
...💞 Happy reading 💞...
Kirana melangkah kan kaki dengan seluruh badan terasa sangat gemetar, tungkai nya terasa sangat lemah dengan keringat dingin membanjiri membuat telapak tangannya basah.
Setelah sampai di kamarnya, buru-buru Kirana menutup pintu, bokong nya ia hempaskan di atas ranjang, ekspresi terlihat sangat cemas ketika melihat ponselnya tergeletak di atas nakas, Kirana mengambilnya, ia hendak menghubungi shake namun ia berfikir ulang dan tak jadi melakukannya, ia takut mengganggu suaminya yang mungkin sedang sibuk saat ini.
"K- kak Fiona, aku tak menyangka dirimu .... " Kirana menggeleng, ada rona ketakutan jelas tercetak di wajahnya.
"Bagaimana aku menceritakan ini semua kepada mas Shaka." Kirana menggigit kukunya kuat-kuat hingga tak sadar melukai jarinya sendiri.
"Awww!" wanita itu meringis ngilu, lalu bayang-bayang ketika Shaka mengalami kecelakaan, ketika pria itu terlihat sangat lemah saat akhirnya mereka bertemu kembali setelah sekian lama berpisah. Tidak!
Ini tidak bisa di biarkan. Kirana berdiri, ia teringat kembali akan perkataan suaminya tempo lalu.
"Harta dan kekuasaan bahkan bisa membuat orang gelap mata, keluarga sendiri bisa saja menjadi musuh."
Akankah Fiona melakukan tindakan kejji ini semua karena harta? Kirana menggeleng, suaminya dalam bahaya, kala mengingat percakapan Fiona dengan seseorang di telepon tentang rencana mereka melenyapkan suaminya.
"Tidak! mas Shaka dalam bahaya. Aku harus segera pergi!"
Dengan di sertai kepanikan juga kecemasan yang membuncah, Kirana mengambil tas juga ponselnya, ia keluar dari kamarnya untuk kemudian pergi ke kantor Shaka, dan harus segera memberitahukan semua ini kepada suaminya.
"Kirana, kamu buru-buru sekali ada apa?"
Di luar ketika Kirana menuruni tangga hendak menunju mobil yang terparkir, menunggunya, Oma Helen berseru padanya. Wanita berusia senja itu menghampiri dengan senyum merekah, di tangannya terlihat sebuah pas bunga lengkap dengan beberapa tulip segar berwarna-warni.
"Oma ... " Kirana pun sontak menghentikan langkahnya, tak kalah tatapan sang Oma terus menyorot ke arahnya.
"Kamu mau kemana? kenapa buru-buru sekali nak?"
"Aku ... aku ... " Kirana nampak gugup untuk menjawab pertanyaan yang sebenarnya sederhana dari nenek suaminya itu.
"Ada apa?" Helen bisa menangkap jelas raut tak biasa dari wajah sang menantu, seperti ketakutan dan kecemasan.
Belum sempat Kirana menjawab, Renata dan Fiona sekonyong-konyong muncul ke hadapan mereka. Ibu dan anak itu terlihat saling mengobrol dan tertawa. Kirana tak menyangka, di balik sikap Fiona yang anggun dan selalu terlihat baik justru menyimpan kebusukan di dalamnya.
"Eh, menantu ku." Renata sontak menyapa ketika matanya bersibobrok pada Kirana. "Apa kamu mau pergi?"
__ADS_1
"Iya bunda." sahut Kirana menjawab.
"Ah, sayang sekali baru saja kami mau mengajaknya mu ke taman belakang. Bunda, Oma dan kakak ipar mu sedang menanam tumbuhan dan bunga baru, akan lebih menyenangkan jika kamu juga ikut."
Kirana meringis. "Maaf bunda, tapi aku harus pergi."
"Aaaa, benarkah? sayang sekali." nampak raut kekecewaan di wajah Renata, Kirana merasa sangat tak enak karena nya.
"Sudahlah, mungkin Kirana sedang terburu-buru sekarang," ucap oma menengahi.
Renata menipiskan bibir nya. "Ya sudah tidak apa-apa mungkin lain kali saja.
Kirana balas tersenyum, tak ada waktu lagi ia harus segera pergi, sebelum itu ia melirik ke arah Fiona, tatapan mereka sempat terkunci untuk beberapa saat sampai ketika Fiona membuang muka dan Kirana pun menuju mobil.
"Dasar tidak sopan!"
Kirana masih sempat menangkap Fiona mencibir padanya.
