Pesona Gadis Penebus Hutang

Pesona Gadis Penebus Hutang
PHGP | Bab 61


__ADS_3

...💞 Happy reading 💞...


Suasana semakin terasa menegangkan saat Aslan dan Olivia mendapati Kirana menguping pembicaraan mereka, tak ingin wanita itu semakin sedih Olivia berinisiatif mendekat lalu menggandeng tangan Kirana.


"Kenapa kamu ada di sini? sebaiknya kamu kembali istirahat."


"Tidak!" Kirana meninggikan suaranya beberapa oktaf membuat Olivia kaget lalu refleks mengarahkan pandangan ke Aslan tak berselang lama pria itupun mendekat.


"Kirana lupakan apa yang telah kamu dengar, dokter bilang kamu tidak boleh terlalu banyak pikiran. Kamu harus banyak istirahat."


"Aku sudah tahu semuanya," lirih Kirana mendongak dengan mata menatap nanar. "Kalian tidak perlu menyembunyikan apapun dariku."


"Selama ini aku terlalu banyak menelan kenyataan pahit, orang tuaku meninggal saat diriku bahkan belum bisa melihat dunia, di besarkan di keluarga paman ku yang mana semua orang membenci ku, seperti sebuah barang aku di jual untuk menebus hutang hingga berakhir terjebak dengan seorang pria yang kini menjadi suami ku, namun dia sama sekali tidak ada saat aku sedang sedih. Dia bahkan tidak perduli jika istrinya berada di rumah sakit dan membutuhkan nya."


Suara serak Kirana hingga bibirnya bergetar saat mengungkapkan kesedihannya itu membuat Olivia dan Aslan turut prihatin dengan apa yang di rasakan wanita itu. Perlahan titik- titik air mata itu keluar lalu menjadi sebuah isakan pilu.


"Sudah ku putuskan aku ingin bebas, aku juga ingin bahagia aku akan pergi meninggalkan mansion yang mana tidak ada tempat untuk ku tinggal. Aku akan memulai hidup baru bersama dengan anak ku," ujarnya kembali sambil mengusap perut nya membuncit.


"Tapi kemana kau akan pergi Kirana?" tanya Olivia yang khawatir.


"Aku akan pergi jauh dan memulai hidup yang baru." tukas Kirana dengan optimisme yang tinggi.


Aslan pun menyahut. "Aku menghargai keputusan mu Kirana."


Olivia melotot, kenapa Aslan malah ikut mendukung Kirana dengan keputusan nya yang mendadak dan tanpa dipikir panjang dulu.


"Pak Aslan!" Olivia menekankan nada suaranya memberi sinyal pada pria di sampingnya ini.


"Kita harus mendukung apapun keputusan Kirana," ucap lelaki itu pada Olivia. "Kita tidak punya wewenang lebih dalam masalah ini, asal Kirana bahagia dengan apa yang ia pilih maka kita harus mensupportnya."


"Terimakasih pak Aslan,anda sungguh terlalu baik pada saya selama ini yang notabene bukanlah siapa-siapa anda."


"Jangan berkata seperti itu Kirana, sejak pertama kali aku membantu mu aku sudah menganggap mu seperti adikku sendiri. Kebetulan aku memiliki adik perempuan yang sudah tiada jika dia masih hidup sekarang mungkin akan sama tangguhnya seperti dirimu," lirih Aslan tanpa sadar mengungkapkan kata-kata itu dengan menatap gamang lalu sadar Olivia dan Kirana yang tengah menatapnya kini, membuat Aslan pun menggelengkan kepalanya.


"Maaf, aku bukan maksud ku--"


"Tidak apa-apa pak Aslan kami mengerti," ucap Kirana membuat Aslan pun tersenyum.


Di mansion setelah malam yang cukup panjang karena tersiksa dengan obat perangssang di dalam Tubuhnya tanpa bisa di lampiaskan, kini Shaka terbaring tak sadarkan diri di atas king size nya, mimpi tentang Kirana membuat Shaka pun terbangun dengan tangan seolah menghadang ke depan.

__ADS_1


"Tidak!!" Shaka terduduk dengan keringat membanjiri, mimpi tentang Kirana yang terus bersedih membuat nya semakin tak tenang.


Beberapa saat kemudian pintu kamarnya terbuka memperlihatkan Liam- sang asisten yang langsung menghampiri nya dengan wajah gelisah.


"Tuan, untung lah anda baik-baik saja. Saya semalaman mencari-cari anda setelah pesta usai, anda menghilang bersama nona Teresa membuat saya sangat khawatir!"


Shaka menggeleng-gelengkan kepalanya, mendengar cerocosan Liam membuatnya kembali ingat dengan malam terkutuk itu, untung saja ia tidak sampai masuk dalam jebakan yang di buat Teresa, mengingat wanita itu Shaka kembali meradang dan bersumpah untuk memberikan perhitungan pada wanita ullar itu.


"Handle semua jadwal hari ini Liam,saya ingin istirahat lebih lama," ujar Shaka memtitah, ia benar-benar tak bohong jika dirinya saat ini sangat lelah dan tubuhnya perlu istirahat di tambah kepalanya yang semakin terasa berputar-putar.


"Tapi tuan,saya hendak memberitahukan sesuatu yang penting untuk anda."


"Apa itu?" Shaka langsung mendongak begitu mendengar jika kabar penting yang akan sang asisten sampaikan.


"Ini tentang nona muda tuan ... " ujar Liam pelan, sangat hati-hati karena tahu hubungan antara tuan muda dan nona muda nya saat ini dalam keadaan tidak baik.


