Pesona Gadis Penebus Hutang

Pesona Gadis Penebus Hutang
PHGP 40 | Bertemu kembali


__ADS_3

...💞 Happy reading 💞...


"Penemuan mayat lagi!!" lengkingan suara pemuda bertubuh cungkring itu menggema ke seantero desa, ia berlari tunggang langgang seperti sedang di kejar hantu, lalu berhenti tepat di pintu bangunan bertuliskan "kantor kepala desa"


"Ada apa ini? daeng kenapa kamu teriak-teriak?" ujar pak Akbar terkejut sehabis menyelesaikan rapat para pemimpin desa.


Pemuda yang di panggil daeng itu nampak sangat ngos-ngosan, dia mengambil nafas panjang lalu mulai melaporkan apa yang mereka temukan.


"Pak kades, ada penemuan tubuh manusia lagi dipinggir kali, seorang perempuan."


"Apa?" semua terlihat kaget, terperenyak dengan info yang di berikan daeng.


"Ya sudah, kita lihat kesana!" usul cepat pak Akbar kemudian, semua lantas mengangguk mereka pun berjalan cepat berduyun-duyun ke lokasi.


Benar saja apa yang di katakan Daeng, para warga lainnya sudah datang memutari tempat di temukan nya sosok perempuan yang terlihat masih bernafas itu di pinggir sungai, mereka saling melempar pandang lalu menggeleng menyayangkan betapa malangnya gadis muda itu, di sekujur tubuhnya di temukan luka membengkak juga goresan yang membuat nya terlihat mengenaskan.


"Tunggu apalagi? kita bawa cepat, untuk segera di tangani, sepertinya gadis ini masih hidup."


Atas titah dari kepala desa langsung warga desa pun mulai bergotong royong untuk mengangkat tubuh gadis malang itu, di pindahkan nya gadis itu ke rumah singgah tempat di mana Shaka juga di rawat saat ini.


...---------Oo-------...


Kirana di alam bawah sadarnya, ia terbangun di atas hamparan rumput yang bergerak pelan tertiup angin, Kirana menyadari sedang berada di tempat yang asing namun sangat indah. Sejauh mata memandang ia hanya sendiri di tempat sepi ini, langit berwarna biru cerah di atas sana awan-awan menggantung indah berarakan, Kirana melihat penampilannya sendiri di bayangan kaca besar yang tiba-tiba saja sudah ada di hadapannya.


Gaun cantik berwarna putih bersih, rambut hitam panjang yang tergerai tertiup angin, Kirana merasa dirinya seperti di lahirkan kembali.


"Kamu terlihat sangat cantik."


Degh! Kirana terkejut, refleks ia menoleh ke samping ketika di dapati pria yang sangat ia rindukan kini sudah berada di hadapannya, Kirana syok untuk beberapa saat seolah tak percaya ia menutup mulut lalu satu persatu air matanya mulai luruh dari matanya yang indah.


"M- mas Shaka?"


"Iya sayang, ini aku."


Kirana menggeleng masih berusaha untuk percaya ia perlahan mendekat. Suara bariton terdengar berat itu sama sekali tak berubah, wajah yang selama ini selalu menghiasi mimpi- mimpinya, tubuh kekar yang selalu merengkuh nya dalam kehangatan dan dada bidang yang selalu menjadi tempat ternyaman untuk bersandar. Shaka nya benar-benar sudah kembali padanya.


Tuhan, terimakasih! betapa Kirana ingin berteriak saat ini juga, saking haru nya yang ia rasakan. Shaka tersenyum lembut, lalu jemari kokohnya perlahan mengusap embun di mata sang istri.


"Jangan menangis meskipun kita jauh tapi hati kita selalu dekat ... cinta kita akan selalu terhubung."


Kirana menunduk seraya air matanya yang tak berhenti mengalir deras, ia genggam erat tangan besar Shaka yang membelai pipinya, detik itu juga Kirana segera menghambur ke pelukan Shaka.

__ADS_1


"Jangan pergi lagi ku mohon, aku tersiksa tanpa mu." Kirana terisak sambil bersandar di dada bidang yang akan selalu menjadi miliknya, menghidu aroma maskulin itu dalam-dalam, mengingatnya untuk selalu tersimpan di dalam memori.


"Aku tidak pernah kemana-mana sayang, aku selalu berada di samping mu."


Kirana semakin mempererat pelukannya, mengangguk sambil mengaminkan dalam hati ucapan Shaka, ia tak ingin merasa kehilangan lagi, cukup untuk kali ini saja.


Namun selayaknya delusi, ketika ia masih ingin berlama-lama dalam pelukan hangat Shaka, tiba-tiba saja semuanya mulai berubah, tubuh Shaka perlahan menghilang lalu berubah menjadi serpihan-serpihan cahaya keperakan yang berkilau menuju langit.


"Mas Shaka, jangan tinggalkan aku! jangan tinggalkan aku, mas!" Kirana panik ia hendak menggapai kembali tubuh Shaka namun seakan semuanya sudah terlambat, lantas ia menjerit keras, sampai tiba-tiba ...


***


"Jangan tinggalkan aku!"


