
Happy reading 🌻🌻🌻🌻🌻
Sarapan bersama usai di lakukan, setelah bercengkrama sebentar anggota keluarga memencar, pergi untuk urusan masing-masing, tertinggal para maid yang kini tengah membersihkan meja makan.
"Aku berangkat dulu, bun, Oma," pamit Shaka dengan menentang tas kerja nya, Liam di ambang pintu sudah menunggu sambil merapat tangan.
"Baiklah, hati- hati nak."
"Kak Fiona, aku pergi," ujar Shaka tak lupa pada kakaknya. Fiona mengangguk dengan tersenyum.
"Eh, tunggu ... " mendadak saja Helen menahan langkah Shaka yang hendak berbalik.
"Apa lagi oma?"
"Kamu tidak berpamitan pada istri mu?"
"Apa itu perlu?" tanya Shaka membalas pertanyaan sang nenek.
"Tentu saja, kalian adalah suami istri, sudah sepantasnya dong kalian berdua melakukan nya, kecup kening isteri mu, kau tahu itu adalah kebiasaan yang selalu kakek mu lakukan sebelum beliau berangkat kerja," tutur Helen pada sang cucu.
"Tapi tidak di depan semua orang juga?" alis Shaka berkerut pertanda ketidaksetujuan.
"Arshaka kamu ini bagaimana? hahaha, justru di depan semua orang kalian harus menampilkan keharmonisan pengantin baru," ucap Helen.
"Cih, nenek-nenek bau tanah, ngapain sih ngomong kaya gitu? biar caper?"
Batin Olivia merasa jengkel, pasalnya ia masih berada di sini, dan harus menyaksikan keromantisan antara Shaka dengan Kirana, sementara cintanya untuk Shaka masih tersimpan di dalam hatinya.
"Ayo ka, perkataan nenek mu benar. dulu almarhum ayah mu juga sering mengecup kening bunda sebelum berangkat kerja," timpal Renata ikut mendukung ucapan sang mertua.
Shaka mengembuskan napas sekilas lalu mengangguk lain halnya Kiran yang merasa berdebar-debar saat ini terlebih di saat Shaka mendekat dan benar-benar mengecup kening nya di depan semua orang.
"Sudah kan?" pungkas Shaka setelah mengecup kening istrinya.
"Haha kamu kaku sekali, harusnya lebih so sweet. Tapi tidak apa-apa, kalian masih dalam proses pendekatan, lain kali ucapkan kata-kata romantis juga untuk istri mu ya ... " ujar Helen tersenyum puas sambil memberi saran.
Shaka hanya mengangguk, untuk sesaat matanya bertemu dengan Kiran, gadis itu menunduk dengan cepat, ia merasa gemas karena nya.
Sementara Olivia yang sudah merasa muak dan cemburu memilih untuk undur diri, terlihat wajahnya yang masam tak bisa di sembunyikan, pun dengan Fiona yang buru-buru pergi karena ada urusan penting.
"Baiklah, kalau begitu aku berangkat dulu."
__ADS_1
"Hati-hati," sahut Helen, Renata dan Kiran secara bersamaan, Shaka menyungging senyum meski tipis sebagai respon nya, ia merasa senang dengan kekompakan ketiga wanita yang penting untuk hidup nya itu.
Setelah kepergian Shaka, Kiran pamit undur diri untuk kembali ke kamar.
"Kau lihat tadi, bagaimana sikap Olivia?"
"Iya bu, aku melihat nya," seru Renata dengan ucapan mertuanya, mereka kembali duduk di sofa tengah.
Helen membuang nafas panjang sebelum kembali berucap. "Ibu rasa, Olivia masih memiliki perasaan terhadap Arshaka."
Renata membulat kan mata mendengarnya. "Apa ibu yakin?"
"Entah, tapi ini masih firasat ku saja. Kembalinya Shaka adalah hal yang kita tunggu-tunggu selama ini. Selama masa terpuruknya tidak ada seorang pun yang berada di sampingnya, termasuk kita yang tidak berdaya di bawah jeratan Wijaya. Tapi kini Shaka telah kembali, musuh-musuh nya pasti sedang menyusun rencana untuk menjatuhkannya,"
"Bagaimana pun yang bisa kita lakukan adalah berdoa dan lindungi Kirana, sebab kini gadis itu telah menjadi kelemahan untuk Shaka. Olivia yang terlihat cemburu, takut nya ia bisa melakukan hal nekat, karena cinta bisa membuat buta, Kirana harus kita lindungi selama Shaka tak ada."
"Aku mengerti bu," ucap Renata mengangguk mantap.
...---------Oo-------...
