Pesona Gadis Penebus Hutang

Pesona Gadis Penebus Hutang
PHGP | Bab 57


__ADS_3

...💞 Happy reading 💞...


Kirana membulatkan matanya, ia segera memalingkan muka begitu tatapan Shaka mengarah ke arahnya. Mengerti situasi yang terjadi, Aslan dengan gentle nya menarik lengan Kirana membuat semua pasang mata terkejut mengarah ke mereka.


"Jangan khawatir. Ada aku ... " bisik Aslan sambil menoleh dengan senyum manisnya. Kirana tak mengerti dengan apa yang Aslan rencana kan tapi begitu tangannya di genggam erat oleh pria itu Kirana seperti merasakan keamanan.


Shaka membara di tempatnya, hatinya seakan panas terbakar melihat Kirana dengan Aslan yang saling mengenggam tangan erat, refleks pria itu semakin menguatkan tangannya di pinggang Teresa membuat wanita itu mengeluh.


"Awww!!"


Shaka yang menyadari hal itu langsung melepaskan tangannya. "Maafkan aku."


Teresa justru tersenyum ceria. "Tidak apa-apa." lalu perempuan itu dengan tidak tahu malunya menarik lengan Shaka dan bergelayut manja di dada bidang lelaki itu. Meski ia tahu jika Shaka sudah menikah dan memiliki seorang istri.


"Hmmm, kalian memang tampak sangat serasi bersama." celetuk Matilda yang di angguki oleh Renata.


"Lebih cocok terlihat seperti ini, pangeran tampan memang di ciptakan untuk tuan putri yang cantik," timpal Matilda," bukan dengan seorang pelayan." imbuhnya sambil melirik ke arah Kirana berada.


Kirana langsung menundukkan wajahnya, hatinya begitu tercabik-cabik mendengar perkataan menyakitkan yang datang langsung dari sosok yang selalu ia anggap seperti ibunya sendiri.


Aslan menoleh menatap Kirana dengan wajah sendunya, seakan ikut merasakan sakit yang saat ini wanita itu rasakan. Sontak saja Kirana melepaskan tangannya dari genggaman Aslan dan pergi dari sana.


"Kirana ... " Aslan hendak menyusul Kirana, namun untuk beberapa saat langkahnya terhenti dan ia menoleh ke arah Shaka, ekspresi wajahnya seolah tengah merutuki Aslan dengan kilatan amarah di wajahnya, lalu pria itu pun pergi untuk menyusul Kirana.


...---------Oo-------...


Aslan berlari hingga ke area parkiran namun jejak Kirana seakan menghilang begitu saja, hati Aslan menjadi sangat risau mengingat wanita itu juga tengah mengandung menambah jelas kekhawatirannya. Di tengah kepanikan sekonyong-konyong seorang wanita datang menghampirinya.


"Kau?" dahi Aslan berkerut memindai wanita yang sama sekali tak ia kenal di depannya ini.


"Aku Olivia, aku ipar Kirana," ujar wanita itu memperkenalkan diri.


Aslan hanya berOh ria, lalu wajahnya kembali panik.


"Kirana ... ada di mana dia sekarang?" Olivia juga ikut merasakan panik.


"Dia menghilang begitu cepat. Aku tidak bisa menemukan nya." seru Aslan mengusap kasar wajahnya.

__ADS_1


"Tunggu, biar aku telpon mungkin dia membawa ponsel."


Aslan mengangguk cepat dengan usulan yang Olivia berikan. Detik berikutnya Olivia menelpon nomor Kirana, sekali dua kali hanya berdering, tak menyerah Olivia menghubungi yang ketiga kali lalu telepon pun tersambung. Wajah Olivia langsung berbinar lega.


"Kirana, di mana kamu? kami semua mencari mu" tanya Olivia dengan paniknya.


"Hmmmp ... hmmpp!"


Olivia dan Aslan mendengar jawaban dari sambungan telepon sontak merasa sangat terkejut, di seberang sana suara yang mirip dengan Kirana namun seperti mulutnya di bungkam terdengar.


"Halo Kirana, ada apa dengan mu? kenapa suara mu tidak jelas."


"Hmmmp! Hmpp!"


Hanya sahutan seperti geraman saja yang terdengar hal itu semakin membuat Aslan dan Olivia panik, Aslan langsung mengambil alih ponsel di tangan Olivia.


"Halo, halo siapa ini? dimana Kirana?!" teriak Aslan dengan emosi yang meluap.