"Kirana? ada apa dengan nya?!" refleks Shaka berdiri dari duduknya, Liam memperhatikan bahasa tubuh tuannya memang tak pernah bisa bohong. Dia masih sangat mencintai istrinya.


"Tuan semalam ada kejadian mengerikan, nona muda di culik oleh sepupu dan iparnya sendiri mereka meminta uang tebusan untuk kebebasan nona muda. Tapi bersyukur nya ada pak Aslan yang telah menyelamatkan nona muda dan kini nona muda sedang berada di rumah sakit tuan."


Grepp! Shaka menarik kerah baju Liam dengan emosi yang menggebu-gebu. "Kenapa ada masalah sebesar ini aku baru tahu hah? aku sudah memerintahkan mu untuk menjaga Kirana diam-diam, kenapa kau tidak ada saat istri ku dalam bahaya hah?!"


Shaka begitu naik pitam hingga melampiaskan kemarahannya pada Liam.


Melihat Liam yang terlihat begitu menyesal membuat Shaka melepas cengkramannya. "Lupakan saja!" tak bisa di pungkiri ini juga ada kesalahannya terlalu sibuk dengan para tamu hingga melupakan istrinya. Terlebih Shaka semakin kaget saat membuka ponsel, nampak banyak pesan dan panggilan yang masuk dari Olivia dan juga Aslan. Seperti nya ada yang tidak beres.


"Kita kerumah sakit sekarang Liam, aku akan menjemput isteri ku!"


"Baik tuan!"


...---------Oo-------...


Cuaca mendung dan jalanan macet tak menyurutkan Shaka untuk cepat- cepat ke rumah sakit tempat Kirana di rawat, ia mengabaikan semua rasa sakit dan juga lelahnya demi bisa mendapatkan maaf dari sang istri nanti.


Namun terlambat, begitu sampai di rumah sakit dan di tunjukkan oleh Liam kamar di mana Kirana di rawat, wanita itu sudah tidak ada di sana.


Shaka sungguh frustasi sampai berulang kali mengecek ruangan demi memastikan Kirana masih ada di ruang rawat itu namun nihil yang ia temukan hanya brankar yang sudah rapi.


"Demi Tuhan, tuan saya tidak berbohong nona Kirana sempat di rawat di sini dan saya juga sempat menjenguk untuk memastikan kondisi nya."

__ADS_1


"Tapi dimana sekarang dia? isteri ku tidak ada?!" errang Shaka frustasi mengusap wajah nya kasar.


"Anda mencari siapa pak?"


Suara ramah itu terdengar dari belakang mengagetkan Shaka dan Liam, seorang suster berdiri dengan senyum ramah.


Lega akhirnya Shaka pun langsung bertanya pada suster itu tentang keberadaan Kirana.


"Ruangan anggrek nomor 12 atas nama ibu Kirana memang sudah kosong tuan, pasien sudah meninggalkan rumah sakit sejak pagi-pagi sekali."


Runtuh sudah semua harapan Shaka, pria itu menekuk lutut dengan penyesalan yang luar biasa besar. Sepeninggal suster tadi, Liam ikut berjongkok terenyuh dengan melihat penyesalan Shaka saat ini.


Hingga tiba-tiba saja seorang pria datang membuat Shaka spontan berdiri begitu melihatnya dan menerjangnya.


"Kau?!" Shaka mencengkeram kuat kerah kemeja pria itu.


"Bagaimana? baru menyesal sekarang?" Aslan memasang wajah, seolah mengejek.


"Brengsekk! dimana isteri ku? kau pasti yang membawa nya pergi kan?!" berang Shaka dengan wajah yang di penuhi amarah.


"Harusnya kau berterimakasih karena telah menyelamatkan isteri mu, asisten mu ini pasti telah melaporkan semuanya padamu," ucap Aslan tenang seraya melirik sekilas ke arah Liam. "Bukan cacian seperti ini yang ku dapat kan." tambah nya kemudian.


"Kapparat! cepat katakan dimana Kirana ku?!"


"Aku tidak tahu tapi yang pasti--" bugh! sebuah bogem mentah di layangkan Aslan dengan begitu telak kepada Shaka.


"Maaf pak Shaka tapi ku rasa pukulan itu belum cukup di banding kan rasa sakit yang di alami Kirana selama ini."


"Siallan!" bugh! tak mau kalah, Shaka membalas pukulan Aslan namun meleset.


"Tahu apa kau hah? aku suaminya Kirana dan kau hanya orang asing tak ada tempat untuk mu ikut campur dalam masalah rumah tangga kami!"


"Suami?" Aslan terkekeh mengejek.


"Suami mana yang meninggalkan istrinya sendiri saat dia dalam bahaya? suami mana yang hanya diam saat istrinya di hina? suami mana yang lebih memilih berduaan bersama seorang pelakor daripada menjawab telepon dari istrinya yang tengah dalam bahaya? suami seperti apa yang kau maksud ini pak Shaka?!"


Mendengar semua kata-kata Aslan yang begitu menohok membuat Shaka bungkam seketika.


"Saya sekarang menyesal telah mempercayakan sebuah proyek besar kepada anda, mengajak kerjasama dengan seseorang yang tak mengerti tanggung jawab, saya benar-benar merasa di rugikan. Sekarang tidak ada lagi hubungan kerjasama di antara. Itulah yang ingin saya sampaikan kepada anda!"

__ADS_1


Aslan lantas tersenyum miring. "Sekarang nikmatilah penyesalan seumur hidupnya mu!"


To be continued ....


__ADS_2