Pesona Gadis Penebus Hutang

Pesona Gadis Penebus Hutang
PHGP | Bab 81


__ADS_3

"Bolehkah aku mengajak Kirana untuk bertemu dengan kakek dan nenek ku?"


Permintaan yang baru saja Aslan lontarkan berhasil menyita perhatian ketiga orang di depannya saat ini, Kirana yang tengah berpelukan penuh haru dengan Vania sontak saja menoleh cepat ke arahnya begitu juga dengan Shaka yang langsung melayangkan tatapan penuh selidik ke arah Aslan membuat pria itu menampilkan wajah kebingungan.


"Ada yang salah dengan perkataan ku?" tanya Aslan dengan sebelah alis terangkat, kemudian ia meluruskan punggungnya yang semula menempel pada sandaran kursi demi melihat wajah-wajah yang semula rileks kini kembali menegang dengan saling melempar pandangan.


"Tidak ada yang salah sebenarnya, tapi apa menurut anda ini tidak terlalu cepat pak Aslan?" seru Shaka menyahuti setelah keheningan melanda cukup lama.


Aslan mengangkat bahu dengan wajah santainya. "Tidak ada yang terlalu cepat menurutku pak Shaka, terlebih meskipun dari cerita sebelumnya kakek ku memang dalang di balik perpisahan kami namun aku percaya beliau masih menyimpan kasih sayang untuk cucu-cucunya, terlebih lagi nenekku dia tidak bersalah di situasi ini, beliau hanya menuruti apa kata kakek ku."


Vania mengesah singkat, seakan ia sudah bisa menebak dengan apa yang di pikirkan Aslan saat ini. Dan Vania sama sekali tak setuju dengan permintaan Aslan itu mengingat bagaimana berbahaya nya tuan Pangestu beserta antek-anteknya.


Teringat kembali oleh Vania, percakapannya dengan nenek Parwita yang mengatakan jika Aslan Walaupun berpenampilan selalu sangar juga galak namun sebenarnya dia adalah tipe orang yang mudah di pengaruhi dan terkadang ceroboh dalam mengambil keputusan, nenek Parwita bilang semua sifat Aslan itu di warisi langsung dari ibunya.


"Bukan itu yang ku maksud kan pak Aslan, memang alasan itu juga penting namun alangkah baiknya kita menunggu waktu yang baik dulu. Terlebih saat ini yang ku tahu tuan Pangestu mavendra sedang dalam masalah yang pelik, sebagai direktur utama Mavendra group yang mana salah satu cabangnya masih bekerja sama dengan perusahaan ku aku sangat tahu masalah internal yang terjadi saat ini dan kau pun pasti sedang kebingungan juga untuk mencari solusi nya kan? jadi menurut ku usulan mu untuk memperkenalkan Kirana sebagai Chiara mavendra di situasi seperti ini cukup riskan pak Aslan."


Aslan manggut-manggut mendengar alasan yang di lontarkan Shaka, yang di pikir- pikir lagi memang benar, ia tak bisa mempertaruhkan keselamatan Kirana karena hal ini, awalnya karena saking bahagia yang ia rasakan karena bertemu adiknya kembali membuatnya mengambil keputusan yang sangat cepat sebelum di pikirkan lagi secara masak-masak. Aslan pun mengangguk setuju dengan apa yang adik iparnya itu ucapkan. "Jadi menurut mu bagaimana baiknya?"


"Sepertinya kita harus menunggu hingga situasi yang terjadi pada perusahaan mu saat ini bisa terkendali setidaknya biarkan semuanya tenang dulu. Yang terpenting sekarang kau tidak akan terpisah lagi dengan adikmu kan, juga aku tidak akan melarang mu jika kau ingin bertemu dengan Kirana, asal ingat waktu!" usai mengatakan perkataan terakhir Shaka sengaja memicing mata sengit seolah tak main-main dengan peringatan nya itu sontak membuat Aslan tertawa terpingkal-pingkal.


"Astaga tenang saja adik ipar ku, aku tidak akan menganggu waktu kalian berdua," seloroh Aslan dengan terkekeh geli, lalu tatapannya kembali sejuk saat mengarah pada Kirana, tangan besarnya mengusap wajah Kirana dengan sayang.


