Pesona Gadis Penebus Hutang

Pesona Gadis Penebus Hutang
PGPH 07 | Tanda kepemilikan


__ADS_3

Happy reading 🌻🌻🌻🌻


Saat malam tiba, Shaka kembali dengan keadaan babak belur yang membuat semua orang panik di buatnya.


"Ada apa ini nak? kenapa kamu luka- luka begini?" tanya Renata begitu khawatir.


Shaka berjalan tertatih-tatih menuju kursi di papah oleh ibu dan neneknya, sementara Kiran menatap sama cemasnya.


"Shaka gak apa-apa bun. Ini hanya kerjaan orang iseng saja yang kebetulan ingin membegall ku," ucap Shaka berbohong, tak mungkin ia mengatakan sejujurnya jika ia habis berkelahi dengan musuh-musuhnya di dunia bawah tanah. Shaka tak ingin membuat kedua bidadari nya itu semakin khawatir.


"Kenapa bisa sampai kamu terluka? apa tidak ada bodyguard mu yang menjaga?" tanya Helen, mengusap peluh di wajah Shaka.


"Sudah tidak apa-apa oma, aku baik-baik saja."


"Apanya yang baik-baik saja sementara wajah mu penuh luka bonyok begini?" sergah Helen kesal sekaligus cemas di rasakan nya.


"Kiran, kamu tolong ambilkan air hangat ya sekalian kotak p3k kesini, kalau tidak tahu minta bibi di dapur untuk menunjukkan letak nya di mana."


Kiran yang mendengar perintah itu langsung mengangguk. "Baik, oma."


Dari ekor matanya Shaka melirik langkah kaki Kiran menapak, di saat keadaan nya seperti ini ia malah berfikir sesuatu yang lain. "Siaal! kenapa bajunya begitu pendek. Apa dia mau menantang ku huh?!" batin Shaka di penuhi jengkel seketika.


Tak lama, Kiran datang kembali dengan baskom berisi air hangat, sebuah handuk kecil dan kotak p3k, Helen lalu mengambil handuk yang sudah di basuh air hangat dan di tempelkan nya pelan-pelan di wajah Shaka yang memar.


Sssh Shaka sedikit meringis karena luka-lukanya yang lumayan perih.


"Biar Shaka saja oma."


"Eh kamu mau kemana?" Helen menatap heran Shaka yang berdiri begitu saja.


"Aku mau mengobati nya di kamar saja," pungkas Shaka.


Helen mendessah pelan. "Ya sudah. Kiran, Tolong kamu obati luka Shaka ya."


Kiran hanya bisa mengangguk. "Baik oma.


Di kamar mereka berdua.

__ADS_1


Brak! tiba-tiba saja Shaka mendorong kasar, hingga punggung Kiran membentur dinding.


"Apa yang kau lakukan?!"


"S- saya mau mengobati luka tuan ... " jawab Kiran terbata-bata, merasa takut dengan tatapan Shaka yang begitu bengis.


"Itu tidak di perlukan!" Shaka melempar obat dan kapas di tangan Kiran.


"Sekarang jawab pertanyaan ku, kenapa kau memakai baju sependek ini?!"


Hah? otak Kiran memutar dua kali lebih cepat berpikir keras dengan pertanyaan Shaka yang melenceng.


"K- kenapa tuan menanyakan itu?!"


"Jawab saja, jangan banyak tanya!" sengit Shaka kembali naik pitam.


"I- itu karena oma yang memberikan nya dan pakaian yang di berikan oma modelnya seperti ini semua itu."


"Mulai besok jangan memakainya lagi. Aku akan membelikan mu pakaian yang lebih tertutup. Camkan ini baik-baik tubuh mu ini hanya milikku, kau berpakaian seminim ini sama saja mengundang tatapan lelaki lain untuk melihatnya, dan aku sama sekali tak ingin itu terjadi! kau paham itu!"


"Dan satu lagi, jangan pernah memanggil pria manapun dengan sebutan tuan selain aku, mengerti!" Shaka menekankan setiap kata-katanya dengan suara membentak.


Melihat Kiran yang menutup mata dengan raut wajah ketakutan, beralih pada kulit leher gadis itu, hanya dengan seperti ini entah kenapa bisa membuat hassrat nya kembali menaik, Shaka berdecih lalu mencengkeram pipi Kiran lantas mencivm bibir ranum sang gadis dengan buas.


