Pesona Gadis Penebus Hutang

Pesona Gadis Penebus Hutang
PHGP 46 | Back to home


__ADS_3

...💞 Happy reading 💞...


Butuh waktu sekitar lima jam lebih untuk sampai ke tujuan yang Shaka tentukan, ia sudah merencanakan masak-masak bagaimana caranya dirinya dan sang istri bisa sampai ke mansion, dengan selamat.


"Apa den Shaka yakin sampai di sini saja di antar nya?" tanya pak Agus sambil memandang pasangan yang di duduk di jok belakang nya itu melalui spion tengah.


"Ya pak Agus,kami meminta di antarkan sampai sini saja," pungkas Shaka tanpa keraguan.


"Baiklah,jika itu keinginan kalian."


Mereka pun turun dari mobil pick up milik pak Agus yang memang di peruntukan untuk pria berusia setengah baya itu bekerja.


"Terimakasih telah mengantar kami pak Agus," ucap Shaka dengan senyum tipis menghiasi bibirnya.


Pak Agus mengangguk pelan. "Tapi apakah kalian punya bekal untuk naik transportasi ke tujuan berikutnya?"


"Tenang saja, kami sudah memiliki itu," Ujar Shaka lagi dengan optimis, sementara Kirana berdiri dengan gerakan canggung, di terminal bus ini ramai sekali dan tak jarang ia melihat beberapa pejalan kaki melihat ke arah mereka.


"Baiklah, semoga kalian sampai ke tujuan dengan selamat," ucap pak Agus sambil mengucapkan salam perpisahan.


"Terimakasih pak, kami sungguh beruntung di pertemukan dengan orang-orang baik seperti kalian, kelak kita akan berjumpa lagi, saya tidak akan pernah melupakan semua jasa kalian."


Pak Agus tersenyum mendengar perkataan Shaka, sampai di sini mereka pun akhirnya berpisah untuk melanjutkan perjalanan ke tujuan masing-masing.


Shaka dan Kirana sontak melambai perlahan sambil tersenyum mengiringi mobil pak Agus yang akhirnya sudah melaju pergi.


"Mas,apa rencana mu sekarang? bagaimana kita sampai ke mansion?"


"Kau tenang saja, aku masih mempunyai ini." Shaka menunjukkan sesuatu pada Kirana."


Wanita itu tertegun lantas tersenyum cerah. "Dompet dan ponsel mu."


"Ya." Shaka mengangguk sesaat. "Daeng yang telah menyimpan nya untuk ku selama aku tidak sadarkan diri."


"Dengan ini kita pasti bisa kembali ke mansion kan mas?"


"Tentu sayang." Shaka mengacak-acak rambut Kirana karna gemas.


"Aku akan menelpon nomor Liam dan kita bisa segera kembali ke mansion kita."

__ADS_1


Akhirnya Kirana bisa bernafas dengan lega, karena rasa bahagianya yang meluap-luap refleks ia memeluk erat suaminya itu. Shaka menyambut pelukan itu dengan penuh cinta, ia merangkul pundak Kirana seraya mengecup pucuk kepala wanita itu berulang kali.


"Selama kau ada di sisi ku, semua rintangan berat sekali pun bisa ku hadapi, terimakasih Kirana."


Sore harinya, sebuah kabar baik tersiar dengan begitu cepat, semua penghuni mansion seolah tengah di beri anugerah setelah mendapat laporan dari Liam jika ia telah menemukan tuan muda dan nona muda mansion ini.


"Tuan Shaka ... tuan Shaka telah menelpon dari nomor nya, beliau baik-baik saja dan akan segera kembali bersama istrinya!"


Semua orang yang tengah berkumpul mendengar penuturan Liam tersebut sontak saja menghela nafas lega, raut wajah yang semula tegang kini sudah mengendur dengan senyum bahagia menghiasi.


Renata, wanita yang selama ini tengah sakit-sakitan karena khawatir dengan putranya sampai bersujud dengan mengusap dada, berkali- kali mengucap syukur.


"Terimakasih Tuhan! terimakasih engkau telah mendengarkan doa-doa ku selama ini."


Semua orang saling melempar pandang dengan wajah penuh rona berseri- seri.


"Sekarang ada di mana Shaka dan Kirana, Liam?" tanya Helen di kursi rodanya.


"Mereka sekarang ada di suatu tempat di sebuah terminal bus, saya akan kesana untuk menjemput keduanya."


"Tunggu apalagi Liam, cepat bawa kembali putra ku dan istrinya ke mansion ini!"


