
Senyum menghiasi bibir Angga ketika menghampiri mama dan adiknya. Ia lalu menceritakan perkembangan kesehatan papanya dan mengutarakan maksud keberangkatannya sore ini juga ke Papua bersama Frans. Bu Melia mendukung niat putranya, dia berjanji akan menjaga Tuan Wiguna bersama Aira.
Angga menghampiri Frans, sebelum berangkat mereka akan mengunjungi perusahaan pusat Papa nya yang ada di Jakarta ini, untuk mendelegasikan tugas-tugas kepada asisten dan sekretaris disana sekaligus memperkenalkan diri bahwa selama Tuan Wiguna sakit Angga lah yang akan menghandle semua usaha papanya.
Asisten dan sekretaris pusat telah menunggu kedatangan mereka. Para staf dan karyawan juga sudah tidak sabar ingin melihat pemimpin mereka yang baru. Selama ini mereka hanya mendengar bahwa Tuan Wiguna memiliki seorang putra yang sangat tampan yang bakal menjadi pewarisnya.
Ketika Angga dan Frans tiba, semua mata memandang takjub kepada mereka. Bos dan asisten sama-sama tampan dan berwibawa. Sang bos yang kabarnya dingin ternyata murah senyum sementara sang asisten begitu dingin tanpa ada senyum sedikitpun diwajahnya berjalan mendampingi bos mereka.
Para karyawan wanita khususnya yang masih gadis enggan memalingkan perhatiannya dari kedua pria tampan itu. Semuanya berandai-andai, alangkah bahagia dan beruntungnya mereka jika bisa menjadi pendampingnya.
Setelah memperkenalkan diri, Angga segera mengadakan rapat darurat untuk para staf. Dia ingin mereka menjalankan tugas seperti biasa, dibawah pengawasan sekretaris dan asisten pusat selama dirinya belum kembali.
Setelah selesai ia pun berpamitan kepada mereka karena harus segera ke bandara untuk berangkat ke Papua.
Dalam perjalanan ke bandara Angga kembali menghubungi Zia. Ia ingin berpamitan sebelum keberangkatan. Angga mengeluarkan HP nya untuk melakukan panggilan, HP Zia berdering disaat dia sedang ngobrol dengan Rania dan papanya. Mereka datang menjenguknya.
Zia langsung mengangkat panggilan itu ketika terlihat nomor calon suamiku sedang memanggil. Ia mengucap salam dan dibalas salam kembali oleh Angga. Rania yang mendengar suara Angga pun ikut nimbrung dalam percakapan mereka. Sementara Papa Rania memilih keluar ingin ke kantin membeli minuman.
"Hallo orang Jakarta, apa kabar nih, Nggak lupa sama aku kan? oh ya pak bos gimana kabar Papa kamu?"
Angga tertawa sambil menggelengkan kepalanya.
"Dasar betet, ganggu aja. Nggak tau nih aku lagi kangen ingin ngobrol dengan pacarku eehhhh main samber aja tuh handphone."
"Biarin, aku kan juga kangen", sambung Rania sambil memonyongkan mulutnya.
"Teman bertengkarku sekarang sudah tidak ada lagi, sepi disini. Kamu cepat pulang dong Ngga, nggak enak nggak ada kamu disini. Tuh wajah Zia muram terus, ntar cantiknya berkurang kamu juga yang rugi lho."
"Aku maunya juga gitu lho Nia, tapi saat ini belum bisa. Papaku sudah sadar tapi kemungkinan besar papaku mengalami kelumpuhan ditubuh bagian kirinya, dan ini aku lagi menuju bandara untuk berangkat ke Papua menyelesaikan masalah disana. Kamu hibur dong Zia agar tidak sedih lagi, awas ya jika aku pulang kecantikan Zia berkurang aku akan cari kamu, heeheehee."
"Waduh, berat banget tugasku, Jika aku tidak sanggup bagaimana?"
"Aku percaya kamu pasti bisa buat pacarku lebih cantik, tapi yang utama jauhkan dia dari cowok lain ya."
