Pesona Gadis Penebus Hutang

Pesona Gadis Penebus Hutang
PGPH 12 | Bicara dari hati ke hati


__ADS_3

Happy reading 🌻🌻🌻🌻🌻


Malam tiba datang dengan begitu cepat, di kediaman keluarga istana Najendra, telah di adakan sebuah pesta perayaan untuk menyambut kedatangan Shaka yang sempat tertunda sekaligus memperkenalkan anggota keluarga baru mereka, yaitu Kirana yang berstatus sebagai istri tuan muda Arshaka ian Najendra.


"Cih,malas benar aku di acara ini, pah. Kita pulang saja yuk," ajak Matilda pada suaminya, dengan bersikap ogah-ogahan.


"Diam mah,simpan wajah kecut mu itu. Di depan semua tamu yang hadir kita harus tetap bersikap bersahaja, biar mereka menilai kita keluarga rukun meski sebenarnya tidak. Kamu harus bisa melakukan ini atau nama kita bisa di cap jelek," pungkas Wijaya, memperingatkan istrinya.


Matilda berdecih acuh, wanita yang di penuhi perhiasan di leher dan tangannya itu akhirnya menjauh dari sang suami dan lebih memilih bergabung dengan wanita sosialita lain yang hadir bersama suami mereka.


Di sisi lain, Arkan tengah bersiap di bantu oleh Olivia, mereka tak banyak bicara meski sudah satu tahun menjalani kehidupan rumah tangga namun semuanya terasa anyep untuk Olivia, Arkan seperti sama sekali tak peduli dengan kehadirannya.


"Mas, aku ingin mengajukan pertanyaan padamu," ucap Olivia di sela gerakan ia membetulkan letak dasi Arkan.


"Apa?" pria itu menyahut ala kadarnya, ia terlihat lebih fokus pada ponsel di genggamannya.


"Kenapa kamu menikahi ku kalau kita begini-begini saja?"


"Bentar aku ada telepon." nampaknya Arkan sana sekali tak mendengar apa yang Olivia ajukan sebagai pertanyaan.


Laki-laki itu lantas menjauh tanpa mempedulikan raut wajah Olivia yang terlihat sedih.


"Aku lelah mas jika seperti ini terus ... " lirih Olivia bergumam, lalu tanpa sadar ia mengingat kembali kebersamaan Kiran dengan ibu dan nenek Shaka, terbesit rasa cemburu di hatinya.


...---------Oo-------...


Di kamar Shaka, terlihat Kiran yang tengah di rias oleh tim make up aktris terbaik yang sengaja di pesan oleh Shaka. gaun biru laut yang tampak sangat cantik dengan di hiasi oleh berlian asli di datangkan langsung dari Paris untuk di pakai Kiran malam ini.


"Nona, anda memiliki kulit yang sangat sehat, proporsi tubuh anda juga ramping dan indah, jarang saya melihat kesempurnaan seperti ini, anda terlihat seperti seorang aktris papan atas," puji salah satu orang yang membantu merias Kiran.


Gadis itu menunduk malu. "biasa saja, tidak perlu berlebihan seperti itu."


Mereka tertawa tipis.


"Anda sungguh pemalu ya."


"Anda sangat rendah hati, nona."


Ujar mereka bersamaan, suasana nampak ceria dan tak terlalu tegang karena pembawaan Kiran yang supel dan anggun membuat tim make up nyaman mengobrol dengan nya.


"Apakah sudah selesai?" seseorang tiba-tiba berseru.


Kiran dan tim make up refleks menoleh ke arah sumber suara, di mana Shaka tengah berdiri bersandar pada tembok dengan raut wajah datar.

__ADS_1


"Tuan ... " Kiran segera berdiri dari meja rias. Tim make up otomatis menunduk hormat ketika pria itu berjalan ke arah mereka.


"Pak Arshaka terlihat berkharisma ya."


"Iya, dia sangat tampan."


Bisik-bisik para tim make up wanita yang mengangumi Shaka, terdengar di telinga Kiran. ia memberanikan menatap pria itu, memang benar apa yang mereka katakan. Shaka mungkin adalah seorang pangeran yang keluar dari negeri dongeng.


"Ku tanya sama kalian, apakah sudah selesai? kenapa kalian diam saja?!" sergah Shaka saat melihat semua orang yang ada hanya bergeming menatap nya.


"Ah, maaf tuan ... " mereka menunduk serempak, karena terlalu fokus pada ketampanan sang tuan muda, mereka sampai lupa bahkan untuk berkedip.


"Nona sudah selesai kami dandani, tinggal memakai gaun nya maka nona akan siap."


