Pesona Gadis Penebus Hutang

Pesona Gadis Penebus Hutang
PHGP | Bab 54


__ADS_3

...💞 Happy reading 💞...


Kirana masih mematung di tempatnya berdiri, wajah wanita itu menunduk, terpekur menatap kosong, namun entah sebanyak apa air mata yang terus menetes saat ini, serupa hujan deras yang tak bisa berhenti. Sementara Aslan tetap pada tempatnya, ia tak melakukan apapun namun tetap berada di sini menemani Kirana.


Seharusnya Aslan tak perlu melakukan ini, toh bukan masalah nya dan benar, harusnya ia tak boleh ikut campur. Tapi entah kenapa setengah hatinya menolak untuk pergi, lelaki itu merasa perlu untuk melindungi Kirana saat ini, selayaknya Kirana adalah anggota keluarga nya.


"Nona Kirana, mari aku antarkan ke rumah mu, dari pada kau terus di sini dan kedinginan," seru Aslan setelah sekian lama mereka hanya diam saja, ia merasa kasihan jika Kirana tetap di sini sementara keluarga suaminya sama sekali tak mau menerimanya.


"Kemana? kemana aku harus pergi?" lirih Kinara dengan suara bergetar di penuhi sesak.


"Ke rumah orang tuamu, setidaknya kamu punya tempat tinggal malam ini."


"Orang tua?" Kirana tertawa sumbang, membuat Aslan mengernyit heran. "Aku sebatang kara, pak Aslan. Tak ada tempat tinggal yang bisa ku sebut rumah selain di sini, lantas ke mana aku harus pergi?"


Aslan terhenyak, ia merasa bersalah dengan perkataannya sebelumnya. "Maaf, aku tidak tahu ... "


"Tidak apa-apa, tak perlu meminta maaf, pak Aslan." Kirana lantas berbalik, melangkahkan kaki dan berhenti di hadapan pria itu.


"Kamu sudah sangat baik membantu ku sebanyak ini, jadi kamu tidak perlu melakukan apapun lagi, terimakasih pak Aslan. Kamu bisa kembali ... "


"Tapi, bagaimana dengan mu?" Aslan merasa bimbang, tak mungkin ia meninggalkan Kirana sendiri. Betapa tak gentle nya ia membiarkan seorang wanita yang sedang hamil setelah di usir suaminya, sendirian di luar seperti ini.


Kirana menggeleng pelan, menipiskan bibir. "Tak apa, aku bisa menjaga diriku sendiri."


"Tapi ... "


"Nona muda ... " seseorang berseru, memanggil Kirana dari kejauhan, ketika muncul Kirana merasa lega begitu melihat ternyata Liam lah yang datang.


"Liam ... kamu di sini?"


"Maaf, aku terlambat nona muda," ucap Liam sedikit tersendat karna mengatur nafasnya yang ngos-ngosan.


"Ah, tuan Aslan." Liam menunduk segan pada Aslan yang lalu di balas anggukan oleh pria itu.


"Saya di sini untuk mengantarkan mu, nona muda."


"Kemana?" Kirana bertanya, penasaran.


Sebenarnya Liam ingin menceritakan apa yang sudah ia ketahui pada Kirana, namun sang tuan melarangnya untuk dan memerintahkan padanya untuk menyembunyikan rapat-rapat segalanya pada siapapun termasuk Kirana. Apalagi di sini bukan hanya mereka berdua saja, saat tatapannya mengarah ke lelaki di sampingnya, Liam merasa sedikit canggung, Aslan memang begitu mengintimidasi seperti tuannya, Shaka.


"Eum,kita ke tempat tinggal anda yang baru, nona muda."


"Tempat tinggal baru?" wajah Kirana nampak tak senang.


"Iya nona muda, anda tidak bisa tinggal di sini lagi," ucap Liam dengan hati-hati.


"Kenapa begitu? apa ini perintah Shaka?!"


Liam pun mengangguk lagi.


"Kalau begitu aku tidak akan pergi dari sini!"

__ADS_1


Liam terperanjat, bisa gawat ini urusannya, batin pria itu.