"Jadi imbalannya apa nih jika aku bisa jaga dan buat Zia lebih cantik?"
"Pokoknya akan aku bawakan hadiah spesial buat kamu, mau tau sekarang atau nanti aja nih hadiahnya apa."
"Sekarang ajalah biar aku semangat jalankan tugasku."
"Apa ya, mau kamu apa?"
"Bawain pulang cogan aja dech, pokoknya harus lebih dari kamu ya?"
"Oh tentu, itu mah gampang. Ntar ku bawa pulang lima sekaligus, pokoknya yang pakai koteka kan?"
__ADS_1
"Ah, kampret lu, mending aku sama Bima aja kalau gitu."
"Haahaahaaa", keduanyapun tertawa.
Zia hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya mendengar kelakar keduanya.
"Udah ah, aku mau apelin calon istriku dulu dong, udah rindu berat nih. Emang kamu mau lihat aku mati karena rindu."
"Nggak ah ntar aku rugi nggak bisa dapat sahabat seperti kamu lagi, oke-oke nih lanjut dech sayang-sayangannya. Aku keluar dulu ya, ntar kalau aku tetap disini jadi iri lihat kalian mending aku cari gebetan diluar siapa tahu nyantol tuh dokter ganteng."
"Dokter ganteng atau dokter ngesot", timpal Angga lagi.
"Haahaahaa", kini ketiganya pun tertawa.
"Maaf ya yang, gara-gara si bule matre jadinya aku lupa tanya kabar kamu dan lupa kasi tau kamu."
"Memangnya apa yang kamu lupa beritahu aku yang?"
"Papa sudah sadar yang tapi kemungkinan Papa badannya lumpuh sebelah jadi aku pasti lama disini atau bahkan menetap di Jakarta untuk mengurus kantor pusat Papa."
"Deg, tiba-tiba jantung Zia terasa berhenti, wajahnya menjadi pucat dan kelopak matanya memerah menahan tangis. Dia hanya terdiam dan menundukkan wajahnya agar Angga tidak melihat perubahan wajahnya."
"Yang yang yang, kamu kenapa?, yang jangan buat aku khawatir dong. Yang, ayolah tatap aku, aku nggak mau kamu sedih. Kamu bantu do'a yang, agar ada keajaiban yang bisa nyembuhin Papa. Aku juga tidak mau yang jauh dari kamu. Hidup ku terasa hampa disini tanpa kamu, makanya aku sering VC kamu biar sedikit terobati rindu ini."
Zia akhirnya mengangkat wajahnya dan menghapus air mata yang hampir jatuh. Dia berusaha tegar agar Angga disana bisa kuat menjalani hari-harinya.
"Ini lagi dalam perjalanan ke bandara yang, sore ini langsung terbang ke Papua bersama Frans."
"Jadi yang jaga Papa dirumah sakit siapa yang?"
"Mama dan Aira serta beberapa pengawal yang aku percaya siapa tau mama ntar butuh bantuan kan bisa minta tolong mereka selagi aku tak disana."
"Oh ya yang, gimana dengan lukamu. Apa sudah mengering?, dan kapan kata dokter bisa pulang?"
"Alhamdulillah yang, sudah mulai mengering kok. Insha Allah besok dokter telah mengizinkanku pulang."
"Syukurlah, jadi aku disini bisa lebih tenang nggak kefikiran kondisi kamu terus yang."
"Oh ya yang, sekalian mau minta izin nih, lusa jika sudah pulang aku mau diajak Rania ke kantor Papanya."
"Mau ngapain yang, aku tidak izin ya kamu dekat dengan cowok lain! Apalagi Papa Rania ganteng, seorang pengusaha sukses lagi dan tentunya masih menduda. Aku takut kamu pindah ke lain hati yang, pokoknya nggak boleh."
