Pesona Gadis Penebus Hutang

Pesona Gadis Penebus Hutang
PHGP | Bab 66


__ADS_3

...💞 Happy reading 💞...


Teresa membeku. Ia tidak bisa melawan saat Shaka dengan para anak buahnya menarik dia dari tempat persembunyiannya. Wanita itu bergeming namun tidak bisa di ukur betapa ketakutan besar yang kini ia rasakan namun Teresa masih berusaha untuk tetap tenang, ia menarik nafas dalam-dalam untuk menetralkan degup jantung.


"Kau sudah tahu, kenapa aku bisa melakukan semua ini kan Arshaka?" seru Teresa menebak dengan masih terlihat Santai.


"Ya,aku tahu," sahut Shaka tak kalah tenang. "Itu karena upaya balas dendam mu, bukan?"


Teresa tersenyum sinis. "Akhirnya kau sadar juga kriminal."


"Aku tahu aku memang bersalah telah membuat orang tersayang mu tiada," tutur Shaka dengan masih nada suara pelan,ia tahu Teresa hanya salah jalan, pikirannya yang labil telah gampang membuatnya terperdaya oleh hasutan Matilda, apalagi motif wanita itu berdasar karena semata-mata rasa sakit hati yang berasal dari Shaka sendiri.


"Tapi aku bukan Tuhan yang dapat menentukan nasib seseorang. Sepuluh tahun lalu aku masih anak remaja yang menikmati kesenangan tanpa memikirkan apapun konsekuensi yang akan ku tanggung. Kecelakaan hari itu murni karena kelalaian ku, jadi untuk nyawa ayah dan adik perempuan mu, aku minta maaf Teresa."


Raut wajah Teresa berubah seketika, matanya mulai berkaca-kaca. Perlahan pintu hatinya mulai terketuk oleh kata-kata yang di ucapkan Shaka.


"Balas dendam mu ini tidak akan bisa menghidupkan ayah dan adik mu lagi, justeru mereka akan sangat bersedih mengetahui kau seperti ini," ujar Shaka kemudian.


Teresa menangis,air matanya tumpah ruah dengan isakan yang keras. Shaka perlahan mendekat, ia hanya bisa menguatkan dengan mengusap pundak wanita itu.


"Sekarang kau harus mempertanggungjawabkan apa yang kau lakukan." Shaka lantas memberi kode pada anak buahnya yang langsung memborgol kedua tangan Teresa.


"Sekarang ikut kami ke kantor polisi dan pertanggungjawabkan semua perbuatan mu."


"Tunggu dulu!" interupsi Teresa menahan. "Aku sudah mengerti Shaka, aku sudah menerima konsekuensi yang akan ku terima. Namun sebelum itu ada satu pertanyaan untuk mu ... "


"Apa itu?" tanya Shaka.


"Minuman yang telah ku kasih racun, aku hanya tidak menduga kau dapat lolos dari racun itu sementara kau menghabiskan minuman yang ku berikan?"


Shaka terkekeh sinis."Gampang saja. Sejak awal kemunculan mu aku sudah menaruh curiga pada kalian, hingga akhirnya aku tahu kalian berusaha untuk meracuni ku. Maka aku pura-pura tidak tahu dan membiarkan kalian merasa senang dulu dengan rencana kalian itu."


Dan yang sebenarnya terjadi saat Matilda memerintahkan Teresa untuk menaruh racun ke dalam minuman yang akan di berikan Shaka, sebelum gelas minuman itu di berikan, Liam sudah memerintahkan orang kepercayaan nya untuk menukar gelas, dan minuman beracun itu Liam simpan sebagai bukti kejahatan mereka.


Mendengar penuturan Shaka, Teresa mengangguk. "Aku paham sekarang, memang sangat sulit menjebak orang pintar seperti mu."


Shaka hanya tersenyum mendengar ucapan bernada pujian itu. Teresa kemudian pergi dengan kedua tangan di borgol untuk akhirnya di adili atas semua kejahatannya.

__ADS_1


Suasana mulai kondusif. Perpecahan yang terjadi kini mulai berangsur-angsur pulih. Shaka kemudian berjalan ke luar sementara anak buahnya ia perintahkan untuk membereskan sisa kekacauan.


"Kak Fiona, dimana kau?!" Shaka berdecak kesal, ia sampai lupa dengan satu orang lagi.


Tak berselang lama,Liam datang bersama lima bodyguard. "Ada apa lagi tuan? siapa yang anda cari lagi?"


"Kak Fiona! sepertinya kita kehilangan jejaknya, ternyata dia diam-diam sudah meloloskan diri. Cari dia secepatnya!"


"Baiklah tuan!" Liam mengangguk patuh.


Sementara Renata, Oma, Olivia dan Kirana menunggu di rumah sakit, saat ini Aslan juga tengah di rawat oleh dokter dan ahli kesehatan.


Renata duduk dengan terisak, ia hanya bisa duduk sambil menunduk dengan bahu bergetar. Tergerak untuk menenangkan, Olivia menghampiri duduk di samping Renata lalu mengusap kedua pundak wanita itu.


"Olivia ... " Renata menoleh dengan mata berkaca-kaca.