"Tapi nona, ini perintah langsung dari tuan dan tidak bisa di ganggu gugat."


"Justru karena perintah langsung dari Shaka, maka aku tidak akan pergi!" tegas Kirana.


"Kenapa harus ke tempat tinggal baru. Ini lah rumah ku Liam, mas Shaka membawa ku kesini sebagai seorang isteri juga menantu, aku tidak bisa meninggalkan mansion ini Liam ... " Kirana menggeleng lemah. Teringat kembali ketika ia menguping pembicaraan Fiona, tentang rencana nya yang akan melenyapkan nyawa Shaka. Kirana tidak akan membiarkan itu sampai terjadi.


"Tapi nona ... " Liam meringis, merasa serba salah.


Di tempat berbeda, Shaka memukul meja dengan kepalan tangannya saat menatap layar monitor cctv yang merekam percakapan Liam dan Kirana saat ini.


"Tolong jangan keras kepala Kirana ... " desis pria itu.


"Liam, kamu ada di sini sekarang, tolong bicara pada mas Shaka untuk bicara dengan ku, ada yang ini ku bicara kan padanya dan ini sangat penting." desak Kirana.


"Tapi saat ini tuan sedang tidak ingin di ganggu dengan siapapun nona ... "


"Ayolah Liam please, aku percaya mas Shaka pasti akan mendengar kan mu ... " ujar Kirana lagi dengan wajah memohon.


Liam di hadapkan dengan situasi yang sulit. Sementara itu Kirana tiba-tiba meringis sakit sambil memegang perutnya, kontan saja Aslan dengan sigap menangkup pundak wanita itu, bentuk kepeduliannya. Ia mendapatkan informasi dari dokter, jika kehamilan Kirana sangatlah rentan, jadi kondisi wanita itu bisa saja memburuk.


"Kau tidak apa-apa?" tanya Aslan cemas, Kirana mendongak untuk sesaat mereka bersitatap di saat itu juga Shaka yang melihat dari layar monitor langsung meradang, ia berdiri sambil menggebrak meja, lalu keluar dari ruangannya.


"Aku tidak apa-apa ... " Kirana menelengkan kepala namun jelas raut wajah menunjukkan yang sebaliknya.


"Nona, apa sebaiknya kita ke rumah sakit saja, kau terlihat tidak sehat," seru Liam memberikan usulan, karena tak tega melihat Kirana yang terus kesakitan.


Lelaki dengan baju tidur berbahan sutra itu, mengarahkan matanya pada tangan Aslan yang terus memegang pundak Kirana juga tatapan pria itu untuk istrinya, sontak hal tersebut berhasil membangunkan sesuatu yang menakutkan dalam diri Shaka.


"Kau bersikeras untuk tetap di sini kan, baiklah!" Shaka menganggukkan kepalanya namun tatapan matanya terlihat begitu menakutkan.


"Liam biarkan wanita itu tetap di mansion ini, tapi ... "


"Tempat kan dia di bagian belakang bersama para pelayan tinggal!"


"Tuan muda ... " Liam memekik, ia menoleh pada Kirana yang juga terkejut dengan perintah Shaka.


"Kau ingin tetap di sini kan? maka kau bisa tinggal sebagai pelayan!" tukas Shaka dengan menahan amarahnya.


"Tuan muda, anda tidak benar-benar mengatakan ini kan?"


"Kenapa memangnya? aku sudah baik memberikan solusi untuk nya agar tetap mendapat tempat tinggal, namun dia menolaknya maka biarkan dia tinggal di sini sebagai seorang pelayan!"


"Tapi tuan ... " Liam meringis namun Shaka sekali tak ingin di bantah.


Kirana tersenyum kecut, ia menghapus air matanya yang mengalir di pipi.


"Baiklah jika itu keputusan mu, aku anggap sebagai perintah untuk ku, tuan muda ..."


"Aku akan tinggal di sini sebagai pelayan mu."

__ADS_1


Semua orang tak kala kaget dengan keputusan yang Kirana ambil terlebih yang menyayangkan hal itu, ia merasa bersalah karena tak bisa berbuat apa-apa.


