Persahabatan Telah Mengubah Takdir

Persahabatan Telah Mengubah Takdir
Bab 30. Hati yang telah terpaut


__ADS_3

Pengalaman hidup, cobaan demi cobaan pahit membuat Angga harus menjadi pemuda yang tegar dan kuat. Beban tanggung jawab yang besar kini berada dipundaknya. Tanggung jawab sebagai anak laki-laki dan anak tertua dikeluarganya dengan kondisi Papa nya yang masih terbaring dirumah sakit, tanggung jawab sebagai seorang pemimpin perusahaan dan tanggung jawab sebagai seorang kekasih yang ingin memberi kebahagiaan untuk kekasih dan keluarganya.


Angga bangkit dari tempat duduknya, memhapus air matanya dan bertekad,"Aku harus kuat demi mereka, aku akan berjuang demi kebahagiaan keluargaku dan demi Zia ku dan keluarganya. Mereka semua adalah kebahagiaanku."


"Bismillah, mulai hari ini, kebahagiaan mereka telah menjadi tanggung jawabku."


Hari ini Angga harus menyelesaikan semua urusan di Medan baru besok terbang ke Jakarta untuk menghandle masalah disana. Angga menemui kembali sekretarisnya kemudian menjelaskan semua tugas dan tanggung jawab tentang perusahaan, semua menjadi urusannya selama dia dan asisten pribadinya tidak berada ditempat.


Siang ini dia akan kembali ke rumah sakit untuk berpamitan dengan Zia, ibu dan juga Rania.


Dengan mengendarai mobil sportnya ia kembali ke rumah sakit.


Kondisi Zia kini semakin membaik, siang ini dia telah dipindahkan dari ruang ICU ke ruang perawatan biasa untuk pemulihan.


Wajahnya yang tadinya pucat kini mulai nampak cerah. Ibu dan Rania sangat senang melihat perkembangan kesehatan Zia.


"Bu, Angga bilang hari ini akan datang jam berapa ya bu."


"Cie cie, ada yang kangen nih nampaknya, baru aja nggak ketemu beberapa jam eh sudah ada yang rindu. Apalagi setahun?"


"Bukan gitu lho Nia, perasaanku sejak pagi kok tidak enak ya, sepertinya bakal ada kejadian buruk."


"Ah, kamu harus berfikir positif lho Zia. Mungkin pengaruh dari luka kamu atau bagian tubuhmu yang lain ada yang sakit, biar aku panggilkan dokter ya."


"Nggak ada yang sakit kok Nia, mungkin hanya perasaanku saja yang salah."


" Tadi pagi Nak Angga bilang, dia akan datang sore saat jam besuk, karena katanya ada urusan kantor yang harus diselesaikannya."


"Oh gitu ya bu. Nanti sore menjelang jam besuk Zia bel Angga ya Bu mau beritahu dia jika Zia sudah dipindah diruang perawatan, biar dia tidak salah datang ke ruang ICU."


"Iya nak, kami memang belum memberitahu nak Angga tentang pemindahan kamu kesini."


"Udah kamu tidur dulu Zia biar nanti pas Angga datang kondisi kamu lebih segar, pasti dia senang lihat kamu semakin membaik."


"Iya Nia, kamu juga harus istirahat."


"Zia pun tertidur, dalam tidurnya dia bermimpi Angga datang dengan wajah muram kemudian ia berpamitan akan pergi jauh dan belum tau kapan bisa kembali."


Zia terisak isak dalam tidurnya hingga membuat ibu dan Rania terkejut. Mereka kemudian membangunkannya dan bertanya apa yang terjadi.


Zia menceritakan mimpinya, Ibu dan Rania memberinya semangat." Itu hanya bunga tidur Zia, mungkin kamu terlalu rindu dengan Angga. Jadi ketika tidurpun kamu selalu mengingatnya", ucap ibu.


Zia pun mengangguk dan berusaha berbaring kembali, tapi mata tetap tidak mau dipejamkan lagi. Bayangan Angga terus melintas dibenaknya.


"Bu, Rania keluar sebentar ya."


"Mau kemana nak?"

__ADS_1


Rasanya siang dan panas cetar begini kepingin makan rujak, Nia akan mencari penjual rujak dekat pintu gerbang masuk rumah sakit ini bu.


"Oh baiklah nak, kamu hati hati ya."


"Beres Bu, Nia akan hati hati."


Nia berjalan keluar dan menemukan penjual rujak disana, ia kemudian memesan dua bungkus rujak.


"Yang pedas ya pak, pintanya kepada bapak penjual rujak."


Ketika dia sedang menunggu, ia melihat mobil Angga masuk, ia segera menyetopnya.


"Ngapain kamu berdiri disini Nia?


"Itu", sambil menunjuk gerobak penjual rujak.


"Oh, lagi beli rujak."


