Pesona Gadis Penebus Hutang

Pesona Gadis Penebus Hutang
PHGP Bab 42 + Visual


__ADS_3

...πŸ’ž Happy reading πŸ’ž...


Kirana tersentak sejenak mendengar pertanyaan Shaka, tiba-tiba ia menatap bingung tidak tahu harus memberikan alibi apa agar Shaka tidak murka ketika mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.


Seolah mengetahui kegelisahan Kirana, Shaka mengambil tangan mungil sang istri, meremasnya lembut, menyalurkan kehangatan.


"Katakan padaku yang sejujurnya, apa saja yang sudah terjadi selama aku tidak ada?" Shaka menatap lembut, tak ingin sang istri merasa terintimidasi.


Kirana menelan saliva kasar, bibirnya yang semula terkatup kini perlahan terbuka, lalu keluar lah semua kata-kata yang selama ini sudah ia pendam sejak lama. Shaka mendengar kan dengan seksama penuturan Kirana, ia yang semula biasa saja kini mulai tersulut emosi.


"Brengsekk!" Shaka menggeram kesal, tak menduga semua kekacauan itu terjadi saat dirinya tak ada di mansion.


Kirana yang melihat perubahan raut wajah Shaka, mendadak menciut ia menepuk pelan pundak suaminya itu sambil menatap dengan menunjukkan puppy eyes nya.


Mengerti akan ketakutan Kirana, Shaka pun membuang nafas panjang lantas tersenyum ke arahnya. "Tidak apa-apa, kali ini aku tidak akan gegabah lagi."


"Aku takut ... apa mungkin sudah terjadi konspirasi yang di buat seseorang untuk menghancurkan keluarga kita?"


Shaka menoleh saat Kirana mengutarakan pendapatnya itu, ia memang sudah mencurigai ada yang tak beres, dan kecelakaan yang menimpanya ini pasti sudah direncakan oleh seseorang.


Tak ingin Kirana semakin cemas memikirkan semua ini, Shaka pun berusaha menenangkannya.


"Jangan pikirkan itu sekarang, yang terpenting adalah saat ini adalah kamu." Shaka membelai lembut pipi Kirana, untuk sejenak mereka saling menatap dalam, berusaha menjelaskan perasaan masing-masing.


Lalu Kirana mengangguk, wanita itu kemudian menaruh kepalanya di dada bidang Shaka bersandar dengan nyaman, sementara Shaka memeluk kedua pundaknya dan mengusap lembut pucuk kepalanya. Mereka pun larut dalam pikiran masing-masing.


Di kediaman Wijaya.


"Apa? kau sudah gilla?" Matilda menatap nyalang pada putra satu-satunya putra yang di milikinya.


"Bagaimana kau bisa melakukan semua ini hah? kau ingin otoritas kita terancam?!"


"Tidak mommy dengarkan aku dulu." Arkan berdecak kesal, harusnya ia tidak usah buru-buru memberitahukan apa yang baru saja ia lakukan dengan Kirana pada ibunya ini.


"Kacau! ini benar-benar kacau!" Matilda berteriak frustasi, ia menepuk keningnya sendiri sambil berjalan mondar-mandir seperti setrikaan rusak.


"Lalu di mana jasad Kirana sekarang? apa kau menguburkannya?"


"Itu dia masalah nya mom, wanita itu jatuh dari tebing tubuh nya terbawa arus sungai-"


"Bodoh!" belum sempat Arkan menyelesaikan ucapannya, Matilda berteriak lagi kali ini penuh emosi.


"Bagaimana bisa kau seceroboh itu hah? orang-di mansion pasti akan langsung mencurigai mu dan jika wanita itu di temukan masih dalam keadaan hidup, tamatlah riwayat kita!" Matilda menggigit kukunya tanpa sengaja karena gelisah. Mendengar ibunya juga tidak bisa menyelesaikan masalahnya ini Arkan jadi ikut gelisah.


"Lalu mom, apa yang harus kita lakukan? aku tidak ingin karna masalah ini, bisa mengancam kedudukan ku di perusahaan."

__ADS_1


Matilda yang semula cemas mengalihkan pandangannya dengan sorot sengit pada putranya, lalu tiba-tiba saja ia menoyor kening Arkan.


"Di saat ini kau malah memikirkan jabatan mu, pikirkanlah posisi kita yang akan terancam karena masalah yang kau buat ini."


Arkan meringis namun tidak berani membantah ucapan ibunya tersebut.


"Sudahlah, saat ini kita harus ke mansion oma, dan tunjukkan simpati, agar orang-orang tidak sampai curiga kepada kita."


Arkan lantas mengangguk menuruti perintah ibunya, mereka pun pergi untuk menuju ke the golden mansion.


---------Oo-------


Liam menghela nafas panjang ia menyeka keringat yang membasahi keningnya, sudah hampir 24 jam namun ia sama sekali belum menemukan keberadaan Kirana atau bahkan jejaknya sama sekali tak terlihat. Para bodyguard yang ia perintahkan untuk melacak keberadaan Kirana pun datang dengan tangan kosong, nona muda nya itu benar-benar seperti hilang di telan bumi.