Suara cecapan mereka terdengar menggema di kamar yang di desain kedap suara itu, tangan besar Shaka beralih ke punggung Kiran menarik seleting gaun dan menurunkan nya dengan tergesa tanpa melepas paggutan mereka, Shaka merebahkan tubuh Kiran yang tak berdaya di atas ranjang.


Sebelum memulai pergellutan pannas mereka, Shaka tergerak untuk mengecup kening Kiran dengan lembut, mengambil alih dan merasakan kembali kenikmatan berhubungan inttim yang belum pernah Shaka rasakan selama ini.


Hanya kepada Kiran yang mampu membuat Shaka bertekuk lutut untuk lagi-lagi melakukan permainan pannas di atas ranjang, bahkan kepada Olivia sang mantan kekasih, Shaka tak pernah sama sekali merasakan seperti ini.


"Kau membuat ku gilla, Lentera Kirana."


...---------Oo-------...


Kiran bangun dengan sekujur tubuh kembali terasa remuk. Menoleh, Kiran sudah tak mendapati Shaka di sampingnya, perlahan ia bangkit menarik selimut untuk menutupi tubuhnya yang polos dan menatap ke sekitar lehernya, begitu banyak mahakarya yang ditinggalkan Shaka di sana, bercak merah membiru entah tanda kepemilikan atau kekejaman pria itu.


Pelan-pelan kaki Kiran menuruni ranjang, ia merasakan gemetar yang luar biasa, air matanya luruh satu persatu, entah sampai kapan penderitaan nya ini akan berakhir.

__ADS_1


Di lain tempat, Shaka tengah menyandar punggung di tembok, seraya menghisap rokok di selipan jemarinya, memperhatikan setiap gerak-gerik wanita di atas kasur.


Arah matanya dengan setia mengikuti ke mana langkah Kiran pergi, gadis itu duduk di kursi meja rias, ia seperti sedang mengoleskan sesuatu di dalam wadah plastik ke tanda kepemilikan yang telah Shaka buat.


Sontak Shaka membuang puntung rokok nya dan melindas nya dengan telapak kaki telanjang tanpa merasakan sakit sedikit pun karena bara dari puntung rokok yang masih menyala itu.


Shaka mendekati Kiran, gadis itu terlihat sangat terkejut dengan kehadiran nya.


"Tidak!" Kiran sontak memekik menyilangkan lengan ke depan, begitu Shaka mendekatinya.


"Ada apa dengan mu?" tanya Shaka dengan dahi berkerut.


"Aku mohon jangan apa-apakan aku, please!" Kiran meraung-raung seperti sedang terancam, Shaka justru semakin mendekat ke arahnya dan memegang kedua lengan gadis itu.


"Hei diam! aku hanya ingin membantu mu!"


"Enggak! aku gak mau!'


Shaka berdecak, ia lantas menarik bahu Kiran agar bisa berhadapan dengan nya.


"Kirana!" sentak Shaka. Baru kali ini ia memanggil nama lengkap gadis itu.


"Diam oke? sssst!" Shaka menempel kan telunjuk di bibir nya, perlahan Kiran menurut, ia diam teratur tapi dengan masih menatap waspada ke seluruh penjuru arah.


Serr! seperti ada rasa nyes di dalam dada Shaka saat melihat kondisi Kiran, apakah semua ini karena dirinya?


Grep! Shaka membawa tubuh mungil Kiran dalam gendongannya dan membawa lalu membaringkan nya di kasur kembali.


Kali ini emosi Kiran sedikit lebih stabil meski tangan dan bibirnya masih gemetar, ketakutan.


Shaka menaruh telapak tangannya ke kening gadis itu.


"Dia demam?" gumam Shaka.


Pria itu pun akhirnya memutuskan untuk memanggil dokter agar bisa menangani kondisi Kiran lebih lanjut.


"Kau ... gadis penebus hutang, sihir apa yang kau gunakan hingga bisa mengusik ketenangan ku seperti ini?"

__ADS_1


Batin Shaka melirik ke arah Kiran yang terbaring memejamkan mata.


__ADS_2