"Apa orang tuanya tidak mengajari sopan santun kepadanya? lihatlah bahkan dia tidak berpamitan lebih dulu sebelum pergi!"
Kirana mempererat genggaman tangannya pada tali tas yang di kenakan, ia hendak membalas perkataan kasar dari kakak ipar nya itu namun ia sadar itu hanya akan memperkeruh keadaan.
...---------Oo-------...
Jalanan macet saat ini, Kirana memandang was-was ke sekilingnya, dada nya berdebar kencang takut jika sampai terjadi sesuatu pada Shaka jika ia terlambat.
Wanita itu mengepalkan tangan sambil terus merapal doa.
"Tuhan, tolong jaga suami ku!"
Waktu berjalan terasa begitu lambat untuk wanita itu, sekarang ia terkurung di dalam mobil dan tidak bisa melakukan apa-apa di tengah kemacetan yang semakin parah. Sementara kegelisahannya semakin tinggi, ia takut jika Fiona benar-benar dalam rencana nya. Ia tidak bisa membayangkan suaminya dalam bahaya.
"Pak saya turun di sini saja!" tukas Kirana, akhirnya memutuskan untuk mengikuti hatinya.
"Eh? tapi gimana non, ini di tengah macet?"
"Gak apa-apa, saya bisa menembus kemacetan ini jika berjalan kaki."
__ADS_1
"Apa yang akan katakan kepada tuan Shaka, nona?" supir pribadinya itu jelas takut jika sesuatu terjadi padanya.
"Tidak apa-apa, tolong jangan katakan apa-apa pada suami ku."
"Tapi non-"
Kirana nekat keluar dari dalam mobil, tak membiarkan supirnya itu berbicara lagi, sementara lelaki itu tidak bisa menahan Kirana untuk pergi.
Di tengah polusi hingga terik matahari yang terasa membakar kulit, Kirana berlari menerobos kendaraan, beberapa kali ia hampir saja tertabrak lantas meminta maaf kepada pengendara.
Penuh perjuangan untuk Kirana hingga menembus kemacetan, pakaian yang di kenakan nya menjadi Kumal akibat asap kendaraan, juga beberapa noda debu di wajah nya, namun itu tak menyurut Kirana untuk pergi secepat mungkin ke perusahaan dan berbicara kepada sang suami.
Kepala Kirana terasa berat, dengungan keras terdengar di telinga nya, membuat semua yang di lihat nya terasa berputar-putar.
Lalu di hadapannya, entah kenapa tiba-tiba semua orang berkerumun. Kirana tak bisa menangkap jelas apa yang sedang terjadi karena pusing yang semakin mendera kepalanya.
"Ada apa di sana? kenapa ramai sekali?" monolognya bertanya-tanya.
"Arggh! kepala ku!" Kirana memegang kepalanya yang terasa sangat sakit.
Di dalam mobil Fortuner hitam yang tengah mengantri di kemacetan, Aslan yang sedang fokus pada laptop di pangkuan nya, menoleh ke luar jendela, dan kebetulan pemandangan yang ia tangkap pertama kali membuatnya terkejut.
"Itu bukannya Kirana, istri pak Arshaka?" Aslan menajamkan pandangan demi memastikan dengan apa yang di lihatnya. Dan benar saja, wanita itu adalah betul, Kirana istri rekan bisnisnya yang ia temui kemarin. "Sedang apa wanita itu di tengah jalan?"
Penasaran juga khawatir melihat Kirana yang sepertinya membutuhkan bantuan, Aslan pun turun dari mobil nya berniat menghampiri wanita itu.
Sementara Kirana justeru berlari ke arah kerumunan orang tengah terjadi tak jauh di depannya. Perempuan itu dengan susah payah menembus para kerumunan manusia yang melingkar seperti sedang menonton sebuah pertunjukan.
"Kenapa? apa yang terjadi?" tanya nya pada ke sembarang orang di sana.
Seorang wanita berkacamata menjawab. "Sebuah kecelakaan, mobilnya oleng dan menabrak pembatas jalan."
Kirana menutup mulut, apalagi ketika melihat darrah keluar dari reruntuhan mobil yang sudah ambruk. Ia merasa ingin muntah, keterkejutannya bertambah ketika melihat siapa orang yang di evakuasi oleh tim keamanan dari dalam mobil.
"Mas Shaka!"
Kiran merasa dunianya berhenti, lalu semuanya gelap gulita.
__ADS_1
To be continued ...