Pesona Gadis Penebus Hutang

Pesona Gadis Penebus Hutang
PHGP | Bab 56


__ADS_3

...💞 Happy reading 💞...


Brakk!


Semua orang terkesiap kaget saat tiba-tiba saja Shaka memukul meja dengan sangat keras, wajahnya memerah padam seperti menahan kekesalan yang teramat besar.


"Shaka! apa-apaan kamu?!" Renata menegur dengan ekspresi tegas, "Ini meja makan. Kamu lupa untuk menjaga sikap saat sedang makan?"


"Tapi kalian juga berlebihan, ini meja makan kenapa membicarakan hal yang tak berguna seperti itu?!"


"Shaka!" giliran Fiona yang melotot tajam, memperingatkan nya.


Matilda tersenyum tak enak, ia berusaha memenangkan situasi yang memanas ini. "Hahaha, tidak apa-apa kakak ipar, Fiona. Salah ku juga membicarakan hal seperti ini saat di meja makan."


"Jangan meminta maaf Matilda, ini bukan salah siapa- siapa.Toh tidak ada yang salah dengan usulan mu," ujar Renata.


Shaka mengerut dahi. "Bun ... "


"Sudahlah nak, kita bicarakan saja semuanya di sini. Toh memang penting, kamu mempunyai pasangan yang sepadan," ujar Renata kembali sambil melirik ke arah Kirana.


"Yang di katakan mama, benar Shaka," Fiona menyahut.


"Pernikahan mu dengan Kirana juga hanya di atas kertas. Jika kamu menikah lagi bukanlah sebuah kesalahan."


Kirana meremat kuat ujung dress yang di kenakan nya, hatinya seperti teriris begitu menyayat, di tambah Shaka yang hanya diam saja semakin menambah luka di hatinya, seolah pria itu sendiri yang menaburkan garam di lukanya.


Shaka berdecih, ia membuang muka, merengut sebal. "Terserah kalian saja!" pria itupun kemudian pergi, meninggalkan banyak pertanyaan yang menggantung, dan keheranan semua orang.


Kini tinggal Fiona, Matilda, Olivia dan Renata yang ada di meja makan, Kirana menundukkan kepala menahan sesak di jarinya, sementara Matilda dan Fiona diam-diam saling melirik sambil menunjukkan senyum kemenangan, Olivia sendiri meninggalkan area meja makan tak lama setelah Kirana pergi.


Langit di luar semakin mendung, awan gelap mendominasi membawa petir dan hujan yang siap membasahi bumi, serta luka yang di bawa Kirana, wanita itu berhenti sejenak di pintu kamarnya, air matanya sudah tak bisa ia tahan, Kirana menangis sejadi- jadinya di sana. Olivia yang sejak tadi mengikuti Kirana juga menghentikan langkahnya, tatapannya begitu terenyuh melihat Kirana, detik kemudian wanita berambut sebahu itu mendekat membuat Kirana terkejut setelah mendapatkan sentuhan halus di pundaknya, gegas Kirana menghapus air matanya dengan punggung tangan.


"K- kau? ... "


Olivia menghela nafas pelan, lalu mendekat mengusap pundak Kirana.


"Aku tak tahu apa yang terjadi di antara kalian, tapi-- jika ini menyakitkan kau bisa bercerita padaku," ucap Olivia dengan penuh empati.


"Kenapa kamu berubah baik seperti ini pada ku?" tanya Kirana dengan penuh keheranan.

__ADS_1


Olivia awalnya cukup terkejut dengan pertanyaan yang di ajukan Kirana sampai akhirnya wanita itu tersenyum lembut.


"Sejak awal kedatangan mu, aku memang tak menyukai mu namun bukan berarti aku membenci mu, maaf aku tak bisa membela mu tadi .... "


"Tak apa, aku mengerti, baik kau dan aku sama-sama tak punya kuasa di sini." Kirana menunduk lagi sambil mengusap jejak air matanya.


Olivia lalu menuntun Kirana untuk duduk di sofa dalam kamar Kirana, wanita itu melihat keadaan ruangan yang kini menjadi tempat untuk Kirana berteduh lalu menghenyakkan nafasnya kembali, ia sudah mendengar banyak tentang kejadian yang baru-baru ini berlangsung dan sangat menyayangkan tentang perubahan sikap anggota keluarga termasuk Shaka sendiri, kepada Kirana.


Lalu Olivia membawa segelas air yang ia ambil dari dalam teko gelas yang tersedia di sana, memberikan nya pada Kirana agar wanita itu bisa sedikit lebih tenang.


Lantas setelah beberapa saat barulah Olivia membuka pembicaraan.


"Bisakah kamu menceritakan padaku apa yang sebenarnya terjadi?"


Mulanya Kirana diam, sedikit tertegun dengan apa yang di ucapkan Oliva, namun setelah beberapa detik ia mulai berfikir, di sini ia tak punya teman ataupun tempat untuk bercerita, tak ada salahnya jika ia mempercayai Olivia meski sempat ada sedikit kesalahpahaman di antaramereka.


Melihat ekspresi lain yang di tunjukkan Kirana, Olivia tersenyum. "Tidak apa-apa jika kau tak ingin bercerita. Tapi aku di sini ingin menjadi teman mu Kirana, kita bisa menjadi teman untuk saling berbagi cerita. Ada kalanya kita tidak sekuat itu dan membutuhkan seseorang untuk bisa berbagi cerita."


Setelah mendengar kata-kata tersebut, pecah lah tangis Kirana, detik demi detik berlalu dalam larut kesedihan saat Kirana menceritakan apa yang terjadi pada Olivia.


