Pesona Gadis Penebus Hutang

Pesona Gadis Penebus Hutang
PHGP | Bab 43


__ADS_3

...💞 Happy reading 💞...


Plakk! sebuah tamparan keras mendarat telak di pipi mulus Fiona. Wanita bergaun merah menyala itu menatap lekat wajah sang ibu yang baru saja melayangkan tamparan itu padanya.


"Tega sekali kau ... " Renata menggeleng pelan seolah tak percaya dengan apa yang baru saja di katakan oleh putri nya itu. "Di luar sana adik mu masih juga belum di temukan, sedang apa dia dan di mana dia sekarang? apa dia baik-baik saja tapi kau di sini malah meributkan tentang hak warisan. Di mana hati nurani mu Fiona?"


"Bunda yang harusnya berfikir!" Fiona tidak kalah berteriak. "Shaka sudah matti, Bun! terimalah fakta itu!"


"Fiona!"


Semua orang terkesiap dengan membulatkan mata, ketika satu tamparan kembali di sebelah pipi Fiona dengan begitu keras nya, Renata menatap nyalak seakan tengah mengumpulkan semua emosinya saat ini.


"Tutup mulut mu! Shaka belum matti, jasad nya bahkan tidak di temukan. Dan kau tahu, saat ini istri Shaka juga menghilang, kita sedang berupaya untuk mencarinya dan kau dengan seenaknya mengatakan untuk memindahkan semua harta warisan atas nama mu?!"


"Bun, yang kau lakukan untuk kebaikan kita juga, saat ini perusahaan sedang krisis karna tidak ada lagi Shaka yang dapat memimpin. Aku di sini untuk mengemban tanggung jawab yang Shaka tinggalkan dan juga hak warisan almarhum papa, jika tidak di pindahkan atas nama ku, maka orang- orang serakah yang sejak dulu ingin mengambilnya akan mudah untuk merebutnya dari kita."


"Kau!" Renata dengan mata menyala- menyala hendak melayangkan tangan nya kembali, namun tidak sampai cukup tenaganya untuk melakukan itu tiba-tiba kesadarannya hampir hilang, jika saja tidak ada Liam dan bik Sukma yang sigap Renata mungkin akan terjatuh ke lantai.


"Cukup Fiona!" tak tahan melihat semua kericuhan ini, Helen datang dengan mendorong kursi roda nya sendiri.


"Oma ... " Fiona terlihat gemetar di tempat, sebelumnya ia hendak membicarakan semua ini pada ibunya dulu sebelum ia mengatakan nya secara langsung ke depan keluarga besar. Namun tidak di sangka ibunya malah menolak mentah-mentah niat baiknya.


"Ck,bisa hancur semua rencana ku." batin Fiona merasa gusar.


"Oma," Fiona memanggil dengan nada lembut berusaha melunakkan hati sang nenek, yang memang semenjak kematian ayahnya, sudah menjadi tonggak untuk keluarga ini.


"Oma pasti juga sudah melihat surat pernyataan ku, oma yang coba ku lakukan ini juga semua untuk keluarga kita, setelah kematian Shaka tidak ada lagi orang yang setara yang bisa menggantikan posisi nya, tapi oma sekarang perusahaan kita sedang krisis kita perlu pemimpin baru untuk kemajuan berikutnya."


Helen semula membeku, namun wajahnya tiba-tiba mendongak menatap cucu pertama nya itu dengan raut datar. "Oma paham dengan apa yang coba kau utarakan, tapi mengertilah kita semua juga perlu waktu, dan untuk perusahaan kamu bisa menggantikan posisi Shaka untuk sementara,"


"Benarkah?" tiba-tiba rona wajah Fiona berubah sumringah.


"Ya, bagaimanapun hilangnya Shaka tidak bisa menghambat kinerja perusahaan. Tapi itu bukan berarti kau bisa menjadi pemimpin selamanya."


Fiona yang awalnya sudah sangat gembira, gestur wajahnya langsung berubah kembali, datar.


"Tak apalah,toh Shaka juga sudah matti, aku pasti akan menjadi pemimpin selamanya."


Batin Fiona, tertawa dalam hatinya.


"Liam! besok pagi, panggil seluruh pemegang saham juga jajaran direksi, kita adakan rapat darurat!"


Liam dengan wajah sendu, tidak dapat melakukan apa-apa selain mematuhi perintah.

__ADS_1


"Baik oma."


"Yes, rencana ku pelan-pelan pasti akan berhasil."


Fiona tak bisa menahan senyum kemenangan nya dan itu di saksikan langsung oleh Helen. Wanita berusia senja tersebut menghela nafas, meringis, sesak tiba-tiba datang menghimpit dada.


"Benar kata mu Shaka, karna harta semua orang bisa berubah termasuk keluarga yang bisa menjadi musuh."