"Meski aku sangat membenci mu jika mengingat apa yang sudah kau lakukan pada adikku dulu, tapi Shaka aku mempercayakan keamanan dan kebahagiaan nya padamu," kata Aslan yang ia tunjukkan untuk Shaka dengan melayangkan tatapan penuh serius pada laki-laki itu.


"Kau tenang saja, ku akui aku memang brengsekk tapi untuk kebahagiaan Kirana, adalah yang nomor satu untuk ku," ucap Shaka penuh optimisme, seolah tengah berupaya mendapatkan kepercayaan dari sang kakak ipar.


"Aku tidak hanya ingin mendengar ucapan tapi tindakan," tukas Aslan dengan menyipit nyalang, mendadak situasi menjadi lebih tegang untuk keduanya.


Wajah Shaka berubah tegas, mencoba menangkap ekspresi Aslan dan ia menyadari jika ini bukan sekedar pembicaraan biasa.


"Tentu. Aku tidak hanya akan mengucapkan dari mulut saja, kau bisa mencari dan menghajar ku habis-habisan jika aku menyakiti hati Kirana."


"Baiklah." Aslan mengangguk-angguk. "Aku pegang kata-kata mu."


Kirana dan Vania saling melempar pandangan, seakan-akan mereka sedang menonton dua petinju yang siap adu jotos di atas ring membuat keduanya merinding menyaksikan betapa mengerikannya dua kutub Utara dan Selatan yang saling bersitegang saat ini.


"Oh ayolah, kenapa kalian terlihat sangat serius, ayo kita nikmati hidangannya," pungkas Kirana mencoba mencairkan suasana yang terlanjur kikuk lalu setelah situasi mulai kondusif baik Aslan ataupun Shaka sudah mulai berinteraksi seperti biasanya dan mereka menyantap makanan sambil bersenda gurau.


...---------Oo-------...


Di mansion Rajendra, setelah pertemuan dan kilas balik kehidupan Kirana serta terkuaknya jati diri Kirana yang sebenarnya, kini giliran orang rumah yang mengetahui semua fakta itu ketika Kirana berbicara langsung di hadapan ibu mertuanya juga sang nenek yang masih menggunakan kursi roda untuk menopang kehidupannya.


Renata tercengang mendengar setiap penuturan dari mulut Kirana serta Shaka yang membantu sang istri untuk menjelaskan situasi yang terjadi pada mereka.


"Mavendra group? astaga, bukankah itu perusahaan real estate terbesar di negara ini? bahkan ayah Shaka dulu sempat bersitegang panjang dengan pemiliknya tuan pengestu. Perusahaan mereka sempat menjadi musuh untuk beberapa dekade bahkan mungkin sampai saat ini," kata Renata dengan semangat membara menceritakan betapa dulu ia ikut merasakan ketegangan yang terjadi antara Rajendra company dengan mavendra group.


"Benar, tapi sekarang sudah tidak lagi Bun, sekarang pak pengestu tidak lagi mencampuri urusan internal mavendra group semuanya di ambil alih cucunya pak Aslan. Kedua perusahaan kini sudah berdamai dan justru aku dan pak Aslan memiliki beberapa kontrak kerjasama untuk ke depannya," tutur Shaka menjelaskan.

__ADS_1


Renata mengangguk-anggukkan kepalanya, ia tak terlalu paham dengan urusan perusahaan namun bersukur jika tidak ada lagi perang dingin di antara dua perusahaan besar kini.


"Kirana, bunda bahkan baru mengetahui jika keluarga Mavendra memiliki seorang cucu lagi yang selama ini telah hilang keberadaan nya dan tak di sangka cucu yang hilang itu ada di sini, itu adalah kamu." Renata menggelengkan kepalanya pelan sambil berdecak pelan masih tak menyangka dengan semua fakta mencengangkan ini.


Kirana tersenyum getir. "Jangan kan bunda, aku saja masih tidak percaya sampai saat ini."


"Lalu bagaimana? apakah setelah melakukan tes DNA, pak pengestu dan isterinya juga mempercayai mu?"


"Itu masalah nya Bun, jujur aku belum siap untuk bertemu mereka berdua." Kirana menghela nafas panjang, pikirannya sudah berkecamuk hebat, apakah kakek dan neneknya itu akan menerima kehadirannya atau tidak?


Renata tersenyum menenangkan, ia mengambil tangan Kirana lalu mengenggam nya erat. "Tak usah terlalu di pikirkan. Semua memang sudah jalan dari Tuhan, tentang bagaimana hasilnya nanti hanya Dia yang tahu. Yang terpenting sekarang kau dan kakak mu tidak akan terpisahkan lagi."


