Pesona Gadis Penebus Hutang

Pesona Gadis Penebus Hutang
PHGP 08 | Merawat Kiran yang sakit


__ADS_3

Selamat membaca🌻🌻🌻🌻🌻


"Jadi ada apa dengan tubuh nya?" tanya Shaka pada dokter yang selesai memeriksa kondisi Kirana. Untuk sejenak lelaki itu menoleh menatap Kirana yang kini masih memejamkan matanya di atas pembaringan, ada perasaan bersalah yang kini muncul di hati Shaka.


"Suhu badannya sangat panas, kemungkinan dia mengalami demam parah dan atas responnya yang kelihatan ketakutan, pasien sepertinya mengalami sebuah trauma."


"Trauma?" dahi Shaka berkerut begitu mendengar penjelasan sang dokter.


"Ya, pasien mengalami trauma. Begitu banyak beban yang sepertinya ia tanggung sendiri, di tambah mungkin masa kecil yang kelam membuat pasien merasa terancam hingga berakhir memberontak tanpa alasan. Saya sarankan, coba ajak pasien untuk berbicara, perlakukan dia dengan lembut, agar traumatis nya itu bisa sedikit mereda. Dan jika semakin parah bisa langsung berkonsultasi pada psikolog, untuk penanganan lebih lanjut."


Shaka tercenung, ia menoleh kearah Kirana kembali yang masih belum membuka matanya. Tak pernah pria itu sangka, jika Kirana memiliki masalah yang begitu berat hingga menyebabkan trauma.


"Saya sudah menyiapkan obat dan petunjuk nya, anda bisa memberikan nya begitu pasien sadar. Kalau begitu saya permisi."


Shaka mengangguk lantas ia mengantar kepergian sang dokter hingga di depan pintu kamar. Begitu akan berbalik lagi, sang nenek dan ibunya menghadang jalannya.


"Bagaimana keadaan istrimu, Ka?" tanya Helen dan Renata, khawatir. Mereka dengan tergesa-gesa datang kesini setelah melihat dokter pergi.


"Dokter bilang hanya demam saja, Oma, bun." jawab Shaka. Ia tak menceritakan tentang trauma yang di alami Kirana tak ingin mereka semakin khawatir.


"Sudah di kasih obat?" tanya Renata.


"Belum bun. Dia belum sadarkan diri," ucap Shaka, tiba-tiba perasaan bersalahnya semakin besar. Ia tak mengerti kenapa, yang pasti ia bertanggung jawab atas apa yang terjadi pada Kirana saat ini.


Renata syok mendengar nya. "Apa separah itu kondisi istri mu, Ka?"


"Sudah lebih membaik bun. Tinggal menunggu dia siuman saja, bunda tak perlu secemas itu."


Renata menghela nafas dalam menyadari sikap Shaka yang nampak tak acuh dengan kondisi Kirana saat ini.


"Ka, bunda dan nenek sudah tahu cerita asli dari isteri mu yang sebenarnya," ujar Renata, pelan.


Shaka membola. "Dia cerita apa saja kepada kalian?"


"Tidak usah semarah itu." sergah Helen cepat, ikut menimpali pembicaraan, melihat rona amarah di wajah Shaka saat ini. "Ka, kasihan gadis itu, entah alasan apapun jika kamu tidak menginginkan nya, lepaskan saja dia. Daripada dia terus terluka berada di samping mu."


Shaka termenung. Melepaskan Kirana? bisakah ia melakukannya?

__ADS_1


"Kamu tahu? Kiran ternyata di jual oleh paman dan bibinya sendiri, gadis malang itu memiliki kehidupan yang tragis, meskipun kamu menikahi demi tujuan mu sendiri, tapi cobalah untuk memperlakukan nya dengan baik."


"Apa yang di katakan ibumu benar, Shaka. kami sudah sempat mengobrol tadi pagi. Kirana memilki kehidupan yang sangat buruk, janganlah kamu menambah penderitaan nya lagi. Cobalah buka mata dan hatimu, pernikahan kalian begitu cepat di laksanakan, kalian masih perlu banyak waktu bersama dan beradaptasi," kata Helen memberikan nasihat nya untuk Shaka, berharap pria itu mengerti dan bisa memperlakukan Kirana dengan baik.


"Ini berikanlah nanti pada isteri mu jika dia sudah siuman." Helen memberikan nampan yang sedari tadi ia bawa, berisi semangkuk bubur dan air minum hangat.


Shaka menerimanya dengan sedikit ragu. Matanya menatap nampan yang di berikan sang nenek dengan benak yang berkecamuk.


"Ingatlah ini Ka, meski kamu tidak mencintai Kirana, cobalah perlakukan dia dengan baik ya." Helen mengusap lengan berotot pria itu.


Lalu setelah nya dua wanita itupun pergi meninggalkan Shaka dengan pikiran panjangnya.


