
Mike dan Angga sudah tiba di Australia, lalu Mike mengenalkannya dengan Catrine dan Sonya. Catrine adalah istri kedua Mike yang usianya 40 tahun selisih 20 tahun dari Mike. Sementara Sonya adalah anak gadis Mike dari istri pertamanya yang kini berusia 23 tahun.
Mereka sangat senang menyambut kedatangan Angga, lalu Catrine mengajak Mike dan Angga untuk makan siang. Angga yang tidak terbiasa makanan mereka hanya mengambil sepotong KFC, diapun melahapnya dengan saos.
Selesai makan Catrine menunjukkan kamar Angga supaya dia bisa beristirahat. Catrine pun kembali untuk membantu Mike membereskan barang bawaannya.
Bulan demi bulan terus berlalu, kini usia kandungan Zia sudah masuk 9 bulan lebih. Rania yang merasa khawatir lalu mengajak Zia untuk memeriksa kandungannya ke dokter.
"Ayo Zia," ajak Rania sambil menggandeng tangannya ketika turun dari taksi.
Perut Zia yang sangat besar membuatnya susah berjalan. Rania terus menggandengnya hingga masuk ke klinik. Suster meminta mereka menunggu sesuai nomor antrian.
Sekarang giliran Zia, Rania ikut menemaninya masuk. Sebelumnya dokter sudah mengatakan jika belum ada tanda juga untuk lahiran, sebaiknya di lakukan tindakan operasi.
Mendengar kata operasi Zia gemetar, dia teringat saat kejadian penusukan dulu, jadi dia tetap berdoa bisa melahirkan secara normal. Tiba-tiba Zia memegangi perutnya sembari berkata, "Aduh, perut saya sakit Dok," ucap Rania.
"Coba Sus, bantu Nyonya Zia naik ke tempat tidur, saya akan segera periksa kandungannya," perintah Dokter kepada susternya.
Rania ikut panik, wajahnya nampak tegang melihat sahabatnya meringis kesakitan. Dia memegangi tangan dan mengelus perut Zia, berharap bisa mengurangi rasa sakitnya.
"Sabar Zia, tahan ya... sebentar lagi kamu akan jadi Ibu," ucap Rania.
"Iya Nia, aku harus bisa demi Mas Angga," jawab Zia.
Zia masih berharap keajaiban, suaminya akan kembali. Rania yang mendengarnya ikutan sedih, dia tidak yakin jika Angga akan kembali.
Dokter sudah selesai memeriksa dan beliau berkata, "Alhamdulillah sepertinya tidak akan lama lagi bayinya akan segera lahir. Saya akan bantu dengan suntikan perangsang ya Dek?" ucap Pak Dokter.
"Bagaimana baiknya saja ya Dok, yang penting bayi saya lahir selamat dan sehat."
"Baiklah, Inshaallah saya akan lakukan yang terbaik."
Setelah Dokter menyuntikkan obat, perut Zia semakin sakit, bayi dalam kandungan terus bergerak menuju jalannya dan dokter bilang Zia harus mengikuti arahannya agar proses melahirkan bisa berjalan dengan lancar.
Rania terus mendampingi Zia sedangkan dokter terus memberikan arahan dan akhirnya terdengarlah suara tangis bayi menggema di dalam ruangan bersalin.
__ADS_1
"Alhamdulillah," Zia, Rania dan Dokter sama mengucap syukur.
"Selamat ya Dek, kamu sudah jadi Ibu dan putramu sangat tampan," ucap Dokter sembari tersenyum dan memberikan bayi tersebut kepada suster untuk di bersihkan.
"Selamat Zia," ucap Rania sembari mengelap air mata Zia.
Mereka berdua sama-sama menangis karena bahagia, setelah itu keduanya tersenyum. Zia sangat berterimakasih atas dukungan sahabatnya itu, dia tidak tahu bagaimana cara membalas kebaikan Rania.
Setelah suster membersihkan bayi dan membersihkan Zia, lalu suster berkata, "Siapa yang akan mengadzankan bayi ini Kak?"
Mendengar pertanyaan tersebut Zia pun menangis, dia sedih seharusnya Angga mengadzankan putranya tapi Allah berkehendak lain.
Melihat sahabatnya menangis, Rania kemudian berkata, "Sebentar ya Sus, mungkin sedang dalam perjalana," ucap Rania.
Zia yang mendengar perkataan Rania terperangah, dia bingung siapa yang di maksud oleh Rania. Rania tersenyum melihat wajah bingung Zia, belum sempat dia menjawab terdengar suara orang mengucap salam.