Di lobby kantor, Shaka di ikuti Liam berjalan menuju ruangannya, semua mata langsung tertuju pada pria dengan jas mewah berwarna abu-abu metalik itu. Mereka langsung menunduk hormat begitu Shaka melirik, beberapa staf dan karyawan yang juga melewati ikut menunduk sambil menyapa meski tak dapat balasan dari pria dingin itu.
"Wah, ini co- founder kita? ganteng banget, kirain bakal kaya bapak- bapak perut buncit kepala plontos."
"Benarkah? aku tidak tahu keluarga Najendra memiliki ahli waris selain pak Arkan."
"Kabarnya beliau memiliki riwayat kriminal hingga harus di asing kan dan keluar dari penjara baru-baru ini, makanya kita tidak tahu tentangnya."
"Kalian! dua wanita yang ada di sini!"
Shaka menghampiri ke arah meja resepsionis dengan wajah datar tanpa ekspresi, dua wanita yang ia sebutkan nampak sangat terkejut mendadak tergagap di tempat mereka.
"Sudah puas membicarakan ku?" ujar Shaka dengan suara berat nya tersirat makna lain.
"M-maaf kan kami pak." dua wanita itu sontak menunduk dan meminta maaf.
"K- kami tidak bermaksud untuk menjelekkan bapak, tolong maafkan kami pak, jangan pecat kami!" Dua wanita tersebut sudah sangat ketar-ketir terlebih tatapan Shaka yang penuh intimidasi mengarah pada mereka, karyawan lain pun nampak khawatir melihat nya.
"Untuk kali ini saya maafkan! tapi ingatlah ini, hanya orang bodoh yang menyia-nyiakan waktu, ini perusahaan bukan tempat menggibah dan saya tidak membutuhkan karyawan yang tidak kompeten!"
"B- baik pak, sekali lagi maafkan kami!" ujar dua wanita itu lagi dengan lebih lantang, mereka sampai tidak berani untuk menatap Shaka saat ini.
__ADS_1
Sementara Shaka tak mengucapkan apa-apa lagi lalu berlalu dan melanjutkan langkahnya, Liam memberi peringatan sekali lagi pada dua wanita itu lalu pergi menyusul sang atasan.
Sampai ketika di depan lift menuju lantai paling atas di mana ruangan nya berada, Shaka tak sengaja berpapasan dengan Arkan, pria itu keluar dari elevator yang hendak Shaka naiki.
Aura rival mereka begitu kuat terasa hingga masing-masing asisten kedua pria itu pun merasa ikut merinding dengan aura intimidasi yang di keluarkan.
Arkan menyunggingkan senyum sinis. Sementara Shaka hanya bergeming tak berniat melakukan apapun.
"Akhirnya bisa melihat mu di perusahaan ini," ucap Arkan seakan memancing lebih dulu saat Shaka hendak melewati nya.
"Tentu, karena aku berhak berada di sini," pungkas Shaka tak kalah sinisnya.
"Cih, kita lihat saja nanti siapa yang lebih berhak daripada siapa! kau boleh saja menang kali ini tapi untuk kedepannya aku akan merebut semuanya kembali!"
"Huh! in your dream!" sarkas Shaka dengan menyeringai.
"Brengsekk!" Arkan sempat tersulut dengan apa yang Shaka ucapkan namun buru-buru ia mengembalikan keadaan.
"Baiklah kita lihat saja ke depannya. Ku pastikan semua milik mu akan ku rebut ... "
Kemudian Arkan mendekat ke telinga Shaka dengan menekan pundak pria itu.
"Kirana, isteri mu boleh juga." Arkan menyeringai.
"Body nya sangat aduhai cocok dengan ku yang kuat perkasa."
"Bajjingan!" Shaka tak bisa menahan diri lagi saat kata-kata itu keluar dari mulut Arkan, tak main- main Shaka langsung memberikan bogeman mentah pada rahang pria itu.
Sontak kedua asisten mereka segera melerai, menjauhkan agar tak semakin menimbulkan keributan yang panjang.
Liam dengan cepat membawa Shaka ke dalam lift dan menutup pintunya, sementara Arkan dan asistennya sudah keluar.
"Tuan, anda tak apa-apa?"
"Tenang, aku tidak apa-apa," ucap Arkan dengan mengusap ujung bibirnya yang berddarah, bukannya meringis kesakitan pria itu malah terkekeh.
"Apa yang anda tertawakan tuan?" tanya asisten Arkan,heran.
"Hahaha itu karena aku merasa sangat senang. Kini aku mengetahui kelemahan terbesar Arshaka."
Arkan menyeringai devil.
__ADS_1
To be continued.