
...💞 Happy reading 💞...
Suasana di balai desa saat ini sudah ramai dikunjungi oleh semua warga, mereka seperti berkumpul membentuk sebuah lingkaran dan berbincang-bincang dengan wajah serius. Sampai ketika Shaka datang bersama Kirana, orang- orang di sana mulai menoleh ke arah mereka.
Pak Akbar menghampiri dengan senyum ramah di wajahnya, ia menatap Kirana dan Shaka secara bergantian.
"Bagaimana keadaan mu nak Shaka?" tanya pak Akbar seraya mengusap pelan pundak pria itu.
Shaka tersenyum tipis sambil mengangguk. "Sudah lebih baik dari sebelumnya. Terimakasih kalian begitu baik menerima kami."
"Tak perlu sungkan nak, siapapun yang datang ke desa kami, maka sudah di pastikan mereka menjadi bagian keluarga kami," ujar pak Akbar dengan penuh wibawa.
"Tapi ... " raut wajah Shaka berubah dengan menipiskan tatapannya seolah tengah berfikir, lalu lelaki itu menoleh pada sang istri.
"Kami harus kembali ... "
Kirana terlonjak,tak menduga Shaka akhirnya akan mengucapkan itu namun segera ia bisa menguasai diri dan mengangguk dengan ucapan suaminya tersebut.
"Kembali? kembali ke mana?" tatapan pak Akbar berubah serius ada kekhawatiran terselip di sana. "Kami bahkan belum menanyakan di mana tempat tinggal kalian, boleh kami tahu asal usul kalian?"
Shaka menghela nafas sejenak, lalu membuang tatapan kembali ke pada Kirana lantas mengangguk, kemudian ia ceritakan sedikit tentang asal usul mereka, juga kejadian mengerikan yang menimpa mereka sebelumnya hingga bisa berakhir sampai di sini.
Pak Akbar mengangguk-angguk mendengar penuturan Shaka, ia berdecak singkat lalu bergumam menunjukkan simpatik nya.
"Sungguh jahhat sekali orang yang telah melakukan ini semua pada kalian."
"Itu sebabnya kami harus kembali untuk menemukan siapa dalang di balik semua ini dan lagi aku mempunyai tanggung jawab di perusahaan ku yang saat ini pasti kebingungan karena tidak ada pemimpin nya."
Semua orang berbisik-bisik mendengar perkataan terakhir Shaka.
"Tuh kan sudah ku duga mereka ini bukan orang sembarangan."
"Keduanya pasti berasal dari keluarga kolongmerat ternama yang berada dari kota."
Tak ingin semua orang semakin berspekulasi yang tidak-tidak pak Akbar langsung mengultimatum memerintahkan warganya untuk diam.
"Baiklah, sekarang kalian dalam perlindungan kami. Aku dan para warga di sini pasti akan membantu kalian untuk kembali ke tempat kalian berasal. Namun selama itu nak Shaka, nak Kirana kalian berdua bisa tinggal di sini dulu dan berbaur lah bersama kami."
"Pak kades benar." nenek Mina yang sejak tadi sudah ada bersama mereka menyahut. "Lagipula nak Kirana suami mu masih membutuhkan pemulihan untuk luka-luka nya," nenek tua itu menjeda sejenak ucapannya, "Tinggal lah di sini dahi sampai Shaka benar-benar sembuh."
Shaka dan Kirana saling melempar pandang, seakan mempunyai ikatan hati yang kuat dengan hanya tatapan mata mereka dapat menemukan jawaban bersama.
"Baiklah jika begitu," ucap Shaka final memberikan keputusan mereka. "Kami akan tinggal dulu sini sambil mencari upaya untuk kembali ke tempat tinggal kami."
Semua orang menyambut senang keputusan keduanya, pak Akbar maju menepuk- nepuk punggung Shaka dengan haru.
"Kalian bukan orang asing lagi, kalian keluarga kami sekarang."
Shaka mengulum senyum, kali ini dengan begitu tulus nya, Kirana sampai terkesima melihat nya, jarang sekali Shaka yang dingin bisa tersenyum sedemikian ramahnya.