Helen menangis pilu dalam hati nya.


...---------Oo-------...


Sang mentari pagi datang, sinarnya menyorot hangat di sebuah pemukiman pedesaan yang masih kental keasrian alam nya.


Sudah hampir seminggu Shaka dan Kirana ada di pemukiman desa ini dan mulai berbaur dengan semua penduduk warga di sini.


Layaknya keluarga, mereka di sambut hangat, para warga sudah menganggap pasangan suami-istri itu sebagai bagian dari mereka.


Seperti pagi ini, Kirana biasa bangun sebelum ayam berkokok, bisa melihat lagi wajah tampan suaminya setiap bangun tidur adalah anugerah yang tidak terkira dengan apapun yang ada di dunia ini.


"Selamat pagi ... " Kirana yang sudah wangi sehabis mandi, berusaha membangun kan suaminya dengan mengecup rahang pria itu.


Shaka yang masih bertelanjang dada pun mulai terbangun, kelopak mata yang di hiasi bulu lentik itu mulai terbuka, lalu bibir tipisnya pun mengembang senyum manis.


"A- apa yang mas lakukan?" Kirana mencegah bibir pria itu dengan telapak tangannya.


"Aku butuh asupan vitamin pagi ini? apa tidak boleh?"


"Mas, sekarang kita tidak sedang di rumah jangan seperti anak kecil," ucap Kirana memperingati, sudah hampir seminggu ini kondisi Shaka sudah mulai pulih,dan sikap pria itu pun perlahan-lahan sudah mulai kembali manja padanya. Bagaimana cara menjelaskan ke suaminya ini jika mereka bukan sedang berada di hotel melainkan di tempat penampungan?


Kenapa setelah sembuh Shaka semakin manja?


"Persetan dengan di mana kita saat ini! asalkan ada dirimu aku tidak bisa menahan diri ku." Shaka dengan tatapan lembut namun tegasnya, berhasil menarik Kirana hingga terbaring di atasnya, ia hendak mengambil kesempatan itu sampai tiba-tiba ...


Tok! tok!


"Ekhem?!"


Suara dehaman keras mengagetkan mereka. Nenek Mina dengan tampang tanpa dosa berdiri di depan pintu kamar keduanya.


"Nak Shaka, nak Kirana ayo ... warga desa sudah menunggu kehadiran kalian."


Wajah Kirana dan Shaka berubah seketika, keduanya segera memperbaiki posisi ke semula dengan menatap akward.

__ADS_1


"Baik nek." jawab Kirana kemudian dan Shaka pun mengangguk cepat.


Nenek Mina seketika tersenyum berubah lebih ramah. "Baiklah, kalau begitu kalian bersiap-siap lah."


Lalu wanita sepuh yang mengandalkan tingkat kayu untuk menopang tubuh nya tersebut berlalu dengan senyum yang tak lekang seraya menggeleng kepalanya.


"Dasar anak muda."


Setelah kepergian nenek Mina, keduanya pun menghela nafas lega, Kirana dengan bibir mengerucut lantas mencubit lengan kekar Shaka.


"Gara-gara kamu!"


Shaka yang semula memasang raut kaget tiba-tiba tertawa. "Kenapa kau malu?"


Kirana tidak menjawab namun pipi nya yang memerah seperti apel ranum, menjelaskan segalanya, hal itu sontak semakin membuat Shaka merasa gemas pada sang istri.


Cup!


Shaka mengecup pipi perempuan itu.


Kirana membulatkan mata terkejut. "Mas!"


Mendapatkan reaksi seperti itu Shaka kembali melayangkan kecupannya, pipi Kirana sontak bersemu.


"Aku suka kamu yang bersikap manja seperti ini, menggemaskan."


Kirana dengan menahan malu berusaha kabur dari mata Shaka yang begitu dalam menatapnya.


"Sudahlah, kita harus bersiap-siap."


"Tunggu!" Shaka menarik lengan Kirana yang hendak pergi.


"Haruskah kita mandi bersama?"


Dahi Kirana mengkerut lantas dia menggeleng. "Aku sudah mandi."


"Maka kau harus mandi dua kali, tidak ada penolakan untuk ku.'


Aaaa! Kirana berteriak histeris saat Shaka sudah membawa tubuhnya dalam gendongan.


"Mas! apa yang kamu lakukan, turunkan aku, bagaimana jika ada orang melihat kita?!"


"Aku tidak peduli. Aku ingin kita mandi bersama," ujar Shaka dengan mengedipkan sebelah matanya, Kirana berteriak meski begitu ia tak bisa menahan tawanya, hatinya merasa begitu bahagia, anda masa-masa seperti ini selalu hadir di dalam kehidupan mereka.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2