Sementara itu di balai desa yang di kenal dengan nama desa Karta, para petinggi desa dan pak Akbar selaku pemimpin desa sedang berdiskusi tentang Shaka dan Kirana, dua orang asing yang berada di desa mereka.


"Entah tragedi apa yang menimpa keduanya tapi yang pasti kita harus melindungi mereka, kepala desa."


Pak Akbar mengangguk- angguk. "Ya, bagaimana pun mereka tamu di desa ini, kita harus menjamu mereka dengan baik."


Menjelang sore hari, nenek Mina datang berkunjung ke rumah singgah yang memang di khususkan untuk para tamu yang bertandang di desa ini. Terdapat tiga kamar, Kirana dan Shaka di tempatkan di kamar depan.


"Nak, ini ada baju ganti juga perlengkapan lain selama kalian di sini."


Beberapa anak muda membawa barang-barang di belakang nenek Mina.


"Tidak apa-apa neng, tamu di desa kami adalah raja kami pasti akan menjamu dengan baik."


Nenek Mina mengangguk. "Benar apa yang di katakan nya.Tak perlu merasa sungkan nak, kita adalah keluarga sekarang."


Kirana mengangguk dengan mata berkaca-kaca karna terharu.


"Oh ya di mana suami mu?"


"Mas Shaka sedang istirahat saat ini."


Nenek Mirna manggut-manggut dengan jawaban Kirana. "Luka suami mu sangat parah, dan sekarang belum kering benar, nanti kamu harus mengganti perbannya agar tidak terjadi infeksi."


"Baik nek." sahut Kirana lugas.


"Baiklah, kalau begitu nenek pergi dulu, jika kamu lapar di bagian dapur sudah lengkap dengan peralatan masak dan bahan pangan kamu bisa memasak nanti."


"Sekali lagi terimakasih nek."


Nenek Mirna mengangguk, ia kemudian sedikit mencondongkan tubuhnya. "Suami mu sangat lah tampan, banyak gadis desa ini yang terpesona oleh nya, kamu harus ektra menjaganya." bisik nenek Mirna ke telinga Kirana sambil tersenyum kelakar, Kirana lantas tersenyum malu lantas mengangguk dengan candaan wanita berusia hampir seabad itu.

__ADS_1


Langit sudah berwarna gelap,meski begitu di luar suasana desa masih terlihat ramai, karena aliran listrik belum sepenuhnya menjangkau desa jadi warga mengandalkan obor sebagai penerangan yang di pasang di pilar- pilar rumah.


Setelah membersihkan diri dan berganti pakaian, Kirana berjalan pelan dengan rambut panjang nya yang di ikat dan gelung ke atas, kedua tangannya membawa air hangat di dalam baskom juga handuk kecil di pundak nya.


Melihat sang istri yang berjalan ke arahnya, bibir Shaka otomatis terkembang manis. Pria dengan tubuh atletis itu menarik pinggang Kirana begitu wanita itu mendekat ke arahnya.


"Aku akan membersihkan luka-luka mu." Kirana mengulum senyum tipis, ia menaruh air hangat di atas nakas, lalu membantu Shaka membuka pakaian atas nya.


Dengan telaten dan penuh kesabaran Kirana mengelap bagian- bagian tubuh Shaka dengan handuk kecil yang sudah di basuh air lalu membantu pria itu membuka perban di sekujur lukanya dan menotolkan kembali obat herbal racikan nenek Mina di sekitar luka yang menganga.


Setiap pergerakan Kirana tak luput dari tatapan lembut Shaka, membuat wanita itu sedikit tersipu karena nya.


"Jangan terus menatap ku seperti itu."


Shaka mendengkus geli.


"Kau tahu, tidak bisa ku lewat kan sedetik pun tanpa melihat mu, aku sangat merindukanmu."


Kirana tersenyum.


"Gombal."


Shaka sontak terkekeh. "Kau tahu orang seperti ku bahkan tidak tahu bagaimana cara merangkai kata-kata manis, yang ungkap kan adalah murni dari hatiku."


"Baiklah, baiklah aku percaya." Kirana menggeleng pelan dan setelah selesai ia membantu Shaka mengganti bajunya.


Hari sudah semakin gelap, mereka pun bersiap-siap untuk tidur.Shaka menarik Kirana agar terbaring di sisinya, pria itu merangkul pundak istrinya lantas Kirana akan membaringkan kepalanya di antara hangat dada bidang Shaka, mengusap pelan dada kiri pria itu.


Sementara Shaka menaruh dagunya di atas kepala Kirana.


"Kau percaya besok akan lebih baik?" celetuk Shaka.


"Selama kamu ada di samping ku, aku percaya semuanya akan baik-baik saja." jawab Kirana dengan keyakinan dalam hati.


Diam-diam Shaka tersenyum, tangan kokohnya mengelus pundak sang istri dengan sayang.


"Apapun yang terjadi, aku akan selalu melindungi mu."


To be continued ...


***


Visual


Arshaka ian Rajendra | Lentera Kirana

__ADS_1



Tetap nantikan episode selanjutnya dan terimakasih untuk semua dukungannya β˜ΊοΈπŸ’•


__ADS_2