Kirana mengangguk seraya melengkung kan bibirnya tersenyum. Namun jujur hatinya masih belum tenang."


...****************...


Di ruangan pengap dan remang-remang yang di dominasi oleh warna kelam dengan banyaknya furniture juga barang- barang antik yang membuat Aslan merasakan Dejavu yang menyakitkan. Masih terngiang jelas di otaknya di ruangan inilah ia tersiksa secara mental dan batin, di tempat ini kakeknya menditaktornya dengan sangat keras dan penuh disiplin. lebih tepatnya itu seperti sebuah siksaan untuk Aslan meski tujuannya agar Aslan unggul dalam prestasi dan selalu menjadi nomor satu. di sini ia belajar mati-matian dengan begitu sengit tanpa tidur atau tidak boleh makan sama sekali sebelum mendapatkan hasil nilai yang sang kakek inginkan, Mengingat nya saja membuat kepala Aslan terasa berputar-putar. Ingatan ketika kakeknya memberi hukuman dengan mencambuknya menggunakan sebilah kayu tipis hingga berdarah-darah jika menjadi memori traumatis untuknya.


"Berdiri kamu Aslan," titah pengestu yang terlihat seperti seorang kaisar kejjam dan bengis di tempat duduk kekuasaannya saat ini.


Sementara Aslan sendiri duduk di salah satu kursi biasa lebih terlihat biasa saja di bandingkan tempat Pengestu duduk yang nampak begitu mewah, membuat Aslan terlihat seperti seorang terdakwa di meja hijau.


Aslan pun berdiri, sebenarnya ia sudah sangat penat setelah seharian berkutat dengan urusan kantor namun meski begitu terbayarkan oleh kelegaan hatinya setelah mendapatkan kepercayaan dari Kirana alias Chiara kini telah kembali sebagai adiknya.


Plakk!


Semua menahan nafas sejenak saat Pangestu dengan begitu telak menggampar Aslan. Suara nya sangat keras seolah-olah pengestu mengerahkan seluruh kekuatannya saat melayangkan tangannya ke pipi Aslan.


Mata Pangestu menatap nyalang, kedua alisnya menukik wajah keriputnya terlihat berkali-kali lipat lebih mengerikan karena amarah yang sejak tadi ia pendam.


Sementara itu Parwita yang semula berdiri di samping suaminya duduk, dengan tergesa-gesa memutari meja panjang yang menjadi penyekat jarak dan langsung menghampiri Aslan yang tengah mengusap wajahnya sambil meringis.


Parwita tersedu sedan melihat cucu kesayangan nya yang kini terlihat menahan sakit di pipinya saat Parwita melihat nampak jelas memar biru besar di rahang dan pipi Aslan. Itu pasti sangat menyakitkan.


"Mas, kenapa kamu melakukan ini?" Parwita berbalik menatap suaminya yang masih bergeming di tempat.


"Tanyakan itu pada cucumu yang siallan ini, apa yang sudah di perbuat hingga membuat ku tak bisa menahan diri untuk menghabiskannya langsung di sini?!" bentak Pangestu dengan sangat berang.


Lalu Parwita berbalik menatap Aslan dengan air mata yang sudah menganak sungai. "Apa yang sebenarnya terjadi Aslan? apa yang membuat kakek mu bisa semarah ini?"


Aslan hanya diam dengan raut wajah datar namun kedua tangannya terkepal erat menahan geram. Kakeknya pastilah sudah mengetahui lebih dulu sebelum ia bercerita tentang adiknya yang sudah di temukan saat ini.


"Aslan cuma ingin membawa Chiara kembali ke keluarga kita," ucap pria itu dengan penuh penekanan.


Air muka Parwita mendadak berubah keruh. "Apa yang kamu bicarakan? berhenti membicarakan adik mu dia sudah matti Aslan sudah matti!"


"Tidak nek." Aslan menggeleng keras nampak tidak suka neneknya mengatakan itu. "Chiara masih hidup dan aku akan membawa nya kembali ke sini!"

__ADS_1


"Kau lihat itu Parwita? lihat lah bagaimana cucumu yang kurang ajar ini! apa saja yang kau ajarkan padanya hingga dia menjadi seorang pembangkang begini?!"