"Aduh yang jangan cemburu gitu dong, kami kesana kan ingin bekerja. Papa Rania janji akan memberikan pekerjaan kepada kami berdua diperusahaannya. Rania kan bakal jadi pewaris usaha papanya, makanya dia mau belajar dari sekarang dan dia mau aku membantunya disana sekaligus mereka ingin membantuku agar bisa membiayai kuliahku sendiri nantinya."
"Memangnya uang yang kutransfer kurang ya yang buat kebutuhan kalian hingga kamu harus bekerja lagi?"
__ADS_1
"Bukan begitu yang, aku ingin mandiri yang. Aku nggak mau jadi beban kamu terus, sementara kamu dan keluarga disana sedang banyak masalah."
"Kamu jangan pernah ngomong seperti itu yang, kamu dan keluargamu bukan beban bagiku. Kalian bagian dari hidupku sudah sepantasnya aku juga berjuang demi kalian."
Angga merasa sedikit kecewa mendengar Zia mengatakan bahwa ia dan keluarganya telah menjadi beban bagi Angga. Angga terdiam tidak segera melanjutkan bicaranya, ia kembali mengatur perasaannya. Ia kecewa sekaligus cemburu.
Zia menyadari perubahan sikaf Angga, kemudian ia melanjutkan ucapannya.
"Maaf yang, maafkan aku. Aku tidak bermaksud begitu. Beri aku kesempatan yang untuk belajar berkarir sebelum kita punya usaha sendiri. Aku janji yang, akan tetap menjaga hati ini hanya untuk kamu. Kamu harus percaya sama aku yang. Aku sangat mencintaimu. Insha Allah cintaku kepadamu karena Allah dan hanya takdir Allah yang bisa memisahkan kita."
Angga akhirnya merasa tenang ketika Zia mengucapkan cintanya karena Allah. Tiada yang lebih hebat selain kuasa-Nya.
"Baiklah yang aku beri izin kamu bekerja disana dengan syarat."
"Syaratnya apa yang?"
"Kamu harus telephone aku setiap hari sebelum berangkat, jam istirahat, dan ketika pulang dari kantor."
"Baiklah yang, aku akan lakukan itu."
"Eiiits, masih ada dua syarat lagi, kamu nggak boleh berangkat dan pulang diantar pria manapun dan terakhir setiap telephone aku kamu harus bilang I love you sambil kasi aku ciuman semangat."
"Baiklah yang, yang penting kamu disana tetap semangat ya, jangan tergoda gadis lain ya yang?"
"Insha Allah yang, hanya kamu gadis yang aku impikan untuk menjadi pendampingku."
"Ayo yang dari sekarang dong beri aku semangat mumpung bule matre belum nongol dan kami hampir sampai nih di bandara."
"Iiiih, malu yang itu ada asisten Frans!"
"Dia lagi tuli dan buta hari ini yang, jadi dia nggak akan dengar dan nggak akan lihat apapun yang kita bicarakan dan apapun yang kita lakukan."
"Enak saja bilang aku tuli dan buta, dasar bos bucin", gumam Frans.
"Apa kamu bilang, mau saya tinggalkan kamu di papua dan saya potong bonus kamu."
"Ampun bos, jangan gitu dong bos, ntar merana lah gadis saya disini jika saya bos tinggalkan di Papua dan bonus saya jangan dipotong ya bos itu modal yang akan saya tabung buat modal nikahan bos. Baiklah hari ini saya akan menjadi asisten bos yang tuli dan buta, asalkan bos bisa senang."
"Ayo yang buruan dong", desak Angga ke Zia.
Zia dengan malu mengucapkan " I love You Sayang, emmmuah💋💋💋emmuaah💋💋💋 emmuaaah💋💋💋😍😍😍
"Alhamdulillah, I love you to sayang ❤❤❤ jawab Angga.
"Terimakasih yang, ntar jika sudah sampai Papua aku akan kabarin kamu. Salam buat Ibu, adik dan juga Rania ya, Assalamu'alaikum."
__ADS_1
Zia pun menjawab salam dari Angga, kemudian panggilan pun terputus.