"Bagus, mulai besok kau bisa langsung bekerja."


"Pak Shaka maaf menyela mu, tapi kau sungguh-sungguh melakukan hal ini, menjadikan isteri mu sebagai seorang pelayan?" Aslan berseru membela Kirana. Ia tak mengerti, padahal hubungan keduanya masih sangat romantis ketika ia bertandang pertama kali ke sini. Ada apa dengan Shaka sebenarnya? apa yang membuatnya berubah hingga sedrastis ini?"


"Harusnya aku yang bicara seperti itu padamu." Shaka melirik tajam ke arah Aslan. "Untuk ukuran orang asing, anda terlalu ikut campur dalam urusan keluargaku, pak Aslan."


Kontan perkataannya itu membuat Aslan diam seketika.


"Aku masih bicara dengan baik-baik karena kita masih menjalin kontak kerja sama, pak Aslan silahkan anda pergi dari sini, ini bukan ranah anda untuk ikut campur."


Aslan membuang nafas panjang, yang di katakan Shaka tak salah justru memang sangat benar namun ia merasa sangat kasihan untuk Kirana. Tapi akhirnya Aslan pergi juga karena tak ingin timbul fitnah yang tidak-tidak jika ia tetap di sini.


Sebelum benar-benar meninggalkan kaki nya dari mansion ini,Aslan mendekati Kirana menyentuh lembut pundaknya.


"Maafkan aku Kirana ... "


Wanita itu memejamkan mata sekilas. "Tak apa, aku akan baik-baik saja, terimakasih sudah mau membelaku."


Aslan mengangguk, sorot matanya menunjukkan rasa iba karena tak bisa membantu Kirana namun apa mau di kata lebih baik begini, ia memang tak boleh masuk terlalu jauh apalagi ini bukanlah masalah nya. Aslan pun pergi untuk sekilas matanya mengarah pada Shaka yang di balas pria itu dengan tatapan sengit.


Kirana mengambil nafas dalam-dalam, ia hendak membuka mulutnya namun justru dengan cepat Shaka berbalik pergi. Lagi dan lagi yang di dapatkan nya adalah penolakan.


"Sebenarnya ada dengan mu mas?" batin wanita itu bertanya-tanya.


Liam hendak mengikuti langkah Shaka untuk bicara dengan tuannya itu, namun tak tega untuk meninggalkan Kirana. perempuan itu paham, dengan isyarat mata ia mempersilahkan Liam untuk pergi.


Kini tinggal lah ia sendiri, Kirana tak ingin merasa sedih lagi, ia harus lebih kuat sekarang.


"Tidak boleh ada air mata lagi Kirana!" katanya untuk diri sendiri.


"Aku akan tetap di sini mas, aku tidak akan membiarkan rencana kak Fiona berhasil dan pasti akan membongkar kejahatannya!"


***


"Tuan muda kenapa anda melakukan ini? anda tidak benar-benar tega kan menjadi kan nyonya ku sebagai seorang pembantu?" Liam merasa tidak adil untuk Kirana, terlebih Liam sudah sangat dekat dengan Kirana tidak hanya sebagai atasan dan bawahan tapi juga sebagai sahabat.


"Aku tak punya pilihan lain Liam, keadaan mendesak ku," ujar Shaka. "Setidaknya ini lebih baik, daripada membiarkan Kirana dekat dengan orang-orang itu, dan aku juga bisa mengawasi nya dari dekat."


"Tuan, apa rencana anda ini akan berhasil?"


"Aku tidak tahu. Tapi yang pasti kita akan tetap menjalankan nya, aku belum tahu seberapa banyak musuh ku, terlebih Arkan dan keluarga nya yang selama ini menjadi musuh dalam selimut mereka pasti sedang merencanakan sesuatu lagi untuk menyingkirkan ku."


"Lalu apa tindakan anda selanjutnya?"


"Ikuti rencana Arkan dan ibunya, mereka ingin mencuci otak oma dengan membawakan seorang wanita untuk menggantikan posisi Kirana."


"Tugas mu adalah mencari tahu tentang wanita itu Liam."


To be continued ...

__ADS_1


__ADS_2