri Zia yang sedari tadi hanya duduk memperhatikan mereka bermain dan sesekali memainkan kamera handphonenya untuk mengambil foto Gara dan Arya.


"Mama, ini es cream kesukaan Mama, Papa belikan kita es cream. Ayo ma di makan!" pinta Gara.


"Terimakasih sayang?" ucap Zia kepada Gara.


"Terimakasih dong sama Papa Ma? kan Papa yang belikan?" pinta Gara lagi.


Zia pun terpaksa berterimakasih kepada Arya dengan gugup, "Terimakasih Pa," ucap Zia tapi tetap memandang Gara.


Arya tahu, Zia masih merasa canggung tapi dia tidak mempersoalkan hal itu, yang terpenting hari ini dia bisa membahagiakan Gara, itu lebih dari cukup.


BERSAMBUNG......


🌻 Jangan lupa dukungannya ya guys, pavorit, vote, like, dan komentarnya. Terimakasih 🙏😉

__ADS_1


__ADS_2