"Kau tahu melihat pak Akbar, aku jadi teringat almarhum papa."
Akhirnya Kirana mengerti dari mana senyum lepas dan tulus itu berasal. "Kenapa bisa begitu tuan?"
"Ayah dan pak Akbar sama-sama memiliki kebijaksanaan dan wibawa, mereka seolah satu orang yang sama."
__ADS_1
"Ayahmu juga sudah pasti bangga dengan mu saat ini tuan." Kirana mengelus lengan kokoh Shaka lalu menyandarkan kepalanya di sana.
...---------Oo-------...
Tawa membahana seakan penuh kemenangan menggema di ruangan yang luas itu, Fiona dengan keangkuhannya duduk di atas kursi putar yang biasa di duduki Shaka dengan papan nama "direktur utama" terpampang di sana.
"Hahaha, akhirnya impian ku terwujud, aku bisa menduduki kursi tertinggi ini!"
Arthur, suaminya hanya bisa menggeleng kepala merasa gagal telah mendidik istrinya tersebut. "Sadarlah Fiona apa yang kau lakukan semua ini salah."
Tiba-tiba Fiona berubah menjadi geram. "Persetan! jika kau menganggap semua ini salah lebih baik kau keluar dari sini!"
Arthur berubah naik pitam, namun pria yang terkenal akan kesabarannya itu mencoba untuk menahan amarahnya. "Ketamakan mu telah merubah mu seperti monster Fiona, ingat jika suatu hari Shaka kembali kau akan menyesal!" lalu pria itupun pergi, lebih memilih untuk merawat putri kecilnya yang saat ini pasti membutuhkan nya.
Fiona hanya berdecih menganggap hanya angin lalu ucapan dari suaminya itu.
"Liam!" ia memanggil sekretaris Shaka melalui pesawat telepon.
Liam segera saja datang ke ruangan. "Iya nona Fiona."
"Apa? nona Fiona?" wanita itu terlihat tidak senang memandang sinis asisten setia Shaka itu.
"Panggil aku nyonya direktur!" ujar Fiona dengan jemawanya.
Liam mengepalkan tangan menahan emosi. "B- baik, nyonya direktur."
Fiona tersenyum puas mendengarnya, lalu wanita itu melipat tangan di depan dada mengeluarkan ultimatum nya.
"Aku ingin kau mendekor ulang ruangan ku ini, buang semua barang-barang lama dan ganti dengan yang baru."
"Lalu apa masalah nya?" Fiona melirik sinis Liam. "Sekarang aku lah pemimpin nya jadi ruangan ini harus di dekor sesuai keinginan ku."
Liam menggeram, rahangnya mengeras, namun meski begitu ia tak berdaya hatinya begitu sangat sedih.
"Kau begitu patuh pada tuan mu tapi sekarang akulah pemimpin nya jadi kau harus mematuhi perintah ku."
Liam berdecih namun akhirnya ia mau tak mau mengangguk. "Baik jika begitu saya akan meminta tim perancang untuk mendekor ruangan ini."
"Bagus." Fiona tersenyum semrik.
***
Waktu demi waktu berlalu, tidak terasa kini Shaka dan Kirana sudah bisa membaur dengan warga desa, membangun hangat kekeluargaan dengan mereka.
Shaka saat ini sudah terlihat semakin bugar, setiap harinya dia tidak hanya duduk-duduk saja menikmati semua fasilitas yang warga desa berikan namun Shaka juga ikut serta dalam setiap kegiatan yang di lakukan warga desa membantu mereka, menyalurkan tenaganya.
Meski sudah di larang, namun Shaka bukan orang yang tidak tahu terima Budi, apapun ia lakukan agar bisa membalas budi warga di sini yang telah menerima ia dan istrinya dengan sangat baik.
Kirana datang bersama ibu-ibu lain dengan membawa rantang berisi makanan, sepertinya Kirana juga sudah menyatu dengan kebudayaan dan adat para wanita di desa ini, dia tampil sangat cantik dengan pakaian tradisional dan rambut nya yang di hias sedemikian rupa seperti tampak wanita adat di desa ini, hasil dari mahakarya tangan nenek Mina yang telah mendadaninya.
