
...💞 Happy reading 💞...
"Dia belum sadar juga." seru seorang warga desa, mereka berkumpul di sekitar pembaringan di mana seorang pria kini tengah terbaring dengan tak sadarkan diri.
Mereka saling berpandangan lalu berbisik-bisik, menguraikan pendapat juga keputusan apa yang akan di ambil untuk pria asing yang mereka temui ini, ke depannya. Tak lama kemudian pak Akbar selaku kepala desa datang untuk menjenguk kondisi pria asing, bersama para ajudannya, ia kemudian menatap para warganya.
"Belum ada kemajuan?" tanya pria berusia 51 tahun itu.
Para warga menggeleng perlahan. "Belum pak kades."
Pak Akbar menghela nafas berat,rona wajahnya berubah muram ikut merasa simpatik pada pria yang masih dalam kondisi kritis. "Baiklah, kita tunggu hingga hari berikutnya, yang terpenting di rumah singgah ini beliau aman dan ada yang menjaga."
"Sepertinya pria asing ini berasal dari keluarga kaya pak kades." celetuk bapak-bapak yang berdiri di sisi pintu berdempet dengan warga yang lain.
"Kelihatannya begitu, di lihat dari wajahnya juga pakaian seperti nya pria asing ini bukan orang sembarangan."
"Pasti ada yang sengaja mencelakainya hingga dia berakhir seperti ini."
Mereka mengangguk-ngangguk lantas saling beradu argument tentang asal muasal pria asing tersebut bisa sampai mengalami kecelakaan dan hanyut di sungai.
"Sudah!" pak Akbar menengahi. "Jaga opini kalian, lebih baik kita keluar, biarkan pria ini sampai dia benar-benar pulih." titahnya kemudian. Lantas para warganya pun mengangguk setuju dan mereka pun keluar satu persatu membiarkan Shaka tetap terbaring di atas ranjang dengan masih menutup mata.
Di hutan belantara, Kirana berlari terhantuk- hantuk, kakinya yang melangkah tanpa alas terlihat penuh luka sayatan akibat ranting pohon yang di injak nya, meski begitu Kirana tak kenal lelah untuk terus berlari dengan memegang sebelah lengannya yang terluka akibat terkena pecahan beling saat ia terjatuh dari lantai kamar nya.
Kini air mata Kirana sudah kering, ia tak bisa lagi menangis, yang ada justru kekuatan yang semakin berkobar dalam dirinya muncul setelah keyakinan jika Shaka masih hidup semakin kuat. Hatinya tak pernah salah, ia akan menemukan sang suami bagaimanapun rintangannya.
"Tunggu aku tuan ... aku akan menemukan mu, hati kita selalu terhubung, aku yakin kamu pasti bisa mendengar jeritan hatiku, ku mohon ... "
Langit sudah berwarna jingga di atas sana, Kirana tak yakin ia sudah sampai mana, yang pasti di sini sangat lah suram, pepohonan besar berdiri menjulang seolah tengah menatapnya, Kirana berhenti sejenak untuk mengatur nafasnya yang terasa ngos-ngosan, ia mengusap keningnya yang berkeringat.
Astaga! ia bahkan tak ingat di mana tempat terakhir mobil suaminya di temukan. yang pasti itu adalah jurang, tapi di mana?
Kirana mendessah pasrah, sekarang ia hanya bisa berdoa pada Tuhan untuk menunjukkan jalan yang benar padanya.
__ADS_1
"Pokoknya temukan wanita itu, hidup ataupun matti!"
Kirana terhenyak, jantungnya berdentum sangat kuat saat mendengar lengkingan suara yang ia kenal.
"A-arkan! kenapa dia bisa mengejar sampai sini!" Kirana panik, posisinya semula duduk ia paksakan untuk kembali berdiri, tungkai kakinya terasa sangat lemas akibat perjalanan jauh.
Sementara lima ratus meter darinya, ada Arkan bersama anak buah nya yang kini tengah menyisir hutan untuk mencari keberadaan Kirana.
"Kau tak bisa lari dari ku wanita siaalan! lihat saja, aku akan membalas berkali-kali lipat rasa sakit yang kau berikan!" geram Arkan sambil memegang kepalanya yang di perban akibat ulah Kirana yang melemparnya dengan vas bunga. Arkan bisa sampai mengejar langkah Kirana sampai ke dalam hutan karena anjing pelacak yang mencium aroma gadis itu kemudian mencarinya hingga kesini. Arkan yakin Kirana tak akan bisa lari jauh-jauh.
...---------Oo-------...
Liam baru saja pulang dari kantor, ia sampai harus melakukan konferensi pers menyangkut keadaan yang terjadi di mansion saat ini, karna kabar tentang Shaka sampai bocor ke khalayak umum, Liam sebagai ajudan setia sampai harus membuka suara agar para pemburu berita tidak lagi menggoreng kabar tentang Shaka hingga menjadi sebuah fitnah. Liam menggeleng frustasi, ia harus kembali lagi ke mansion untuk membuat laporan besok.
Sampai tiba ia melewati kamar nona muda nya, hati Liam tergerak untuk melihat kondisi istri tuan mudanya itu.
