
💞 Happy reading 💞
Sesuai janjinya, Shaka mengajak Kiran ke sebuah pusat perbelanjaan yang terkenal di kota ini. Suasana terlihat sangat ramai meski begitu tetap tertib dan terasa mengasyikkan saat mereka mengelilingi mal eklusif itu.
"Pilihlah, apa pun yang kau suka," papar Shaka sambil menunjuk semua yang ada di dalam mall.
"Eh, semua? kayanya itu tidak perlu."
"Lalu kamu ingin apa?" tanya Shaka kemudian.
"Terserah, tuan." pungkas Kiran menjawab.
"Nah, jawaban seperti itu tuan muda yang di takuti setiap pria saat mengajak pasangan nya berbelanja," ungkap Liam sambil berbisik, sejak tadi ia terlihat menyimak sambil terus tersenyum pada dua sejoli yang nampak seperti ABG yang baru saja merasakan cinta.
"Benarkah?" Shaka melirik kaget. "Lalu apa yang harus ku katakan?"
"Inilah yang sulit tuan ku, karena aku pun single yang tidak pernah tahu rasanya mempunyai kekasih, jadi akupun bingung mau memberi saran apa."
"Ck, dasar jomblo karatan," Shaka setengah berbisik meledek asisten nya itu.
Seketika saja wajah Liam berubah keruh. "Nelangsa banget gue punya bos yang baru ngerasain bucin." gumamnya dalam hati.
"Mmmm ... gini aja tuan muda, katakanlah sejujurnya apa yang di inginkan oleh young lady," ujar Liam lalu sambil menutup mulut dengan lengannya, berbisik.
Kiran yang melihat interaksi aneh dua pria di depannya kini mulai merasa curiga.
"Kenapa kalian berbisik-bisik?" tanyanya penasaran.
"Oh, tidak kok young lady." Liam yang ke geep langsung menggeleng cepat, lalu ia menyenggol lengan Shaka agar tuannya itu bicara.
"Mmm ... baiklah Kirana, katakan saja apa yang kamu inginkan?"
"Terserah tuan saja," ucap Kiran sambil meggidikkan bahu.
Oh astaga! Shaka hampir menepuk kepala Liam saking frustasi nya, ini lebih sulit daripada harus memenangkan sebuah tender. Kenapa para wanita harus mengucapkan 'terserah' padahal banyak opsi lain daripada kata keramat itu.
"Baiklah, kita akan membeli ponsel untuk mu dahulu," pungkas Shaka kemudian memberikan pilihan, dan untungnya kali ini Kiran mengangguk.
Selama ini Kiran belum memiliki ponsel untuk mereka berkomunikasi jika sedang berjarak, dan Shaka baru ingat sekarang untuk membelikannya agar suatu saat jika bisa menghubungi sang istri meski mereka sedang berjauhan.
"Oke." gadis itu nampak tersenyum yang membawa keceriaan bagi semua orang melihat nya, Shaka mengusap pipi chuby Kiran dengan gemas.
...---------Oo-------...
__ADS_1
Di tokoh barang elektronik, Shaka dan Kiran melihat- lihat beragam merek ponsel yang terpajang di etalase kaca.
"Yang ini bagaimana?" tunjuk Shaka pada salah satu ponsel keluaran terbaru dengan logo apel di gigit setengah berwarna hitam.
"Ini bagus tuan,aku menyukainya," pekik Kiran gembira.
Shaka mengangguk dengan tersenyum kecil. "Istri ku menginginkan ponsel yang ini, tolong di kemas," ucap Shaka kemudian pada pramuniaga toko.
"Baiklah, mohon menunggu pak, kami akan menyiapkan nya."
Shaka lantas mengangguk, Kiran bertepuk tangan ceria, Liam melihatnya ikut merasa gembira untuk pasangan itu.
"Ku harap yang terbaik untuk hubungan kalian, tuan muda ... young lady." doa Liam dalam benaknya.
*****
Setelah berbelanja ponsel, Shaka mengajak Kiran ke sebuah restoran, memesan makanan untuk mereka sebelum nanti melanjutkan perjalanan lagi, sementara Liam ijin pamit sebentar untuk keperluan pribadi dan Shaka mengijinkannya, itung-itung lebih banyak waktu nya berduaan bersama sang istri tanpa ada bayang-bayang asisten sekaligus bodyguard pribadinya itu.
"Jadi kamu tidak mengetahui cara mengoperasikan ponsel?"Shaka terkejut dengan pengakuan yang baru saja di lontarkan Kiran.