Shaka amat sangat terpesona dengan tampilan baru sang istri, matanya tak lepas menatap sang kekasih hati hingga para gadis desa yang memuja ketampanan nya yang justru salah tingkah.
Mendengar sorakan para gadis desa untuk suaminya Kirana tersenyum kecut. "baru beberapa hari saja tapi kamu sudah jadi primadona di desa ini."
"Kenapa? mereka semua memuja karna ketampanan ku."
__ADS_1
Kirana cemberut. "sejak kapan pria dingin ini begitu narsis begini?"
"Dan sejak kapan wanita ku yang polos ini jadi pencemburu seperti ini?" Shaka menggeleng pelan.
"Tidak." Kirana menggeleng tegas. "Aku tidak cemburu." wanita itu mengelak kehendak hatinya sendiri.
"Oh tidak cemburu ya," Shaka tersenyum jahil. "Baiklah jika begitu," kemudian ia menoleh ke belakang di mana para gadis berkumpul untuk melihatnya, dan pria itu tersenyum ke arah mereka yang otomatis membuat sorakan para gadis itu semakin membahana.
Saat ia berbalik lagi, Shaka sudah di suguhkan dengan muka Kirana yang semakin tertekuk.
"Bagaimana? apa masih tidak mau mengaku jika kau ingin cemburu."
"Baiklah,aku memang cemburu! kamu puas!" Kirana berbalik hendak pergi, ia merasa semua persiapan nya sia-sia, ia mengusap titik air mata yang tiba-tiba jatuh, sampai akhirnya Shaka menarik lengannya untuk mereka saling berhadapan kembali.
"Hei, jangan marah ... maafkan aku."
"Aku tidak berhak marah tuan, apalah aku bagimu ... "
"Hei jangan seperti itu." Shaka menarik lembut dagu Kirana agar wajah mereka berhadapan.
"Ayo ... " Shaka menuntun sang istri untuk duduk di sebuah gazebo yang memang berada tak jauh dari mereka, dan mendudukkan istrinya fi di sana.
"Kamu adalah isteri ku, jangan berbicara seperti itu."
Kirana merasa hatinya berbunga-bunga dengan ungkapan yang di berikan Shaka.
"Sebelumnya aku minta maaf, aku telah menuduh mu yang tidak-tidak, kini kita telah bersatu kembali aku tidak ingin kehilanganmu untuk yang kedua kali."
Terharu, Kirana langsung menghambur memeluk Shaka.
"Terkadang aku ingin kita seperti ini terus Kirana," lirih Shaka dengan membelai rambut istrinya. "Hidup sederhana jauh dari hiruk pikuk orang-orang tamak dan segala kebusukan mereka ... tapi aku sadar ibu dan Oma pasti tengah mengkhawatirkan kita juga perusahaan yang memerlukan pemimpin mereka."
"Lalu apa yang akan mas lakukan?"
"Kita harus tetap kembali ... secepat nya." tiba-tiba seperti ada api yang berkobar di dalam dadanya. "Dan mengungkap siapa dalang di balik konspirasi kita."
"Tapi ... aku takut."
Shaka tersenyum, menaruh menekan lembut kedua punggung Kirana.
"Selama kita bersama, kita bisa melalui ini semua ... kau percaya padaku kan?"
Kirana mengangguk, Shaka kembali merengkuhnya dengan dekapan hangat, setelahnya mereka mulai mencair kan suasana.
"Apa yang kau bawa ini?" tanya Shaka setelah itu.
"Aku membawa bekal, aku memasaknya tapi di bantu juga oleh nenek Mina," celoteh Kirana dengan kelakar.
Shaka terkekeh. "Apapun yang isteri ku masak pasti akan selalu enak."
Kirana tersipu dengan pujian itu lalu keduanya pun mulai menyantap makan dengan suka cita.
To be continued ...
Terus setia ikuti dan dukung novel ini ya, terimakasih 🙏🏻💘🔥
__ADS_1