"Baik, nyonya besar!" angguk Liam mematuhi perintah Renata dengan semangat.


Hingga kabar menggembirakan itu sampai ke telinga Fiona, detik itu juga jantungnya seolah berhenti untuk berpacu, peluh dengan cepat membuat tubuhnya terasa pengap, Fiona yang tengah duduk dengan dengan santai di kursi singgasana yang seharusnya milik Shaka, terbangun seketika setelah mendengar kabar yang baginya itu sangat buruk.


"A- apa? S- Shaka telah kembali?"


Asisten nya yang memberikan kabar itu mengangguk. "Kenapa nyonya? anda malah terlihat cemas?"


Fiona terperanjat buru-buru ia menetralkan raut wajahnya. "Oh tidak. Justeru aku sangat bahagia, adikku ternyata masih hidup, aku sangat bersyukur." Demi meyakinkan asistennya agar tidak di curigai Fiona berpura-pura terharu dengan mengeluarkan air mata buaya.


"Nyonya menangis?"


"Tentu saja, Rita. Ini adalah air mata kebahagiaan dari seorang kakak untuk adiknya yang selama ini jauh dari nya."


"Nyonya benar, pasti anda sangat merindukan tuan Shaka."


Fiona hanya tersenyum tipis sambil mengangguk angguk, tersirat seperti ada keterpaksaan di sana.

__ADS_1


"Baiklah, kau boleh pergi."


Rita hanya mengangguk patuh tanpa ada rasa curiga, berlalu sambil mengulum senyum setelahnya.


"Arggghh! sialann!" Fiona mendadak saja berubah seratus delapan puluh derajat setelah kepergian asistennya, ia mencengkram kuat rambutnya lalu menyugar nya dengan kasar.


"Brengsekk! kenapa dia harus kembali? apa yang harus ku lakukan?" ketakutan dan kekhawatiran seolah telah menjadi ancaman terbesar untuk Fiona saat ini, ia menggigit bibir kuat-kuat sambil berfikir keras rencana apa yang akan di susunnya jika Shaka sampai benar-benar kembali.


"Tidak rencana ku tidak boleh sampai terbongkar! jangan sampai Shaka tahu, atau habislah riwayat ku!"


****


Malam di mansion, detik demi detik seolah berlalu begitu lambat, semua anggota keluarga sudah berkumpul di teras depan, menanti kedatangan Shaka dan Kirana yang sedang di jemput oleh Liam.


Renata dan Helen merasa gugup hingga keduanya saling menguatkan dengan mengenggam erat tangan masing-masing.


"Shaka pasti akan baik-baik saja," ucap Helen menenangkan kegundahan hati menantunya itu dan Renata tersenyum sambil mengangguk menanggapinya.


Dan akhirnya yang di nanti- nanti, Alphard hitam yang di kendarai Liam tiba memasuki pagar lalu mendarat lancar di selasar taman.


Atmosfer berubah begitu cepat sesaat setelah pintu mobil terbuka lalu keluar lah pria tinggi berbadan kekar dengan kaos berwarna hitam itu.


Renata merasa sangat bahagia, seolah tak percaya dengan apa yang di lihatnya,air matanya mengalir tanpa ia minta, kemudian dengan setengah berlari Renata menuruni undakan tangga menghampiri putranya.


"Anakku." Renata mendekat membelai wajah Shaka, mengusap punggung anaknya itu seakan tengah memastikan kalau Shaka baik-baik.


"Bunda ... "


Renata memejamkan mata, rasanya ia seperti tengah berada di padang pasir dan kini dahaganya telah terpuaskan setelah mendengar panggilan yang sangat ia rindukan dari putranya ini.


"Anakku ... " segera saja Renata memeluk Shaka dengan erat, begitupun dengan Shaka yang menyambut hangat rengkuhan penuh kasih ibunya.


"Anak ku, anak ku sayang." tersendat-sendat Renata berucap sebab menahan isakan nya.


Setelah melerai pelukan Renata kembali menangkup wajah tampan sang putra nya, banyak perubahan setelah berbulan-bulan Shaka menghilang, pria itu semakin tampan dengan bulu-bulu halus di sekitar dagu, dan rambutnya yang mulai memanjang, bahkan bekas luka di sekitar pipi Shaka tidak bisa mengurangi wajah rupawan pria itu.


"Kau baik-baik saja kan nak?"


Shaka mengangguk sambil mengenggam pergelangan tangan sang ibu.

__ADS_1


"Syukurlah, ibu sangat senang kamu bisa kembali dengan selamat ... "


To be continued .....


__ADS_2