Baru beberapa pengalaman ia mendekat, tiba-tiba bi sukma datang dengan membawa nampan kecil di tangannya.
"Eh, ada den Liam." seru wanita setengah baya itu sedikit terkejut.
"Iya den." mendadak wajah bi Sukma berubah muram. "Saya sedih, akhir-akhir ini nona muda hanya mengurung diri di kamar saja, ini sudah bulan ketiga semenjak berita kecelakaan tuan Shaka dan nona muda belum bisa menerima keadaan ini dan hanya terbaring sambil memeluk foto tuan Shaka di kamarnya."
Liam turut merasakan kepedihan yang sama. "Apa nona muda mau makan?"
"Jarang den, hanya sekali dua kali itupun harus kami paksa dulu."
Liam menghela nafas panjang. "Akhir-akhir ini kondisi memang tidak kondusif, seperti nona muda, Oma juga nyonya besar juga sedang mengalami masa keterpurukan mereka, kita tidak bisa melakukan apa-apa selain menjalankan kewajiban kita."
"Den Liam benar. bibi cuma berharap semoga kasus tuan Shaka bisa menemukan kejelasan, jika memang beliau sudah tiada semoga mayatnya bisa di temukan," ujar bi Sukma sambil menyusut mata dan hidung nya yang berair.
"Ya sudah, bibi mau ngasih makanan ke nona muda kan?" Liam hendak membuka pintu kamar Kirana namun saat pintu terbuka lebar alangkah terkejutnya mereka saat melihat isi yang ada di dalam sudah berantakan seperti kapal pecah.
"Nona Kirana!" bi Sukma memekik tertahan, panik segera menyergap nya.
__ADS_1
"Nona Kirana menghilang den, ya Tuhan gimana ini?!"
Liam pun ikut merasa panik, ia segera menelpon para bodyguard untuk mencari sang nona muda.
Sementara itu di tempat lain, layaknya seperti film laga aksi, Kirana terus berlari kencang sekuat upaya tenaga nya di tengah serbuan anak buah Arkan yang sudah berhasil mencium keberadaannya.
"Mau lari kemana kau, hah?!" Arkan yang ikut mengejar, menyeringai senang, gadis itu tak akan cukup kuat untuk bisa kabur lagi.
Sesekali Kirana menoleh ke belakang, anak buah Arkan sudah semakin mendekat ke arah nya, di situasi seperti ini entah bagaimana Kirana seperti mendapat kekuatan lebih untuk bisa terus berlari dari kejaran pria- pria jahhat itu.
Langit semakin gelap, terdengar suara ribuan burung yang berpencar keluar dari dahan pohon memecah keheningan. Terpojok, Kirana seperti tak mampu untuk mencari jalan ke luar saat di sadari nya ia berhenti di sekitar tebing yang curam.
Arkan dan anak buahnya sudah berhasil mengepungnya, Kirana tak bisa melakukan apapun, ia terpojokkan di kiri kanannya hanya ada pepohonan yang lebat di belakangnya tebing yang langsung terhubung dengan sungai yang deras dan di depannya ada Arkan bersama anak buahnya seperti sekumpulan serigala yang tengah mengerubungi mangsa mereka saat ini.
"Hahaha mau lari kemana lagi kau? kau tidak akan bisa lagi kabur dari ku!" Arkan tertawa devil, matanya berkilat seolah siap menerkam Kirana saat ini juga.
"Cepat! tangkap dia!" titah Arkan pada anak buahnya.
"Tidak! jangan dekati aku, tidak!" akibat panik otak Kirana mendadak ngefress, hingga ia terus memundurkan langkahnya dan berakhir, braaak! Kirana terjatuh ke bawah tebing.
Arkan melotot terkejut, ia segera berlari ke sisi tebing kejadiannya begitu cepat hingga ia tak sempat mencegah gadis itu terjatuh hingga terbawa arus sungai.
"Bodoh! harusnya kalian cepat-cepat tangkap dia!" geramnnya pada anak buahnya.
"Sialann! hahaha tapi tidak apa-apa, sekarang berkurang satu lagi penghalang ku!" seperti orang kerasukan, ia yang semula marah kini malah tertawa keras. "Ya bagus lah Kirana, susul suami mu ke neraka bersama!" ujarnya sambil melihat ke bawah sungai yang alirannya deras, ia yakin Kirana sudah tiada saat ini, tanpa repot-repot mengotori tangannya, dua orang sudah tersingkirkan.
Sementara itu, tubuh Kirana terbawa hanyut aliran sungai. hingga keesokannya pagi sehabis hujan mengguyur untuk ke tiga kalinya, warga lagi-lagi di kejutkan dengan penemuan tubuh wanita yang terbaring di bawa aliran sungai hingga terdampar di bebatuan.
"Ada mayat! sekarang seorang wanita, tolong!"
"Apa mayat lagi?"
"Tidak, sepertinya dia masih hidup!"
__ADS_1
Kemudian para warga berbondong-bondong membawa tubuh Kirana dan salah satu pemuda melapor pada kepala desa.
To be continued ...