"Kamu datang lebih awal Ngga, ternyata hati kalian benar benar terpaut ya".


"Maksud kamu apa Nia?"


"Sedari tadi Zia merindukan kamu tuh, sampai sampai tidur siang pun dia memimpikan kamu."


"Kamu bisa saja Nia, ia serius lho."


"Tunggu dulu Ngga, Rania sudah dipindah ke ruangan perawatan tadi."


"Oh ya syukurlah, berarti kondisinya semakin membaik."


"Iya, Alhamdulillah."


"Ya sudah sana kamu duluan, aku masih menunggu rujak pesananku yang masih dibuat."


"Oke Nia, aku kesana duluan ya."


Angga memarkirkan mobilnya kemudian berjalan ke ruang perawatan Zia.


"Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam", ibu dan Zia menjawab serta menoleh ke asal suara yang datang, terlihat Angga tersenyum kepada mereka.


"Itu yang sedari tadi diharap-harap sudah datang", goda Ibu.


"Ah Ibu, Zia tersenyum malu."


Anggapun segera mendekati Zia, ia duduk disamping tempat tidur.

__ADS_1


"Nak Angga titip Zia ya, ibu mau keluar sebentar ke kantin ada yang ingin ibu beli."


Ibu ingin memberikan kesempatan kepada mereka berdua agar leluasa untuk berbicara.


Setelah ibu pergi, Angga mencoba menggoda Zia.


"Mana nih yang tadi katanya kangen", Zia mencubit lengan Angga sambil tersipu malu.


"Gimana dengan lukanya yang, apa masih berdenyut?"


"Sesekali yang, tapi tidak sesakit tadi malam. Tadi malam sampai gemetar aku menahan rasa sakitnya."


"Pantasan sampai kamu demam."


"Apa iya yang tadi malam aku demam tinggi?"


"Iya, sekitar jam 3 pagi perawat memanggil dokter jaga agar memeriksa kamu. Aku pun jadi panik, kemudian setelah kamu diberi obat kamupun tertidur."


"Oh ya yang, sebenarnya ada yang ingin kusampaikan sekaligus aku mau berpamitan sama kamu, ibu dan Nia."


Tiba-tiba jantung Zia berdetak kencang. Ia hampir menangis dan bayangan mimpinya tadi berputar putar dikepalanya.


"Apa ini nyata", Zia meraba wajah Angga dan mencubit sendiri lengannya. Ia seperti bermimpi tapi dia merasakan sakit saat dia mencubit lengannya sendiri.


"Memang ada apa yang, kok kamu mencubit lenganmu sendiri."


"Ini aku nyata lho yang ada di depan kamu."


Zia menceritakan mimpinya tadi sambil menangis.


Angga pun tertegun mendengar cerita tentang mimpi Zia. Benar seperti yang tadi Rania bilang, bahwa hati kita telah terpaut, telah menyatu. Aku bisa merasakan saat kamu akan terkena musibah dan kini kamu juga merasakan saat aku memang mau pergi.


Zia membelalakkan matanya serasa tak percaya, "Benarkah kamu akan pergi yang?, serius ini yang."


Angga hanya mengangguk, sebenarnya ia tak tega untuk mengatakannya tapi tidak ada waktu lagi untuk menundanya. Waktunya bersama Zia hanya tinggal malam ini, besok dia sudah harus terbang ke Jakarta.


Kemudian Angga menceritakan semua kejadian yang menimpa papanya, tentang keadaan perusahaan papanya yang ada di Papua, tentang mama dan adiknya, tentang tanggung jawab yang harus ia pikul sebagai anak tertua.


Zia semakin menangis mendengar penuturan Angga. Angga mengusap air mata Zia dan mengecup puncak kepalanya sambil mengatakan kata maaf. Ia terus menggenggam tangan Zia erat seperti tidak rela untuk meninggalkannya. Zia pun menggenggam erat tangan Angga dan menciumnya tangan Angga.


"Sebenarnya aku tidak ingin pergi sayang, tapi aku tidak punya pilihan. Tugas yang menantiku disana berat Sayang. Aku ingin disini merawat kamu hingga sembuh. Aku ingin selalu ada didekatmu yang."


"Pergilah yang, mereka disana lebih membutuhkan kamu daripada aku disini. Disini masih ada mama dan Rania yang bisa menjagaku, pergilah Sayang aku rela. Aku akan setia menunggu kepulangan kamu disisiku, walaupun kita belum tau sampai kapan, aku akan tetap menunggumu yang."


Kembali Zia menangis, dan Anggapun ikut menangis.


"Aku akan sering menelphone kamu yang bila sudah tiba disana, jaga diri kamu baik-baik dan juga jaga ibu dan adik, terutama jagalah cintaku, aku ingin selamanya ada dihatimu dan kamu akan selamanya ada dihatiku walau jarak dan keadaan membuat kita terpisah untuk sementara."

__ADS_1


__ADS_2