Gadis yang rambutnya di kepang dua itu menggeleng polos. "Dulu, aku pernah punya handphone tapi itu jadul, bibi memberikannya pada ku setelah tidak di pakai lagi oleh sepupu ku Fitri. Dan aku pun hanya menggunakannya untuk menelpon dan mengirim SMS. Pernah aku melihat Fitri yang memakai ponsel android terbaru tapi aku sama sekali tak mengerti cara memakainya."
Mendengar penuturan tersebut Shaka menghela nafas pelan, merasa sedih penderitaan apa saja yang sudah di alami istri kecilnya selama ini saat berada di dalam keluarga bibi dan pamannya yang biaddab?
"Maaf, aku datang terlambat," ujar Shaka, telapak tangan kekarnya mengelus lembut sebelah pipi Kiran.
"Aku tak apa-apa tuan ... sungguh," ucap Kiran mengusap lengan Shaka di wajahnya, mendengar itu membuat Shaka bisa lebih tenang dari sebelumnya.
"Baiklah, kalau begitu aku akan menunjukkan bagaimana cara menggunakan ponsel ini." Lalu Shaka dengan teliti dan penuh pengertian menuntun dan mengajari Kiran cara mengoperasikan benda canggih itu.
Beberapa menit berlalu, Kiran memanggut-manggut mengerti dengan semua yang di jelaskan Shaka.
"Bagaimana? apa kamu mengerti sekarang."
Lalu gadis itu mengangguk cepat serta semangat. "Mmm! aku mengerti, tuan."
"Good girl," puji Shaka sambil mengacak-acak poni Kiran membuatnya tersenyum malu.
"Sekarang simpan lah nomor ku ini, jika aku menelpon mu segera angkat, dan di mana pun kamu berada harus sigap mengabari ku, oke?"
Kiran mengangguk mengerti. "Mmm ... my husband?" ia membaca nama yang di tulis Shaka di atas nomornya.
"Kenapa? bukankah bagus?" ungkap pria itu dengan bangga.
__ADS_1
"Iya ini bagus, lalu tuan menamai nomor ku dengan apa?"
"Ran." jawab Shaka, singkat dan padat.
"Ran?" dahi Kiran mengernyit saat mengulang ucapan pria itu.
"Ya, Ran adalah plesetan dari nama Kiran, sekarang aku lebih suka memanggil mu dengan sebutan Ran."
Tanpa sadar pipi Kiran memanas mendengar penuturan Shaka, sangat manis seolah pria itu tengah memberikan nama kesayangan untuk nya.
"Ran milik tuan Shaka."
Sekali lagi perkataan laki-laki itu sukses membuat aliran darah di dalam tubuh Kiran bekerja dua kali lebih cepat, bisa ia rasakan dirinya yang menahan nafas sebab tengah membendung debar dada yang semakin menggila.
Tak berapa lama kemudian, seorang pramusaji datang menghidangkan pesanan mereka, berbagai menu olahan kelas atas kini terhidang di atas meja.
"Selamat menikmati,"ucap pramusaji itu setelah selesai menghidangkan makanan lalu ia membungkuk hormat dan berlalu pergi setelah Shaka dan Kiran mengangguk hampir bersamaan sebagai tanggapan.
"Baiklah, saat nya kita mengisi perut," ucap Shaka lalu mereka bersiap menyantap hidangan, saat hendak menggapai sendok dan garpu, Shaka di buat terdiam tak kala melihat Kiran yang memejamkan mata sambil menengadah kan kedua tangannya, mulut gadis itu seolah sedang merapalkan doa, pemandangan yang membuat Shaka terhipnotis saat itu juga.
Pria itu menatap lekat Kiran yang tengah bergumam doa sebelum makan, sesuatu yang tak pernah ia lihat sebelumnya dari wanita manapun yang pernah di temui nya.
"Lentera Kirana kau memang berbeda ... semakin hari aku semakin di buat takjub oleh mu."
Shaka mengambil ponselnya lalu membidik kamera ke arah Kiran. Hasil jepretan indah telah ia tangkap. Foto ini akan menjadi kenangan selanjutnya bersama sang istri.
****
Setelah kenyang, Shaka dan Kiran keluar dari dalam restoran.
"Kau tunggu di sini dulu, aku ingin menghubungi Liam."
"Baiklah." jawab Kiran kemudian, Shaka menjawil sekilas pipi Kiran lalu pergi untuk menelpon.
Sementara Kiran sembari menunggu dengan menenteng dua paper bag di tangannya ia melihat- lihat ke sekitar nya agar tak jenuh.
Sampai tiba-tiba gadis itu merasakan sebuah tepukan ringan di pundaknya dari belakang, sontak ia melongok, di saat itulah mata Kiran membola, terkejut.
"Kirana ... akhirnya aku menemukan mu," ucap seorang pria di belakangnya begitu ia menoleh.
To be continued ...
Shakiran♡
__ADS_1