"Kalau begitu, tugas kalian selesai."


"Hah? ... " mereka melongo.


"Apa tidak dengar? tugas kalian sudah selesai, kalian boleh pergi sekarang. Untuk gaun, biar aku yang akan membantu memakai nya.


Meski bingung mereka akhirnya hanyalah mengangguk, membereskan barang-barang lalu keluar dari ruangan.


"Tuan, kenapa memerintahkan mereka pergi? saya bahkan belum memakai gaunnya."


"Tapi tuan ... " Kiran tak bisa melanjutkan kata-katanya lagi, di saat Shaka semakin melangkah mendekat ia secara otomatis memundurkan langkah.


"Kenapa kau malah menjauh? masih takut dengan ku?"


"Tidak ... " jawab Kiran namun raut wajahnya menunjukkan sebaliknya.


Grep! Shaka dengan cepat menarik lengan Kiran sehingga jarak di antara mereka terkikis.


"Kenapa diam saja? tak ingin menjawab?" tegas Shaka sembari menundukkan wajah untuk melihat sang isteri lebih dekat.


"Bukan begitu tuan hanya saja sikap mu yang berubah baik seperti ini, aku menjadi bingung untuk menanggapi nya."


Shaka bergeming sesaat demi mendengar penuturan Kiran mungkin itu adalah ungkapan perasaan nya membuat ia lagi gadis itu sedikit demi sedikit bisa terbuka dengan nya.


Shaka mengambil nafas sejenak lalu berucap. "Mulai detik ini kau harus bisa menyesuaikan sikap ku pada mu dan lagi aku akan memperkenalkan mu ke depan publik sebagai istri sah ku."


"Tapi tuan, kamu bilang aku hanya gadis penebus hutang mu,aku ... tidak pantas untuk semua ini."


Mendengar itu Shaka tersentak sesaat lalu ia mengangkat dagu Kiran untuk menghadap nya.

__ADS_1


"Kata siapa kau tak pantas? awalnya aku memang tak acuh dengan mu, tapi mulai saat ini aku ingin lebih menghargai mu, walaupun aku tidak mencintaimu tapi nenek ku sudah menceritakan semua perjalanan hidup mu jadi aku ingin lebih bisa menerima mu sebagai istri ku kini."


"Jadi tuan berubah seperti ini hanya karena ucapan nenek?"


"Tidak, tapi ucapan Oma lah yang telah menyadarkan ku."


Kiran manggut-manggut mendengar penjelasan Shaka. Tapi satu yang membuat hatinya sedikit tersentil, saat Shaka mengatakan jika tidak mencintainya meskipun itu kenyataan entah kenapa ada sudut hatinya yang merasa sakit.


"Dengar, aku tak sekejam itu Kirana ... " tutur Shaka menyelipkan anak rambut Kiran ke belakang telinga nya.


"Meski persepsi orang-orang mengatakan ku buruk. Tapi aku tak berniat jahhat jika bukan tanpa alasan."


"Aku mengerti tuan ... " ucap Kiran, Shaka mengangguk puas setelah nya.


"Sekarang bersiaplah, aku akan membantu mu."


"Tuan! tidak usah, biar aku saja yang memakai gaunnya sendiri." sergah Kiran cepat saat Shaka hendak membantu nya.


"Kenapa?" tanya pria itu dengan alis terangkat.


"A- aku malu ... " jawab Kiran pelan.


"Kenapa harus malu? aku bahkan sudah melihat seluruh tubuh mu yang polos."


Sontak perkataan Shaka membuat wajah Kiran yang tadinya merah semakin memerah karena menahan malu.


"I- itu berbeda, aku ... aku ... " karena saking gugupnya Kiran bahkan kehilangan kata- kata untuk di ucapkan.


Tep! Shaka menarik lengan Kiran hingga gadis itu tersentak.


"Aku membantu mu memakai gaunnya."


"Tapi--"


"Sssst! aku tidak suka di bantah!"


Akhirnya mau tak mau Kiran hanya menurut, mereka memasuki ruang ganti dan Shaka membantunya memakai gaun tanpa melakukan apapun lagi karena ia tahu sang isteri masih tengah kesakitan karena permainan pannas mereka yang lalu.


"Mungkin kali ini kamu terbebas, tapi nanti malam kamu tidak bisa menolak saat di bawah kungkungan ku." bisik Shaka menggoda di telinga Kiran membuat wajah cantik itu semakin memerah ngeblush.


"Lucu sekali ... " Shaka merasa gemas dengan tingkah sang istri, mengusap pipi gadis itu pelan.


To be continued ...

__ADS_1


__ADS_2