Tidak ada tidak ada hujan justeru yang terdengar adalah sebuah tawa membahana. "Jika kalian ingin wanita ini bebas, siapkan uang tebusan sebesar 1 miliar!"


Aslan naik pitam mendengarnya. "Brengsekk! siapa kau hah? beraninya kau menculik Kirana!"


Tut! sambungan telepon di matikan sepihak.


"Halo! halo! kaparatt!" Aslan mengumpat dengan amarah murka, sementara Olivia sudah akan menangis mendengar Kirana yang di culik.


"Bagaimana ini? apa yang harus kita lakukan?!"


Aslan berdecak kesal, lalu suara notifikasi muncul dari layar ponsel membuat atensi mereka kembali siaga.


Nomor luar negeri muncul mengirimkan sebuah email yang menunjukkan sebuah alamat.


[Temui kami di sini, ingat tidak boleh ada polisi atau wanita ini akan tiada.]


"Bagaimana ini Aslan?" Olivia mengigit jari, cemas.


Aslan mencoba untuk tidak panik. "Kau tenang saja, kita pasti bisa menyelamatkan Kirana." meski sebenarnya ia juga sangat khawatir dengan keadaan wanita itu saat ini.

__ADS_1


Di suasana pesta yang syahdu, Shaka dan Teresa saling menatap dengan lengan Teresa di pundak pria itu dan tangan kokoh Shaka di pinggang wanita itu ketukan kaki mereka berirama seiring lagu romantis yang di putar di lantai dansa.


"Bagaimana tuan Rajendra, kita sudah saling mengenal namun sikap mu masih begitu dingin padaku?" Teresa mencebik lalu bibir sensuall dengan lipstik merah menyala itu melengkung membentuk sebuah senyuman.


Shaka hanya diam saja dengan wajah lempeng bak kanebo kering, ingin sekali ia pergi dari sini tapi sang ibu menahannya dengan berbagai alasan kuat membuatnya tak bisa pergi begitu saja apalagi di depan semua kolega bisnisnya. Namun hatinya selalu mencemaskan Kirana terbayang wajah sedih perempuan itu di pelupuk mata membuat Shaka rasanya ingin menghilangkan semua penghalang ini dan pergi menemui sang belahan hati.


"Maafkan aku Kirana, maafkan aku ... "


...---------Oo-------...


Aslan mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi membuat Olivia yang duduk di sampingnya terus merapal doa dengan raut kengerian tercetak jelas di wajahnya.


Lumayan memakan waktu lama perjalanan mereka sudah sampai di tempat tujuan.


"Apa kamu yakin dengan rencana mu tuan Aslan?" tanya Olivia dengan sedikit ragu.


"Jika kau takut kau boleh tetap di sini." tukas Aslan dengan tatapan dingin, tak sabar ia ingin menghancurkan orang di balik penculikan Kirana ini.


"Tidak, aku ingin ikut dengan mu!" ujar Olivia memutuskan segera.Aslan hanya mengangguk sekilas lalu keluar dari mobil dengan menenteng sebuah koper berukuran sedang berwana hitam.


Tiba di sebuah ruko kosong yang terbengkalai, Aslan berhenti di ikuti Fiona mengekori di belakangnya.


"Siapapun kalian yang ada di sini, di mana Kirana? lepaskan dia!!"


Sementara itu di balik tembok besar dua orang dengan pakaian serba hitam serta topeng yang menutup kepala mereka terperanjat mendengar seruan itu.


"Mereka sudah datang!" seru salah satu di antara mereka bersuara seperti perempuan.


"Kita akan menjadi kaya raya!" seru satunya lagi dengan suara lebih berat dan tubuhnya yang lebih besar.


Kirana yang duduk dengan kedua tangan dan kakinya yang di pasung memberontak, ia mencoba untuk bicara namun lakban hitam yang menutup mulut nya tak membiarkan ia untuk berteriak.


Plak! suara yang begitu keras, wajah Kirana berpaling ke samping di iringi dengan rasa kebas dan panas yang menjalar di pipinya dengan cepat.


"Diam kau bodoh! jika kau memberontak lagi ku pastikan kau pulang tinggal nama saja!" ancam sosok berpakaian serba hitam itu setelah puas menamparnya.


Kirana menggeleng, ia tak menyangka anggota keluarganya sendiri tega melakukan ini padanya hanya demi harta.

__ADS_1


"Pak Aslan ... tolong selamatkan aku ... " lirihnya dengan memejam mata.


To be continued ....


__ADS_2