"Nah itu orangnya!" ucap Rania sembari menunjuk ke arah pintu.
Zia pun tersenyum, ternyata Frans orang yang Rania maksud. Saat hendak berangkat tadi tanpa sepengetahuan Zia, Rania meminta tolong Frans agar menjemput mereka saat pulang dari dokter karena Rania berencana ingin mentraktir Zia makan. Ternyata Zia malah melahirkan, ya sudah sekalian deh Rania meminta tolong kepada Frans.
"Siap Bos," ucap Frans sembari meminta bayi mungil itu dari tangan Suster.
Kemudian Frans mengumandangkan suara adzan di telinga dedek bayi. Ini pertama kali Frans melakukannya hingga membuat suaranya bergetar. Tapi di dalam hati dia berjanji akan membantu menjaga putra bosnya itu.
Setelah itu Frans memberikannya kepada Zia. Zia menangis sembari mencium dan mendekap bayinya, seandainya Angga ada bersama mereka pasti kebahagiaannya lebih sempurna.
Melihat sahabatnya kembali bersedih, Rania pun berkata, "Sini dong Zia! aku juga ingin menggendong, aku boleh 'kan jadi maminya dan Frans jadi Papi bayimu," pinta Rania sembari tersenyum dan memandang Frans.
Frans pun mengatupkan kedua tangannya, dia setuju dengan usul Rania dan memohon kepada Zia agar mengizinkan mereka menjadi Papi Mami bagi putranya.
"Baiklah, kalian adalah Papi Mami putraku. Terimakasih atas bantuan kalian berdua selama ini, berkat kalianlah aku bisa tegar hingga sekarang. Dan sekarang aku harus lebih kuat demi putraku," ucap Zia.
"Oh ya Zia, aku telepon ibu dulu ya? Beliau pasti sangat senang mendengar cucunya sudah lahir," ucap Rania.
"Aku juga mau memberitahu Tuan dan Nyonya Wiguna, mereka juga pasti sangat bahagia," ucap Frans.
__ADS_1
"Begini saja Frans, kamu jemput ibu, biar aku yang menelepon Tuan Wiguna, kasihan 'kan ibu jika harus kesini naik taksi. Kalau Tuan dan Nyonya Wiguna, mereka bisa datang dengan diantar sopir kantor."
"Benar juga idemu Nia, okelah...aku langsung berangkat ya jemput Ibu."
"Terimakasih Frans, maaf telah merepotkanmu," ucap Zia.
"Bos Angga sudah seperti kakak bagiku, maka keluarganya adalah keluargaku Non, jadi jangan sungkan, selagi aku sanggup, pasti aku bantu," jawab Frans sembari tersenyum dan berlalu pergi.
Rania juga segera menghubungi Tuan dan Nyonya Wiguna, mereka sangat senang mendengar Zia telah melahirkan dan mendapatkan cucu laki-laki hingga mereka memiliki calon penerus keluarga sebagai pengganti Angga.
Tuan Wiguna sudah tidak sabar ingin segera melihat sang cucu, lalu Beliau menghubungi supir kantor agar segera membawa mereka kesana.
Ibu juga sangat senang saat Frans mengatakan cucunya sudah lahir. Beliau lalu meminta tolong para pekerja untuk menjaga loundry serta kedai sementara ibu pergi keklinik untuk melihat Zia dan bayinya.
Mereka lalu berangkat menuju klinik, tersirat kebahagiaan di wajah Ibu, beliau senang pengobat duka putrinya telah lahir. Setidaknya dengan repot mengurus bayinya, Ibu berharap Zia bisa melupakan Angga yang mungkin tidak akan pernah kembali.
Tuan dan Nyonya Wiguna telah tiba di klinik berbarengan dengan sampainya Ibu di sana, kemudian secara bersama-sama mereka mengikuti Frans menuju ruangan Zia.
Mama dan Ibu memeluk Zia, mereka menangis teringat akan Angga yang tidak ada di sisi Zia di saat seperti ini. Lalu Mama mengajak Ibu dan Pak Wiguna untuk ke ruangan Bayi, mereka ingin melihat cucunya walau hanya di luar ruangan kaca.
BERSAMBUNG......
🌻 Jangan lupa tinggalkan jejak ya guys, favorit, vote, like, coment dan rate bintang limanya. Terimakasih 🙏
PENGUMUMAN
Selamat malam dan selamat beristirahat kepada sahabat semua, aku ingin merekomendasikan karya temanku, silahkan di kepoin ya...dan jangan lupa tinggalkan jejaknya di sana dalam aplikasi Noveltoon. Terimakasih 🙏

__ADS_1