"Tante tidak pernah menyangka ini semua akan terjadi, keluarga ini telah hancur." tergugu wanita itu, Olivia ikut terenyuh hanya bisa menenangkan dengan memeluk Renata seolah menyalurkan kekuatan.


Tak lama kemudian Shaka pun tiba, ia begitu khawatir dengan keselamatan orang-orang tersayang nya, Renata langsung bangkit begitu melihat sang putra dan langsung memeluknya erat.


"Aku baik-baik saja, sekarang bunda tenang okey?" pinta Shaka dengan nafas sedikit memburu karena terus berlarian sejak tadi. Ia masih kesal karena kehilangan jejak Fiona tapi untungnya semua keluarganya selamat, dan yang paling penting ia bisa melihat Kirana lagi, menantinya dengan rona kecemasan yang sama, membuat Shaka merasa sangat lega.


Mengerti akan tatapan dua insani yang terlihat begitu dalam memendam kerinduan, baik Renata maupun Olivia sama- sama memberi kode lewat lirikan mata, keduanya pun dengan kompak mengangguk.


"Bunda akan membawa Oma untuk periksa dulu," ujar Renata memberitahukan kepada Shaka.


"Olivia, kamu mau kan anterin tante, sekalian kita tengok kondisi nak Aslan."


Olivia mengangguk setuju dengan usulan itu, mereka pun pergi sengaja memberi ruang untuk Shaka dan Kirana berduaan.


...--------Oo--------...


Mendung di langit terlihat jelas, kilat menyambar- menyambar membuat Kirana tersentak kaget lalu Shaka dengan sigap mendekat memberikan perlindungan untuk wanita itu.


"Kau tidak apa-apa?" tanya Shaka yang begitu khawatir. Kirana menggeleng.


"Aku hanya kaget sedikit tadi." lirih wanita itu sangat pelan. suasana mulai akward untuk mereka berdua. Tak ada yang membuka suara, baik Shaka maupun Kirana sama-sama diam setelahnya.

__ADS_1


Shaka kemudian menuntun Kirana untuk duduk di kursi panjang tempat menunggu. Mungkin saking heningnya, debar- debar kencang di dada keduanya bisa terdengar jelas di telinga masing-masing.


"Maafkan aku ... " akhirnya satu kata itu bisa terucap dari mulut Shaka setelah sekian lama mereka hanya diam.


Hening,tak ada sahutan. Shaka menoleh dengan cepat, takut-takut jika Kirana sudah pergi, meninggalkan nya lagi dan Shaka tidak akan pernah bisa menghadapi situasi itu lagi.


"Apakah kesalahan ku sangat besar hingga kau tidak mau memaafkan ku Kirana?" tanya Shaka kembali, setelah kekosongan yang cukup panjang di antara keduanya.


"Tidak." akhirnya Kirana mau menyahut. "Aku hanya mencoba untuk berdamai dengan keadaan." pungkas wanita itu kemudian.


Semilir angin tak sengaja menerbangkan anak-anak rambut Kirana, Shaka menoleh lalu terpesona dengan keindahan yang sedang ia saksikan saat ini di depan kedua mata nya.


"Sekali lagi ku ucapkan Kirana, maafkan aku ... maafkan kebodohan ku selama ini!"


Kirana bergeming. Perasannya sangat berkecamuk saat ini, ia meremas kuat ujung dress yang di kenakan nya, mengingat kembali perubahan sikap Shaka selama ini, ternyata pria itu hanya sedang berpura-pura demi bisa membongkar kejahatan Matilda dan antek-anteknya.


Setengah jam Shaka habiskan, berusaha untuk menjelaskan kejadian sebenarnya pada Kirana agar tidak ada kesalahpahaman lagi di antara mereka.


Namun lagi-lagi yang Shaka dapati, Kirana hanya bergeming dengan menundukkan kepala, tidak tahu apakah wanita itu mendengar kan penjelasanya atau tidak.


Lantas tiba-tiba saja Kirana hendak bangkit dari tempat duduknya namun dengan cepat Shaka menarik tangan wanita itu.


"Apa kau mau pergi meninggalkan ku lagi Kirana?" tanya Shaka dengan tatapan sendu.


"Aku butuh waktu." jawab Kirana akhirnya.


"Jadi kau tidak bisa memaafkan ku?" tanya Shaka lagi dengan nada lemah.


"Bukan begitu." Kirana menggeleng kemudian dengan keberanian yang tersisa ia membalikkan tubuh saat matanya bersibobrok dengan kedua mata Shaka yang menatapnya begitu lembut Kirana tahu ia pasti akan langsung melemah dengan tatapan memohon dari pria itu.


"Aku hanya ... aku ... jangan menatap ku seperti itu." Kirana menggeleng, tidak kuat dengan tatapan dalam Shaka kepadanya.


"Aku tidak akan mengalihkan tatapan ku sebelum kau memaafkan ku," tukas Shaka menggeleng kan kepalanya ke kiri dan ke kanan seolah mengikuti apa yang Kirana lakukan sebelumnya.


Kirana menggigit bibir menahan diri agar tidak langsung memaafkan pria itu. Niatnya ia ingin memberikan sedikit pelajaran namun sepertinya hatinya berkata lain ...


To be continued ....

__ADS_1


__ADS_2