...--------Oo--------...


Pagi ini Kiran baru bisa siuman dari tidur panjangnya. Ia merasakan sakit luar biasa menimpa kepalanya, sangat berdenyut.


Begitu ia menoleh, wajahnya sudah langsung berhadapan dengan wajah seorang pria yang menatap tanpa ekspresi ke arahnya.


"T- tuan ... anda." Kirana tersentak, ia hendak bangkit namun Shaka menahannya.


"Jangan banyak bergerak." titah Shaka dengan suara dingin saat Kiran memaksakan dirinya untuk turun dari ranjang.


"Tidak perlu." tukas Shaka. Pria itu kemudian mengambil nampan baru yang di berikan sang nenek baru saja, ada semangkuk bubur yang masih mengepulkan sedikit asapnya, air minum dan obat.


"Minumlah air ini dulu," perintah Shaka mengulurkan segelas air pada Kiran.


Bukannya menyambut, Kiran justeru menatap aneh dengan perubahan sikap Shaka yang tiba-tiba.


"Kenapa pria ini berubah baik padaku?"


"Tunggu apa lagi? ambil airnya. Tenang saja aku tak memberikan racun di dalamnya."


"T- tidak tuan, hanya saja ... "


"Cepat terima atau aku akan marah!" ujar Shaka menekankan setiap perkataannya membuat Kirana tak sampai melanjutkan ucapannya.


Di tatap bengis seperti itu Kiran pun menurut. Ia mengambil gelas berisi air hangat-hangat kuku di tangan Shaka lalu meminumnya setengah.

__ADS_1


"Sudah lebih baik?" tanya Shaka nampak acuh tak acuh namun entah kenapa Kirana seperti merasa ada terselip ketulusan di sana.


"S- sudah tuan ... " jawab Kirana sedikit gugup. Perubahan sikap yang mendadak baik seperti ini justru malah menimbulkan kewaspadaan baru di hati Kirana.


"Meskipun kamu tidak mencintainya tapi setidaknya perlakukan lah istri mu dengan baik."


Perkataan sang nenek kembali terngiang di benak Shaka. Pria yang duduk dengan bergaya bossy itu perlahan-lahan merubah posisi duduknya ketika memperhatikan Kirana dengan lekat. Apakah kini kepedulian mulai hinggap di hatinya yang sekeras batu? Bisakah ia memperlakukan Kirana dengan baik?


"T- tuan mau apa?" Kirana bertanya heran, saat melihat Shaka yang mengambil mangkuk bubur dan mengaduk nya perlahan.


"Kau harus minum obat, jadi kau harus mengisi perut mu dulu," ucap Shaka dengan santainya tak peduli jika kini Kirana tengah mati-matian menahan ekspresi terkejutnya.


"S- saya bisa m- makan sendiri kalau begitu." Kirana hendak mengambil mangkuk tersebut karena merasa tak enak, tapi Shaka justru menjauhkan nya.


Dengan raut wajah yang masih kaku dan suara batinnya yang dingin Shaka berucap lagi. "Kau mau melawan perintah ku?"


"Tentu tidak tuan ... "


"Makanya menurut!"


Kiran bergeming, ia tak bicara apa-apa lagi. Terlalu banyak perubahan sikap Shaka yang membuat pikiran semakin semrawut. Aneh! itulah satu kata yang muncul di otaknya untuk sikap Shaka saat ini.


"Buka mulut mu!" ucap Shaka, mengintruksi sambil tangannya menyodorkan sesendok bubur ke hadapan Kiran.


"Tak pernah aku melakukan ini pada orang lain. Kau adalah orang pertama yang membuat ku harus menyuapi mu, jadi buka mulut mu!" titah Shaka lagi ketika di dapati nya Kiran tak merespon sama sekali.


Akhirnya Kiran mengangguk cepat sebagai respon, ia tak ingin pria itu marah lagi, Kiran pun menerima suapan dari Shaka dan mengunyah buburnya pelan-pelan.


Sementara di luar, ada Helen dan Renata yang ternyata diam- diam sedang mengamati di balik pintu. Mereka nampak senyam-senyum lalu saling bertepuk tangan, gembira.


"Kita berhasil menantu ku, akhirnya Shaka mau membuka sedikit hatinya dan mau mendengarkan kita," ucap Helen yang langsung di angguki oleh Renata.


"Iya bu. Aku senang melihat bagaimana Shaka yang sudah mulai perhatian, semoga ini menjadi awal yang baik untuk hubungan mereka berdua."


"Aamiin, semoga saja ya. Ya sudah, sekarang kita pergi, biarkan mereka menikmati momen berdua lebih lama lagi."


Renata kembali mengangguk dengan usulan ibu mertuanya lalu dua wanita itupun pergi membiarkan Shaka dan Kiran berdua lebih lama.

__ADS_1


To be continued ....


__ADS_2