Brakk! Pangestu kemudian melempar berkas-berkas di atas meja, Parwita langsung membuka nya untuk mencari tahu. Sementara Aslan sendiri nampak tertegun di tempat, khawatir jika di dalam sana foto-foto Kirana atau semacamnya dan jika kakeknya jika Kirana adalah Chiara yang selama ini hilang, Kirana akan dalam bahaya.


"Apa? jadi kamu selama ini diam-diam sedang mencari informasi tentang Chiara?" Parwita melotot tercengang panjang setelah melihat laporan di berkas itu.


"Tidak hanya itu saja, dia bahkan diam-diam bertemu dengan Sari. Wanita licik itu pasti sudah mencuci otaknya," pungkas Pangestu berapi-api.


Dalam hati Aslan menghela nafas lega, ternyata kakeknya belum tahu tentang Kirana. Dan belum sejauh itu para antek-anteknya mencari tahu tentang apa saja yang dia lakukan selama ini. Itu berarti keselamatan Kirana aman.


"Tidak perduli apa yang kakek katakan, muka sekarang aku tidak akan lagi terkekang oleh mu! biarkan aku melakukan apa yang harusnya ku lakukan sejak dulu!" ujar Aslan memberi ultimatum ia menatap kakek dan neneknya yang masih dalam keadaan syok hanya sebentar setelah itu ia hendak berbalik untuk keluar dari ruangan itu namun tiba-tiba saja gerakan kakinya terkunci saat mendengar seruan bernada sindiran dari pengestu.


"Dasar bibit wanita la curr itu sudah mengalir di darahnya!"


Aslan yang sudah menggapai kenop pintu mendadak panas hatinya mendengar itu hingga tanpa sadar ia meremas gagang pintu itu dengan sangat kuat.


"Apa maksud kakek?!" Aslan berbalik dengan wajah yang mulai di selimuti amarah.


"Apalagi? saya hanya sedang membicarakan fakta di sini," ucap Pangestu.


"Sadarlah Aslan jika bukan karena belas kasihan kami, kau tidak akan pernah ada di sini."


"Jadi kakek tidak pernah menganggap ku sebagai cucu mu?"


"Ck. ck. kau baru sadar? sejak dulu tidak ada hubungan seperti itu di antara kita. Kau hanya beruntung di lahirkan sebagai anak laki-laki penerus Baskoro putraku yang sudah tiada karena keserakahan ibumu."


"Berhenti menyangkut pautkan semuanya dengan ibuku kek, kemattian ayah itu karena karma nya sendiri."


"Karma katamu? ibumu itulah penyebab awal kehancuran keluarga ini terjadi, perempuan gilla jalllang tidak tahu diri yang memberikan tipu muslihat kepada putra ku!"


"Cukup kek berhenti berbicara buruk tentang ibuku!" teriak Aslan yang sudah sangat berang.


"Kau ingin mendengar lebih banyak? dengar kan ini ibumu itu adalah wanita jallang tidak tahu diri, wanita pembawa racun di keluarga ini,"


"Dan sekarang anak nya pun mewarisi darah laccur yang kotor dari nya. Jika akhirnya seperti ini saya sangat menyesal telah membesar kan mu, harusnya kau matti saja bersama ibumu yang siallan itu!"


Aslan bergetar hebat demi mendengar caci makian yang terlontar dari mulut kakeknya itu. Darahnya mendidih seketika.


"Oke kalau itu mau kakek, aku akan pergi dari sini!" Aslan memberikan keputusannya.


"Pergi jika kau bisa? kau tidak akan bisa apa-apa di luar sana tanpa kami," ujar pengestu tetap tenang bahkan tersenyum seolah meremehkan. Sementara Parwita sudah menangis sesenggukan di tempatnya berdiri ingin menghampiri sang cucu namun suaminya dengan cepat mencekal tangannya. Pengestu tak akan membiarkannya mendekati Aslan.


"Tempat di mana ibuku di hina, aku tidak pernah menginjakkan kaki lagi di tempat itu!" Aslan menatap tajam penuh amarah. Rahangnya mengeras.


"Baiklah." pengestu menjawab santai. "Pergi dan jangan kembali lagi. Ada ataupun tidak adanya dirimu tidak berpengaruh apa-apa untuk keluarga ataupun perusahaan! karena memang sejak dulu kau bukanlah ahli waris yang sah untuk mavendra group!"


To be continued ...

__ADS_1


__ADS_2