Kirana terbangun, dengan situasi yang lebih nyata dari sebelumnya, nafasnya memburu seolah ia habis meyelesaikan lari maraton, bulir- bulir keringat membasahi kening dan leher jenjangnya.


Akibat teriakan Kirana tersebut, kini warga desa mulai berduyun-duyun datang menghampiri tempat pembaringan.


"Akhirnya kamu sudah sadar." seorang wanita yang terlihat sepuh, bercelatuk lalu warga lain mulai memperhatikan nya dengan tatapan lembut dan ucap syukur.


Kirana menoleh ke se kelilingnya, ia bingung sekaligus penasaran? di mana sekarang dirinya berada kini?


Lalu seorang pria bertubuh lumayan tambun dengan tatapan teduh datang menghampiri membelah kerumunan, Kirana mulai memperhatikan pria yang penampilannya terlihat berbeda dari yang lainnya.


"Di mana ini? siapa kalian?" tanya Kirana yang di bekuk oleh rasa penasaran.


"Kamu di temukan pingsan di sekitaran sungai desa kami nak,dan para warga lah yang membantu mu hingga ada di rumah singgah ini."


Kirana mulai meraba tubuhnya, pakaian yang di kenakannya berbeda, ia mulai panik.


Mengerti dengan kepanikan Kirana yang tiba-tiba, pak Akbar selaku kepala desa tersenyum penuh pengertian padanya.


"Tenang saja dari awal kamu di temukan, nenek Mina lah yang mengurus mu, beliau juga yang mengobati luka-luka mu."


Pak Akbar tersenyum ke arah wanita sepuh yang masih memakai baju tradisional daerahnya, nenek Mina mengangguk kain jarik di atas kepalanya bergoyang selaras dengan langkah nya yang mulai patah-patah.


"Aku yang merawat mu bersama di bantu juga oleh Nita, cucu ku." nenek Minah mengarahkan tatapannya pada seorang gadis yang kini tersenyum ke pada Kirana.


Kirana mengangguk-anggukan kepalanya perlahan mulai mencerna situasi yang terjadi. "Terimakasih sudah mengobati luka ku."


Nenek Mina mengangguk, bibir keriput nya perlahan mulai mengembang senyum ia mengusap pelan rambut gadis di depannya ini, melihatnya membuat nenek Mina teringat dengan cucunya yang sekarang merantau di kota.

__ADS_1


"Sejujurnya aku ingin menanyakan bagaimana kamu bisa berakhir seperti ini, tapi mengingat kamu baru siuman kamu harus banyak-banyak beristirahat,"


"Oh ya, siapa nama mu nak?"


"K- Kirana."


"Baiklah, Kirana kamu istirahat lah dulu, nanti ketika keadaan mu lebih baik kamu bisa bercerita banyak hal kepada nenek, jangan sungkan-sungkan warga desa di sini sangat ramah dan terbuka bagi siapa saja."


Kirana mengangguk lalu warga desa pun satu persatu mulai meninggalkan nya agar Kirana bisa beristirahat dengan leluasa.


"Pak, seperti nya pria asing yang berada di kamar samping juga sudah siuman." bisik salah seorang bapak-bapak pada kepala desa.


Pak Akbar menoleh dengan menatap serius. "Baiklah, kita periksa sekarang."


"Nak Kirana kamu beristirahat lah jika membutuhkan sesuatu panggil kami saja ya, para warga siap sedia di depan."


Kirana merasa tersanjung, ia pun mengangguk. "T- terimakasih pak kepala desa."


Cakrawala berwarna saga di langit sana, burung-burung nampak terbang bergerombol menuju ke sarang mereka masing-masing.


Di kamar, Nita cucu Mak mina sepuh di desa ini datang bersama seperangkat baju ganti untuk Kirana.


"Maaf jika bajunya agak lusuh."


"Tidak apa-apa, terimakasih ya." Kirana tersenyum lalu menyambut baju itu dan mulai berganti pakaian.


Sementara di kamar sebelah Shaka sudah siuman membuat para warga mengucap syukur di buatnya.


"Kirana ... " satu kata itu terucap pertama kali ketika Shaka membuka mata, semua orang bingung saling berpandangan.


Sementara Kirana yang merasa namanya di panggil tertegun, merasa jantungnya berdetak dua kali lebih cepat. Mengikuti kata hatinya Kirana bangkit dari kasur tertatih-tatih ia keluar dari kamar dengan kasa putih yang masih membalut luka-luka fi di tubuhnya.


Begitupun dengan Shaka, hatinya merasakan Kirana sedang berada di dekat nya, para warga di buat memekik terkejut ketika Shaka melepas jarum infus di tangannya dengan begitu entengnya, darrah mengucur dari punggung tangannya namun Shaka tak peduli, ia berjalan ke luar kamar.


Di saat itulah kedua insani itu saling bertatapan setelah kerinduan yang begitu besar tertahan dalam jiwa masing-masing.


"Kirana ... "


Gadis itu merasa sangat syok namun bahagia di detik yang bersamaan, Kirana tersenyum namun kaca-kaca matanya tidak bisa di sembunyikan.


Para warga keluar menjadi saksi bagaimana dua kekasih bertemu kembali setelah berpisah lama.

__ADS_1


"M- mas Shaka ... "


To be continued ...


__ADS_2