"Aku tak tahu kenapa semua ini bisa terjadi, awalnya masih baik-baik hingga kejadian itu--" Kirana menggeleng tak sanggup melanjutkan kata-katanya.


"Pasti ada sesuatu yang telah terjadi, seperti semua ini telah di rencanakan,"


"Apapun yang terjadi nanti, kamu harus siap Kirana untuk kemungkinan sesuatu yang besar yang bisa saja menghampiri mu, tapi jangan khawatir, mulai sekarang aku akan ada di sini untuk menemani mu, Kirana."


Kirana merasa terharu, ia juga jadi merasa sedikit lega setelah bicara dengan Olivia, untuk pertama kalinya akhirnya Kirana memiliki seorang teman yang mau berbagi keluh kesah dengan nya.


"Terimakasih Olivia ... "


Olivia mengangguk, untuk pertama kalinya ia juga merasa senang, setelah sekian lama merasa seperti burung dalam sangkar, ia kini menemukan seorang teman dan itu tidak pernah ia sangka, wanita yang awalnya ia anggap seperti ancaman kini menjadi temannya.


Olivia tersenyum hangat ia pun menarik punggung Kirana dan memeluknya, Kirana pun membalas pelukan itu, seolah mereka sudah seperti tempat yang sangat dekat.


...--------Oo--------...


Dalam waktu seminggu ini, akhirnya pesta dalam merayakan ulang tahun perusahaan resmi di adakan. Ruangan terbuka dengan aula besar mansion menjadi tempat acara akbar itu di selenggarakan. Di hadiri oleh para tamu undangan kalangan atas, pesta ini terkesan sangat ekslusif dan megah.


Seperti yang di bicarakan sebelum nya, niat Matilda untuk menjodohkan Teresa putri tuan Gery, ternyata di sambut baik oleh Renata, Matilda berniat memperkenalkan Renata terlebih dahulu kepada Teresa, karna dia tahu Shaka pasti tidak akan bisa menolak permintaan Renata.

__ADS_1


"Ini dia Teresa clopper, putri tuan Gery clopper yang ku bicarakan itu." Matilda tersenyum sumringah ketika memperkenalkan Teresa kepada Renata.


"Dia sungguh sangat cantik," puji Renata atas first immpresion nya terhadap wanita dengan gaun hitam glossy di depannya kini.


Teresa tersenyum, wajahnya yang blesteran Belanda itu seperti menambah daya pikat kecantikannya.


"Terimakasih, Tante juga sangat cantik pantas saja jika tuan Shaka begitu sangat tampan dan mempesona."


Renata terkekeh dengan pujian yang di lontarkan Teresa. "Kau bisa saja. Ayok tante kenalkan pada Shaka,dia juga pasti sangat menanti untuk berkenalan dengan mu."


Teresa membuahkan mata melirik dengan senyum ke arah Matilda, dan kemudian di balas kode tatapan mata oleh perempuan itu, agar Teresa mengikuti langkah Renata.


Sementara Shaka sendiri saat ini sedang menahan kesal, meski kini ia masih terlihat baik-baik saja di depan para koleganya saat mereka tengah berbincang-bincang kini.


Namun kekesalannya semakin bertambah, pasalnya saat ini ia melihat pemandangan yang sukses membuat darahnya mendidih, di mana terlihat Kirana yang begitu akrab dengan Aslan.


Kirana yang saat ini memakai seragam maid dan memegang nampan berisi minuman di tangannya namun sama sekali tak bisa menghilangkan pesona kecantikan nya.


Shaka merasa begitu kesal dengan pakaian seragam maid yang di kenakan Kirana terlihat sedikit terbuka, namun ia tak bisa melakukan apa-apa untuk melarang meskipun ia sangat ingin menarik Kirana dari sini. Di tambah dengan kedekatan Kirana dengan pria lain membuat kepala Shaka seolah mengepul mengeluarkan asap.


Kirana sendiri menyadari tatapan Shaka yang terus tertuju padanya, mata berkilat amarah itu kini tak lagi membuat Kirana gentar. Kirana justeru cuek bebek dan melanjutkan obrolannya dengan Aslan, saking kini sudah akrabnya mereka, Aslan bahkan sudah tak sungkan untuk memuji Kirana bahkan membantu wanita itu ketika ada seekor serangga kecil di wajah Kirana.


"Tunggu ada sesuatu di wajah mu," ujar Aslan lalu mendekat untuk membantu Kirana menghalau mahluk kecil itu di pipi Kirana.


Shaka semakin gerah saja melihatnya apalagi posisi mereka yang begitu dekat membuat Shaka ingin menghampiri dan menghalau, sementara Kirana semakin cuek bebek ia abaikan ekspresi Shaka yang jelas tengah menahan cemburu, justru ia semakin memanasi dengan tersenyum kepada Aslan.


"Terimakasih."


Aslan balas tersenyum. "Sama-sama."


Shaka berdecih hendak melanjutkan langkah, sampai ketika dua wanita datang membuat atensi semua orang terhubung pada mereka.


"Shaka lihatlah siapa yang bunda bawa untuk di perkenalkan padamu," seru Renata dengan berseri - seri.


Teresa berjalan dengan anggun melewati Kirana yang juga tengah menatapnya, wanita itu memeluk Shaka begitu ia tiba di depan pria itu.


Dan semua pemandangan itu terlihat langsung di depan kedua mata Kirana, Shaka yang terkejut refleks mengarahkan pandangan ke arah Kirana meski tangannya dengan spontan memeluk pinggang Teresa.


To be continued ....

__ADS_1


__ADS_2